Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsip Berdebu
Minggu ketiga magang dimulai dengan pengumuman dari Pak Hendra yang kumisnya hari ini terlihat lebih simetris dari biasanya.
"Kenan, Kala, kalian berdua tolong ke Perpustakaan Daerah ya. Ada beberapa arsip pajak lama yang perlu dipindahkan ke database digital, dan kalian ditugaskan bantu admin di sana seharian ini."
Kenan yang baru saja mau menyuap potongan pepaya paginya, langsung tersedak.
"Sama Kala saja, Pak? Tak ada yang lain?"
"Kenapa? Kamu mau saya ikut juga? Biar saya awasi kamu fotokopi?" tanya Pak Hendra sambil menaikkan satu alisnya yang tebal.
"Eh, tidak Pak! Siap, laksanakan!" Kenan berdiri tegak, hampir saja menyenggol dispenser di belakangnya.
*******
Sepanjang perjalanan menuju Perpustakaan Daerah yang letaknya tak jauh dari kantor, Kenan tak henti-hentinya bersiul. Dia membonceng Kala dengan motor Supranya. Meskipun motornya bergetar hebat kalau lewat polisi tidur, hati Kenan rasanya seperti naik mobil limousine.
"Nan, pelan-pelan! Ini motor apa mesin giling padi? Bergetar semua badanku," teriak Kala dari belakang, tangannya memegang erat behel motor Kenan agar tidak terpental.
"Sabar, Kal! Ini namanya vibrasi asmara. Motor ini tahu kalau dia lagi bawa bidadari, makanya dia gugup!" balas Kenan berteriak melawan angin.
"Gombal terus! Awas kalau kita masuk parit!"
*******
Sesampainya di perpustakaan, mereka disambut oleh suasana yang sunyi, dingin karena AC pusat, dan bau buku tua yang khas. Tugas mereka adalah menyisir rak-rak besar di bagian belakang untuk mencari map-map cokelat yang sudah berdebu.
"Aduh, debunya banyak betul, Nan," ujar Kala sambil memakai masker medisnya.
"Tenang, Kal. Kamu bagian yang mencatat saja di laptop, biar aku yang jadi kuli angkutnya. Badan besar aku ini ada gunanya juga kan," Kenan mulai memanjat tangga kecil untuk menjangkau rak paling atas.
Sambil bekerja, mereka mengobrol banyak hal. Dari yang serius sampai yang sangat tidak penting, seperti kenapa kucing tidak bisa bicara bahasa Melayu.
"Nan, kamu tahu tak? Sebenarnya aku tuh paling suka ke perpustakaan bukan buat baca buku," ujar Kala tiba-tiba saat mereka sedang istirahat duduk di lantai yang dilapisi karpet di antara dua rak tinggi.
"Terus buat apa? Cari wifi gratis?" tebak Kenan asal.
Kala tertawa, lalu dia mengeluarkan buku gambarnya dari dalam tas. Dia membukanya dan memperlihatkan sebuah sketsa. Kenan terpaku. Di sana ada gambar sebuah taman dengan detail yang sangat halus. Dan di pojok bawah, ada sketsa wajah seorang cowok yang sedang tertawa.
Kenan menyipitkan mata. "Itu... itu siapa, Kal? Revan?"
Kala mengangguk pelan, tapi senyumnya sedikit getir. "Iya. Dulu aku sering gambar dia pas kita masih awal-awal kenal. Tapi sekarang... aku lebih sering gambar pemandangan saja. Rasanya lebih tenang."
Kenan melihat-lihat halaman selanjutnya. Matanya terbelalak saat melihat sketsa seorang cowok tinggi, berambut ikal, sedang memegang gitar dengan ulat bulu di kepalanya.
"LHO?! Ini kan aku, Kal!" Kenan berseru terlalu kencang sampai ditegur oleh pengunjung perpustakaan lain. "Ssttt... tapi ini benar aku kan?" bisiknya heboh.
Kala tersipu malu, wajahnya memerah sampai ke telinga. "Iya... itu kan kejadian paling lucu yang pernah aku lihat. Habisnya kamu lucu banget pas itu, Nan."
"Kau gambar aku, Kal? Berarti kau... kau perhatikan aku?" tanya Kenan, dadanya mendadak terasa penuh oleh rasa senang yang meluap-luap.
"Ya kan kita teman, Nan. Masa aku nggak perhatikan teman sendiri," jawab Kala mencoba mengelak, tapi jarinya gelisah memainkan ujung pensil.
"Teman ya..." gumam Kenan. Dia kemudian mengambil pensil Kala. "Sini, biar aku tambah sikit di gambarku ini."
Kenan menggambar sebuah balon percakapan di atas kepalanya sendiri di gambar itu, lalu menuliskan: "Aku rela digigit ulat bulu sejuta kali, asal bisa lihat kamu senyum terus."
Kala membaca tulisan itu dan tertawa pelan. "Kamu ini ya, pinter banget kalau urusan begini. Tapi Nan... kenapa ya, kadang aku ngerasa lebih nyaman ngobrol sama kamu daripada sama Revan?"
Kenan terdiam. Pertanyaan itu adalah jebakan maut. Kalau dia jawab terlalu serius, takut Kala menjauh. Kalau dijawab bercanda, takut kesempatannya hilang.
"Mungkin karena aku orangnya jujur, Kal. Aku nggak pernah pura-pura ketinggalan dompet kalau mau ajak kamu makan," celetuk Kenan telak.
Kala tertegun. Dia teringat lagi betapa seringnya Revan memintanya membayar ini itu. "Revan bukannya pelit, Nan. Dia cuma... lagi berjuang buat masa depan."
"Berjuang buat masa depan itu harusnya berdua, Kal. Bukan kamu yang jadi tulang punggungnya dia. Masa depan apa yang dibangun di atas punggung pacar sendiri?" Kenan menatap mata Kala dengan serius.
Kala tidak menjawab. Dia hanya menutup buku gambarnya. "Sudahlah, yuk lanjut kerja lagi. Nanti Pak Hendra nyariin."
*******
Sore harinya, saat mereka mau pulang, tiba-tiba hujan badai turun lagi. Perpustakaan sudah mau tutup.
"Aduh, gimana ini? Motor kamu kan nggak ada atapnya, Nan," ujar Kala panik.
"Tenang. Kita tunggu di lobi depan saja dulu. Kebetulan aku bawa sesuatu," Kenan merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil.
"Nih, cokelat hitam. Katanya kalau lagi hujan begini, makan cokelat bisa bikin hati senang."
Mereka duduk berdampingan di tangga lobi perpustakaan, melihat rintik hujan yang deras. Kenan membagi cokelatnya menjadi dua.
"Makasih ya, Nan. Kamu selalu sedia payung sebelum hujan... eh, sedia cokelat sebelum lapar maksudnya," canda Kala.
"Kal, kalau nanti setelah magang kita sudah jarang ketemu, kau jangan lupakan aku ya. Jangan lupakan vokalis paling tampan se-SMK Riau ini," ujar Kenan tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit melankolis.
"Masa aku lupa sama kamu, Nan. Kamu kan orang yang paling sering bikin aku ketawa," Kala menyandarkan kepalanya sebentar di tiang lobi.
"Janji ya, kita bakal tetap dekat?"
"Janji," jawab Kenan mantap.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan putih berhenti di depan lobi perpustakaan. Kaca jendela mobil itu turun. Di dalamnya ada seorang cowok ganteng yang memakai kacamata hitam—meskipun cuaca sedang hujan deras. Revan.
"Kala! Kenapa kamu di sini? Aku telepon dari tadi nggak diangkat!" teriak Revan dari dalam mobil.
Kala tersentak. "Lho, Revan? Kamu kok ada di sini?"
"Aku tadi ke kantor kamu, kata orang sana kamu lagi di sini. Ayo masuk! Ngapain duduk di tangga sama... sama si raksasa ini?" Revan menatap Kenan dengan tatapan menghina.
Kala menoleh ke arah Kenan dengan rasa tidak enak hati. "Nan... aku... aku duluan ya? Revan sudah jemput."
Kenan memaksakan senyumnya. "Iya, Kal. Pergilah. Jangan sampai kena hujan, nanti kamu sakit."
Kala masuk ke dalam mobil mewah (yang ternyata mobil pinjaman temannya, tapi Kenan belum tahu). Sebelum mobil itu melaju, Revan sempat memberikan tatapan "aku pemenangnya" ke arah Kenan.
Kenan berdiri sendirian di tangga lobi yang dingin. Cokelat di tangannya masih sisa setengah. Dia menatap mobil itu sampai hilang di tikungan jalan.
"Ganteng, kaya, punya mobil. Sementara aku? Cuma punya gitar dan motor Supra yang getarannya bisa bikin rontok ginjal," gumam Kenan miris.
Dia menghidupkan motornya, membiarkan badannya basah kuyup terkena hujan. Sepanjang jalan, Kenan menyanyikan lagu Vierra, "Rasa Ini", dengan suara yang bergetar karena kedinginan sekaligus menahan sesak di dada.
"Kau pernah menjadi, menjadi miliknya... Namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini..."
Kenan tidak tahu, bahwa di dalam mobil itu, Kala sedang bertengkar hebat dengan Revan karena Revan terus-terusan menghina Kenan. Kala membela Kenan, dan itu membuat Revan semakin meledak-ledak. Benih-benih kehancuran hubungan mereka mulai muncul, tepat saat Kenan merasa dirinya paling tidak berdaya.