Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Darah di Ujung Jinjit
Aula balet kembali dipenuhi cermin.
Cermin-cermin tinggi itu berdiri mengelilingi ruangan, memantulkan cahaya lampu yang pucat dan tubuh-tubuh kecil yang seharusnya bergerak selaras dengan musik. Lantai kayu mengilap terbentang dingin, menyimpan bekas goresan sepatu yang tak pernah benar-benar hilang. Bar besi berjajar rapi di sepanjang dinding, setia menunggu punggung dan tangan yang bersandar padanya.
Tidak ada senjata.
Tidak ada target.
Tidak ada teriakan perintah.
Hanya balet.
Bella Shofie berdiri sendirian di tengah ruangan.
Sudah berjam-jam.
Gadis-gadis lain telah lama meninggalkan aula. Musik tetap diputar, berhenti, lalu diputar kembali. Lagu yang sama, bagian yang sama, seolah waktu sengaja berputar di tempat hanya untuk menguji ketahanannya.
Keringat membasahi pelipis Bella, mengalir perlahan ke rahangnya. Napasnya tidak lagi setenang biasanya. Setiap tarikan udara terasa lebih berat, seolah paru-parunya dipaksa bekerja lebih keras dari sebelumnya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Posturnya masih tegak.
Bahunya tetap lurus.
Namun ada sesuatu yang tidak seimbang.
Musik kembali dimulai.
Bella bergerak.
Langkah awal berjalan baik. Tubuhnya mengingat latihan bertahun-tahun, mengalir tanpa perlu dipikirkan. Namun saat musik mencapai bagian tertentu, segalanya kembali runtuh.
Langkahnya terlambat setengah detik.
Putarannya tidak sempurna.
Pusat keseimbangannya bergeser terlalu cepat.
Tubuh Bella goyah.
Ia berusaha mengoreksi, memaksa kakinya menahan beban, namun sudah terlambat.
Ia terjatuh.
Buk.
Suara tubuh kecilnya menghantam lantai kayu terdengar jelas di ruangan kosong itu. Bella meringis pelan, rasa nyeri menyambar dari kaki hingga ke tulang belakangnya.
Ia tidak berteriak.
Ia bangkit.
Dengan gerakan cepat, Bella berdiri kembali, seolah jatuh barusan hanyalah gangguan kecil. Ia mengatur posisi kakinya, mengencangkan otot betisnya, lalu kembali menjinjit.
Musik diputar ulang.
Gerakan dimulai lagi.
Plié.
Tendu.
Putaran.
Dan—
Tubuhnya kembali goyah.
Ia jatuh lagi.
Kali ini lebih keras.
Telapak kakinya terasa perih, seperti tersayat dari dalam. Rasa panas menjalar perlahan, merayap ke betis, naik ke lutut. Bella melangkah mundur setengah langkah, mencoba mengalihkan beban.
Saat itulah ia melihatnya.
Noda merah tipis di lantai kayu.
Darah.
Sepatu pointe-nya telah basah di bagian dalam. Kainnya berubah warna, menyerap cairan hangat yang terus keluar dari kulitnya yang robek. Bella tidak tahu sejak kapan lukanya terbuka. Ia tidak menghitung berapa kali ia jatuh.
Yang ia tahu hanya satu hal.
Tarian ini belum benar.
Bella duduk di lantai sebentar. Tangannya gemetar ringan, bukan karena takut, melainkan karena kelelahan yang mulai menembus pertahanannya. Napasnya terengah, dadanya naik turun tidak beraturan.
Namun ia tidak lama duduk.
Beberapa detik kemudian, Bella berdiri lagi.
Ia mengambil kain kecil dari tasnya, membersihkan darah di lantai dengan gerakan cepat. Ia mengusap kakinya seadanya, mengencangkan kembali pita sepatu pointe yang sudah basah.
Rasa sakit itu nyata.
Menusuk.
Tidak bisa diabaikan.
Namun Bella kembali ke posisi awal.
Di sudut ruangan, tanpa Bella sadari, sebuah bayangan berdiri diam.
Madam Doss.
Ia tidak melangkah masuk sepenuhnya. Ia berdiri di luar pantulan cermin, di tempat yang membuatnya bisa melihat tanpa terlihat. Tangannya terlipat di belakang punggung, matanya mengamati setiap detail.
Ia tidak memberi perintah.
Tidak memberi koreksi.
Tidak menghentikan musik.
Ia hanya menilai.
Bella kembali menari.
Setiap kali terjatuh, ia bangkit lebih cepat.
Setiap kali gagal, matanya semakin tajam.
Gerakannya menjadi lebih hati-hati, bukan karena takut jatuh, melainkan karena rasa sakit memaksanya untuk lebih sadar pada setiap inci tubuhnya. Setiap pijakan diperhitungkan. Setiap putaran diukur ulang.
Balet tidak lagi terasa seperti seni.
Balet menjadi perhitungan.
Saat Bella kembali terjatuh, lututnya menyentuh lantai dengan suara keras. Napasnya terpecah, terlepas dalam hembusan kasar. Tubuhnya gemetar sesaat, bukan karena ingin menyerah, tetapi karena tubuhnya mulai menuntut jeda.
Namun Bella tidak menangis.
Ia menekan lantai dengan telapak tangannya, memaksa tubuhnya berdiri lagi. Otot-ototnya berteriak, sendi-sendinya terasa berat, namun ia tetap bangkit.
Pada saat itulah langkah Madam Doss terdengar.
Pelan.
Tenang.
Pasti.
“Berhenti,” ucapnya.
Bella berhenti.
Napasnya naik turun cepat. Keringat bercampur darah di kakinya membuat lantai terasa licin di bawah jinjitannya.
“Kau berdarah,” lanjut Madam Doss.
Bella menunduk, menatap kakinya sendiri. Luka itu terbuka lebih lebar dari yang ia kira. Darah masih mengalir pelan.
“Aku tahu, Madam.”
Nada suaranya tidak gemetar.
“Lalu mengapa kau tidak berhenti sejak tadi?”
Bella terdiam beberapa detik.
Di kepalanya, satu jawaban berputar-putar. Jawaban yang terlalu jujur, terlalu dalam.
Karena jika aku berhenti, aku tidak akan sampai ke tempat yang kucari.
Namun yang keluar dari bibirnya hanyalah:
“Karena tarian ini belum selesai.”
Madam Doss menatapnya lama.
Tatapan itu tidak marah.
Tidak pula puas.
“Banyak anak ingin menjadi kuat,” katanya pelan.
“Mereka berhenti saat sakit.”
Ia melangkah lebih dekat, sepatunya melewati noda darah di lantai tanpa ragu.
“Sedikit yang ingin menjadi berbahaya,” lanjutnya.
“Mereka berhenti hanya saat tujuan mereka tercapai.”
Bella mengangkat wajahnya.
“Apa aku berbahaya, Madam?”
Madam Doss tidak langsung menjawab.
Ia memandang Bella dari ujung rambut hingga kaki yang berdarah. Tubuh kecil itu lelah, namun berdiri tegak. Mata itu masih menyala, bukan dengan emosi, melainkan dengan tekad yang dingin.
“Kau belum,” katanya akhirnya.
“Tapi kegigihanmu menarik.”
Ia berbalik pergi.
“Bersihkan kakimu,” ucapnya tanpa menoleh.
“Besok, kau menari lagi.”
Langkah Madam Doss menjauh, meninggalkan Bella sendirian di aula itu.
Bella duduk perlahan di lantai. Ia membersihkan kakinya dengan hati-hati, membalut luka seadanya. Rasa sakit masih ada, berdenyut setiap kali ia bergerak.
Ia memeluk lututnya sendiri.
Aula itu kembali sunyi.
Namun di dalam dirinya, tidak ada kekosongan.
Setiap jatuh.
Setiap bangkit.
Setiap tetes darah.
Semua itu adalah langkah yang membawanya lebih dekat pada satu nama yang belum ia ketahui, namun suatu hari pasti akan ia temukan.
Dan saat hari itu tiba, kakinya mungkin sudah hancur.
Namun tangannya tidak akan ragu.
Di BALLERINA MURDERER, darah di ujung jinjit bukanlah kegagalan.
Itu adalah bukti bahwa seseorang sedang belajar menari di tepi kematian.
...Bersambung ~...