"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Evan Pulang.
"Evan sudah sadar."
Kabar yang baru saja Rieta dengar melalui ponsel membuat tubuhnya membeku sejenak, kedua matanya melebar, ponsel di tangannya nyaris jatuh jika saja suara ibu mertuanya tidak kembali terdengar menyadarkan ia dari keterkejutannya.
"Datanglah ke rumah sakit setelah pekerjaanmu selesai," Nyonya Melani berkata lagi. "Minta Arlan untuk datang juga."
Panggilan terputus begitu saja sebelum Rieta sempat memberikan jawaban, netranya menatap layar ponsel yang baru ia turunkan, tetapi tatapannya menerawang.
Baru pagi ini ia melihat keadaan suaminya dan tidak menemukan tanda-tanda suaminya akan bangun, dokter juga mengatakan tidak ada perubahan apapun pada kondisi suaminya, lalu sekarang ia mendapatkan kabar jika suaminya sudah sadar? Harusnya ia senang, tetapi kenapa ia merasakan kejanggalan?
"Aku akan mengantarmu," ucap Arlan.
Ternyata Arlan sudah berdiri di samping Rieta sejak wanita itu menerima panggilan. Wajahnya kembali ke mode datar setelah mendengar perintah dari kakak tirinya yang ditujukan untuk Rieta.
"Tapi pekerjaan Paman bagaimana?" sahut Rieta tidak enak hati.
"Dia suamimu, dia juga keponakanku, alasan itu cukup untuk saat ini," potong Arlan seraya meraih ponsel di meja untuk ia masukkan ke dalam saku jasnya.
Gerakan tangan Arlan tak berhenti sampai di sana, ia meraih gagang telepon yang ada di meja, menekan kombinasi angka, lalu menempelkan gagang telepon ke telinga.
"Gantikan aku di rapat siang ini, aku ada urusan. Katakan juga pada Rihana untuk mengambil alih pekerjaan Rieta, dia pergi bersamaku," ucap Arlan.
Tanpa menunggu jawaban, Arlan meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula, meraih tangan Rieta dan pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dan kali ini, Rieta tidak menolak sentuhan tangan dari pamannya.
.
.
.
"Apakah Mama menghubungi Rieta?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Evan yang saat ini tengah berbaring di ranjang pasien dengan posisi sandaran yang dinaikkan.
Evan menatap sendu wajah ibunya, bibirnya tampak pucat dengan wajah lesu, eskpresi sempurna dari seorang pesakitan yang baru saja sadar dari tidur panjangnya.
"Dia istrimu, Evan. Tentu saja Mama harus memberitahunya bukan?" sambut Nyonya Melani.
Evan mengangguk lemah sambil tersenyum, tetapi di lubuk hatinya menggerutu kesal atas sikap ibunya.
"Aku tidak pernah mencintainya, dan Mama tahu itu," lirih Evan. "Tidak bisakah akhiri saja pernikahan ini? Aku tidak keberatan jika aku harus menjamin hidupnya sampai dia menemukan pria yang dia cintai."
"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Kamu akan mencintainya jika lebih sering menghabiskan waktu bersama," jawab Nyonya Melani.
"Dan jika ternyata tidak?" sahut Evan kukuh pada pendiriannya.
"Apa kamu ingin menentang ayahmu?" Nyonya Melani balas bertanya.
Evan terdiam.
Nyonya Melani menghembuskan napas pelan, ingin rasanya ia mengatakan jika berkat Rieta-lah keluarga Larson bisa tetap berdiri sampai sekarang, tetapi ia sudah berjanji untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada putranya. Setidaknya ... sampai tiba waktu yang tepat.
Rencana pernikahan itu pun adalah keputusan yang diambil suaminya tanpa meminta pendapatnya. Rieta masuk ke dalam keluarga Larson juga tanpa perundingan apapun dengan dirinya, semua diputuskan suaminya secara sepihak. Apa alasannya, ia tidak tahu.
"Lalu, apakah sampai sekarang aku masih belum berhak menerima jabatan apapun di LR Corp? Mama mengatakan Rieta bekerja pada Paman bukan? Lalu mengapa?" tanya Evan.
"Mama akan bicarakan ini dengan ayahmu. Untuk saat ini, fokuslah pada kesehatanmu," ucap Nyonya Melani.
Evan kembali menghembuskan napas. Ada amarah yang kian membesar di hatinya, rasa kesal yang berubah manjadi benci pada Rieta, merasa sikap ayahnya tidak adil di saat ia sudah menjadi anak penurut. Semua sikap ayahnya berubah sejak ayahnya membawa Rieta ke rumah, dan saat itu Rieta masih berusia sepuluh tahun tahun.
Sejak awal, ia tidak pernah benar-benar menerima kehadiran Rieta, ia bahkan sering mengganggu Rieta setiap kali mendapatkan kesempatan, dan setelah dewasa ia justru diminta menikahi wanita itu di awal Rieta kuliah.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang terdengar menarik atensi ibu dan anak yang berada di dalamnya untuk menoleh ke arah pintu, sesaat kemudian pintu itu terbuka diikuti sosok Rieta bersama Arlan di belakangnya.
"Ma ...," ucapan Rieta terputus kala netranya menemukan sosok Evan di atas tempat tidur dalam keadaan sadar.
"Evan ... kamu sudah bangun?"
Rieta melangkah masuk, menghampiri pembaringan tempat Evan berada dengan kelegaan terlukis jelas di wajahnya. Ia berdiri di samping pembaringan, meraih tangan Evan untuk ia genggam tanpa memikirkan bagaimana reaksi Evan setelahnya.
"Syukurlah..." desah Rieta lega.
"Bukankah seharusnya kamu masih bekerja, Rie?" tanya Nyonya Melani.
"Aku khawatir, Ma. Lagi pula, Paman mengijinkanku." jawab Rieta menatap ibu mertuanya, lalu kembali beralih pada Evan.
"Aku senang melihatmu akhirnya sadar," kata Rieta tersenyum.
Evan tersenyum, sekilas netranya melirik ke arah tangan Rieta yang menggenggam tangannya. Ingin sekali ia menepis tangan itu, tetapi keberadaan ibu serta pamannya membuat ia perlu bersabar.
"Ma, bisakah hari ini aku pulang saja?" pinta Evan penuh harap, memasang wajah sendu sempurna.
"Mama akan tanyakan itu pada dokter, kamu baru saja sadar, Evan," jawab Nyonya Melani seraya menepuk punggung tangan putranya.
Evan menghembuskan napas pelan, lalu mengangguk pasrah, mengingatkan diri sendiri untuk lebih bersabar. Ia bisa meluapkan kekesalannya nanti jika hanya ada Rieta di depanya, itulah yang ia pikirkan.
.
.
Dua hari setelah Evan sadar dari komanya, pria itu diperbolehkan pihak rumah sakit untuk pulang.
Pagi itu, Evan duduk di samping Rieta, menerima apa yang Rieta lakukan terhadapnya dengan senyum manis, bahkan sesekali menggenggam tangan Rieta ketika mereka menikmati sarapan bersama. Pemandangan yang jelas membuat Tuan Marlan tersenyum, merasa jika sikap putranya sudah berubah.
Akan tetapi, tidak ada yang tahu apa yang dirasakan Tuan Marlan sebenarnya. Ada rasa bersalah menyusup ke dalam hatinya ketika ia mengingat meminta Rieta untuk menikah dengan putranya, dan wanita itu segera menerima tanpa pertimbangan. Hal yang membuat dirinya sadar, Rieta menerima bukan karena memiliki perasaan pada putranya, melainkan karena balas budi.
Namun, ia masih berharap putranya bisa mencintai Rieta, begitu pula sebaliknya. Ia yakin, LR Corp akan berkembang pesat di bawah kepemimpinan Rieta bersama Evan. Keyakinan itu bertambah saat ia melihat sendiri betapa cerdasnya seorang Rieta. Hal itu berawal dari ia pertama kali membawa Rieta pulang, gadis itu sudah memiliki wawasan luas yang dia dapatkan dari membaca surat kabar, mampu mengontrol emosinya dengan begitu baik, bahkan kecerdasannya melebihi putranya sendiri dan ditambah lulus dari universitas dengan nilai tertinggi.
"Bawa ini."
Kalimat Evan memutus lamunan Tuan Marlan, membuat pria paruh baya itu mengerjap singkat dan memperhatikan pasangan muda yang duduk satu meja dengannya.
"Ini apa?" tanya Rieta menerima botol tumbler stanley yang baru saja Evan sodorkan.
"Kamu menyukai kopi bukan? Aku meminta bibi pelayan menyiapkannya untuk kamu bawa ke kantor," jawab Evan.
"Maaf." ucap Evan lagi sembari mengusap lembut kepala istrinya. "Sudah membuatmu menungguku lama. Setelah aku pulih, aku akan kembali bekerja."
Rieta mengangguk sambil tersenyum, hatinya menghangat mendapatkan perlakuan manis itu dari suaminya. Meski ia sadar, sikap yang ditunjukkan hanyalah topeng yang suaminya gunakan. Tetapi dalam hati ia berharap;
Kuharap kali ini suamiku berubah dan aku akan belajar mencintainya.
Tidak ada yang menyadari, di tengah kehangatan keluarga itu, Arlan menatap Evan dengan tajam, tersenyum sinis, lalu menggelengkan kepala.
"Akting yang sempurna."
. . . .
. . . .
To be continued.