NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PILIHAN YANG MENGHANCURKAN

Malam itu, hujan turun membasahi kota, mencerminkan kekacauan di hati Samudera. Dia duduk di teras bengkel Arka, menatap jalanan yang basah dengan pandangan kosong. Arka duduk di sampingnya, memberikan segelas kopi panas yang uapnya mengepul.

"Loe harus jujur sama dia, Sam. Kebohongan, sekecil apa pun, bakal jadi bom waktu," ucap Arka pelan.

"Masalahnya nggak sesederhana itu, Ka. Kalau gue jujur dan Alsya nggak sengaja keceplosan ke bokapnya, Ayah bakal tahu gue nemuin loe. Pengobatan temen gue bakal dihentikan, dan loe... loe bakal diusir lagi dari sini," sahut Samudera, suaranya parau.

"Gue nggak peduli soal gue, Sam. Tapi gue peduli soal kebahagiaan loe. Cewek itu... Alsya... dia satu-satunya alasan loe mulai hidup lagi, kan?"

Samudera terdiam. Arka benar. Tapi bayangan wajah kecewa Alsya tadi sore terus menghantuinya.

Sementara itu, di kediaman Anantara, Alsya mengunci diri di kamar. Dia tidak menangis meraung-raung. Dia hanya duduk di lantai, memeluk lututnya, menatap lukisan yang baru setengah jadi di atas kanvasnya. Lukisan itu adalah siluet seseorang yang tampak seperti Samudera, yang kini ingin sekali dia coret dengan warna hitam.

Tok, tok, tok.

Pintu kamarnya diketuk. Itu Eliza.

"Sya, boleh gue masuk? Gue mau jelasin sesuatu," suara Eliza terdengar sangat lembut, seolah-olah dia adalah penengah yang bijak.

Alsya tidak menjawab, tapi Eliza tetap masuk. Dia duduk di tepi tempat tidur Alsya. "Sya, loe jangan salah paham sama Samudera. Dia ketemu gue karena dia butuh uang buat kakaknya. Dia nggak mau minta ke loe karena dia gengsi."

Alsya mendongak, matanya merah. "Uang?"

"Iya. Samudera itu sebenernya lagi kesulitan finansial sejak dibuang keluarganya. Dia ngerasa loe cuma anak manja yang nggak bakal ngerti masalah hidupnya, makanya dia lebih milih cerita ke gue yang 'katanya' lebih dewasa," Eliza kembali meracuni pikiran Alsya dengan kebohongan baru yang sangat halus.

"Dia bilang gue anak manja?" bisik Alsya. Hatinya semakin perih.

"Bukan maksud dia jahat, Sya. Tapi ya... loe tahu kan dunia kita beda sama dia. Dia butuh orang yang bisa kasih solusi instan, bukan cuma dukungan emosional," Eliza mengelus bahu Alsya. "Mungkin emang bener kata Papa, Samudera itu terlalu banyak rahasia buat cewek setulus loe."

Keesokan harinya di sekolah, Samudera mencegat Alsya di depan loker. Wajahnya tampak kacau, matanya menghitam karena kurang tidur.

"Sya, dengerin gue sebentar aja. Gue mohon," Samudera memegang tangan Alsya.

Alsya melepaskannya dengan kasar. "Buat apa, Sam? Buat denger alasan baru kenapa loe lebih milih bahas 'masalah hidup' loe sama Eliza daripada sama gue? Karena gue cuma anak manja yang nggak bakal ngerti?"

Samudera mengerutkan dahi. "Anak manja? Siapa yang bilang gitu? Gue nggak pernah—"

"Nggak usah ngeles lagi, Sam. Eliza udah cerita semuanya. Loe butuh uang buat kakak loe, kan? Kenapa loe nggak bilang? Apa karena gue cuma akses buat loe dapetin relasi bisnis Papa, dan loe pikir gue nggak punya fungsi lain selain itu?"

Samudera tertegun. Dia menyadari Eliza telah memutarbalikkan fakta lagi. Dia ingin berteriak bahwa itu semua bohong, tapi jika dia menjelaskan soal pengobatan temannya dan ancaman ayahnya, dia akan membahayakan Arka.

"Sya, ini soal keselamatan orang lain. Gue nggak bisa kasih tahu loe detailnya sekarang," ucap Samudera lirih.

"Tuh kan. Selalu ada rahasia. Selalu ada 'orang lain'," Alsya tersenyum pahit, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kalau loe nggak bisa percaya sama gue sepenuhnya, berarti kita nggak punya apa-apa lagi buat dipertahanin, Sam."

Alsya berjalan pergi meninggalkan Samudera yang terpaku di tengah koridor. Dari kejauhan, Eliza dan Revaldi memperhatikan mereka dengan senyum kemenangan.

Samudera mengepalkan tangannya. Dia sadar, satu-satunya cara untuk mengakhiri ini adalah dengan melawan sumber masalahnya: Ayahnya sendiri dan kelicikan Eliza. Tapi itu berarti dia harus mempertaruhkan segalanya.

Konflik semakin memuncak! Samudera terjebak dalam dilema antara cinta dan tanggung jawab.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!