Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Zadith berbalik pergi dengan membawa hati perih penuh amarah.
Dalam hati merasa bersalah. Kepada mendiang kedua orang tua Inara.
Mengingat jika mereka telah berteman lama. Dan sudah berjanji akan menyayangi serta membahagiakan Inara seperti anak kandungnya sendiri.
Namun apa..
Alih - alih membuat gadis itu hidup bahagia bersanding dengan putra mereka yang tampan rupawan dan memiliki kesempurnaan bak seorang raja.
Putra mereka malah telah menyakiti Inara dengan sebuah pengkhianatan yang tak pernah Zadith pikirkan akan di lakukan oleh putranya sendiri.
Mengingat rekam jejak Brian yang selalu berjalan di jalan yang lurus.
Jadi Zadith berpikir jika putranya itu akan mengikuti rekam jejaknya, menjadi seorang pria sejati yang setia pada satu wanita.
Namun nyatanya perkiraannya itu ternyata meleset parah.
Ternyata sosok pria yang ia lihat sangat sempurna di luar itu. Nyatanya memiliki kecacatan fatal.
Dimana mata , hati dan pikiran putranya itu tak bisa ia fungsikan dengan benar. Hingga membuat putra yang selama ini ia sanjung - sanjung, tak bisa melihat dengan benar. Yang mana batu berlian yang seharusnya di simpan dan di rawat dengan baik. Dengan batu kali yang seharusnya di buang karena tak berguna.
___
" Jalankan mobilnya Justine." titah Zadith yang kini sudah duduk di dalam sebuah mobil Limosin mahal dengan kondisi tangan sedang melonggarkan ikat dasi yang terasa mencekiknya.
Ulah bejat Brian yang baru saja ia ketahui benar - benar hampir saja membuatnya tak bisa bernafas.
Untung saja Zadith tak memiliki riwayat jantung.
Jika iya. Maka mungkin saja saat ini dirinya sudah mati karena terkena serangan jantung mendadak, akibat ulah Brian.
" Baik tuan."
Pengawal yang sekaligus merangkap sebagai sopir pun langsung tancap gas.
Saat ini hati majikannya sedang dalam keadaan tak baik - baik saja.
Jadi sebagai bawahan. Ia tak mau sampai menjadi pelampiasan amarah dari pria berkuasa di kota Lankar itu.
Kepala belakang Zadith bersandar di sofa mobil. Dengan kondisi mata terpejam. Pria itu pun memijit pelipis matanya karena tiba - tiba merasa pusing sebab efek dari memikirkan tentang Brian.
Sampai mata pria itu terbuka lebar kembali. Dan segera mengambil benda pipih miliknya yang ia letakkan di dalam saku.
Satu nomor pria itu hubungi.
Hingga panggilan tersebut dengan cepat di angkat oleh pemilik nomor yang saat ini tengah berada di seberang sana.
" Ya tuan.. "
" Daniel... Segera datang ke mansion. Aku perlu bicara denganmu sekarang."
" Se..sekarang tuan!? " tanya Daniel dengan nada gemetar ketakutan.
Bagaimana pria itu tidak gemetar ketakutan.
Setelah melihat rahang Brian yang terlihat telah berisikan cap lima jari.
Pria itu bisa menyimpulkan. Bahwa saat ini giliran dialah yang akan mendapatkan amukan amarah iblis yang saat ini tengah menyelimuti hati Zadith.
" Tentu saja sekarang. Masak tahun depan. Cepat. Awas kalau lama. Maka kau akan tahu sendiri akibatnya."
" Tapi tuan.. "
Tut.. Tut.. Tut.
Belum juga selesai Daniel menjelaskan.
Sambungan telepon itu malah sudah terputus.
Meninggalkan Daniel yang kini dalam keadaan nelangsa penuh penyesalan. Karena telah membantu Brian dalam hal menutupi hubungan pria itu dengan Anita kembali.
" Sial! Dia yang berbuat , malah aku juga ikutan terkena getahnya. Nasib .. Nasib.."
Dengan keadaan pasrah. Daniel pun mau tak mau harus pergi ketempat Zadith berada.
Daripada ia membangkang. Bisa - bisa letak tangan dan kedua kakinya akan berubah posisi besok. Karena di patahkan oleh ayah kandung dari majikan mudanya itu.
Sementara Brian sendiri. Pria itu tak menghalangi Daniel pergi menemui Zadith.
Karena ia tahu, apa yang akan di lakukan Zadith kepada Daniel.
Apalagi yang di lakukan oleh ayahnya itu. Jika bukan untuk memarahi Daniel. Karena telah membantunya dalam hal menutupi hubunganya dengan Anita.
Sampai Brian memejamkan mata sejenak dan bersandar di sebuah sofa. Dengan menahan rasa panas yang ia rasakan pada rahang kirinya akibat tamparan keras yang Zadith lakukan.
Hingga sebuah bayangan seorang wanita tak sengaja terlintas di dalam benak pria itu.
Membuat kedua mata Brian yang diawal sempat tertutup rapat , tiba - tiba jadi berubah terbuka lebar kembali.
" Sial! Kenapa aku malah memikirkannya." Brian meraup wajah kasar.
Semakin hari , pria itu terlihat semakin tak mengerti akan apa yang terjadi dengan dirinya.
Di tiap detik ia memejamkan mata. Bayangan Inara selalu saja menghantui.
Padahal yang Brian tahu. Ia sangatlah mencintai Anita, hingga dengan begitu tidak warasnya. Pria itu sampai mau merajut hubungan kembali. Dengan sosok wanita yang pernah kabur di hari pesta pernikahan mereka.
Tapi kenapa malah wajah Inara yang selalu, bahkan hampir setiap detik ia bayangkan ?
Ada apa sebenarnya?
Brian terlihat bingung sendiri. Sampai seorang pengawal menghampiri pria itu.
" Maaf jika kedatangan saya menganggu waktu anda, tuan. Tapi ada hal penting yang harus segera saya sampaikan kepada anda."
" Hmm.. Katakanlah." jawab Brian sembari memberikan pijatan kecil pada pangkal hidungnya karena merasa pusing karena terus menerus di hantui oleh bayangan Inara.
" Ini tentang nona Anita ,tuan. Nona Anita sudah selesai di tangani oleh dokter. Dan dipindahkan ke kamar rawat."
Gerakan tangan Brian yang tengah memijat pangkal hidung pun mendadak terhenti. Dan segera bangkit dari sofa. Hingga pria itu tergesa keluar kamar , untuk menuju ke tempat Anita dan calon bayinya berada.
" Aku harap mereka berdua bisa di selamatkan."
"
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra