Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Sekretaris baru, Anjani
Hari ini Anjani beraktivitas seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Keandra. Namun hari ini ada yang berbeda dengan sikap keduanya, terlihat canggung setelah kejadian kemarin.
Saat makan pun, suasana di ruang makan itu begitu hening. Baik Keandra dan Anjani, tidak mengeluarkan suara. Dan memilih mode senyap.
"Hari ini, ikut aku ke kantor. Dan mulai hari ini, kamu bekerja sebagai sekretaris pribadi, ku."
Anjani yang hendak membereskan piring kotor menghentikan pergerakannya. Saat mendengar perintah Keandra, yang tiba-tiba memintanya untuk bekerja sebagai sekretaris pribadinya.
"Maaf Kean. Sepertinya aku tidak...."
"Tidak ada penolakan. Sekarang bersiaplah. Aku memberi mu waktu lima menit. Dari sekarang." sela Keandra, tidak ingin di bantah. Ia tahu, jika Anjani akan menolak perintahnya. Namun Keandra tidak ingin, sampai Anjani jauh darinya.
Sementara itu di kamar. Anjani terlihat terburu-buru. Dengan bibir yang terlihat komat-kamit. Menggerutu pasti. Kesal iya. Sebab dengan entengnya, Keandra menyuruhnya bekerja sebagai sekretarisnya. Sedangkan Anjani sendiri, belum ada pengalaman kerja di tahap itu.
"Sebenarnya ada apa dengan Keandra? Kemarin saja, bilang khawatir. Terus, marah-marah. Bahkan hampir saja, kehormatan ku hilang. Ya Tuhan, apa semua ini terjadi karena kekecewaannya pada, ku. Tapi... aku tidak pernah melakukan hal itu dengan siapa pun." gumam Anjani. Sambil memakai blouse polos berwarna baby blue. Dengan bawahan straight pants. Memoles tipis wajahnya. Membuatnya terlihat cantik natural. Tak lupa, Anjani menguncir rambutnya. Membuat leher jenjangnya terlihat.
Tak lama kemudian Anjani selesai bersiap-siap. Keluar dari kamar. Menghampiri Keandra, yang rupanya sedang menunggunya.
"Maaf, sudah membuat mu menunggu lama." ucap Anjani, berdiri di samping Keandra.
Keandra melirik sekilas pada Anjani. Seketika ia terpana, melihat penampilan Anjani yang terlihat berbeda. Jantungnya berdebar. Kejadian kemarin pun terlintas kembali di ingatannya.
Ciuman pertama. Kelembutan. terngiang-ngiang kembali.
"Kean." panggil Anjani.
Keandra tersadar. Merubah raut wajahnya. Berusaha menetralkan detak jantungnya. Salah tingkah, iya. Namun enggan mengakuinya.
"Lama!" balas Keandra. Langsung pergi begitu saja. Membuat Anjani mengangkat bahu acuh.
"Aneh." gumam Anjani. Mengikuti langkah Keandra. Keluar dari rumah. Dengan tujuan mereka, berangkat ke kantor.
Tidak lama kemudian, Anjani dan Keandra sampai di halaman kantor. Sebelum turun, mereka sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku turun duluan." ucap Anjani memecah keheningan. Membuka pintu mobil. Hendak keluar.
"Tunggu."
Anjani membalikkan badan. Menatap Keandra. "Ada apa, Kean?"
Keandra tidak menjawab. Mencondongkan tubuhnya. Menatap dalam Anjani yang diam terpaku.
"A-ada apa, Kean?" Anjani terlihat gugup. Sebab saat ini, posisi mereka sangat dekat sekali. Jantung Anjani berdetak kencang. Apa Keandra akan menciumnya lagi? Wajahnya memerah. Kejadian kemarin terlintas kembali di kepalanya.
"Sreeet!"
Keandra menarik ikatan rambut Anjani. Melemparnya ke dashboard mobil.
"Aku tidak suka melihat mu, memperlihatkan apa yang sudah menjadi milik, ku." ucap Keandra. Menjauhkan diri. Membuka pintu mobil. Keluar.
Anjani membelalakkan mata. Apa ini? Rupanya perkiraannya salah. Keandra bukan ingin menciumnya. Tapi hanya ingin melepaskan ikatan rambutnya.
"Iiiih...! Dasar nyebelin!" gerutu Anjani, kesal. Menatap tajam Keandra, yang terlihat sudah memasuki kantornya. "Aku kira dia....? Akhh... sudah lah. Awas saja, suatu saat nanti aku akan membalasnya." lanjutnya, penuh tekad.
Anjani yang terlanjur kesal, turun dari mobil. Kehadirannya di sana, tidak luput mengundang perhatian semua orang. Apalagi saat ini Anjani turun dari mobil dari seorang, CEO. Orang yang selama ini, tidak pernah tersentuh oleh wanita mana pun.
Anjani tidak menghiraukan tatapan semua orang. Tetap berjalan. Masuk ke dalam kantor milik Keandra.
...----------------...
Di dalam kantor, Anjani bertemu lagi dengan Shella. Tatapan mereka bertemu. Namun kali ini Shella terlihat acuh. Meskipun tatapan sinisnya terlihat, saat dirinya berhadapan dengan Anjani.
"Pak Keandra menyuruh mu untuk pergi ke ruangannya." ucap Shella ketus. Setelah menyampaikan perintah dari Keandra. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya.
Anjani mengangguk. "Oh. Kalau begitu terima kasih sudah memberitahu,ku." Berjalan menuju ruangan Keandra.
"Siapa sih, perempuan itu sebenarnya? Enak sekali. Baru masuk kerja, sudah langsung jadi sekretaris!" cebik Shella. Menatap kepergian Anjani. Hatinya sedikit tidak terima. Sebab baginya Anjani, pantasnya menjadi karyawan biasa. Dan menurutnya, yang pantas jadi sekretaris adalah dirinya.
Ruangan Keandra
Anjani berdiri tepat berhadapan dengan Keandra. Menundukkan kepala. Menunggu perintah, dari suami sekaligus atasannya.
"Duduk." titah Keandra tegas. Tanpa menatap Anjani. Fokus pada dokumen, yang sedang ia pegang.
Anjani mengangguk pelan. Menuruti perintah Keandra. Duduk di kursi dengan tegak. Sesekali melirik Keandra, yang sama sekali tidak menatapnya sedikit pun.
TOK... TOK... TOK...
Terdengar suara ketukan dari luar. Keandra langsung mempersilahkan seseorang, yang berada di luar untuk masuk.
"Selamat pagi tuan." Alex dengan sopan, masuk ke dalam ruangan.Melirik sekilas pada Anjani, yang ikut menatap dirinya.
"Pagi, Alex." balas Keandra. "Hari ini, tolong ajari dia tentang beberapa pekerjaan seorang sekretaris. Pastikan, dia benar-benar paham."
Alex yang paham mengangguk cepat. Mengambil beberapa dokumen. Menghampiri Anjani dan menjelaskan semuanya.
Anjani terlihat serius, mendengarkan penjelasan Alex. Hal itu membuat Keandra tersenyum tipis, melihat wajah Anjani yang terlihat lucu baginya. Namun semua itu hanya sesaat. Seketika Keandra merubah raut wajahnya, saat menyadari jika sikapnya saat ini salah.
Hampir dua jam, Alex selesai dengan tugasnya. Ia pun pamit keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Anjani dan Keandra, yang hanya tinggal berdua saja.
"Bagaimana? Apa kamu sudah paham, dengan apa yang di sampaikan oleh Alex?" tanya Keandra, menatap Anjani yang terlihat lelah.
Anjani mengangguk pelan. "Aku sudah paham, Kean."
"Eits...! Stop panggil nama, ku. Di sini aku atasan mu. Dan kamu sebagai bawahannya. Jadi panggil aku, pak, saat di kantor. Paham!"
Anjani menghela nafas. Sepertinya menjadi sekretaris Keandra adalah pilihan yang salah. Ia merasa, jika Keandra sedang memperlihatkan sisi buruk dalam dirinya. Sombong.
"Iya maaf." Anjani memutar bola matanya malas. Jika saja Keandra bukan suaminya, mungkin ia sudah melemparinya dengan sepatunya.
Keandra tidak menjawab. Memilih menyibukkan diri dengan memainkan laptopnya.
"Hari ini ada meeting yang harus anda hadiri, pak. Dan klien meminta kita, untuk datang ke sebuah restoran. Di mana tempat itu akan menjadi tempat meeting kita." ucap Anjani. Merasa geli sendiri. Sebab harus memanggil Keandra, dengan sebutan yang sangat formal.
Keandra yang mendengarkannya terlihat mendengus. Namun itu adalah peraturannya sendiri.
...----------------...
Siang ini sesuai jadwal. Keandra yang di temani Anjani, pergi ke tempat yang sudah di sepakati bersama kliennya. Restoran Golden Aksara.
Di restoran tersebut, rupanya klien sudah datang. Mereka menyambut kedatangan Keandra dan Anjani, dengan begitu ramah.
"Selamat siang tuan Keandra. Silahkan duduk!" sapa klien bernama Daren. Menjabat tangan. Mempersilahkan Keandra untuk duduk di kursi, yang sudah di sediakan.
Kini giliran Daren menjabat tangan Anjani. Tak bisa bohong. Daren menatap Anjani begitu lama. Bahkan tangannya terlihat enggan lepas. Namun suara deheman keras Keandra, seketika menyadarkan Daren.
"Ma-maaf. Mari silahkan duduk nona." Daren terlihat kikuk. Apalagi saat ini Keandra terlihat kesal, melihat sikap Daren. Andai Daren tahu siapa Anjani sebenarnya. Mungkin ia akan berpikir kembali, untuk melakukan hal tadi.
Daren merupakan seorang CEO muda. Usianya tidak jauh dengan Keandra. Maka wajar saja, saat melihat Anjani dirinya langsung terpikat. Sebab seorang Anjani, memiliki daya tarik sendiri di mata laki-laki yang melihatnya.
Mereka duduk dengan tenang. Membahas tentang kerja sama. Bisnis. Keuntungan. Sampai tidak terasa meeting pun selesai. Daren pamit pulang.
"Kita juga pulang." ucap Keandra. Di angguki oleh Anjani. Sama-sama berjalan meninggalkan restoran tersebut.
"SAYANG....!" panggil seorang wanita. Berlari ke arah Keandra. Memeluknya penuh kerinduan. "I miss you."
Tubuh Keandra seketika mematung. Saat tiba-tiba dirinya, di peluk oleh perempuan yang ia kenal.
Bahkan Anjani yang berada di samping Keandra sama-sama terkejut. Merasakan sesuatu di dadanya, tiba-tiba terasa sesak.
"Siapa perempuan ini? Apa dia kekasih Keandra?" tanya Anjani dalam hati.
lanjutin ceritanya sampai tamat