NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demam

  "Rama.... Galih...!"

  Pagi itu bu Susi dibuat sibuk mondar-mandir, memasak sambil sesekali mengetuk-ketuk pintu kamar anak dan cucunya secara bergantian. Bu Susi menatap jam dinding, waktu sudah menunjuk hampir pukul tujuh, namun mereka tak kunjung ada yang keluar dari kamar.

  Bu Susi masuk kamar Rama, untuk memastikan apa yang terjadi, dibukanya tirai yang menutup jendela, lalu cahaya matahari menyinari wajah Rama. "Bangun Rama, ini sudah siang." Ucap bu Susi sambil mengoyang-goyangkan bahu Rama.

 Rama membuka matanya, "aku nggak enak badan mbah ibu. Kepalaku terasa berat, seperti tertimpa batu." Katanya, lalu memutar badan membelakangi bu Susi yang sedang duduk di tepi tempat tidur.

  "Kamu sakit Rama?" Tanya bu Susi sambil menyentuh dahinya, "wah kamu demam, pasti karena kehujanan kemarin. Badanmu panas sekali, Rama."

   "Iya, mbah ibu. Tenggorokan ku juga sakit sekali," kata Rama. "Ini gara-gara ayah yang ngajak pulang pas hujan lagi deras-derasnya."

  "Iya, harusnya kalian pulangnya nunggu hujan reda, kenapa malah buru-buru?"

  "Ayah nggak mau di sana lama-lama karena ada bu Winda sama Rania, mbah ibu." Kata Rama yang membuat bu Susi mengerti maksudnya.

  "Jangan-jangan ayah mu sakit juga. Mbah ibu ke sana dulu, ya?" pamit bu Susi yang hanya dijawab angukan lemah dari Rama.

  Bu Susi segera membuka kamar Galih, dan benar saja dia masih berbaring terbungkus selimut tebal. "Kamu sakit, Galih?" tanya bu Susi sambil menyentuh dahinya.

  Galih mencoba bangun, "iya, bu. Kepalaku sangat berat, badanku panas tapi rasanya dingin." Katanya.

 Bu Susi menghela napas, "kamu juga sih, ngapain hujan-hujanan? Coba kamu tunggu hujannya reda, pasti nggak begini kejadiannya." Omel bu Susi.

  "Duh ibu...Aku lagi demam malah diomelin. Aku nggak hujan-hujanan, ibu, tapi kehujanan."

  "Nggak usah ngeles, itu sama saja, Galih. Rama bilang, kamu hujan-hujanan gara-gara ada Winda di sana?" Tanya bu Susi yang dibalas diam oleh Galih. "Jadi benar?"

  "Nggak gitu, bu–"

  "Lalu apa?" Pangkas bu Susi cepat, bu Susi menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. "Galih, Galih, cobalah buka sedikit hati mu untuk wanita lain. Ibu nggak mengharuskan Winda, tapi setidaknya jangan selalu dingin sama wanita." Omel bu Susi.

  Galih tak menjawab, ia justru membenamkan tubuhnya ke dalam selimut.

  "Rama juga ikut menangung akibat dari kehujanan kemarin. Hari ini ibu sangat sibuk, pelangan ibu mulai banyak, lalu siapa yang akan menjaga kalian di rumah?"

  "Ibu tenang saja. Aku dan Rama akan baik-baik saja di rumah. Nanti kita minum obat sama istirahat pasti langsung sembuh," kata Galih tanpa menunjukan wajahnya.

 "Ya sudah, kalau begitu ibu ambil sarapan untuk kalian dulu, habis ini ibu mau siap-siap ke pasar." Kata bu Susi, lalu meningalkan Galih di kamarnya.

 Sebelum berangkat ke pasar, bu Susi mengambilkan sarapan serta obat untuk Galih dan Rama, mengantarnya ke kamar masing-masing, lalu berangkat ke pasar.

  Dengan perasaan tak tenang, bu Susi terus melayani pelangan yang datang silih berganti saat menjelang siang itu.

  * *

  Di kota Wonosobo Winda tak punya siapapun kecuali anaknya. Di hari libur, sudah pasti akan merasa bosan jika harus di rumah saja.

  "Nak, bagaimana jika kita ke pasar? Kita cari kios mbah ibunya Rama. Ibu bosan di rumah terus," kata Winda saat tiba-tiba teringat ucapan bu Susi waktu itu. Winda tak mengharap Galih akan menjemput atau mengantarnya ke pasar, ia tahu pria itu sangat dingin padanya.

  "Iya, bu. Sekalian aku mau lihat pasar Wonosobo yang katanya bersih dan rapi." Kata Nia yang dijawab anggukan oleh Winda, lalu mereka segera berangkat.

  Winda melajukan mobilnya pelan, kurang dari lima belas menit mereka telah sampai di pasar. Mereka memutari kios pakaian, untuk mencari kios bu Susi.

  Tiga puluh menit mencari, akhirnya mereka menemukan kios bu Susi. Bu Susi tampak sedang memberi tahu cara menyusun pakaian yang rapi, agar dapat menarik pelangan pada Lina dan Nisa, dua orang karyawan yang baru bekerja dua hari di sana.

  Winda berdiri sambil tersenyum di depan kios bu Susi. "Bu Susi," panggil Winda yang langsung disambut hangat oleh bu Susi.

  "Eh, Winda, Rania, kalian di sini? Ayo duduk di dalam." Ajak bu Susi, lalu mengambilkan tempat duduk untuk Winda dan Rania.

  Bu Susi memperkenalkan Winda pada karyawanya. Mereka mengobrolkan banyak hal sambil bergantian melayani pelangan yang datang, hingga akhirnya memicu ide bu Susi.

  "Winda, ibu bisa minta tolong?" kata bu Susi yang disambut dengan senang hati oleh Winda.

  "Iya, bu. Apa yang bisa aku bantu?"

  "Begini, Winda." Bu Susi agak ragu namun tetap mengatakannya, "sebenarnya Galih dan Rama sedang sakit, ibu meninggalkannya di rumah. Kalau Winda tidak keberatan, apa ibu bisa minta tolong jenguk mereka di rumah?" Ucap bu Susi yang membuat Winda terdiam berpikir.

  Winda tahu, Rama memang sudah sangat dekat dengannya, meski belum genap sebulan ia mengajar di kelasnya. Namun saat mengingat sikap dingin Galih, ia paham, ada kemungkinan Galih tidak menyukai kehadirannya.

  "Maaf, ibu merepotkan, ya?" sambung bu Susi yang membuyarkan lamunan Winda.

  "Oh, bukan begitu, bu. Tapi saya merasa tidak enak jika ke rumah tanpa adanya bu Susi." Katanya.

  "Nggak apa, di rumah kan ada Rama. Ibu nggak punya saudara yang bisa dimintai tolong, ibu cuma dekat sama Arumni istrinya Galih, tapi kan nggak enak jika minta tolong sama dia." Kata bu Susi.

  Winda mengulas senyum, ia berpikir, "apa salahnya aku dekat dengan keluarga bu Susi? Lagi pula aku juga tidak punya siapa-siapa di sini." Pikirnya yang akhirnya menyanggupi permintaan bu Susi.

  "Bagaimana?" tanya ulang bu Susi yang dijawab anggukan oleh Winda.

  "Baik, bu." Ucapnya dengan senang hati.

  Bu Susi memberikan alamatnya pada Winda, lalu memberikan arahan jalannya.

Di perjalanan, Winda berpikir akan membawa sesuatu untuk Rama dan Galih. Ia membeli makanan dan buah-buahan untuk mereka.

Sesampainya di sana, Winda menekan bel lalu menunggu mereka membukakan pintunya. Saat itu Galih dan Rama sedang meringkuk di ruang tengah.

"Ayah, ada yang datang." Kata Rama yang tidak ditanggapi oleh Galih. "Ayah, ayah, ayah buka pintunya, ayah."

"Ayah nggak kuat berdiri, Rama. Badan ayah gemetar, kliyengan, ayah nggak bisa berdiri." Kekeh Galih.

"Aku juga, ayah." Kata Rama, lalu belnya kembali berbunyi, "tapi belnya terus berbunyi ayah. Andai aku punya ibu, pasti jadi ada yang membukakan pintu saat kita seperti ini, ayah." Kata Rama yang membuat Galih akhrinya berdiri untuk membuka pintunya, "saat seperti ini harusnya ada ibu yang menemani." Rengek Rama.

"Nggak usah manja, nggak ada ibu juga pintunya akan terbuka." Kata Galih sambil memaksakan diri.

Dengan terseok-seok Galih berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. "Bu Winda?" Galih merasa terkejut atas kehadirannya di saat dirinya sedang tidak enak badan.

"Maaf, pak Galih. Ibu memberitahu kalau pak Galih dan Rama sedang sakit, oleh karena itu saya—"

"Silahkan masuk bu Winda." Potong Rama yang mendadak jadi semangat, jauh dari yang tadinya sedang lemas.

Bu Winda tersenyum mengangguk, lalu masuk bersama Rania, melewati Galih yang masih berdiri di sana.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!