"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Karin melempar ponselnya ke sofa. Jantungnya berdetak cepat, napasnya tersengal, dan tangannya bergetar saat bayangan Laura tersenyum sambil memegang perutnya terlintas di matanya. Dia menutup mata sejenak, menelan amarah dan air mata, lalu menegakkan pundaknya tidak ada yang akan membuatnya hancur.
"Aku nggak boleh lemah. Aku harus buat perhitungan… aku akan membuat Laura menyesal telah merebut Mas Dirga dariku," gerutu Karin.
Karin menutup mata sejenak, menggenggam erat ujung bajunya hingga jemarinya memutih. Napasnya bergetar, tapi perlahan ia menariknya dalam-dalam, menahan gelombang kemarahan yang siap meledak.
"Tapi yang harus kulakukan sekarang adalah menyelesaikan masalah Mona. Baru setelah itu, giliran Laura,"
Karin menatap flashdisk di tangannya, menarik napas panjang. “Ya sudah… aku akan tunjukkan ini ke Papah, biar dia tahu Mona itu memang jahat,” gumamnya sambil tersenyum tipis. Ia memasukkan tasnya dan melangkah keluar, tenang tapi pasti.
Karin menarik napas dalam, menekan kunci mobil hingga mesin berdengung keras. Tangan dan rahangnya tegang, jari-jari mengepal setir seolah menyalurkan seluruh kemarahan dan sakit hatinya. Mobil melesat di jalanan, ban menderu saat ia menyalip kendaraan lain, dan setiap lampu merah terasa seperti rintangan yang mencoba menahan tekadnya.
Setelah sampai Karin mendorong pintu kantor, langkahnya cepat. Tangannya mengepal tas, matanya menatap resepsionis. “Papah ada di kantor, kan?” tanyanya, suara serak tapi tajam.
Resepsionis itu tersenyum lembut, menutup buku di mejanya dan menatap Karin. “Iya, Bapak hari ini masih di kantor, Bu Karin,” ucapnya, suaranya tenang dan ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau ketemu Papah sekarang juga,” ucap Karin tegas.
Resepsionis itu mengangguk cepat, jari-jarinya menari di atas telepon sebelum menatap Karin lagi dengan senyum tipis.
“Baik, Bu Karin… saya konfirmasi dulu ke Pak Sanjaya. Mohon tunggu sebentar, ya,” ucapnya dengan nada hati-hati, matanya sesekali melirik ke pintu kantor.
Beberapa menit kemudian, resepsionis itu mengangkat telepon, lalu menoleh ke Karin dengan senyum lembut. “Silakan, Bu Karin… Pak Sanjaya menunggu Anda di ruangannya,” ucapnya sambil membuka pintu, memberi jalan bagi Karin masuk.
“Terima kasih,” jawab Karin sambil melempar senyum manisnya.
Karin mengetuk pintu, dan menatap ke dalam sekejap. “Siang, Pah… lagi sibuk, ya?” tanyanya, suaranya pelan tapi penuh perhatian.
“Oh, nggak kok, sayang. Tumben kamu ke kantor Papah? Ada masalah, ya?”
Karin menggigit bibir bawahnya, tangannya sesekali meremas ujung tasnya. Matanya menatap lurus ke Pak Sanjaya, tapi sesekali teralihkan ke lantai. “Em… iya, Pah… ada sesuatu yang perlu aku omongin ke Papah,” gumamnya, suaranya pelan.
“Sebenarnya, apa sih yang mau kamu omongin ke Papah? Kok kamu tegang gitu?”.
Karin berdiri di depan Pak Sanjaya, tangan gemetar, napasnya tersengal. Matanya menatap lurus ke papahnya, penuh ketegangan dan kecemasan yang sulit ia sembunyikan. “Pah… ini tentang kecelakaan 25 tahun lalu… yang menimpa Mamah Sinta,” suaranya bergetar, bibirnya tercekat menahan air mata. “Papah… ingat, kan?”
Pak Sanjaya menutup dokumen yang sedang ia pegang, alisnya mengerut. Ia menatap Karin lebih lama dari biasanya, diam sejenak seolah menimbang setiap kata yang akan diucapkan. Detak jam terdengar menggema di ruangan, menambah ketegangan yang mencekam.
“Maksud kamu apa, Karin? Apa kamu sudah tahu kalau Mona itu bukan Mamah kamu?”
Karin menatap Pak Sanjaya, rahangnya menegang. “Iya, Pah… aku sudah tahu. Yang membuat Mamah Sinta celaka… Itu Mona.”
“Apa… bagaimana mungkin, Karin? Kecelakaan yang menimpa Mamah kamu itu murni karena takdir. Papah juga sudah menanyakan ke polisi, dan mereka bilang tidak ada unsur kejahatan,” ujar Pak Sanjaya tak percaya.
Karin menatap Pak Sanjaya, rahangnya mengeras, tangan gemetar menahan flashdisk. Matanya menyala penuh amarah, napasnya tercekat. “Itu semua… tipu muslihat Mona, Pah! Dia sengaja menipu Papah… dan aku—aku mau Papah lihat sendiri bukti rekamannya!” Suaranya meledak, hampir mengguncang ruangan, tapi tetap tegas.
Pak Sanjaya mengambil flashdisk dari tangan Karin, matanya menegang, rahangnya mengeras. Ia menatap lurus, suara berat dan tegas. “Baik… Papah akan lihat rekaman ini. Kalau Mona benar-benar bersalah… jangan harap Papah akan mengampuninya.”
Rekaman itu terpampang di layar, setiap adegan menampar mata Pak Sanjaya Mona, yang selama ini ia anggap wanita baik, ternyata dalang di balik kecelakaan istrinya.
Pak Sanjaya meremas jemarinya hingga kuku menembus telapak, tubuhnya bergetar menahan amarah. Napasnya berat, suara seraknya bergema di ruangan.
“Mona… kenapa kamu sejahat itu? Bukankah Sinta sahabatmu? Kenapa… kamu tega?” Matanya menyala, menatap layar seolah ingin menembus setiap kepalsuan yang Mona ciptakan.
“Gimana sekarang, Papah? Percaya kan kalau Mona itu jahat? Papah harus membalas kejahatan Mona terhadap Mamah, Pah.”
Pak Sanjaya menatap Karin dengan mata menyala, rahangnya menegang, tangan nya mengepal di sisi tubuhnya. Napasnya berat, dada naik turun cepat menahan kemarahan yang membara. “Iya… Papah janji, Karin! akan balas perbuatan Mona. Papah pastikan dia… akan mendekam di penjara!”
“Bagus, Pah… tapi tenang saja. Aku sudah laporkan semuanya ke kantor polisi. Sekarang kita tinggal menunggu kabar dari pihak kepolisian kalau mereka berhasil menangkap Mona,” ucapnya, suaranya mantap, menebarkan ketenangan di tengah ketegangan.
“Oke, Karin, kalau begitu Papah setuju. Memang sudah sepantasnya Mona mendapatkan balasannya.”
Karin berdiri, merapikan tasnya dan menatap Pak Sanjaya sebentar. Napasnya masih berat, tapi matanya tenang saat berkata, “Ya udah, kalau gitu… aku pamit pulang dulu, Pah. Ada sesuatu yang harus Karin selesaikan,”.
“Iya, kamu hati-hati, ya, sayang. Jaga diri baik-baik, dan kalau ada apa-apa, langsung hubungi Papah.”
Karin tersenyum, mengangkat tangan sebentar sebagai tanda pamit. Ia mencondongkan tubuhnya, menempelkan bibirnya di kening Pak Sanjaya dengan cepat. “Siap, Pah… dadah, muahhh,” gumamnya, mata berbinar penuh kehangatan.
Setelah urusannya selesai, Karin menyalakan mobil dan melaju ke rumah. Matanya menyipit, senyum tipis menari di bibirnya saat membayangkan reaksi para “benalu” begitu melihatnya pulang.
Karin sengaja tidak membunyikan bel, Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang Laura dan suaminya lakukan saat ia sedang tidak ada di rumah.
Ternyata dugaan Karin benar—mereka sedang asyik berduaan di ruang tamu sambil menonton TV, tanpa menyadari kehadiran Karin.
“Oh, ternyata begini kelakuan kalian di belakangku! Bahkan kalian tidak merasa bersalah saat aku tahu kalau Laura hamil anakmu, Mas!” seru Karin, mengejutkan mereka berdua.
“Karin… ini… ini tidak seperti yang kamu lihat,” ucap Dirga terbata-bata.
“Terus apa, Mas? Kamu selalu begitu terus!”
“Aku cuma bantu Laura olesi minyak, karena tadi perutnya keram, Rin. Aku nggak ada maksud apa-apa,” jawab Dirga terbata-bata.
“Gak ada maksud? Aku dari tadi lihat sendiri, Mas. Kamu begitu perhatian sama Laura, bahkan kamu tega mengkhianati ku. Sekarang aku nggak mau tahu—Laura harus pergi dari rumah ini!” seru Karin marah
“Rin… kamu kok bisa sejahat ini sih? Kamu tahu kan Laura lagi hamil—masa kamu mau usir dia?” protes Dirga, tak terima.
“Apa kamu bilang aku jahat? Yang jahat itu jelas-jelas kalian! Aku sudah baik memberi Laura tempat tinggal, tapi dia malah menusukku dari belakang. Sekarang, aku mau kamu cepat beresin semua barang-barang Laura, Mas!”
“Aku mohon, Rin… jangan usir Laura, ya. Tolong… kasihan dia, sedang hamil,” pinta Dirga sambil berlutut di hadapan Karin.
Karin menatap Dirga, rahangnya menegang, mata menyipit penuh kecewa. “Kamu gila, ya Mas… demi Laura sampai berlutut seperti ini?”.
Dirga menunduk, kedua tangannya tergenggam di depan tubuhnya, lututnya sedikit menekuk. Suaranya bergetar saat berkata, “Aku mohon, Rin…”
****Bersambung****
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak