Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Aisya! Keluar kamu! Lihat itu halaman belakang sudah seperti gudang sampah! Cepat bersihkan sekarang!"
Tidak ada jawaban sama sekali dari Aisya.
Marni mendengus kasar, ia melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamar menantunya. Di pikirannya, Aisya pasti sedang menangis meratapi nasib atau pura-pura pingsan seperti biasanya.
Namun, saat pintu kamar dibuka, pemandangan yang tersaji justru membuatnya naik pitam. Aisya sedang berbaring di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit dengan kosong, wajahnya tampak datar, tanpa air mata, tanpa ekspresi kesedihan yang biasa ia tunjukkan.
Aisya bahkan seolah tidak menghiraukan mertuanya yang sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah marah.
"Oh, bagus ya! Mertua bicara malah asyik tidur-tiduran! Kamu dengar tidak?! Cepat bangun dan sapu halaman belakang!" bentak Marni sambil mendekat ke arah ranjang.
Aisya tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya mengedipkan matanya pelan, seolah Marni hanyalah suara angin lalu yang tidak penting. Pikirannya masih terpaku pada foto terkutuk yang ia lihat di ponselnya tadi pagi.
Foto suaminya, Hendra, yang memeluk wanita lain tanpa busana. Rasa sakit yang semalam menghujam jantungnya kini telah membeku menjadi dinding es yang sangat keras.
"Aisya! Kamu sudah tuli, ya?!" Marni berteriak lagi, kali ini ia menarik bantal yang digunakan Aisya dengan kasar.
Aisya perlahan duduk. Ia menatap Marni dengan tatapan dingin, sebuah tatapan yang belum pernah Mira lihat selama dua tahun ini. Tidak ada lagi ketakutan dan rasa hormat.
"Halaman belakang tidak akan lari, Bu. Kalau Ibu merasa kotor, silakan Ibu bersihkan sendiri," ucap Aisya dengan nada suara yang sangat tenang nan menusuk.
"Apa kamu bilang?! Kamu menyuruhku menyapu? Dasar menantu kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Sudah tidak bisa kasih cucu, sekarang mau jadi nyonya besar di rumah ini?!"
Marni yang sudah kehilangan kesabaran mengangkat tangannya, bermaksud menjambak rambut Aisya seperti yang sering ia lakukan jika ia merasa menang dalam perdebatan.
Sayangnya, sebelum jemari Marni menyentuh helai rambutnya, Aisya bergerak dengan sigap. Ia menepis tangan Marni dengan sentakan yang kuat dan tegas.
"Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan Ibu yang kotor itu," desis Aisya.
Karena sentakan Aisya yang tak terduga dan bertenaga, Marni yang tubuhnya sudah tidak lagi muda itu kehilangan keseimbangan. Kakinya tersangkut ujung karpet, dan ia jatuh terduduk ke lantai dengan cukup keras.
"Aduh! Sakit! Kamu... kamu berani melawan aku?!" Marni berteriak histeris, lebih karena terkejut daripada rasa sakit.
Tepat pada detik itu, pintu depan terbuka. Hendra melangkah masuk dengan langkah gontai, wajahnya tampak lesu dan penuh sisa-sisa rasa bersalah setelah semalam bercinta dengan Rima.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar jeritan ibunya dari arah kamar. Hendra berlari menuju kamar dan kaget melihat ibunya tersungkur di lantai, sementara Aisya berdiri di samping ranjang dengan wajah dingin.
"Ibu! Ada apa ini?!" Hendra segera membantu Marni berdiri.
"Hendra! Lihat istrimu ini! Dia sudah gila! Dia mendorong Ibu sampai jatuh hanya karena Ibu menyuruhnya membersihkan halaman! Dia benar-benar sudah tidak punya sopan santun!" adu Marni dengan suara yang dibuat-buat, sengaja memancing amarah anaknya.
Hendra menoleh ke arah Aisya.
"Aisya! Apa yang kamu lakukan?! Kamu berani mendorong Ibu?!" bentak Hendra. "Minta maaf sekarang juga!"
Aisya menatap Hendra. Ia memperhatikan bekas merah yang masih samar di leher suaminya, bekas yang ia tahu betul bukan berasal dari gigitan nyamuk. Rasa mual menjalar di perut Aisya.
"Minta maaf?" Aisya tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat hambar. "Untuk apa? Untuk membela diri dari serangan fisik Ibumu? Atau untuk menghargai suami yang semalam tidur dengan wanita lain dan mengirimkan fotonya padaku?"
Hendra membeku. Lidahnya kelu seketika. "A-apa maksudmu? Foto apa?"
"Jangan berakting, Mas. Aku sudah melihat semuanya. Foto kalian di atas ranjang tanpa busana," ucap Aisya sambil melangkah turun dari ranjang.
Lalu, ia berjalan mendekati Hendra, menatap mata suaminya itu dalam-dalam.
"Silakan marahi aku sesukamu. Maki aku sepuas kamu. Karena bagiku, kamu bukan lagi suami yang layak untuk dihormati," ucap Aisya lagi.
"Kurang ajar kamu, Aisya!" Hendra mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan.
"Tampar, Mas. Tampar saja biar kamu puas! Biar lengkap penderitaanku karena mu. Tapi ingat satu hal, sekali tangan itu mendarat di wajahku, maka saat itu juga tidak akan ada lagi jalan kembali bagi kita," ancam Aisya.
Hendra tertegun melihat keberanian yang sangat besar di mata Aisya. Sesuatu yang membuat keberaniannya sendiri menciut.
"Kenapa? Tidak jadi menamparku?" cibir Aisya. Ia kemudian menoleh ke arah Marni yang masih memegangi pinggangnya. "Dan untuk Ibu, jangan pernah berharap aku akan menjadi pelayanmu lagi. Rumah ini sudah cukup kotor dengan kehadiran kalian berdua."
Aisya berjalan melewati mereka begitu saja menuju pintu keluar kamar. Ia tidak peduli dengan teriakan Marni yang kembali memaki-makinya, atau panggilan Hendra yang mulai terdengar penuh keputusasaan.
Aisya hanya ingin menghirup udara yang lebih segar, menjauh dari racun yang selama ini ia sebut sebagai keluarga.
"Ibu tidak mau tahu, talak dia Hendra!" teriak Marni dengan sengaja agar Aisya mendengarnya.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat