Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lain Kali
Napas Sekar tertahan di tenggorokan.
Ujung pisau lipat preman bertato naga itu hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
Bau keringat asam dan niat jahat menguar dari tubuh pria kekar itu.
Otak Profesor Sekar, di tengah ancaman fisik yang nyata, masih sempat melakukan kalkulasi morbid.
Jika pisau itu bergerak maju, dia harus memiringkan kepala 45 derajat ke kiri untuk menghindari arteri karotis.
Sebuah perhitungan putus asa.
"Heh, Nduk. Jangan sok jagoan," geram preman itu, menikmati ketakutan yang terpancar dari mata Pak Man di belakang Sekar.
Sekar tidak menjawab.
Dia hanya mengeratkan cengkeraman pada gagang arit.
Tepat saat otot lengan preman itu menegang untuk melakukan gerakan terakhir...
Vroooom...
Sebuah suara mesin yang halus, dalam, dan bertenaga membelah ketegangan di bukit kapur itu.
Suara yang sangat kontras dengan raungan kasar mesin diesel Hardtop milik Pak Karsa tadi. Semua kepala menoleh ke arah jalan setapak.
Sebuah SUV hitam mengkilap, jenis kendaraan mewah yang jarang sekali terlihat di jalanan desa yang berdebu, merayap naik dengan anggun.
Mobil itu berhenti tepat di belakang deretan motor RX-King para preman, terlihat seperti bangsawan yang dikelilingi rakyat jelata yang kotor.
Pintu pengemudi terbuka.
Sepasang sepatu loafers kulit berwarna cokelat tua yang bersih tanpa noda menapak ke tanah berkapur.
Aryasatya keluar dari mobil.
Dia berdiri tegak, mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung rapi hingga siku dan celana chino berwarna krem.
Rambutnya tertata rapi, wajahnya tenang, seolah dia baru saja keluar dari lobi hotel bintang lima, bukan berada di tengah ladang kering yang sedang terjadi sengketa brutal.
Kehadirannya membawa aura dingin yang seketika menurunkan suhu panas di bukit itu. "Ada apa ini ramai-ramai?"
Suara Arya tidak keras, bahkan cenderung pelan.
Namun, nadanya memiliki ketegasan alami yang membuat orang secara insting ingin mendengarkan.
Preman yang menodongkan pisau ke Sekar terdiam, sedikit menurunkan senjatanya karena bingung.
Pak Karsa, yang masih berdiri di dekat tandon air, menyipitkan mata. Dia merasa terganggu dengan kedatangan orang kota perlente ini.
"Heh, Mas! Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan orang tua!" bentak Pak Karsa sambil mengibaskan tongkat komandonya.
"Ini urusan utang piutang! Sana pergi, sebelum anak buah saya..." Kalimat Pak Karsa terputus di tengah jalan.
Matanya yang sipit karena lemak di wajahnya tiba-tiba melebar saat pandangannya jatuh ke pelat nomor mobil SUV hitam itu.
AB 10 HA.
Wajah Pak Karsa yang berminyak dan merah karena marah, seketika pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahinya.
Sebagai lintah darat yang beroperasi di wilayah Yogyakarta, dia tahu betul arti kombinasi angka dan huruf pada pelat nomor itu.
Itu bukan pelat nomor orang kaya biasa.
Itu kode keras. Penanda lingkaran dalam kekuasaan tertinggi di tanah ini.
"D-Den Bagus..." cicit Pak Karsa. Suaranya yang tadi menggelegar kini terdengar seperti tikus terjepit.
Preman bertato naga menatap bosnya dengan bingung. "Bos? Kenapa? Kita sikat sekalian orang ini?"
PLAK!
Pak Karsa menampar belakang kepala anak buahnya sendiri dengan keras.
"Goblok! Turunkan pisaumu!" teriak Pak Karsa panik. "Kamu mau bikin kita semua mati konyol?!"
Arya sama sekali tidak menanggapi drama di hadapannya. Dia hanya menatap sekilas ke arah Sekar, memastikan gadis itu masih utuh, lalu dengan tenang mengeluarkan ponsel pintarnya yang tipis.
Tanpa mengalihkan pandangan dinginnya dari Pak Karsa, Arya menempelkan ponsel ke telinga.
"Sugeng sonten, Pak Kapolsek," sapa Arya. Nada bicaranya santai, seperti sedang menelepon teman untuk mengajak ngopi.
Di seberang sana, terdengar suara jawaban yang sangat hormat, bahkan sedikit panik.
"Ya, saya Aryasatya. Saya sedang meninjau proyek di lereng Menoreh. Kebetulan saya melihat ada gangguan keamanan serius di sini," lanjut Arya datar.
Dia menjeda sebentar, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam ketakutan Pak Karsa.
"Ada sekelompok preman melakukan perusakan properti dan ancaman kekerasan fisik menggunakan senjata tajam terhadap warga. Tolong kirim unit patroli sekarang. Saya tunggu di lokasi."
Arya menutup telepon.
Dia tidak memberi jeda bagi Pak Karsa untuk memohon.
Jari jempolnya kembali menari di atas layar ponsel. Panggilan kedua.
"Halo, Pak Handoko," ucap Arya pada panggilan kedua.
"Tolong siapkan tim legal Keraton. Ada dugaan pemalsuan Akta Jual Beli tanah di lokasi yang saya kirimkan koordinatnya. Korbannya seorang gadis yang ditekan oleh rentenir. Ya, urus segera."
Kata "Keraton" yang diucapkan dengan begitu ringan, tapi penuh otoritas, menjadi paku terakhir di peti mati keberanian Pak Karsa.
Kaki rentenir tambun itu lemas. Dia hampir jatuh terduduk.
Tidak ada teriakan. Tidak ada baku hantam.
Hanya dua panggilan telepon dengan suara tenang, dan seluruh hierarki kekuasaan di bukit itu berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Ampun, Den! Ampun!" Pak Karsa mengangkat kedua tangannya dengan gemetar.
"Saya tidak tahu... Saya cuma menagih utang si Rudi ini! Sumpah, Den!"
Pak Karsa menendang Paman Rudi yang masih meringkuk di tanah agar bangun.
"Ayo bubar! Bubar semua!" teriak Pak Karsa pada anak buahnya yang masih bengong.
Para preman berbadan tegap itu, yang lima menit lalu tampak begitu menakutkan, kini tampak kerdil dan kebingungan.
Mereka buru-buru menyimpan senjata, menaiki motor RX-King mereka dengan kikuk, dan menyalakannya.
Pak Karsa menyeret Paman Rudi, yang masih menangis, masuk ke dalam Hardtop.
Dalam waktu kurang dari tiga menit, rombongan pembuat onar itu melarikan diri, meninggalkan kepulan debu tebal dan bau asap knalpot.
Keheningan kembali menyelimuti lahan tandus itu.
Hanya terdengar suara isak tangis lega Pak Man yang masih terduduk di dekat tumpukan batu.
Sekar perlahan menurunkan tangannya yang memegang arit. Otot-ototnya yang tegang mulai terasa sakit saat adrenalin perlahan surut.
Sistem saraf parasimpatisnya mulai mengambil alih, mencoba menenangkan detak jantung yang masih berpacu liar.
Dia menoleh menatap pria yang baru saja menyelamatkannya tanpa menyentuh siapa pun.
Aryasatya berdiri di sana, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana dengan gerakan elegan.
Tidak ada setitik debu pun yang menempel di pakaiannya.
Dia tampak seperti makhluk dari dimensi lain yang nyasar ke ladang gersang ini.
Arya melangkah mendekati Sekar, mengabaikan sepatu mahalnya yang kini berdebu.
Dia menatap Sekar dengan sorot mata yang sulit diartikan, campuran antara kekhawatiran dan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya lembut.
Sekar menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya yang mungkin akan bergetar.
"Saya baik-baik saja," jawab Sekar, berusaha terdengar tegar, meski lututnya terasa goyah.
Otak jeniusnya bekerja cepat, menganalisis situasi yang baru saja terjadi.
Siapa sebenarnya pria ini?
Seorang konsultan pertanian yang bisa membuat rentenir paling kejam di kabupaten ini kencing di celana, dan menelepon pengacara Keraton semudah memesan ojek online?
"Terima kasih," tambah Sekar lirih, menyadari bahwa dia berutang nyawa, atau setidaknya keselamatan fisiknya, pada pria ini hari ini.
Arya hanya mengangguk kecil. Matanya beralih dari wajah Sekar ke arit kecil yang masih digenggam erat oleh gadis itu.
Ada seulas senyum tipis, hampir tak terlihat, di sudut bibir Arya.
"Lain kali," kata Arya pelan, "Kalau mau melawan lima orang preman, cari senjata yang lebih besar dari arit pemotong rumput."