Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Patron of Misery
Dunia Liora Elowyn kembali terusik. Sejak pertemuan tak terduga di toko buku itu, atmosfer di "The Vintage Page" tidak pernah sama lagi. Liora merasa seperti ada sepasang mata yang terus mengintai dari balik bayang-bayang gedung tinggi di seberang jalan. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya traumanya yang berbicara, namun aroma parfum kayu cendana dan maskulinitas yang mahal mulai sering tertinggal di antara rak-rak buku filsafat.
Sore itu, lonceng pintu berdentum bukan denting halus seperti biasanya, melainkan suara yang menuntut perhatian. Liora yang sedang berdiri di atas tangga kayu untuk menata buku di rak tertinggi, hampir kehilangan keseimbangan saat melihat siapa yang melangkah masuk.
Leo Alexander Caelum.
Pria itu mengenakan setelan jas navy yang sangat rapi, tampak sangat asing di tengah toko buku tua yang berdebu. Ia tidak menatap buku, ia menatap Liora.
"Turun dari sana sebelum kau jatuh dan menuntut toko ini karena kecelakaan kerja," suara Leo memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti biasa.
Liora turun dengan perlahan, tangannya mencengkeram pinggiran tangga hingga buku-bukunya sedikit bergetar. "Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Leo? Jika Anda mencari buku langka, saya rasa toko ini terlalu kecil untuk selera Anda."
Leo melangkah mendekat, mengabaikan Pak Bram yang baru saja keluar dari ruang belakang. Ia berhenti tepat di depan Liora, memojokkan gadis itu di antara tangga dan rak buku. "Aku sedang bosan. Dan melihatmu bekerja seperti buruh kasar adalah hiburan yang cukup menarik bagiku."
Liora mendongak, menatap mata kelabu itu dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya. "Hiburan? Anda datang jauh-jauh dari kantor megah Anda hanya untuk menghina pekerjaan saya?"
"Pekerjaan?" Leo mencibir, tangannya terangkat untuk mengambil sebuah buku secara acak dari rak, lalu membolak-baliknya dengan kasar. "Membersihkan debu dan melayani orang-orang tua yang haus nostalgia? Kau menyebut ini pekerjaan? Kau terlihat lebih seperti pelayan tanpa masa depan, Liora."
"Setidaknya saya tidak melayani monster," desis Liora pelan.
Rahang Leo mengeras. Ia meletakkan buku itu kembali dengan hentakan keras. "Jaga bicaramu. Aku bisa membeli gedung ini sekarang juga dan meratakannya dengan tanah hanya agar kau tidak punya tempat untuk bersembunyi."
Liora tertawa, tawa yang terdengar sangat hambar dan menyakitkan. "Lakukan saja. Hancurkan saja semuanya. Anda sudah menghancurkan hidup saya, pekerjaan saya di firma, dan tempat tinggal saya. Apa lagi yang tersisa? Silakan, Tuan Leo. Menghancurkan adalah satu-satunya keahlian yang Anda banggakan, bukan?"
Leo terdiam sejenak. Kalimat Liora menusuk tepat di bagian egonya yang paling rapuh. Ia datang ke sini dengan niat awal untuk "mengecek" keadaan gadis ini atau lebih tepatnya, karena ia tidak bisa berhenti memikirkannya namun setiap kali mulutnya terbuka, hanya racun yang keluar.
"Kau pikir aku peduli?" Leo melangkah lebih dekat, hingga napasnya yang hangat menerpa kening Liora. "Aku hanya ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan di lubang tikus ini. Kau terlihat semakin menyedihkan setiap kali aku melihatmu. Pakaianmu... bau kopi murahan ini... kau benar-benar telah menjadi sampah yang sempurna."
"Jika saya sampah, kenapa Anda masih di sini?" tanya Liora, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Kenapa orang hebat seperti Anda membuang waktu satu jam hanya untuk menatap 'sampah' seperti saya? Apakah hidup Anda begitu kosong hingga Anda butuh penderitaan saya untuk merasa hidup?"
"Jangan terlalu percaya diri, Liora Elowyn," potong Leo cepat, suaranya sedikit meninggi. "Aku di sini karena Ibuku terus menanyakanmu. Dia pikir kau adalah asisten terbaik yang pernah ia miliki. Aku hanya ingin memastikan kau tidak merencanakan sesuatu untuk menipu wanita tua itu lagi."
"Saya tidak pernah menipu Nyonya Eleanor!"
"Benarkah? Lalu kenapa kau bersembunyi di sini?" Leo menyeringai kejam. "Kenapa kau tidak berani menemuinya? Karena kau tahu, sekali aku menemukanmu, aku akan menunjukkan pada dunia betapa rendahnya kau sebenarnya."
Liora memalingkan wajah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Saya bersembunyi karena saya ingin hidup. Saya ingin bernapas tanpa takut seseorang akan menginjak jemari saya lagi. Tolong... pergilah."
Leo menatap air mata yang jatuh di pipi Liora. Untuk sesaat, tangannya bergerak, seolah ingin menghapusnya. Namun, egonya menang. Ia justru menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Aku akan pergi. Tapi jangan pikir ini pertemuan terakhir kita," ucap Leo dingin. Ia berbalik, namun berhenti sejenak di depan meja kasir. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan meletakkannya di atas meja dengan kasar.
"Untuk apa ini?" tanya Pak Bram yang sejak tadi terpaku melihat perdebatan itu.
"Untuk kopi yang tumpah kemarin. Dan untuk memastikan asistenmu ini makan sesuatu yang layak," jawab Leo tanpa menoleh pada Liora. "Dia tampak seolah-olah akan pingsan jika ditiup angin. Aku tidak ingin ada mayat di toko buku yang rencananya akan aku beli."
Leo melangkah keluar, meninggalkan Liora yang kini terduduk lemas di lantai. Hatinya kembali tercabik-cabik. Leo datang bukan untuk meminta maaf, bukan untuk memperbaiki keadaan, melainkan hanya untuk mengingatkannya bahwa ia masih memegang kendali atas hidup Liora.
Di dalam mobilnya, Leo mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan bahwa ia merasa cemburu pada setiap pelanggan pria yang tersenyum pada Liora. Ia membenci kenyataan bahwa ia terus datang ke sana hanya untuk mendengar suara Liora, meskipun suara itu hanya berisi penolakan.
"Kenapa kau begitu sulit untuk kuhancurkan sepenuhnya, Liora?" bisik Leo pada kesunyian kabin mobilnya.
Ia tahu, tindakannya tidak masuk akal. Ia adalah predator yang sedang terobsesi pada mangsanya yang sudah terluka parah. Ia benci, namun ia kepo. Ia benci, namun ia ingin memiliki. Dan yang paling ia benci adalah kenyataan bahwa tanpa Liora, napasnya sendiri terasa sedikit lebih berat setiap harinya.
Liora, di sisi lain, menatap uang yang ditinggalkan Leo di atas meja. Baginya, uang itu bukan bantuan. Itu adalah pengingat bahwa di mata Leo, segala sesuatu termasuk penderitaannya—memiliki label harga.
"Bagi Leo, menghina Liora adalah satu-satunya bahasa cinta yang ia kuasai, sebuah komunikasi yang bengkok dari jiwa yang sudah lama mati."
"Liora menyadari bahwa Leo tidak datang untuk menjemputnya pulang, melainkan untuk memastikan bahwa penjara kemiskinannya masih terkunci rapat."
"Setiap lembar uang yang Leo jatuhkan adalah paku baru yang ia tanam di atas harga diri Liora yang sudah hancur berkeping-keping."