Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
tommy hariaksa
Malam menjelang pagi terasa berjalan terlalu lambat bagi mereka berdua.
Rayya berbaring memunggungi jendela kamarnya, mata terpejam namun pikirannya berlarian tanpa arah. Presentasi sore tadi seharusnya membuatnya lega, sinkron, rapi, bahkan dipuji para direksi. Namun justru di situlah kegelisahan muncul. Proyek pelabuhan ini terlalu besar untuk sekadar mengandalkan satu penampilan yang baik. Sedikit saja melenceng besok, satu kalimat salah ucap, satu data yang dipelintir pesaing, semuanya bisa berbalik arah.
Lebih dari itu, Rayya tidak menyukai kenyataan bahwa ia ingin segalanya berjalan sempurna… bukan hanya demi perusahaan, tapi juga demi dirinya sendiri.
Ia ingin membuktikan bahwa posisinya bukan hadiah sebagai anak direktur utama. Ia ingin berdiri karena kapasitas.
Di sisi lain kota, Devan juga terjaga.
Lampu meja kerjanya masih menyala, berkas tender terbuka rapi. Ia sudah membaca semuanya berulang kali, bahkan sampai ke catatan kaki. Namun tetap saja, pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Tender ini akan menjadi ujian pertamanya di perusahaan pusat, di hadapan para pesaing besar yang sudah lama mengenal medan.
Hari besok bukan sekadar presentasi.
Hari besok adalah pernyataan.
Dan entah disukainya atau tidak, ia dan Rayya akan dinilai sebagai satu tim.
Pagi itu, gedung tempat diadakannya tender tampak sibuk sejak dini hari. Logo-logo perusahaan besar terpampang di layar digital lobi utama. Para eksekutif berdatangan dengan setelan terbaik, wajah penuh perhitungan.
Rayya tiba dengan langkah mantap. Ari berjalan di belakangnya, membawa tablet dan map dokumen. Rayya mengangguk singkat pada beberapa kolega, sikapnya formal, terjaga.
Namun ketika hendak duduk di kursinya, seseorang memanggil namanya.
“Rayya?” panggil seseorang.
Suara itu tidak asing.
Rayya menoleh dan membeku sepersekian detik sebelum ekspresinya kembali netral.
“Tommy,” ucapnya singkat.
Tommy Hariaksa berdiri di hadapannya dengan senyum yang ia kenal terlalu baik. Setelan abu-abu muda, jam mahal di pergelangan tangan, dan aura percaya diri khas direktur utama Hariaksa Group, perusahaan pesaing yang juga ikut dalam tender pelabuhan ini.
“Kita ketemu lagi setelah sekian lama” kata Tommy, nadanya hangat.
“Aku dengar kamu yang memimpin presentasi presentasi perusahaan kamu hari ini.” tanya tommy.
Rayya mengangguk kecil.
“Begitu juga kamu. kan?” tanya rayya balik.
Tatapan Tommy melunak.
“Kamu terlihat… cantik seperti dulu. Bahkan lebih cantik.” ucap tommy.
Rayya tidak menanggapi pujian itu. Ia sudah terlalu lama belajar membedakan mana basa-basi dan mana niat tersembunyi.
“Aku tidak menyangka Hariaksa Group ikut tender ini,” katanya.
“Kami tidak mungkin melewatkan proyek sebesar ini,” jawab Tommy. Ia ragu sejenak, lalu menambahkan,
“Ray, soal dulu—” ucapan tommy terpotong,
“Kita di acara profesional,” potong Rayya tenang.
“Lebih baik kita fokus pada agenda masing-masing.” sambung rayya.
Tommy tersenyum pahit, tapi tidak mundur.
“Setelah semua ini selesai… bagaimana kalau makan malam? Sekadar ngobrol. Tidak ada urusan bisnis.” ucap tommy dengan penuh percaya diri.
Rayya melirik sekilas ke arah pintu masuk ruang meeting. tak jauh darinya, ia melihat Devan berdiri bersama timnya, tengah berdiskusi serius. Ekspresinya fokus, sepenuhnya tenggelam dalam persiapan.
Ada dorongan aneh di dada Rayya.
ada keinginan untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Bahwa masa lalunya tidak meninggalkan luka yang terlihat.
“Baik,” jawab Rayya akhirnya.
“Makan malam saja bagaimana?.” tanyanya.
Senyum Tommy mengembang, jelas tidak menyembunyikan rasa senangnya.
“Aku jemput dimana?.” tanya tommy bersemangat.
" di rumah aku. kamu masih ingatkan alamatnya? kamu kan pernah kesana" tanya rayya balik.
" ingat donk, kalau begitu aku akan datang pukul tujuh bagaimana?" tanya tommy memastikan.
Rayya mengangguk singkat. mereka pun berpisah karena acara tender akan di mulai.
Devan sebanarnya melihat dan mendengar mereka karena devan duduk di samping rayya. Ia mengenali Tommy Hariaksa, nama itu tercantum jelas dalam daftar pesaing utama. Ia juga melihat bahasa tubuh Rayya: tenang, terkendali, tapi cukup dekat untuk disebut akrab. namun Devan tidak bereaksi.
Ia kembali menunduk pada tablet di tangannya, mengecek ulang poin presentasi. Baginya, hari ini bukan tentang siapa berbicara dengan siapa, atau siapa makan malam dengan siapa. Fokusnya satu: memastikan perusahaan yang ia wakili tampil solid dan tak tergoyahkan.
“Pak Devan,” salah satu anggota timnya menyapa.
“Semua sudah siap.” sambung sang anggota.
Devan mengangguk.
“Pastikan tidak ada perubahan data di menit terakhir.” sahut devan dengan wajah serius.
“Baik pak.” jawab anggota tersebut.
Ketika Rayya akhirnya bergabung dengan timnya, tidak ada komentar, tidak ada pertanyaan. Mereka duduk berdampingan dengan jarak profesional, seperti kemarin sore. Tidak ada yang menyinggung pertemuan Rayya dengan Tommy.
Dan Rayya memperhatikan itu.
Ia melirik Devan sekilas. Pria itu tetap tenang, tidak terganggu, tidak terusik. Tidak ada reaksi yang bisa ia tafsirkan sebagai apa pun selain profesionalisme murni.
Entah kenapa, hal itu justru membuat dadanya terasa ganjil.
“Siap?” tanya Devan singkat.
Rayya mengangguk.
“Siap.” ucapnya.
Pintu ruang tender terbuka. tim panelis masuk.
devan dan rayya bukan sebagai dua orang dengan masa lalu yang rumit, melainkan sebagai dua profesional yang membawa ambisi, gengsi, dan pembuktian masing-masing.
Di ruangan itu, persaingan akan dimulai.
Dan tanpa mereka sadari sepenuhnya,
yang dipertaruhkan bukan hanya proyek pelabuhan,
melainkan batas tipis antara fokus, ego, dan perasaan yang perlahan diuji.
Presentasi berjalan dengan ritme yang nyaris sempurna.
Rayya berdiri di depan layar besar dengan pointer di tangannya, menjelaskan skema pengembangan pelabuhan tahap demi tahap. Suaranya stabil, intonasinya tegas, setiap data mengalir logis. Ia tidak terburu-buru, tidak pula bertele-tele. Semua yang disampaikannya menunjukkan penguasaan penuh, bukan hanya pada angka, tetapi juga pada visi jangka panjang proyek tersebut.
Di antara deretan perwakilan perusahaan pesaing, Tommy duduk sedikit condong ke depan.
Matanya hampir tak pernah lepas dari Rayya.
Cara Rayya menggerakkan tangan saat menekankan poin penting, sorot matanya yang tajam ketika menjawab pertanyaan panel, bahkan jeda singkat sebelum ia melanjutkan penjelasan. semuanya terasa begitu familiar. Seolah waktu mundur bertahun-tahun ke masa mereka masih duduk berhadapan di kafe kampus, Rayya menjelaskan rencana hidupnya dengan mata berbinar, sementara ia hanya mendengarkan, jatuh cinta tanpa sadar.
Tommy tersenyum tipis.
Rayya tidak banyak berubah.
Jika pun berubah, ia justru menjadi versi yang lebih kuat dari perempuan yang dulu ia kagumi.
Ingatan lama menyusup tanpa izin. malam-malam panjang mengerjakan tugas bersama, pertengkaran kecil yang selalu diakhiri tawa, hingga satu kesalahan bodoh yang menghancurkan semuanya. Perselingkuhan yang dulu ia anggap bisa ia perbaiki dengan kata maaf, ternyata menjadi luka yang terlalu dalam bagi Rayya.
“Kalau saja aku tidak sebodoh itu,” gumamnya lirih.
Tatapannya semakin serius. Dalam hati, sebuah tekad perlahan terbentuk. Ia bukan lagi Tommy mahasiswa yang belum tahu arah hidup. Ia kini direktur utama, mapan, berpengaruh. Jika ada waktu yang tepat untuk menebus kesalahan dan memperjuangkan Rayya dengan cara yang benar, maka itu adalah sekarang.
Di sisi lain ruangan, Devan menangkap semua itu.
Ia melihat bagaimana Tommy memandang Rayya, terlalu lama, terlalu fokus, dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya profesional. Devan tidak mengenal detail masa lalu mereka, tetapi ia cukup cerdas untuk membaca bahasa tubuh. Tatapan itu bukan sekadar kekaguman kompetitor terhadap rival.
Namun Devan tidak bereaksi.
Ia tetap berdiri di tempatnya, menunggu giliran menjelaskan bagian teknis operasional. Wajahnya datar, sikapnya terkendali. Dalam pikirannya, satu-satunya hal yang penting adalah memastikan presentasi ini berjalan tanpa gangguan.
Bukan urusan pribadi.
Bukan urusan perasaan.
Ini urusan perusahaan.
Saat salah satu anggota panel mengajukan pertanyaan kritis mengenai risiko logistik, Devan langsung maju selangkah.
“Izinkan saya menambahkan,” katanya, suaranya tenang namun berwibawa.
Ia menjawab dengan lugas, memaparkan solusi yang sudah disiapkan matang. Tanpa sadar, posisinya sedikit menghalangi pandangan langsung Tommy ke arah Rayya. Sebuah gerakan kecil, nyaris tak kentara, namun cukup untuk menarik kembali fokus ruangan ke materi presentasi.
Rayya melirik Devan sekilas.
Ia menyadari apa yang dilakukan Devan, meski tidak mengatakannya. Untuk pertama kalinya hari itu, Rayya merasakan sesuatu yang sulit ia definisikan, bukan rasa terlindungi, melainkan rasa didukung dalam konteks yang paling ia pahami: profesionalitas.
Presentasi akhirnya ditutup dengan tepuk tangan formal.
Panel juri mengangguk-angguk, beberapa di antaranya bertukar catatan. keputusan akan diumumkan sore itu, namun atmosfer ruangan jelas menunjukkan satu hal, perusahaan mereka meninggalkan kesan yang kuat.
Setelah keluar dari ruang presentasi, Rayya menarik napas panjang. Ketegangan yang sejak pagi mengikat dadanya perlahan mengendur.
“Kita sudah melakukan yang terbaik,” ucap Devan singkat.
Rayya mengangguk.
“Sekarang tinggal menunggu.” sahutnya.
Dari kejauhan, Tommy memperhatikan mereka berdiri berdampingan. Tidak ada gestur intim, tidak ada senyum berlebihan,hanya dua profesional yang tampak solid. Namun entah mengapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Ia tahu, untuk mendapatkan kembali Rayya, ia tidak hanya harus melawan masa lalu,
tetapi juga seseorang yang berdiri di masa kini, tenang, kuat, dan selalu selangkah siap melindungi apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Dan tanpa disadari ketiganya,
pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.