NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — Versi yang Dipotong

Pagi belum benar-benar terang ketika notifikasi pertama masuk.

Bukan dari media.

Dari tim IT perusahaan.

“Pak, video sudah dirilis.”

Arlan tidak perlu bertanya video apa.

Ia membuka layar.

Dan di sana—di canal berita bisnis terbesar—

terpampang judul:

REKAMAN RAHASIA: RAPAT LIMA TAHUN LALU UNGKAP NIAT MENJATUHKAN DIRGANTARA

Video berdurasi 32 detik.

Diputar.

Suara ayah Aira terdengar jelas.

“…kalau ini gagal, kita pastikan Dirgantara yang jatuh lebih dulu.”

Potongan berhenti di situ.

Tanpa konteks.

Tanpa lanjutan.

Tanpa bagian setelahnya.

Narasi di bawah video langsung membingkai:

Apakah proyek ini memang sabotase internal?

Arlan menutup laptop perlahan.

Tenang.

Terlalu tenang.

Di apartemen, Aira melihat video yang sama.

Kali ini bukan ancaman pribadi.

Ini publik.

Komentar sudah ribuan.

“Pengkhianat.”

“Jadi ini rencana keluarga itu?”

“CEO dibodohi?”

Tangannya gemetar.

Bukan karena marah.

Karena takut.

Bukan takut reputasi.

Takut kemungkinan bahwa sebagian publik akan percaya.

Ponselnya berdering.

Arlan.

“Aku lihat,” katanya sebelum Arlan bicara.

“Video dipotong,” jawab Arlan.

“Aku tahu.”

“Kita butuh rekaman lengkap.”

Aira terdiam.

“Apa kamu punya?”

“Aku tidak pernah menyimpan salinan.”

Berarti—

Mahendra satu-satunya yang memegang versi utuh.

Itu artinya permainan ada di tangannya.

Satu jam kemudian—

saham turun lagi.

Tidak sedalam kemarin.

Tapi cukup untuk membuat dewan direksi panik.

Rapat darurat dipanggil.

“Ini sudah bukan spekulasi,” salah satu komisaris berkata tajam. “Ini bukti audio.”

“Itu potongan,” jawab Arlan dingin.

“Publik tidak peduli konteks!”

“Investor peduli.”

“Investor peduli stabilitas!”

Suara mulai meninggi.

“Jika ada indikasi sabotase, kita harus melapor ke regulator,” kata direktur hukum.

“Dan menyerahkan perusahaan pada investigasi terbuka?” Arlan menatap tajam. “Itu yang Mahendra mau.”

Ruangan hening.

Karena mereka tahu benar.

Di sisi lain kota—

Mahendra duduk santai, memutar ulang siaran berita.

Ia tidak tersenyum lebar.

Ia bukan tipe yang tertawa keras saat menang.

Ia menikmati tekanan perlahan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Aira.

Kau memotongnya.

Ia membaca tanpa ekspresi.

Lalu membalas.

Kebenaran selalu soal sudut pandang.

Aku ingin versi lengkap.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Datang sendiri.

Mahendra tidak pernah main setengah.

Ia selalu memancing.

Sore itu, Aira berdiri di depan kaca, berpikir.

Jika ia datang—

itu berbahaya.

Jika ia tidak datang—

narasi akan sepenuhnya dipegang Mahendra.

Pintu terbuka.

Arlan masuk.

“Apa dia menghubungimu?”

Aira menatapnya.

“Iya.”

“Jangan datang.”

“Kita butuh rekaman lengkap.”

“Aku tidak akan menjadikanmu alat tawar.”

“Aku juga bukan anak kecil.”

Sunyi.

Ketegangan bukan lagi soal perasaan.

Tapi keputusan.

“Dia memintaku datang sendiri,” kata Aira pelan.

Rahang Arlan mengeras.

“Itu jebakan.”

“Mungkin.”

“Tidak ada mungkin.”

Aira melangkah mendekat.

“Kalau kita tidak ambil risiko sekarang, dia akan terus mengendalikan cerita.”

Arlan menatapnya lama.

Ia tahu.

Dan itu yang membuatnya benci situasi ini.

Karena untuk menang—

mereka harus masuk ke medan yang dipilih lawan.

“Aku ikut,” katanya akhirnya.

“Dia bilang sendiri.”

“Aku tidak peduli.”

Aira menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya—

bukan sebagai pria dingin.

Bukan sebagai CEO.

Tapi sebagai seseorang yang takut kehilangan lagi.

“Itu sebabnya aku harus pergi,” katanya pelan.

Kalimat itu tidak terdengar heroik.

Terdengar realistis.

Dan berbahaya.

Di luar sana, berita terus berjalan.

Opini publik terus berubah.

Dan Mahendra—

menunggu.

Datang Sendiri

Mahendra memilih tempat yang tidak mencolok.

Bukan kantor.

Bukan restoran mewah.

Sebuah galeri seni tua di ujung kota, setengah kosong, dengan pencahayaan temaram dan dinding putih yang terlalu bersih untuk terasa nyaman.

Aira datang tepat waktu.

Sendiri.

Setidaknya itu yang terlihat.

Ia melangkah masuk tanpa ragu, suara hak sepatunya menggema pelan di lantai marmer.

Mahendra sudah berdiri di tengah ruangan, memandangi sebuah lukisan abstrak berwarna gelap.

“Kau tetap keras kepala,” katanya tanpa menoleh.

“Aku tidak suka dipanggil pion,” jawab Aira datar.

Mahendra tersenyum tipis lalu berbalik.

“Dan sekarang kau datang tanpa pengawalan.”

“Berikan rekaman lengkapnya.”

Tidak ada basa-basi.

Mahendra berjalan pelan, seperti tidak terburu-buru sedikit pun.

“Kau tahu apa yang paling menarik?” ujarnya santai.

“Bukan rekamannya.”

Aira menatapnya tajam. “Lalu?”

“Kepercayaan.”

Ia berhenti tepat di depannya.

“Satu potongan kecil saja, dan seluruh dunia mulai meragukan satu sama lain.”

Aira tidak terprovokasi.

“Kalau kau yakin dengan versimu, kenapa dipotong?”

Mahendra tertawa kecil.

“Karena versi lengkap terlalu… membosankan.”

Ia mengeluarkan ponsel, menekan sesuatu, lalu memutar rekaman.

Bagian yang sudah viral terdengar lagi.

“…kalau ini gagal, kita pastikan Dirgantara yang jatuh lebih dulu.”

Rekaman berlanjut.

Beberapa detik hening.

Lalu suara lain—lebih berat, lebih tegas.

“Itu bukan pilihan,” suara itu berkata.

“Kita semua bertanggung jawab.”

Aira menegang.

Itu suara Arlan.

Rekaman terus berjalan.

Suara ayahnya terdengar lagi, kali ini lebih pelan.

“Aku tidak ingin menjatuhkannya. Aku ingin melindungi timku.”

Rekaman berhenti.

Versi lengkap memang berbeda.

Bukan sabotase.

Bukan rencana menjatuhkan.

Tapi diskusi penuh tekanan.

Aira menatap Mahendra.

“Kenapa tidak kau rilis semuanya?”

Mahendra mendekat satu langkah.

“Karena kebenaran penuh tidak menghancurkan siapa pun.”

“Dan kau ingin menghancurkan Arlan?”

“Tidak.”

Ia tersenyum lagi.

“Aku ingin melihat seberapa jauh kau akan berdiri di sampingnya.”

Sunyi.

Angin dari ventilasi terdengar lebih keras dari percakapan mereka.

“Ini bukan soal bisnis, ya?” tanya Aira pelan.

“Bisnis selalu soal kekuasaan.”

“Dan aku bagian dari kekuasaan itu?”

“Kau kunci.”

Mahendra mematikan rekaman.

“Jika versi lengkap ini keluar sekarang, saham akan stabil. Reputasi Arlan membaik. Permainan selesai.”

“Lalu apa yang kau mau?”

Mahendra tidak langsung menjawab.

Ia menatapnya seperti sedang mengukur sesuatu.

“Jauhi dia.”

Aira terdiam.

“Keluar dari perusahaan. Putuskan kontrak itu sepenuhnya. Pergi.”

“Itu saja?”

“Untuk sekarang.”

Ancaman tidak perlu diucapkan keras-keras.

Maknanya jelas.

Jika Aira pergi, Mahendra berhenti.

Jika tidak—

rekaman versi potongan akan terus dipelintir.

“Dan kalau aku menolak?”

Mahendra memasukkan ponsel ke sakunya.

“Maka kita lihat seberapa kuat hubungan yang baru saja kau bangun.”

Di luar galeri, sebuah mobil hitam terparkir dua gedung dari sana.

Arlan duduk di dalam, layar tablet menampilkan peta lokasi ponsel Aira.

Ia tahu ia melanggar permintaannya.

Tapi ia juga tahu Mahendra tidak pernah bermain bersih.

Tangannya mengepal ketika titik lokasi berhenti bergerak.

Ia menunggu.

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Setiap detik terasa seperti ancaman tak terlihat.

Di dalam, Aira menatap Mahendra tanpa mundur.

“Kau tidak pernah benar-benar ingin menghancurkan perusahaan itu,” katanya pelan.

Mahendra tidak menyangkal.

“Kau ingin Arlan berlutut.”

“Kau cepat belajar.”

“Kenapa?”

Untuk pertama kalinya, senyum Mahendra menghilang.

“Karena lima tahun lalu, ketika semua orang menyelamatkan diri, dia memilih tetap berdiri.”

“Itu bukan kejahatan.”

“Tidak,” jawab Mahendra dingin. “Itu kesalahan.”

Sunyi menekan ruangan.

Aira menarik napas dalam.

“Aku tidak akan pergi.”

Mahendra menatapnya beberapa detik lebih lama dari sebelumnya.

Kecewa?

Atau tertarik?

“Kalau begitu,“jangan salahkan aku atas apa yang terjadi selanjutnya.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu samping.

Sebelum keluar, ia berhenti.

“Oh ya, Aira.”

Ia menoleh sedikit.

“Ada satu hal yang belum kau dengar dari rekaman itu.”

Jantung Aira berdetak lebih cepat.

“Apa?”

Mahendra tersenyum samar.

“Bagian setelah Arlan berkata ‘kita semua bertanggung jawab.’”

Langkahnya berhenti.

“Apa maksudmu?”

Tapi Mahendra sudah pergi.

Meninggalkan satu pertanyaan yang jauh lebih berbahaya dari potongan mana pun.

Di luar, ketika Aira akhirnya keluar dari galeri—

Arlan sudah berdiri beberapa meter darinya.

Mata mereka bertemu.

Ia tahu.

Ia mengikuti.

Dan untuk pertama kalinya—

bukan Mahendra yang membuat jantung Aira berdebar.

Tapi kemungkinan bahwa ada sesuatu dalam rekaman itu…

yang bahkan Arlan belum ceritakan.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!