NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Tahun 2020 menyapa Seoul dengan wajah yang dingin dan terburu-buru. Di dalam Markas Kepolisian Seoul Pusat, udara terasa pengap oleh perpaduan bau kertas lama yang lembap, kopi instan yang terlalu kental, dan aroma peluh para detektif yang jarang pulang sebelum tengah malam. Di sebuah kubikel yang dipenuhi tumpukan berkas, Ahn Lisa menghela napas panjang yang bergetar, mengusir kelelahan yang mulai menggerogoti tulang pelipisnya.

Jemarinya yang ramping dan pucat menari dengan cepat di atas papan ketik, sementara matanya yang tajam terpaku pada dokumen digital yang kusam. Itu adalah laporan pencurian artefak Dinasti Joseon dari museum kecil di Insa-dong, terjadi tahun 2002. Sebuah cold case yang sudah ditutup sebagai pekerjaan dalam.

“Kasus beku untuk hari yang beku,” gumamnya lirih, suaranya tenggelam dalam simfoni kantor polisi: dering telepon yang tak henti-henti, hentakan keyboard, suara detektif senior yang membentak informan di ruang interogasi, dan dengungan konstan dari pemanas udara yang mulai rewel.

Lisa menyisir rambut hitam panjangnya yang seperti sutra dengan jari-jarinya, mengikatnya kembali ke dalam sanggul yang longgar. Di usianya yang masih dua puluhan awal, menembus Divisi Penyelidikan Kasus Berat adalah sebuah pencapaian. Namun, di mata beberapa senior yang sudah berpuluh tahun berkubang dalam darah dan kejahatan, ia tak lebih dari ‘anak kemarin sore’ yang membawa gelar sarjana dan idealismenya yang masih mentah. Tatapan mereka seringkali seperti itu—merendahkan, penuh uji coba, menunggunya gagal.

“Masih menggali kuburan dengan tanganmu sendiri, Detektif Ahn?”

Suara itu, berat dan sarat dengan sesuatu yang bukan sekadar pertanyaan, memotong konsentrasinya. Lisa menoleh. Di balik sekat kubikelnya berdiri Detektif Senior Hwang, tangannya menggenggam cangkir keramik kopi yang sudah bernoda kecokelatan. Senyum di wajahnya tipis, tidak sampai ke mata.

“Bukannya kuburan, Senior. Ini adalah arsip. Dan setiap arsip punya cerita yang menunggu untuk dibaca ulang,” jawab Lisa, suaranya tenang namun tidak goyah.

“Cerita yang sudah berakhir, Lisa. Dingin. Mati. Seperti peluangmu untuk naik pangkal jika terus menghabiskan waktu di sana,” ujar Senior Hwang, menyesap kopinya dengan suara berisik. “Mending bantu timku urus laporan pencurian motor di Gangnam. Setidaknya itu nyata dan ada pelaku yang bisa kau kejar.”

Lisa menegakkan punggungnya. Posturnya yang semampai tiba-tiba terlihat lebih tegas. “Setiap kejahatan meninggalkan gema, Senior Hwang. Hanya masalah siapa yang cukup sabar untuk mendengarkan gema yang sudah hampir menghilang itu.”

Senior Hwang mengeluarkan suara mendesah, setengah jengkel setengah terhibur, sebelum membalikkan badan dan meninggalkannya dengan langkah berat. Lisa menarik napas lagi, kali ini lebih dalam. Pertukaran kata-kata itu biasa, tapi hari ini rasanya seperti butiran pasir di dalam sepatu—kecil, tapi mengganggu.

Tapi bukan itu sumber kegelisahannya.

Sejak pagi tadi, ada sensasi aneh yang bersarang di antara tulang rusuknya. Bukan sakit, bukan pula kecemasan biasa. Ini seperti… ada jarum-jarum halus merayap di bawah kulitnya.

𝘐𝘯𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘺𝘰𝘭. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳, batinnya mencoba menenangkan diri.

Namun, ingatannya kembali ke perjalanan pagi tadi. Saat ia berjalan cepat melewati pagar seng tinggi yang mengelilingi Hotel Emerald. Gedung tua bergaya art deco itu sedang ditutup rapat untuk renovasi total. Saat ia melintas, sebuah embusan angin datang—tidak dari arah mana pun—dan menyentuh tengkuknya. Bukan sekadar angin. Rasanya seperti sapuan jari yang sangat, sangat dingin, disertai getaran halus yang merambat dari bahu hingga ke tulang belakangnya. Ia bahkan sempat berbalik, setengah mengharap melihat seorang pengamen atau pengemis, tetapi trotoar di belakangnya kosong.

Sepanjang sisa perjalanan, perasaan itu tak hilang. Ia merasa diikuti. Bukan seperti saat ia membuntuti tersangka, melainkan seperti menjadi yang dibuntuti. Matanya berkali-kali menyapu sekeliling, mencari sosok mencurigakan, kamera tersembunyi, apa pun itu. Tidak ada. Hanya warga kota yang sibuk dengan ponsel mereka.

Dan sekarang, di kantor yang seharusnya menjadi ruangnya yang paling rasional, perasaan itu justru semakin kuat. Seolah-olah kehadiran yang tak kasatmata itu mengikutinya masuk, duduk di sudut ruangan, dan menatapnya tanpa berkedip.

Lisa berdiri dari kursi roda lamanya yang berdecit. Kakinya yang ramping membawanya ke dispenser air di ujung ruangan. Bunyi glug-glug saat air mengisi gelas plastik terdengar keras di telinganya.

Lalu, tiba-tiba, bulu kuduk di lehernya berdiri semua.

Ia membeku. Gelas di tangannya berhenti setengah penuh. Ada sesuatu. Tepat di belakang punggungnya. Jaraknya sangat dekat, seolah-olah jika ia menjatuhkan pensil, pensil itu akan menyentuh sepatu orang itu. Udara di sekitarnya terasa berat, padat, dan lebih dingin setidaknya tiga derajat. Ia bisa membayangkan sebuah bayangan tinggi menghalangi cahaya lampu neon di atas kepalanya. Ia bahkan membayangkan bisa mendengar sebuah tarikan napas—atau mungkin itu hanya angin dari ventilasi?

Dengan gerakan cepat, ia berbalik.

“Siapa di sana?”

Suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan, memotong obrolan dua detektif di seberang ruangan. Mereka menatapnya, lalu menatap ruang kosong di belakangnya dengan alis terangkat.

“Sedang latihan untuk peran drama, Detektif Ahn?” sela salah satunya, suaranya berisi candaan ringan.

Lisa memerah. “Tidak. Hanya… aku melihat ada kecoa,” ujarnya, mencari alasan yang paling masuk akal dan memalukan. Ia segera menoleh kembali ke dispenser, menyelesaikan mengisi gelasnya dengan tangan yang kini sedikit gemetar.

𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳, 𝘓𝘪𝘴𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘵𝘦𝘬𝘵𝘪𝘧. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘧𝘪𝘭𝘮 𝘩𝘰𝘳𝘰𝘳 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘚𝘵𝘳𝘦𝘴. 𝘒𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘧𝘦𝘪𝘯. 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘧𝘦𝘪𝘯. 𝘗𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶. Batinnya mencoba mengatur ulang logikanya.

Tapi tubuhnya, instingnya yang terasah, berkata lain. Sesuatu benar-benar ada di sana. Dan sesuatu itu sekarang bergerak, seiring dengannya, kembali ke kubikelnya.

Duduk kembali, ia mencoba fokus pada layar. Huruf-huruf di dokumen artefak itu menari-nari. Matanya tanpa sadar beralih ke cangkir kopi di mejanya. Di permukaan kopi hitam pekat itu, ada sebuah lingkaran ripple kecil, seperti ada yang meniupnya dari dekat. Padahal, tidak ada angin di dalam ruangan ber-AC ini.

Jantungnya berdegup kencang, berirama kacau melawan ketenangan yang ia paksakan di wajahnya. Ia merasa gila. Tapi lebih dari itu, ia merasa… terlihat dengan cara yang paling intim dan menginvasi. Bukan oleh mata manusia.

Di dimensi yang hanya terpisah oleh selaput realitas yang tipis, Sam berdiri di samping meja Lisa, begitu dekat hingga ia bisa menghitung bulu mata wanita itu yang berkedip cepat. Selama tiga puluh tiga tahun, dunia melewatinya seperti hujan melewati kaca. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang bergetar.

Tapi wanita ini… dia berbeda. Saat ia mengikuti Lisa dari hotel, ia merasa sesuatu yang aneh. Bukan seperti biasanya, di mana orang-orang hanya merasakan dingin sesaat dan mengabaikannya. Lisa, beberapa kali, hampir… menoleh tepat ke arahnya. Seolah-olah tirai yang memisahkan mereka lebih tipis di dekatnya.

Dan sekarang, di ruangan ini, Sam melihat bagaimana Lisa mengencangkan genggamannya pada gelas air. Ia melihat kulit di lengan wanita itu meremang. Ia melihat keraguan dan ketakutan yang tertahan di balik mata yang tajam itu.

𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶? pikir Sam, dan sebuah sensasi aneh, yaitu pengharapan.

Lisa menatap layar komputernya tanpa benar-benar membaca. Pikirannya berputar pada penjelasan yang masuk akal. 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘤𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘣𝘰𝘯 𝘮𝘰𝘯𝘰𝘬𝘴𝘪𝘥𝘢? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘷𝘦𝘯𝘵𝘪𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘎𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯? 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘬𝘦 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳.

Tapi suara di kepalanya yang paling dalam, suara yang membuatnya menjadi detektif yang baik, berbisik lain: 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯𝘮𝘶.

Dengan tekad baru, bukan karena ia mempercayainya, tapi karena ia perlu membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ini hanyalah halusinasi, Lisa menarik napas dan berkata dengan suara sangat pelan, hampir seperti hembusan, ke arah ruang kosong di sampingnya:

“Kalau kau memang ada… berikan tanda. Sesuatu yang tidak bisa disangkal.”

Ia menunggu, menahan napas, merasa semakin bodoh dengan setiap detik yang berlalu. Hanya ada suara dengungan komputer dan suara tertawa dari ruang istirahat.

Dan kemudian, di depan matanya, bolpoin merah yang tergeletak di samping mousepadnya… mulai bergerak sendiri. Berguling pelan, sangat pelan, hingga ujungnya menunjuk tepat ke arah dokumen ‘Kasus Hotel Emerald, 1987’ yang secara kebetulan—atau bukan?—terbuka di tab browser di samping laporannya.

Lisa membeku, darahnya berdesir dingin.

Bolpoin itu berhenti.

Dan untuk pertama kalinya, Sam melihat langsung, dari dekat, sebuah ekspresi yang bukan sekadar rasa geli atau takut, melainkan sebuah pengakuan yang dalam dan membingungkan, muncul di wajah wanita detektif itu.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!