Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Takut Jadi Ibu Persit
Drrt. Drrt. Drrt.
Elok buru-buru mengangkat sambungan telepon begitu dilihatnya nama Arya yang memanggil di layar.
📞"Sayang,, aku menunggumu di depan toilet perempuan."
Elok gelagapan mendengarnya, lalu cepat memutar otak, tak ingin ketahuan bila dirinya sebelumnya telah berbohong hendak ke toilet.
📞"Maaf, Sayang... Aku sudah keluar dari sana, sekarang sedang menuju toko perhiasan," bohongnya lagi, melihat sejenak butik pengantin yang tadinya di masuki oleh Pandji lalu bergegas pergi dari sana agar tidak ketahuan Arya.
📞"Kok kita tidak berpapasan ya?" Arya bertanya dengan nada bingung. "Padahal satu rute saja, dari restoran tinggal menyebrang atrium mall udah tiba di toko perhiasan."
📞"Aaaa--," Elok tercekat, yang di katakan Arya memang benar. Bukan dirinya bila tidak menemukan solusinya, setelah berfikir kilat, satu toko dasi di seberang eskalator jadi inspirasi kebohongannya selanjutnya. "Aku mampir di toko dasi sebentar ini, sebenarnya aku mau buat kejutan, membelikan dasi buatmu untuk kamu pakai di acara pertunangan kita nanti, tapi keburu kamu menelponku, heee...."
📞"Sungguh?" Arya mengingat-ingat sambil berjalan keluar dari lorong toilet. Begitu berdiri di samping restoran, ia memang melihat toko dasi yang dimaksud Elok. "Ya, aku melihatnya. Tunggu sebentar, aku ke sana sekarang."
Arya tersenyum singkat, membayangkan dasi pilihan sang kekasih pujaan hati. Elok memang rajin meberikannya hadiah-hadiah kecil, tapi baginya itu sangat bermakna karena rasa cintanya.
Baru saja menutup sambungan dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Arya yang bergegas hendak menuju toko dasi itu dikejutkan pekikan kaget beberapa orang dari atas eskalator, begitu ia menoleh...
Sreeet! Brugh!
"Akhhhh, sakit...."
"Udah biarin, gak usah dibantuin! Siapa suruh cari penyakit, kaya orang utan aja pake lompat-lompat, akhirnya kepeleset, kan?! Padahal tinggal nunggu berdiri aja, eskalator nya pasti nyampe ke bawah!" omel salah satu pengunjung yang tadinya tersalip saat turun sambil menggandeng anaknya pergi dengan sikap acuh.
Dan benar saja, tak ada seorangpun yang perduli dan dengan ringan tangan mau mengulurkan bantuan selain menonton dengan raut dongkol sambil berlalu.
Melihat kejadian itu, Arya menyeruak di antara kerumunan pengunjung mall.
"Syukurin, jatoh!" seorang ibu yang baru turun dari eskalator mencibir.
"Iya, rasain! Tadi waktu naik ke atas juga gitu, lompat-lompat! Saya hampir nyungsep tersenggol sama dia!" Ibu lainnya ikut menimpali.
"Elok, ternyata kamu?" Arya tersentak kaget, lalu cepat menghampiri dan berjongkok di dekat Elok yang terduduk dan terus mengerang kesakitan memegangi kakinya. "Dimana yang sakit?" cemas Arya.
"Ini... sssh... pergelangan kakiku terkikir," Elok menunjuk bagian kakinya yang mulai membengkak. "Bisakah kamu memijatnya?" pintanya.
"Kamu lupa kalau terkilir tidak boleh dipijat? Itu hanya mempercepat peradangan," peringat Arya sambil melepaskan high heels yang dikenakan kaki Elok.
"Aku akan membawamu ke restoran tempat kita makan tadi supaya bisa mengompres kakimu dengan batu es agar tidak bertambah bengkak," Arya meraih tubuh Elok dan mengangkatnya.
"Pacarnya Mas ya?" seorang pria bertanya, menghadang langkah Arya yang sedang menggendong Elok, sementara seorang wanita muda yang berdiri di sebelahnya memandang dengan sinis.
Arya menoleh, "Tolong beri kami jalan," tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu. Saat ini, fokusnya lebih mencemaskan kondisi Elok yang terus mengeluh kesakitan.
"Mas, kedepannya tolong awasin pacarnya kalau berkunjung ke mall agar tidak membahayakan nyawa orang lain," ucap pria itu lagi, di dorong oleh rasa kesalnya pada Elok.
Telinga Arya langsung panas mendengarnya, "Maksud Mas apa berbicara seperti itu?" ucapnya memberi reaksi.
"Sayang, jangan diladeni, biarkan saja, malu...." Elok yang cemas tindakannya akan ketahuan cepat menginterupsi. "Sebaiknya kita segera pergi, Kakiku semakin sakit... sss!" erangnya, seraya mengusap lembut pipi Arya untuk membujuk.
"Tidak, Sayang.... Sedari tadi, aku sudah berusaha mengabaikan suara-suara sumbang mereka yang bermulut pedas itu. Bukannya menolong, mereka malah terus saja mencelamu," Arya balas menatap sengit pada si pria dan si wanita yang masih menatap sinis pada dirinya dan Elok.
"Dasar laki-laki bodoh! Diperingatkan malah tidak terima," ucap si wanita semakin memperlihatkan wajah sinisnya.
"Untung saja isteri saya tidak kenapa-kenapa di eskalator tadi," si pria kembali berucap. "Bila saja sampai celaka, saya tidak akan segan-segan menuntut!" tunjuk pria itu ke wajah Elok dengan mata tajam, lalu bergegas pergi bersama isterinya demi menghindari keributan.
...Melihat amarah terpancar di wajah pria itu beserta pasangannya, begitu juga ucapan-ucapan tak sedap yang sempat singgah di indera pendengarannya daei beberapa orang, membuat Arya berfikir ada yang tidak beres dan terlewatkan olehnya....
"Sayang, kakiku semakin sakit...." rengek Elok, tak nyaman dengan pandangan menghakimi beberapa orang yang melihat bagaimana kelakuannya tadi di eskalator.
"Iya, maaf..." Arya tersadar dari lamunannya, gegas membawa Elok menuju restoran untuk mengompres kakinya.
...***...
Melitha terbelalak. Ia gegas duduk di samping Pandji, tanpa sadar memegangi kedua lengan kakak sepupunya itu. "Ba-bagiamana mas Pandji bisa tahu?"
Pandji tertawa kecil. Ingin mengatakan itu bukanlah perkara sulit dan hal kecil baginya, tapi nyatanya ia sempat panik saat Melitha sanggup menembus pertahanannya.
"Kamu cukup berbakat, Mel," puji Pandji sambil melihat tangan Melitha yang mencengkram lengannya.
"Ma-maaf, Mas...." Melitha tersipu, segera melepaskan pegangannya lalu memperbaiki letak duduknya dan mengunci jari-jemarinya di atas pangkuannya.
"Katakan, apa lagi yang ingin kamu tahu tentang, Mas.... Mas akan jelasin...."
"Ng-nggak ada, Mas.... Su-sudah cukup..." Melitha tersenyum kaku tanpa berani melihat wajah Pandji lagi.
"Kalau begitu..." Pandji kembali membolak-balik katalog gaun pengantin yang sedari tadi ia pegang, lalu menyodorkannya pada Melitha. "Pilih modelnya, nanti nyonya Abigail akan menjahit gaunnya untukmu."
"Atau kamu mau desain lain yang bukan dari katalog ini?" melihat Melitha yang tak kunjung menyambut katalog yang ia sodorkan.
"Bu-bukan itu, Mas..." Melitha menoleh sebentar, hanya sepersekian detik, lalu cepat menarik pandangannya begitu sepasang mata mereka saling beradu.
"Lalu apa?" tanya Pandji sabar.
Melitha tak menjawab, diam seribu bahasa.
"Kamu ragu kita menikah.... karena kita sepupu?" pelan Pandji, saat tak kunjung Melitha bersuara.
"Bukan itu saja, Mas... " Melitha menoleh, kini memberanikan diri menatap mata Pandji. "Aku takut jadi Ibu Persit, Mas... Pasti sulit...." jujur Melitha mengungkapkan kecemasan yang ia rasakan saat tahu siapa.Pandji di pekerjaannya sebagai abdi negara.
Pandji termangu sesaat mendengar kejujuran Melitha.
Sebagai salah satu perwira tinggi yang menjabat Komandan Korem, tentu saja wanita yang menjadi isterinya otomatis menjadi anggota Ibu Persit, memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan contoh dan teladan bagi istri prajurit lainnya di lingkungan Korem.
Bahkan umumnya isteri seorang Danrem menjabat sebagai Ketua Persit Kartika Chandra Kirana di Koordinator cabang Korem di wilayah jabatannya. Organisasi ini memang mewajibkan istri TNI AD mendampingi suami, mendukung tugas pokok, mengurus keluarga, dan berperan aktif dalam kegiatan sosial.
Pandji menatap Melitha, ia dapat memahami kecemasan adik sepupunya itu. Di usianya yang belia, lulus SMU pun belum, tentu akan merasa minder nantinya bila bergaul dengan para Ibu Persit.
"Jangan cemas, Mas akan membantumu belajar. Orang bisa karena terbiasa," Pandji tersenyum menghibur. "Anak yang kamu kandung butuh keluarga tempat dia berlindung dari kerasanya dunia. Jadi, jangan ragu menikah dengan, Mas. Mulai saat ini, kamu tanggung jawab, Mas."
Melitha menelan salivanya, ucapan kakak sepupunya itu benar-benar membuatnya tak mampu berucap sepatah katapun, baik itu setuju apa lagi sampai berani menolak.
"Dan jangan fikirkan kata orang, kenapa kita menikah, padahal masih saudara sepupu. Mereka tidak perlu tahu alasannya." Pandji kembali menyodorkan katalog gaun pernikahan di tangannya pada Melitha.
"Pilihlah, nanti nyonya Abigail akan mengambil ukuran tubuhmu."
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.