Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.
Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.
Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.
Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.
Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: UNDANGAN
Pagi itu cerah, cahaya matahari jatuh miring di depan gerbang SMA Cahaya Senja, memantul di lantai batu dan pagar besi yang mulai ramai oleh siswa-siswi.
Dion melangkah tenang mengenakan batik keris berlengan panjang dan celana hitam rapi. Penampilannya sederhana, namun entah mengapa terasa berwibawa, seolah ia bukan lagi siswa biasa.
“Dion!”
Sebuah suara memanggil dari samping. Dion menoleh dan melihat Barra berlari kecil menghampirinya. Wajah pemuda itu masih menyisakan lebam samar di pipi dan pelipis, meski sudah jauh lebih baik dari kemarin.
“Kenapa kau sudah ke sekolah, Bar?” tanya Dion sambil memperlambat langkahnya.
“Hehe,” Barra menggaruk kepala, tersenyum canggung. “Aku nggak betah di rumah sakit. Baunya obat semua.”
Dion mengangguk pelan. “Tapi kau terlihat, bersemangat.”
Mereka berjalan berdampingan memasuki gerbang sekolah. Barra tertawa kecil, tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.
“Kelihatan ya? Hehe. Aku semangat karena… aku bisa belajar bela diri darimu!”
Dion tersenyum tipis. 'Jadi itu alasannya.'
ucap nya dalam hati, 'Sistem, ukur berapa persen Hubungan pertemanan ku dengan nya.'
Suara sistem pun, bergema pelan.
Ding.
[Hubungan pertemanan anda dengan seorang bernama Barra: 75%]
'75%? Dion melirik Barra sekilas, 'Itu tinggi.'
Langkah mereka berlanjut menyusuri koridor sekolah yang mulai dipenuhi siswa. Suasana pagi terasa biasa, hingga sebuah suara menghentikan mereka dari belakang.
“Apa kau yang bernama Dion… dan Barra?”
Keduanya menoleh. Seorang murid tampan berkacamata berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Tatapannya tajam, senyumnya tipis, seperti seseorang yang selalu menghitung sesuatu di balik kepala.
“Benar,” jawab Dion tenang. “Kau siapa?”
“Aku Mordain. Dari Kelas Sains,” jawabnya sambil membenarkan kacamatanya.
Barra langsung menegang. Ia melangkah setengah langkah ke belakang Dion.
“M-Mordain… orang terkuat di kelasnya,” gumamnya kaget.
Mordain hanya tersenyum kecil, seolah pujian itu hal biasa.
“Dia terkenal licik,” bisik Barra di telinga Dion. “Hati-hati.”
“Menarik…” gumam Dion pelan.
Ia menatap Mordain lurus-lurus. “Orang terkuat Kelas Sains menghampiri aku dan temanku. Kau pasti ada urusan, kan?”
Suasana di antara mereka mendadak mengeras. Mordain terkekeh pelan.
“Aku hanya ingin menyapa. Kau sangat terkenal di sekolah ini, Dion.”
“Hanya menyapa?” Dion menyipitkan mata. “Itu saja?”
“Tentu.” Mordain mengangguk. “Aku tertarik pada orang kuat sepertimu.”
Dion membeku sesaat, lalu berkata datar, “Maaf. Aku tidak tertarik pada pria.”
“Hahaha!” Mordain tertawa lepas. “Bukan begitu maksudku.”
Ia lalu mencondongkan badan sedikit, suaranya merendah. “Dan… aku juga ingin menyampaikan undangan. Untukmu dan si kecil itu.”
“Undangan?” Dion mengangkat alis.
“Rapat Senja.”
Barra menelan ludah. Wajahnya pucat seketika. “Rapat Senja…” bisiknya.
Dion melirik Barra. “Apa itu?”
“Itu… perkumpulan perwakilan terkuat dari setiap kelas,” jelas Barra lirih. “Dan para pemimpin penindas.”
“Oh?” Dion tersenyum kecil. “Menarik.”
Ia kembali menatap Mordain. “Kalau begitu, aku ikut.”
Mordain tampak puas. “Bagus. Aku akan kirim lokasinya nanti.”
Mereka bertukar nomor ponsel. Setelah itu Mordain melangkah pergi, meninggalkan Dion dan Barra di koridor yang kembali ramai.
“Kita… benar-benar akan ke sana?” tanya Barra ragu.
Dion melanjutkan langkahnya dengan tenang. “Tentu. Kalau mereka ingin bertemu… aku akan datang.”
Di balik pagi yang cerah itu, gelombang baru mulai bergerak pelan di SMA Cahaya Senja.
Dan nama Dion perlahan berubah, bukan lagi sekadar murid, melainkan pusat dari pusaran yang akan segera meledak.
.....
Sore itu, langit mulai berwarna keemasan ketika Dion dan Barra berhenti di depan sebuah bangunan berlantai empat. Bangunannya tampak biasa dari luar, dinding kusam, jendela-jendela tinggi tanpa hiasan mencolok, namun ada sesuatu yang terasa ganjil. Seperti udara di sekitarnya membawa bau bahaya yang tak kasatmata.
“Di tempat seperti ini…” Barra bergumam, menatap bagian luar bangunan dengan ragu. “Mereka mengadakan rapat di sini?”
“Iya,” jawab Dion santai. “Mordain mengirim lokasinya ke tempat ini.”
Mereka melangkah masuk.
Begitu pintu terbuka, suara denting mesin dan cahaya lampu warna-warni menyambut mereka. Dion dan Barra terdiam sejenak. Di hadapan mereka, deretan mesin kasino berjajar rapi, lampu berkedip, layar digital bergerak cepat, dan beberapa orang dewasa tampak tenggelam dalam perjudian.
“Bu-bukankah ini… kasino?!” bisik Barra kaget, refleks merapat ke sisi Dion.
Tatapan Dion menyapu ruangan dengan dingin. "Jadi begini tempat mereka berkumpul…"
Tak heran uang setoran dan pemerasan mengalir deras. Tempat ini jelas bukan bersih.
Ia mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan singkat pada Mordain. Tak lama kemudian, balasan masuk.
"Naik ke lantai paling atas."
Barra menelan ludah, matanya tak lepas dari suasana di sekeliling.
“Dion…”
“Ayo,” potong Dion tenang. “Mordain menunggu di atas.”
Mereka berjalan menyusuri lantai kasino. Beberapa penjaga berseragam hitam menoleh, menatap Dion dan Barra dengan pandangan menilai, tajam, waspada. Tak ada yang menghalangi, namun kehadiran mereka terasa seperti pisau yang menekan tengkuk.
Pintu lift tertutup perlahan, memisahkan mereka dari hiruk-pikuk kasino.
Di dalam lift yang melaju ke atas, Dion menutup mata sejenak. 'Mereka benar-benar seperti organisasi berbahaya.'
'Lebih baik aku bersiap.' Di benaknya, ia memanggil sistem.
Tanpa suara, tanpa cahaya mencolok, aliran energi tak kasatmata segera menyusup ke tubuhnya. Dion menukarkan saldo, membeli poin atribut, lalu memecahkan batas demi batas yang selama ini menahan tubuhnya. Sepuluh ribu poin atribut mengalir, lalu terkikis lebih dari lima ribu untuk mendorong semua atributnya mencapai ambang seribu.
Gelombang kekuatan mengalir deras, bukan lagi rasa sakit, melainkan sensasi segar yang memenuhi tulang, otot, dan napasnya. Seperti tubuhnya menyesuaikan diri pada bentuk yang seharusnya sejak awal.
Dion membuka mata, ekspresinya tetap tenang.
Di sampingnya, Barra berdiri gugup, sama sekali tak menyadari perubahan apa pun. Bagi Barra, Dion masih Dion yang sama. Namun di balik ketenangan itu, kekuatan yang berlipat telah siap.
Lift terus naik.
Dan di lantai paling atas, sebuah pertemuan yang tak akan berakhir damai menunggu mereka.