Setelah kesalahan yang dilakukan akibat jebakan orang lain, Humaira harus menanggung tahun-tahun penuh penderitaan. Hingga delapan tahun pun terlewati, dan ia kembali dipertemukan sosok pria yang dicintainya.
Pria itu, Farel Erganick. Menikahi sahabatnya sendiri karena berpikir itu adalah kesalahan diperbuat olehnya saat mabuk, namun bertemu wanita yang dicintainya membuat Farel tau kebenaran dibalik kesalahan satu malam delapan tahun lalu.
Indira, sang pelaku perkara mencoba berbagai cara untuk mendapat kembali miliknya. Dan rela melakukan apapun, termasuk berada di antara Farel dan Humaira.
Sebenarnya siapa penjahatnya?
Aku, Kamu, atau Dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girl_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Mengajari
Humaira mengetuk pintu kamar Indira, dan pintu itu terbuka di ketukan kelima. Menampakkan Indira yang bersidikap dada dan memandang malas Humaira.
"Why?" ujar Indira.
"We bought a mukenah for you to pray in, and some clothes. After the evening call to prayer sounds, please go to the prayer room so that we can pray together (Kami membelikan mukenah untuk kamu shalat, dan beberapa pakaian. Setelah azan magrib berkumandang, silahkan ke mushalla yang itu agar kita shalat berjamaah)," ucap Humaira dan tersenyum seraya menunjuk ruangan yang tidak jauh dari sana.
Indira terperangah. "What? Kamu menyahutiku dengan bahasa inggris?"
"Kamu yang memulainya, aku cuma menurutimu." Humaira menarik tangan Indira dan memaksa tangan itu menggenggam tali paperbag.
"Satu lagi, harap pakai baju tertutup. Aku nggak mau Farel melihat hal lain selain diriku selama tujuh hari ke depan," sambung Humaira. Ia berbalik pergi seusai menciptakan ekspresi kesal pada wajah Indira.
"Heh, aku tidak percaya ini. Dia menyombongkan diri atas haqnya tujuh hari ke depan? Kurasa lebih baik dia memakai cadarnya agar aku tidak perlu melihat wajah sombongnya." Indira menghantam pintu.
Seperti yang dikatakan Humaira, mereka melaksanakan shalat magrib berjamaah di mushalla dalam rumah.
Humaira tercengang, sedangkan Farel tertawa kecil menghadap ke belakang. Indira tampak lucu lantaran menyisakan matanya saja dari balutan mukenah itu.
"Gimana? Cantikkan aku kalau nutup wajah 'kan?" ujar Indira berlagak ke kanan dan ke kiri membuat mukenah selututnya mengembang.
Farel menutup mulutnya rapat-rapat agar tak menyemburkan tawa saat berkata, "Ya, kamyu catik kayak giwtu."
Perkataan yang dapat dipahami Humaira yang berdiri dekat Fafel, sementara Indira kebingungan. Langsung saja Farel mendapat cubitan di bahagian perut dari istrinya.
"Biar aku perbaiki." Humaira maju dan memperbaiki cara pakai mukenah Indira.
Gerakan hati-hati Humaira dalam proses memasukkan rambutnya menjadikan Indira terdiam.
"Kamu sudah wudhu', bukan?" tanya Humaira menyelesaikan tugasnya.
"Wudhu'? Apa itu?" Indira menanggapinya seakan tidak peduli.
Humaira melongo. "Jangan bilang kamu mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu menanyakan statusmu tanpa mempelajari kewajiban sebagai orang Islam?"
Humaira tak menunggu jawaban dan langsung menarik tangan Indira untuk mengikutinya.
"He-hei!" pekik Indira.
"Kamu shalat saja, Farel. Aku mengajak Indira berwudhu dulu," ucap Humaira sebelum tenggelam di balik pintu.
Akhirnya shalat berjamaah yang direncanakan Humaira tak terlaksana, cuma Farel sendiri dan Indira yang mengikuti gerakan sholat di belakang Humaira.
Indira memfokuskan pandangan ke depan agar mengikuti gerakan Humaira dengan sempurna, sampai ikut menirukan doa yang dibaca Humaira seusai shalat.
"اللھم صل علی سیدنا محمد...."
Menirukan dengan suara kecil lantaran tidak mengerti bahasa yang di dengarnya, dan meraup mukanya juga.
"Udah?"
Seruan Farel membuat Humaira buru-buru berdiri dan menarik mukenah pocongnya menyangkut di bahu, lalu menghampiri suaminya.
Farel menyodorkan tangan dan disambut Humaira dengan menyentuh punggung tangan itu ke bibirnya. Humaira menyertainya dengan shalawat.
Melihat hal tersebut, Indira menyusul Humaira. Ia menyodorkan tangannya juga.
Farel mengangkat alis, dan membuka mulut hendak berkata kasar. Namun Humaira lebih dulu mendorongnya mundur mengikuti gerakan wanita itu yang mundur juga. Farel terperangah.
"Maaf, pria ini milikku sampai tujuh hari ke depan. Kamu tidak boleh menyentuhnya barang seinci pun," ucap Humaira yang menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku hanya mengikutimu, bukankah cuma menyalaminya saja?" tanya Indira kesal.
Humaira memutar sebagian badan dan memegang kedua sisi kepala Farel. "Nggak, aku nggak cuma menyalaminya saja. Aku juga akan mengecup pipinya seperti ini."
Lantas Humaira menurunkan wajah Farel dan mencium pipi Farel.
Farel tercengang lagi, dan Indira membulatkan matanya.
"Kamu tidak boleh mengikutiku sampai ke bagian itu." Humaira pun menarik lengan Farel dan membawanya ke kamar.
Meninggalkan Indira yang memukul-mukul dada saking kesalnya. "Aku tidak percaya ini. Dia segila itu rupanya."
Ketika sudah berada di dalam kamar, Humaira melepas Farel dan menutup pintu. Begitu berbalik Humaira dihadapankan pada Farel yang menyilangkan tangan. Pria itu tersenyum ke arahnya.
"Kenapa menatapku begitu?" Humaira hendak menuju ke samping ranjang, namun lengannya justru ditarik dan membuat Humaira berakhir di lingkaran lengan Farel.
"Kamu sangat manis." Farel mencium cepat dua sisi pipi Humaira.
Humaira sempat berkedip sebelum muka meronanya timbul.
"Aku mencium adil pipimu, tapi kamu cuma mencium pipi kananku," rajuk Farel seraya menyodorkan pipi kirinya.
Mau tak mau Humaira mencium pipi Farel satunya lagi. "Udah. Sekarang lepaskan aku, aku mau masak dulu," ucap Humaira sembari menunduk.
Farel justru menarik kepala Humaira ke dadanya. "Aku bangga padamu, Humaira. Lakukan apapun yang kamu mau, aku percaya padamu."
Humaira tersenyum dan membalas pelukan Farel.
Turun dari kamar Humaira memasak di dapur, dibantu oleh Farel yang sebenarnya lebih banyak mengacau.
Farel mengganggu Humaira dengan memeluknya dari belakang, mencium pipinya tiba-tiba, dan hal lainnya seperti menyapu tepung ke muka Humaira. Farel tertawa, sementara Humaira cemberut.
"Iss, mending kamu tunggu di meja makan," gerutu Humaira menambok suaminya dengan terong ungu.
"Baik, baik." Farel mengalah dan menuruti keinginan Humaira.
Duduk di meja makan dengan mata fokus kepada Humaira, sehingga Farel bisa tahu bahwa istrinya gemetar saat memotong wortel. Farel kembali tertawa kencang.
"Farel, mending kamu di kamar," pinta Humaira tak tahan dipandang intens oleh suaminya.
"Baik, baik." Farel memutuskan naik ke lantai atas. Kasian juga istrinya itu tidak bisa berkonsentrasi gara-gara dirinya. Walau ia senang melihatnya, lantaran itu membuktikan rasa cinta Humaira terhadapnya.
Farel tersenyum.
"Kita pernah mengalami momen begitu juga," tukas Indira yang ternyata mengintip di balik tembok. Matanya sudah memerah akibat tangis yang memekakkan matanya.
"Lihat siapa yang mengatakannya. Penghianat," ucap Farel dengan riak muka murka. Dia pergi menaiki tangga tanpa menoleh ke belakang.
Tanpa tau bahwa Indira luruh ke lantai, dan memukul-mukul dada saking sesaknya. Air matanya kembali terjatuh, namun Indira menutup mulutnya agar suara tak menggapai Humaira.
Bahkan sebelum aku membohongimu, kamu sudah tidak lagi peduli padaku semenjak kamu menyukai wanita lain, Farel.
...🌾🌾🌾🌾...