NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ppm 20

Sore itu Johan menjemput Mia di depan kantornya. Mesin mobil menyala, AC dingin, tapi telapak tangan Johan lembap di balik setir. Ia tak tahu apa yang akan ia hadapi. Namun saat pintu mobil terbuka, Mia masuk dengan senyum hangat senyum yang sudah lama tidak Johan lihat.

“Maaf nunggu lama,” ucapnya lembut sambil merapikan tas di pangkuannya. Johan sempat tertegun sebelum menjawab singkat,

“Nggak apa-apa, aku juga baru sampai. ” Mia menoleh, menatap wajahnya sejenak.

“Kamu capek ya?” tanyanya, lalu menyentuh lengan Johan sebentar. Pertanyaan sederhana itu membuat Johan mengendur.

“Lumayan,” jawabnya jujur.

Sepanjang jalan, Mia membuka obrolan ringan. Tentang macet, tentang kantor, tentang makan malam nanti. Semua mengalir seperti dulu, terlalu normal hingga Johan perlahan merasa aman. Di lampu merah, Mia mengambil ponselnya.

 “Malam ini kita pesan makanan saja ya,Kamu mau apa?” Johan menjawab sekenanya.

" Bebas.. apa yang kamu pesan aku ikut saja. "

Mia mengangguk ia sibuk memilih milih makanan di aplikasi online namun matanya sesekali melirik kearah Johan.

Mia lalu menyodorkan layar ponsel dengan santai.

“Oh ya, ini nomor siapa ya? aneh tiba tiba kirim pesan ” Johan melirik sekilas dadanya langsung sesak. Nomor itu pesan itu, jelas tidak asing baginya tangannya mengencang di setir. “Mungkin salah kirim,” katanya cepat.

Mia hanya mengangguk.

 “Bisa ya kebetulan gitu kebetulan kamu juga pulang bawa Strawbery, pasti ni pasangannya romantis kalau di lihat dari gaya tulisannya” Ia tersenyum dan menyimpan ponselnya kembali, seolah tak ada apa-apa. Namun ia mencatat segalanya cara Johan menelan ludah, bahunya yang menegang, dan matanya yang enggan menoleh. Mia menyandarkan kepala ke jok.

“Pasti bahagia tuh pasangan si perempuan, dapat perempuan yang yang romantis begitu,” gumamnya ringan. Johan terdiam, sementara mobil kembali melaju, membawa dua orang dengan rahasia yang kini tak lagi seimbang.

Mobil akhirnya berhenti di garasi Mia turun lebih dulu, masih dengan sikap hangat yang sama terlalu tenang untuk disebut biasa. Di dalam rumah, ia meletakkan tas, lalu menyalakan lampu ruang makan. Johan mengikuti di belakang, ragu untuk memulai percakapan. Keheningan di antara mereka terasa tipis, seperti kaca yang retak tapi belum pecah.

Tak lama, bel pintu berbunyi. Mia bangkit cepat. “Makanan datang,” katanya ringan. Ia menerima pesanan, mengucap terima kasih, lalu menata kotak-kotak itu di meja. Aroma hangat memenuhi ruangan.

“Kamu duduk aja,” ujarnya pada Johan sambil membuka tutup wadah satu per satu. Gerakannya teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menahan sesuatu.

Mereka makan duduk berhadapan. Mia menyuap pelan, sesekali tersenyum kecil, menanyakan hal-hal sepele.

Johan menjawab singkat, matanya tak betah menatap lama. Setiap detik terasa aman dan justru itulah yang membuat Johan gelisah. Ia tak tahu, bahwa di balik ketenangan itu, Mia sedang menghitung jeda napas, arah pandang, dan kebohongan kecil yang makin berat untuk disembunyikan.

Setelah makan, Mia membereskan meja . Ia mengumpulkan kotak-kotak kosong, membuangnya ke tempat sampah, lalu mencuci tangan. Johan memperhatikannya dari kursi, merasa ada jarak yang tak bisa ia sentuh.

“Aku mandi dulu” katanya akhirnya, seperti mencari jeda. Mia mengangguk.

 “Iya,” jawabnya singkat, tetap dengan nada hangat yang terasa ganjil.

Begitu Johan menghilang ke kamar mandi, Mia berhenti sejenak di depan wastafel. Air mengalir, tapi pikirannya tidak. Ia menatap pantulan dirinya tenang, rapi, terkendali. Malam ini bukan tentang konfrontasi. Bukan tentang tangis. Ini tentang memastikan satu hal terakhir. Ia mengambil ponsel, mengetik cepat sebuah pesan, lalu menyimpannya kembali seolah tak terjadi apa-apa.

Ia lalu duduk di ruang tamu, televisi menyala tapi tak benar-benar ia tonton. Tangannya memeluk bantal kecil di pangkuan, punggungnya tegak, wajahnya datar tenang yang dibuat-buat. Di dalam kamar mandi terdengar suara air, Johan baru tengah membersihkan diri. Mia melirik jam dinding sekilas, lalu kembali menatap layar kosong di depannya.

Johan keluar dengan rambut setengah basah. Mia sudah duduk di sofa, menyandarkan punggung, memeluk bantal.

“Mau teh?” katanya lembut. Johan mengangguk, duduk di ujung sofa. Keheningan kembali turun lebih berat dari sebelumnya. Mia tersenyum kecil, senyum yang membuat Johan tak nyaman. Di dalam hatinya, Mia sudah memutuskan besok, permainan pura-pura ini akan selesai. Dengan atau tanpa pengakuan.

 Mia segera bangkit menuju dapur, saat mengaduk teh ia tersenyum culas

" Kamu mau bermain? , baik aku imbangi. " gumamnya.

ia segera bawa kopi keruang tengah dan menyodorkannya pada Johan.

 Tidak berselang lama Mia bangkit menuju kamar tanpa menoleh.

 “Aku tidur duluan,” katanya datar. Johan mengangguk, menunggu pintu tertutup sebelum menghembuskan napas panjang. Ia duduk sendirian di ruang tamu, televisi masih menyala tanpa suara. Sunyi terasa berat bukan karena sepi, tapi karena Mia tak lagi menuntut apa pun. Ia membuka ponsel, berniat menenangkan diri, tepat saat layar menyala oleh satu notifikasi singkat.

Dari Mey pesannya pendek

“Lagi ngapain Yang? ”

Namun cukup membuat dada Johan berdebar. Ia menoleh refleks ke arah kamar, memastikan Mia benar-benar di dalam. Tangannya ragu dibalas atau diabaikan. Ia memilih menunda, meletakkan ponsel terbalik di meja, tapi kegelisahan sudah terlanjur menyusup.

Di kamar, Mia belum tidur. Ia duduk di tepi ranjang, lampu temaram, mendengar langkah Johan yang mondar-mandir di luar. Tidak ada amarah. Hanya satu keputusan yang mengeras pelan di dadanya ia tidak akan menyerang dulu. Ia akan menunggu hingga Johan tersandung oleh kebohongannya sendiri.

Pagi itu Mia bangun lebih dulu. Rumah masih sunyi ketika ia melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tangannya hampir meraih gelas, ketika pandangannya terpaku pada sebuah ponsel yang tertinggal di atas meja. Ponsel Johan. Mia menelan ludah, lalu menoleh ke arah kamar memastikan Johan masih terlelap. Dengan ragu, ia meraih ponsel itu dan membukanya.

Satu pesan langsung menyambutnya.

“Lagi ngapain, Yang?”

Dikirim pukul 23.15 semalam. Tidak ada balasan dari Johan.

Tangan Mia gemetar. Napasnya tersengal, dada terasa sesak. Sepagi itu juga, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun. Niat membuat sarapan lenyap begitu saja. Mia melangkah cepat menuju kamar dan membuka pintu dengan gerakan kasar.

Johan terperanjat. Matanya terbuka setengah, suaranya masih serak oleh kantuk.

“Ada apa?” tanyanya bingung.

“Ada apa?!” Mia mendesis, lalu melempar ponsel itu ke atas kasur.

 “Jelaskan sekarang apa ini?!”

Johan gugup. Ia meraih ponselnya dan menatap Mia dengan wajah kalut.

“Kamu ngecek ponselku?” serangnya.

 “Kamu tahu nggak itu privasiku?!”

Mia tertawa pendek getir.

“Privasi?” suaranya bergetar menahan amarah. “Hentikan omong kosong itu. Kita ini suami istri. Kamu sendiri yang selalu bilang, pasangan harus saling terbuka!.”

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!