NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12_DIAM-DIAM MENYELAMATKAN

Skorsing itu terasa lebih berat dari hukuman apa pun.

Bukan karena Nayla harus tinggal di rumah selama beberapa hari, tapi karena caranya tersebar cepat. Seolah sekolah ingin semua orang tahu bahwa Nayla Azzahra pernah 'bermasalah'.

Pagi itu, Nayla duduk di teras rumah Mahendra dengan seragam rapi yang tidak akan ia pakai ke sekolah. Tasnya tergeletak di samping kursi, masih berisi buku-buku yang tak tersentuh. Ia menatap halaman depan tanpa fokus.

Di dalam rumah, suasana juga tidak jauh berbeda. Sunyi. Terlalu sunyi.

Azka turun dari tangga dengan langkah pelan. Ia sudah mengenakan seragamnya. Dasi rapi. Rambut tersisir sempurna. Wajah dingin seperti biasa.

Namun langkahnya melambat saat melihat Nayla. Biasanya Nayla sudah berangkat lebih dulu. Atau setidaknya bersikap seolah ia tidak peduli. Tapi hari ini, Nayla hanya duduk. Diam. Tatapannya kosong.

Azka berhenti beberapa langkah darinya.

“Kamu nggak sekolah,” ucapnya datar, meski ia sudah tahu jawabannya.

Nayla menoleh sekilas. “Skorsing.”

Azka mengangguk kecil. “Aku tahu.”

Jawaban itu membuat Nayla menatapnya lebih lama.

“Kamu tahu?” ulang Nayla pelan.

Azka mengalihkan pandangan. “Satu sekolah juga tahu.”

Nayla tersenyum pahit. “Hebat, ya. Cepat banget.”

Azka tidak menjawab. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.

“Aku berangkat,” katanya singkat.

Nayla mengangguk. “Hati-hati.”

Kalimat itu keluar begitu saja, refleks. Setelah menyadarinya, Nayla menunduk, sedikit menyesal.

Azka berhenti.

Ia menoleh, menatap Nayla dengan ekspresi yang sulit dibaca. Seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya.

Tanpa sepatah kata lagi, ia melangkah pergi. Namun langkah itu terasa lebih berat dari biasanya.

***

Di sekolah, suasana tidak lebih ramah.

Gosip tentang Nayla berubah bentuk. Dari “cewek sok cari perhatian” menjadi “cewek pembuat onar”.

Azka mendengarnya di mana-mana.

“Pantes diskors.”

“Cari masalah sendiri.”

“Untung belum dikeluarin.”

Azka duduk di kelas dengan rahang mengeras. Ia menatap papan tulis, tapi pikirannya tidak di sana.

Di ruang guru, sebuah map cokelat berada di atas meja kepala sekolah. Nama Nayla tertulis jelas di sampulnya.

Catatan pelanggaran.

Azka melihatnya saat dipanggil oleh omnya siang itu.

“Kamu duduk,” ujar kepala sekolah sambil menunjuk kursi di depannya.

Azka duduk. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.

“Kamu tahu soal Nayla,” kata pria itu langsung.

Azka mengangguk. “Saya tahu.”

“Kamu tidak terlibat langsung,” lanjutnya, “tapi namamu sering disebut dalam laporan saksi.”

Azka mengepalkan tangan di bawah meja. “Karena mereka suka berspekulasi.”

Kepala sekolah menatapnya lama. “Azka, saya tidak bodoh.”

Azka terdiam.

“Ada banyak hal yang tidak tercatat di kertas,” lanjut kepala sekolah. “Tapi saya juga harus menjaga sekolah ini.”

Azka menarik napas. “Apa Nayla akan dikeluarkan?”

Pertanyaan itu keluar tanpa Azka sempat menahannya.

Kepala sekolah mengangkat alis. “Kamu khawatir?”

Azka tidak langsung menjawab. “Dia tidak pantas dikeluarkan.”

“Dia terlibat konflik fisik.”

“Karena dia disudutkan,” balas Azka cepat. “Semua orang tahu itu.”

Kepala sekolah bersandar di kursinya. “Dan kamu tahu kenapa dia disudutkan?”

Azka terdiam.

"Karena aku". Jawaban itu terngiang jelas di kepalanya, meski tak terucap.

“Satu catatan lagi,” lanjut kepala sekolah, “dan posisinya akan sangat sulit.”

Azka menatap map cokelat itu.

“Apa yang bisa saya lakukan?” tanyanya pelan.

Kepala sekolah menghela napas panjang. “Kamu tidak seharusnya bertanya itu.”

“Tapi saya bertanya,” ujar Azka tegas.

Hening beberapa detik.

“Ada laporan saksi yang masih bisa ditinjau ulang,” kata kepala sekolah akhirnya. “Beberapa murid mengaku melihat provokasi sebelum konflik.”

Azka mengangkat wajahnya. “Laporan itu bisa diubah?”

“Bukan diubah,” koreksi kepala sekolah. “Dilengkapi.”

Azka mengangguk kecil. “Saya bisa bawa saksi.”

Kepala sekolah menatap keponakannya dengan pandangan campur aduk. “Kamu yakin?”

Azka tidak ragu. “Iya.”

***

Sore itu, Azka menemui Devan, Raka, dan Dion.

“Ada yang mau gue minta,” katanya tanpa basa-basi.

Raka langsung menegakkan badan. “Serius banget. Kenapa?”

“Nayla,” jawab Azka singkat.

Devan menghela napas. “Akhirnya.”

“Apa?” Azka menoleh tajam.

“Lo peduli,” ujar Devan tenang. “Meskipun lo denial.”

Azka tidak membantah.

“Ada yang lihat konflik di koridor hari itu,” lanjut Azka. “Gue butuh kesaksian.”

Dion mengangguk. “Anak kelas sebelah. Gue lihat juga.”

Raka menyeringai tipis. “Dan cewek itu yang mulai.”

Azka menatap mereka satu per satu. “Ini nggak buat gue.”

Devan mengangguk. “Kami tahu.”

***

Dua hari kemudian, Nayla dipanggil kembali ke sekolah. Ia datang dengan seragam rapi dan jantung berdebar. Di ruang kepala sekolah, suasananya berbeda. Tidak setegang sebelumnya.

“Kami meninjau ulang laporan,” ujar kepala sekolah. “Ada saksi tambahan.”

Nayla menatap lantai. “Saya tidak membawa siapa pun.”

“Kami tahu,” jawab kepala sekolah.

Pintu terbuka. Azka masuk.

Nayla terkejut. Matanya membelalak. “Kamu—”

Azka berdiri di samping kepala sekolah. Wajahnya datar, tapi tatapannya tenang.

“Saya yang membawa saksi,” kata Azka.

Nayla menatapnya, tidak percaya.

Setelah beberapa penjelasan, kepala sekolah menutup map cokelat itu.

“Catatan pelanggaran akan diturunkan,” katanya. “Skorsing tetap berlaku, tapi tidak ada ancaman lanjutan.”

Nayla mengangkat wajahnya. “Terima kasih, Pak.”

Kepala sekolah mengangguk. “Kamu boleh kembali ke kelas minggu depan.”

Nayla berdiri dengan kaki gemetar. Ia menoleh ke arah Azka, tapi Azka sudah lebih dulu melangkah keluar.

***

Di koridor yang sepi, Nayla mengejarnya.

“Azka!”

Azka berhenti.

“Kamu yang bantu aku?” tanya Nayla pelan.

Azka tidak menoleh. “Jangan besar kepala.”

Nayla mengernyit. “Jawab aku.”

Azka berbalik. Tatapan mereka bertemu.

“Iya,” jawab Azka singkat. “Aku nggak mau ribut lebih panjang.”

Nayla menatapnya lama. “Kenapa?”

Azka terdiam beberapa detik.

“Karena…” ia berhenti, lalu menghela napas. “kamu nggak sepenuhnya salah.”

Jawaban itu sederhana. Tapi cukup. Nayla menelan ludah. Dadanya terasa hangat dan perih bersamaan.

“Terima kasih,” ucapnya tulus.

Azka mengangguk kecil. “Jangan bikin masalah lagi.”

Nayla tersenyum tipis. “Aku cuma membela diri.”

Azka menatapnya sesaat lebih lama dari biasanya. Lalu ia berbalik pergi. Namun kali ini, langkahnya tidak sekeras sebelumnya.

Dan Nayla tahu, untuk pertama kalinya, Azka menyelamatkannya. Diam-diam. Tanpa syarat. Tanpa ingin diketahui siapa pun. Sebuah perlindungan yang tidak diucapkan, tapi nyata.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!