Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantai
Nathan masih terdiam di dalam mobilnya. Nathan tentu merasa ragu dengan makanan tersebut. Selama ini dia selalu menjaga makanan yang dimakannya. Apalagi pagi hari begini Nathan selalu sarapan sehat. Seperti sarapan buah, kukusan ataupun telur rebus. Nathan memang sangat menjaga pola makannya demi kesehatannya. Berbeda dengan Perlita yang tidak memperhatikan makanan yang dimakannya. Bagi Perlita asalkan enak maka akan dimakan oleh Perlita.
Perlita yang sedari kecil sudah hidup sulit tentu saja tidak pernah memperhatikan apa yang dimakannya. Sudah bisa makan saja Perlita sudah merasa bersyukur. Kebiasaan tersebut sudah terbawa sampai saat dirinya bisa hidup berkecukupan seperti saat ini. Perlita juga tidak peduli mau makan di pinggir jalan atau restoran sekalipun. Yang terpenting bagi Perlita adalah makanannya enak dan bikin perutnya kenyang.
Setelah berpikir panjang, Nathan akhirnya turun dari mobilnya dan menyusul Perlita yang sudah memesan bubur ayam tersebut.
"Kita duduk di sana saja kak." Tunjuk Perlita ke arah kursi yang masih kosong.
Mau tidak mau Nathan pun mengikuti Perlita.
"Kenapa kak? Pasti nggak pernah yah makan di pinggir jalan begini? Wajar juga sih, kakak kan dilahirkan di keluarga yang mampu, pasti pola makannya selalu terjaga yah? Maaf yah kak, aku malah ngajak kakak makan di sini. Kalau aku sih sudah terbiasa makan di tempat seperti ini." Terang Perlita yang merasa tidak enak dengan Nathan.
"Nggak apa-apa kok Perl, maaf yah kalau kakak terlihat canggung. Kakak memang baru pertama kali makan di pinggir jalan begini. Kalau nggak salah keluarga kamu juga orang berkecukupan bukan? Kakak perempuan kamu aja bahkan mampu kuliah di jurusan kedokteran. Kakak yakin itu pasti bukan beasiswa kan?"
"Orang tua aku memang berkecukupan kak, tapi yah sudahlah kak. Aku juga nggak bisa menceritakannya ke kakak. Sebaiknya lupakan saja."
Nathan memilih untuk tidak membahas lebih lanjut lagi karena melihat Perlita yang mulai tidak nyaman dengan pembahasan mereka. Nathan akan mencari tahu sendiri semua tentang kehidupan Perlita.
"Ayo kak di makan! Tapi kalau kakak keberatan nggak apa-apa. Nanti biar aku aja yang menghabiskan." Ucap Perlita merasa tidak enak dan tidak mau memaksa Nathan memakan bubur ayamnya.
"Nggak apa-apa kok Perl, kakak juga ingin mencoba bubur ayamnya."
Nathan berusaha untuk memakan bubur ayamnya. Satu suapan, dua suapan, tiga suapan bahkan sampai habis separuhnya.
"Hmmmm, enak. Bener juga yang kamu katakan. Ternyata makanan gerobakan begini memang enak."
Perlita mengulas senyumnya ketika melihat Nathan melanjutkan memakan bubur ayamnya.
Selesai makan, Nathan langsung membayar bubur ayam mereka. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di pantai yang di tuju, Perlita dan Nathan turun dari mobil. Perlita sangat menikmati keindahan pantai Bali tersebut. Pagi itu belum banyak pengunjung yang datang menikmati keindahan pantai. Tapi juga tidak sepi, ada beberapa pengunjung yang memenuhi pantai tersebut. Ada yang datang dengan pasangan, keluarga ataupun seorang diri. Di pantai tersebut kebanyakan pengunjungnya adalah seorang bule.
Perlita berjalan ke arah tepi pantai, dia ingin menikmati air laut yang dibawa oleh ombak. Perlita membuka sandalnya dan menentengnya. Dia juga berkejaran dengan ombak tanpa memperdulikan lagi Nathan yang dari tadi memperhatikan setiap gerak-gerik Perlita. Perlita terlihat bahagia dengan terus berlarian di tepi pantai. Nathan mengeluarkan ponselnya dan memotret Perlita yang sedang asyik bermain dengan ombak
"Cantik." Gumam Nathan saat melihat hasil fotonya.
"Kak, ayo sini main!"
Perlita malah menarik tangan Nathan untuk ikut bergabung dengan dirinya. Nathan ikut membuka alas kakinya dan berlarian dengan Perlita di tepi pantai.
"Ayo kak kejar aku." Kata Perlita berlarian dan Nathan pun mengejarnya.
"Ayo kak tangkap aku kak."
Perlita menoleh ke belakang dan menghadap ke arah Nathan yang masih terus mengejarnya.
"Nggak dapet...nggak dapet. Ayo kak cepetan dong!"
"Awas kamu yah Perl." Nathan mempercepat larinya.
Hap
Nathan memegang tangan Perlita dan hal tersebut membuat mereka tertawa bersama.
"Ketangkap kan."
"Istirahat dulu kak, capek juga."
Nathan dan Perlita lalu berjalan beriringan.
"Kak, boleh minta tolong fotokan kami?" Tanya seorang pengunjung menghampiri Perlita.
"Boleh kak." Jawab Perlita sambil tersenyum.
Pengunjung tersebut menyerahkan ponselnya kepada Perlita untuk mengambil fotonya bersama pasangannya.
Perlita memotret pasangan muda tersebut dengan berbagai pose.
"Terima kasih yah kak. Kakak dan pacarnya mau saya ambilkan fotonya?"
"Boleh."
Bukan Perlita yang menjawab tapi Nathan dengan menyerahkan ponsel milik dirinya. Nathan tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini.
"Pakai ponsel ini aja kak."
Nathan dan Perlita pun bersiap untuk dipotret.
"Deketin dong kak. Jangan jauhan kayak gitu dong kak, kayak lagi marahan aja."
Nathan lalu merapatkan badannya ke arah Perlita.
"Yang mesra dong kak."
Nathan dan Perlita sebenarnya merasa canggung tapi mereka tetap bergeser dan tersenyum ke arah kamera.
"Pasti baru jadian yah kak. Terlihat sekali masih malu-malu. Oh iya, ini ponselnya kak."
Perlita dan Nathan hanya tersenyum menanggapi ucapan dari pasangan tersebut.
Nathan langsung melihat hasil fotonya begitu juga dengan Perlita.
"Ternyata bagus juga, nanti kakak kirim ke ponsel kamu yah."
"Oke kak."
Nathan dan Perlita mencari tempat duduk untuk mereka menikmati pemandangan pantai.
"Kita duduk di sini aja."
Nathan dan Perlita duduk di sebuah kursi kayu yang memang disediakan di tepi pantai lengkap dengan payungnya untuk menghalangi sinar matahari.
Nathan kembali membuka ponselnya dan mengupload postingannya yang berisikan fotonya Perlita yang sedang asyik bermain air di tepi pantai. Di foto tersebut wajah Perlita memang tidak terlihat dengan jelas karena tertutup oleh rambut dan posisi Perlita juga menyamping, dengan caption 'future wife'.
Postingan Nathan tersebut mampu menarik perhatian pengikutnya. Nathan memang memiliki pengikut yang banyak di media sosialnya. Apalagi selama ini Nathan tidak pernah memposting foto perempuan selain keluarganya. Dalam waktu hitungan detik, postingan Nathan langsung dipenuhi oleh komentar followers nya.
"Siapa wanita ini Pak Dokter?"
"Ternyata Pak dokter tampan sudah ada yang punya."
"Jadi patah hati nasional ini mah."
"Spill dong Pak dokter calon istrinya. Jiwa kepo aku jadi meronta-ronta nih."
"Jadi galau deh kita Pak dokter."
"Sepertinya calon istrinya Pak dokter sangat cantik deh."
Masih banyak lagi komentar dari followers nya Nathan. Nathan kembali menutup ponselnya dan lebih memilih mengabaikan komentar tersebut untuk sementara. Nathan akan membalas beberapa komentar tersebut nanti malam.
Nathan memang selalu aktif bermedia sosial. Dia sering sharing tentang ilmu kesehatan di media sosialnya. Ketampanan dan kesuksesan yang dia miliki mampu membuat dirinya banyak di kenal oleh pengguna media sosial.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu