NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pelukan di Atas Jurang

​Cahaya matahari di The Forbidden Wilds bukanlah sahabat. Ia adalah pantulan menyilaukan dari hamparan salju abadi yang mencoba membu-takan mata siapa pun yang berani menatapnya. Saat Aethela melangkah keluar dari gua perlindungan mereka, angin dingin langsung menampar wajahnya, seolah-olah alam itu sendiri marah karena mereka masih bernapas setelah badai semalam.

​Valerius berjalan di depan, langkahnya mantap membelah salju yang setinggi betis. Pria itu telah mengenakan kembali zirah kulitnya yang kini sudah kering dan kaku, namun jubah bulu tebalnya masih ia pakaikan di bahu Aethela.

​Pemandangan di depan mereka sangat menakjubkan sekaligus mengerikan. Puncak-puncak gunung runcing menusuk langit seperti gigi-gigi monster, dan lembah-lembah di bawahnya tertutup kabut tebal yang tidak pernah bergerak. Perutnya berbunyi, perih karena lapar. Mereka belum makan sejak meninggalkan istana kemarin sore. Namun, ia menggigit bibirnya, menolak untuk mengeluh. Valerius sedang memikul beban navigasi dan pertahanan; ia tidak akan menambah beban itu dengan keluhan seorang putri manja.

​"Hati-hati," suara Valerius terbawa angin, rendah namun tajam. "Kita memasuki wilayah Whispering Cliffs. Jangan melihat ke bawah, dan jangan berhenti apa pun yang terjadi."

​Mereka tiba di tepi sebuah jurang raksasa. Tidak ada jalan memutar. Satu-satunya jalan adalah sebuah jembatan alam—lengkungan batu sempit yang tertutup es, lebarnya tidak lebih dari dua telapak kaki orang dewasa, membentang sejauh lima puluh meter di atas kehampaan yang tak berdasar.

​Aethela menelan ludah. Kakinya gemetar. Ketinggian selalu membuatnya pusing, dan jembatan ini terlihat seperti lelucon kematian.

​"Valerius... aku tidak yakin bisa melewatinya," bisik Aethela, suaranya bergetar.

​Valerius berbalik. Wajahnya yang kotor oleh debu dan sisa darah kering tampak serius. Ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit. "Kau bisa. Lihat aku, Aethela. Jangan lihat jurangnya. Lihat mataku. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh."

​Valerius menggenggam tangan Aethela. Ia bisa merasakan keringat dingin di telapak tangan wanita itu meskipun suhu udara membeku.

Ia merasakan ketegangan yang menyiksa. Insting naganya berteriak ada bahaya. Whispering Cliffs bukan hanya berbahaya karena ketinggiannya; tempat ini adalah sarang bagi predator udara. Ia memindai langit yang biru pucat, mencari bayangan sekecil apa pun. Ia tidak bisa berubah wujud di sini—jembatan batu ini akan hancur oleh berat wujud naganya. Ia harus bertarung sebagai manusia jika sesuatu terjadi.

​"Satu langkah demi satu langkah," bimbing Valerius. Ia berjalan mundur perlahan, matanya terkunci pada wajah Aethela, memandu setiap gerakan kakinya. "Bagus. Teruslah menatapku."

​Mereka mencapai tengah jembatan. Angin di sini bertiup lebih kencang, mencoba mendorong mereka jatuh ke dalam kabut di bawah.

​Tiba-tiba, suara pekikan tajam memecah kesunyian. Suara itu terdengar seperti logam yang digesekkan ke kaca, melukai telinga.

​Dari balik awan di atas mereka, sebuah bayangan raksasa melesat turun.

​Frost Wyvern.

​Makhluk itu lebih kecil dari naga murni, tapi jauh lebih liar. Kulitnya berwarna putih pucat menyatu dengan salju, dan ia memiliki dua kaki bercakar tajam serta sayap selaput yang lebar. Wyvern itu tidak memiliki napas api; ia memiliki napas uap beku yang bisa mengubah daging menjadi es batu dalam hitungan detik.

​"Lari!" teriak Valerius. Ia menarik tangan Aethela, menyeretnya maju.

​Wyvern itu menukik, cakar-cakarnya menggores jembatan batu tepat di tempat Aethela berdiri sedetik yang lalu. Batu-batu pecah dan jatuh ke jurang. Guncangan itu membuat Aethela terhuyung.

​Aethela menjerit saat keseimbangannya hilang. Ia terpeleset di atas es licin. Tubuhnya meluncur ke pinggir jembatan.

​"Aethela!"

​Sebuah tangan kuat mencengkeram pergelangan tangannya tepat sebelum ia jatuh sepenuhnya. Valerius menjatuhkan dirinya ke posisi tiarap di atas jembatan sempit itu, satu tangan mencengkeram tepi batu yang tajam, tangan lainnya memegang Aethela yang kini tergantung di atas jurang.

Ia melihat ke bawah—ke dalam kabut putih yang berputar ratusan meter di bawah kakinya. Angin mengayunkan tubuhnya seperti boneka kain. Ia mendongak dan melihat wajah Valerius yang merah padam karena menahan beban, urat-urat di lehernya menonjol.

​"Tarik aku!" teriak Aethela.

​"Aku mencoba!" geram Valerius.

​Namun, Wyvern itu kembali. Makhluk itu memekik, berputar di udara untuk serangan kedua. Ia melihat mangsanya yang tak berdaya: satu tergantung, satu tertahan. Wyvern itu membuka rahangnya, bersiap menyemburkan uap beku ke arah Valerius.

​Jika Valerius menghindar, ia harus melepaskan Aethela. Jika ia tidak melepaskan, ia akan membeku dan mereka berdua akan jatuh.

​Ia melihat dilema di mata Valerius. Ia tahu pria itu tidak akan melepaskannya, bahkan jika itu berarti mati. Aku tidak akan membiarkan dia mati karena aku.

​"Valerius, lepaskan aku! Hindari serangannya!" jerit Aethela.

​"TIDAK AKAN PERNAH!" raung Valerius. Mata emasnya menyala merah darah.

​Saat Wyvern itu menyemburkan uapnya, Valerius tidak menghindar. Sebaliknya, ia menggunakan satu tangannya yang mencengkeram batu untuk memanggil sisa-sisa Shadow Magic. Sebuah perisai bayangan hitam muncul di atas punggungnya, menahan semburan uap beku itu.

​Es menjalar di perisai bayangan, membuat Valerius mengerang kesakitan karena dingin yang menusuk menembus pertahanannya.

​"Aethela! Gunakan sihirmu! Butakan dia!" perintah Valerius di sela giginya yang gemeretak.

​Aethela sadar. Ia tergantung dengan satu tangan, tapi tangan lainnya bebas. Ia memejamkan mata, mengabaikan rasa takut jatuh, dan memanggil cahaya bulan yang ada di dalam darahnya—cahaya yang kini diperkuat oleh fusi dengan naga.

​Ia mengarahkan telapak tangannya ke atas, ke arah wajah Wyvern yang sedang melayang rendah.

​FLAR!

​Sebuah ledakan cahaya perak meletus dari tangannya, sekuat suar matahari. Wyvern itu memekik kesakitan, matanya yang terbiasa dengan kegelapan salju terbakar oleh intensitas cahaya murni itu. Makhluk itu mengepakkan sayapnya panik, menabrak dinding tebing di samping mereka dan jatuh berputar-putar ke dalam jurang.

​Perspektif: Valerius Nightshade

​Kesempatan itu hanya sekian detik. Dengan teriakan tenaga terakhir, Valerius menarik Aethela ke atas. Wanita itu merangkak naik ke jembatan, napasnya tersengal-sengal.

​Valerius segera menariknya berdiri dan mendorongnya berlari menuju ujung jembatan yang tinggal beberapa meter lagi. Mereka melompat ke tanah yang keras di sisi tebing seberang tepat saat bagian tengah jembatan yang retak akibat serangan Wyvern runtuh ke dalam jurang dengan suara gemuruh.

​Mereka jatuh berguling di atas salju tebal, menjauh dari tepi tebing.

​Valerius berhenti berguling, posisinya kini berada di atas Aethela, menindih wanita itu untuk melindunginya. Napas mereka beradu, memburu dan panas di tengah udara dingin.

​Valerius menatap Aethela. Wajah wanita itu pucat pasi, matanya terbelalak, tapi dia hidup. Dia selamat. Adrenalin yang membanjiri tubuh Valerius perlahan surut, digantikan oleh getaran hebat—bukan karena dingin, tapi karena rasa takut kehilangan yang baru saja ia alami.

​Tanpa kata-kata, Valerius membenamkan wajahnya di ceruk leher Aethela. Ia memeluk wanita itu erat-erat, sangat erat hingga mungkin menyakitkan, tapi Aethela membalas pelukannya dengan kekuatan yang sama.

​"Kau gila," bisik Valerius di kulit leher Aethela. "Menyuruhku melepaskanmu? Jangan pernah katakan itu lagi."

​"Aku tidak ingin kau mati beku," isak Aethela, air mata akhirnya tumpah. "Kau menahan napas Wyvern itu..."

​Valerius mengangkat kepalanya, menatap mata ungu Aethela. Tangannya yang gemetar menangkup wajah wanita itu, ibu jarinya menyeka air mata yang jatuh.

​"Dengar, Putri," suara Valerius serak dan intens. "Jantungku sudah terikat dengan jantungmu. Jika kau jatuh, aku jatuh. Jika kau mati, aku mati. Kau tidak bisa menyelamatkanku dengan mengorbankan dirimu, karena kita adalah satu nyawa sekarang. Mengerti?"

​Aethela mengangguk, terngiang oleh intensitas pernyataan itu.

​Di tepi jurang yang mematikan itu, di bawah bayang-bayang tebing raksasa, mereka berbaring di atas salju. Valerius mencium Aethela—ciuman yang kasar, penuh dengan rasa syukur dan hunger akan kehidupan. Itu adalah ciuman orang-orang yang baru saja menipu kematian.

​"Kita harus bergerak," kata Valerius akhirnya, melepaskan ciuman itu dengan enggan, meskipun dahinya masih menempel pada dahi Aethela. "Wyvern itu mungkin punya kawanan."

​Ia membantu Aethela berdiri. Kaki wanita itu masih goyah, jadi Valerius melingkarkan lengannya di pinggang Aethela, menopang sebagian besar berat badannya.

​Saat mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak di sisi tebing, Aethela tidak lagi merasa takut pada ketinggian. Ia tahu tangan yang melingkar di pinggangnya tidak akan pernah membiarkannya jatuh. Jurang di sebelah mereka menganga lebar, siap menelan siapa saja, namun pelukan Valerius adalah jangkar yang menahannya tetap di bumi.

​Di alam liar ini, mereka belajar satu hal: bahaya terbesar bukanlah monster atau jurang, melainkan kemungkinan harus menjalani hidup tanpa satu sama lain. Dan hari ini, mereka telah memenangkan pertarungan itu.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!