Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Gimana Menyentuh Hati Nana?
Nenek Rita menghela napas panjang, lalu menjauhkan ponsel sedikit dari telinganya.
“Ferdi, Ferdi… kamu ini ribut terus dari dulu,” katanya tenang tapi tegas.
“Perjodohan itu urusan mama sama teman mama. Bukan urusan kamu.”
“Mah, ini bukan soal kecil! Pak Jonathan itu teman bisnis penting! Dia tersinggung berat karena Jordan nolak mentah-mentah anaknya!”
Nenek Rita mendengus kecil.
“Ya sudah. Biar mama yang minta maaf sama Pak Jonathan.”
“Mah—”
“Dengar dulu,” potong Nenek Rita.
“Mama gak pernah janji Jordan bakal nikah sama anaknya. Mama cuma bilang dikenalin.”
Jordan melirik neneknya sekilas, sedikit kaget.
Pak Ferdi terdengar menarik napas kasar.
“Tapi Mah, ini bikin malu keluarga kita!”
Nenek Rita menyandarkan punggung ke kursi.
“Ferdi, dari kapan kamu lebih takut malu di depan teman daripada bikin anakmu bahagia?”
Hening sepersekian detik di ujung sana.
Lalu suara Pak Ferdi turun setengah oktaf.
“Mah… mama ini gak ngerti dunia bisnis.”
“Kamu sendiri kek mana? Kamu aja gak ngerti dunia anakmu. Anak zaman sekarang kalau gak cocok ya udah. Cariin yang lain,” balas Nenek Rita tanpa ragu.
Jordan menelan ludah, fokus ke lampu lalu lintas di depan.
“Pokoknya,” lanjut Nenek Rita,
“soal Pak Jonathan, itu urusan mama. Kamu gak perlu ikut campur."
“Terus rencana mama gimana? Masa mau dibiarin gitu aja?”
Nenek Rita tersenyum kecil, penuh arti.
“Tenang. Mama sekarang sudah punya calon yang jauh lebih masuk akal.”
Jordan refleks menginjak rem sedikit lebih dalam.
“Kriiit.”
“Nek?”
Ia menoleh cepat.
Nenek Rita mengangkat satu jari, isyarat nanti dulu, lalu kembali ke telepon.
“Iya, Ferdi. Calon yang kali ini mama yakin Jordan setuju.”
“Hah?! Calon lagi?! Mah, mama ini gak kapok-kapok ya!”
“Yang ini beda,” jawab Nenek Rita santai.
“Bedanya apaan lagi?!”
Nenek Rita melirik Jordan dari sudut mata, senyumnya tipis tapi penuh kemenangan.
“Yang ini gak perlu dijodohin.”
Jordan tersedak napas.
“Uhuk—”
“Maksud mama apa sih?! Jangan bikin Jo tambah pusing!”
Nenek Rita mulai kehilangan kesabarannya.
“Ferdi, mama sudah tua. Mama capek ribut terus soal hidup Jordan. Kamu mau anakmu jadi jomblo forever ha?”
“Mah—”
“Sudah. Cukup.”
Nada Nenek Rita mengeras.
“Untuk sekarang, mama yang pegang urusan ini. Kamu fokus kerja aja. Jangan terlalu menekan Jordan.”
Pak Ferdi terdengar menggerutu panjang.
“Pokoknya saya gak mau Pak Jonathan makin marah—”
“Biar mama yang hadapi,” potong Nenek Rita.
“Ya sudah. Terserah mama. Tapi kalau ini berantakan lagi, jangan salahkan Jo.”
“Siap. Mama tanggung.”
Klik.
Telepon ditutup.
Mobil masih berhenti di lampu merah. Suasana di dalamnya mendadak sunyi.
Jordan menoleh perlahan.
“Nek… calon yang nenek maksud itu siapa?”
Nenek Rita pura-pura merapikan tas kecilnya.
“Hmm? Calon apa?”
“Nenek barusan bilang ke ayah soal calon yang aku setuju.”
“Oh itu.”
Nenek Rita akhirnya menoleh, menatap Jordan dengan senyum super polos.
“Ya Nana, siapa lagi.”
Jordan langsung menginjak gas saat lampu berubah hijau.
“NEK—”
Mobil melaju agak terlalu kencang.
“Nenek jangan asal ngomong ke ayah!”
“Loh kok marah?”
Nenek Rita tertawa kecil.
“Nenek cuma bilang calon yang kamu setuju. Nenek gak bilang dia calon istrimu.”
Jordan menghela napas frustrasi.
“Itu sama aja!”
“Beda, Nak. Sangat beda,” balas Nenek Rita santai.
Jordan memijat wajahnya.
“Ini bakal jadi masalah besar.”
Nenek Rita menyandarkan kepala ke sandaran kursi, senyumnya lembut.
“Justru ini bakal jadi awal yang bagus.”
"Nek... Nana belum selesai dengan masa lalunya. Bagaimana bisa aku masuk ke hatinya Nek?"
***
Bersambung...