NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Memutus Rantai Parasit

Setelah seharian penuh berkutat dengan galian tanah dan analisis struktur bumi yang rumit namun memuaskan, Valaria merasa seluruh energinya terkuras habis. Kelelahan fisik akibat pekerjaan ladang yang kasar berpadu dengan kelelahan mental yang luar biasa. Bagaimanapun, menampung memori seorang ilmuwan masa depan dalam tubuh ringkih seorang gadis desa bukanlah perkara mudah.

Malam telah lama jatuh, menyelimuti Desa Panda dengan kesunyian yang dingin. Hanya suara jangkrik yang bersahutan di balik semak dan lolongan anjing sayup-sayup dari kejauhan yang sesekali memecah keheningan. Di dalam kamar yang remang-remang, Valaria merebahkan diri di ranjang kayu sederhananya. Tempat tidur itu berderit pelan, seolah ikut mengeluh di bawah bobot tubuhnya. Tanpa butuh waktu lama, kegelapan menarik kesadarannya ke dalam tidur yang lelap.

Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Di kedalaman alam bawah sadarnya, tubuh Valaria seolah memberontak. Sel-sel otaknya memproyeksikan kembali sisa-sisa kenangan yang sangat menyakitkan sebuah warisan trauma dari pemilik tubuh asli.

Dalam tidurnya, Valaria bermimpi. Ia melihat kilasan mengerikan dari kehidupan Valaria yang lama. Di sana, ia seolah menjadi pengamat yang dipaksa merasakan emosi yang sama. Ia melihat dirinya Valaria asli berjalan tergesa-gesa di bawah sinar bulan yang redup. Hatinya berdebar, dipenuhi harapan yang menyedihkan, hanya karena ia akan bertemu dengan pria yang selama ini menjadi pusat dunianya: Damian.

Damian muncul dalam mimpi itu sebagai sosok yang memuakkan. Ia memiliki daya tarik gelap dengan senyum yang mematikan, mata yang dingin layaknya reptil, dan aura kekuasaan yang manipulatif.

Adegan berpindah dengan cepat, memperlihatkan siklus penderitaan Valaria asli. Damian terus-menerus menindasnya, menggunakannya tak lebih dari sekadar alat pemuas kepentingan. Mimpi itu dipenuhi adegan Valaria yang diperintah melakukan tugas-tugas kotor; mencarikan uang dengan cara apa pun, atau bahkan mencuri uang tabungan orang tuanya sendiri hanya demi memuaskan nafsu belanja dan gaya hidup Damian. Air mata, rasa malu, dan keputusasaan Valaria asli terasa sangat nyata, mencekik napas Valaria yang baru.

Lalu, adegan itu berpindah ke malam yang menentukan. Valaria asli, yang bersemangat ingin memberikan kejutan pada Damian, bersembunyi di balik semak-semak. Namun, langkahnya terhenti. Di sana, ia melihat Damian sedang bermesraan dengan Laksmin, seorang gadis cantik namun licik dari desa tetangga.

"Aku tidak mengerti, Damian. Kenapa kau masih mempertahankan si bodoh Valaria itu?" tanya Laksmin dengan nada meremehkan yang kental.

Damian tertawa, tawa yang kejam dan hampa. "Dia hanya alat, Laksmin. Kau tahu sendiri dia terlalu naif. Dia mencintaiku sampai mati, dan itu membuatnya sangat mudah dikendalikan. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku hanya ingin memanfaatkannya sampai ia tak punya apa-apa lagi."

Kata-kata itu bergaung berulang-ulang dalam mimpi, menghancurkan sisa-sisa harga diri Valaria asli. Dalam mimpi itu, Valaria asli berlari dalam keputusasaan total. Air mata mengaburkan pandangannya, membuatnya tak melihat rintangan di depan.

Bruuuk!

Ia tersungkur. Kepalanya membentur batu jalanan dengan sangat keras. Rasa sakit yang memekakkan telinga meledak, diikuti aliran darah hangat dan kegelapan yang pekat.

Valaria tersentak bangun dengan napas terengah-engah. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin. Ia duduk mematung di tempat tidur, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Ia sedang memproses trauma yang secara teknis bukan miliknya, namun kini telah menyatu dalam sumsum tulangnya. Rasa marah yang membara dan simpati yang mendalam terhadap nasib Valaria asli membakar dadanya.

Pagi berikutnya, meskipun energinya telah pulih, hati Valaria terasa berat. Ia sedang membantu ibunya di dapur ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan keras lebih mirip gedoran dari pintu depan.

Begitu pintu terbuka, sosok Damian dan Laksmin berdiri di sana. Suasana seketika berubah menjadi tegang. Udara di ruangan itu seolah membeku. Damian berdiri tegap dengan pakaian yang jauh lebih mewah dari pemuda desa pada umumnya, ekspresinya congkak dan menuntut. Di sebelahnya, Laksmin tersenyum sinis, menatap Valaria dengan pandangan merendahkan.

Valaria membeku sesaat. Ini adalah pria dari mimpi buruk semalam. Pria yang telah menghancurkan jiwa pemilik asli tubuh ini.

Sebelum Valaria sempat bereaksi, adiknya, muncul dari arah samping rumah. Tubuh Raka sedikit berlumuran lumpur karena baru saja selesai mengatur irigasi di sawah. Adiknya menemukan Valaria pingsan dan berdarah malam itu. Ia menatap Damian dengan pandangan penuh permusuhan dan kecurigaan.

Damian mengabaikan kehadiran Raka. Matanya yang tajam langsung menusuk ke arah Valaria. Ia melangkah maju dengan sikap dominan yang memuakkan.

"Nah, ini dia. Kau diam saja sejak kemarin. Mana uang yang aku minta?" tuntut Damian. Suaranya mengandung ancaman halus yang biasanya selalu berhasil membuat Valaria asli gemetar ketakutan.

Valaria menatap Damian dalam-dalam. Rasa amarah dari mimpi buruk itu tiba-tiba meledak di dadanya. Ia tidak melihat seorang kekasih; ia melihat seekor parasit yang menjijikkan.

Secara insting, Valaria memasang postur tubuh yang sangat berbeda. Ia berdiri tegap, dagunya terangkat tinggi. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan gerakan tegas. Matanya yang tajam menembus langsung ke bola mata Damian tanpa rasa takut sedikit pun.

"Tidak ada," jawab Valaria datar. Suaranya penuh otoritas yang dingin. "Cari sendiri."

Valaria melangkah satu langkah lebih dekat. Auranya sekarang adalah perpaduan antara kepercayaan diri seorang pakar dan kemarahan seorang korban yang telah bangkit.

"Kau memiliki kaki dan tangan yang utuh. Kau mampu bekerja. Kenapa malah meminta uang kepadaku?" Valaria melanjutkan, suaranya kini mengandung penghinaan yang terang-terangan. "Aku bukan bank pribadimu, apalagi bonekamu. Jangan pernah berani meminta hal semacam itu lagi padaku."

Damian dan Laksmin terperangah. Laksmin yang terbiasa melihat Valaria menunduk ketakutan kini menutup mulut dengan tangan kirinya karena tidak percaya. Wajah Damian berubah dari sombong menjadi sangat bingung. Ini bukan Valaria yang bisa ia gertak. Valaria yang dulu akan gemetar dan segera memohon maaf, bahkan jika ia tidak bersalah.

Raka pun terdiam, namun keterkejutannya bercampur dengan secercah harapan. Ia teringat kata penduduk bahwa setelah sadar, kakaknya mungkin kehilangan sebagian ingatan. Mungkin ini hal terbaik yang pernah terjadi pada Kakak, pikir Raka.

Damian kembali menguasai diri. Kemarahan mengambil alih kewarasannya. Ia mengerutkan dahi kejam, mencoba mengintimidasi kembali. "Kau berani melawanku? Kau pikir kau siapa sekarang? Jangan main-main denganku, Valaria!" desisnya.

Valaria sama sekali tidak bergeming. Ia melihat kemarahan Damian bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai ekspresi kekalahan seorang pecundang. Dengan gerakan yang sangat menghina, Valaria memalingkan wajahnya begitu saja, seolah-olah Damian hanyalah tumpukan sampah yang tak layak dipandang.

Penghinaan itu adalah puncaknya. Valaria asli tidak akan pernah berani melakukannya. Raka yang melihat betapa enggannya sang kakak bicara dengan pria itu segera mengambil tindakan. Ia melangkah maju, berdiri melindungi di antara Valaria dan Damian.

"Sudah dengar, kan?" Raka berkata dengan nada sedingin es. "Jangan ganggu kakakku lagi. Kalian tidak punya urusan di sini, pergi sekarang sebelum aku kehilangan kesabaran!"

Raka mengepalkan tangannya di samping tubuh, siap membela kakaknya jika Damian berani berbuat kasar. Damian, dengan wajah merah padam karena dipermalukan di depan Laksmin, menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kendali di rumah ini. Aura Valaria yang baru terasa terlalu asing dan kuat baginya.

"Kau akan menyesali ini, Valaria!" ancam Damian sebelum berbalik dengan kasar, diikuti Laksmin yang masih tampak linglung.

Setelah keduanya pergi, Raka menghela napas panjang. Kelegaan yang luar biasa terpancar dari wajahnya. Ia segera menutup pintu dan menuntun Valaria ke ruang tengah.

"Duduklah, Kak," kata Raka lembut.

Keheningan melayang di antara mereka, diisi oleh gema konfrontasi yang baru saja terjadi. Raka menatap Valaria dengan campuran rasa khawatir dan kagum.

"Aku... aku terkejut," Raka memulai. "Aku belum pernah melihatmu bicara seperti itu pada Damian. Tidak pernah sekalipun."

Valaria menatap adiknya. Wajah Raka begitu tulus. "Aku minta maaf jika itu mengejutkanmu, Raka."

"Tidak, Kak. Itu bagus! Sangat bagus!" Raka bersikeras. "Sejak kau jatuh, kau benar-benar berbeda. Kau... kau sungguh tidak ingat apa pun tentang dia?"

Valaria menyandarkan punggungnya, menimbang-nimbang bagaimana menjelaskan kebenaran ini. "Aku tidak ingat dia secara pribadi," bohong Valaria demi menjaga rahasia transmigrasinya. "Tapi aku tahu orang jahat saat aku melihatnya, Raka. Dan aku tahu bagaimana perasaanku tentang dia. Dia adalah parasit."

"Ya, dia memang parasit!" seru Raka penuh emosi. "Kak, kau tidak tahu betapa menderitanya kau dulu. Kau selalu dimanfaatkan. Kau pernah mencuri uang tabungan Ibu hanya untuk menyenangkan pria itu."

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!