rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BBC PHANTOM : DI KEDALAMAN BUSAN
Sudah tujuh hari penuh Shadiq bertempur melawan sarafnya sendiri di kota yang dingin ini. Tujuh hari berlalu bagaikan tujuh tahun. Kota Busan, dengan hiruk-pikuk pelabuhannya yang tak pernah tidur, hanya menjadi latar kecemasan yang terus membesar. Targetnya satu: sebuah kontainer kuning besar dengan kode BBC Phantom yang berlayar dari Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Di dalamnya, tersimpan 10 peti kayu panjang yang berisi nyawa masa depannya, sekaligus ancaman kematiannya yang paling nyata—senjata api yang dipesan khusus oleh Farhank, bosnya sendiri. Shadiq bukan tentara, bukan pula mata-mana yang terlatih. Ia hanya seorang pengusaha ekspor-impor yang terjerat dalam permainan yang jauh lebih besar dari dirinya. Dan malam ini, di bawah langit Busan yang kelam, ia akan melakukan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.
Kamis malam. Jarum jam menunjuk pukul 22:45. Waktu Korea Selatan.
Pelabuhan Busan pada jam-jam seperti ini bukan lagi tempat bongkar muat; ia menjelma menjadi monster dari besi dan bayangan. Sebuah kota mati yang bernapas dengan irama mesin diesel yang jauh dan desau angin laut yang garang. Langit tak menunjukkan bintang, hanya sebuah kubah hitam pekat yang menindih ribuan kontainer berwarna-warni yang tertumpuk rapat seperti kubus raksasa dalam permainan anak titan. Lampu sorot berwarna kuning pucat, terpasang di puncak-tiang tinggi, menyapu wilayah-wilayah tertentu dengan cahaya tajam, menciptakan kontras dramatis antara terang yang menyilaukan dan kegelapan yang begitu dalam hingga terasa fisik.
Angin datang menyambar dari arah laut, menusuk melalui jaket yang Shadiq kenakan, membawa serta aroma khas yang tak akan pernah salah: garam laut yang asin, minyak mesin, karat, dan sedikit bau ikan yang membusuk. Di kejauhan, suara klakson kapal kontainer raksasa terdengar parau, seperti terompet kiamat dari dunia lain.
Shadiq duduk di kursi baris kedua sebuah SUV hitam legam, kaca gelap, mesin telah dimatikan sejak sepuluh menit lalu. Ia adalah siluet yang diam dalam sebuah kapsul keheningan. Napasnya mengembun di udara dingin dalam mobil. Di depan, di kursi pengemudi, duduk sosok yang hanya dikenalnya sebagai ‘Kelinci Perak’. Pria itu tak pernah menyebut nama asli. Rambut peraknya yang pendek tertata rapi, bahkan di tengah malam seperti ini. Ia tak bergerak, seperti patung, hanya matanya yang terus bergerak cepat, memindai deretan kontainer di depan mereka. Tatapannya adalah tatapan elang, dingin, fokus, dan mematikan.
“Sudah waktunya?” suara Shadiq pecah, lebih parau dari yang ia kira.
Kelinci Perak mengangguk, sekali, tajam, tanpa menoleh. “Ya. Kontainer kuning BBC Phantom sengaja dikubur di tengah tumpukan sejak sore hari. Orang dalam kita sudah membuka segel aslinya dua jam lalu. Tim ekstraksi sedang bekerja sekarang.”
Shadiq mengangguk, berusaha terlihat tenang. Ia mengepalkan tangannya, menyembunyikannya di balik pangkuan, merasakan getaran halus yang tak bisa ia kendalikan. Ia di sini hanya sebagai pantau, bukan pelaku. Itu kesepakatan. “Kamu tidak terlatih, kamu akan jadi beban,” kata Kelinci Perak dengan blak-blakannya. Tapi duduk di sini, menyaksikan, terasa lebih menyiksa daripada turun tangan. Ini adalah momen kritis, titik balik yang tak bisa ditarik kembali. Jika berhasil, sepuluh peti senjata itu akan berpindah tangan ke jaringan Kelinci Perak, dan Shadiq akan mendapatkan perlindungan—serta potongan saham dari penjualannya yang akan membebaskannya dari cengkeraman Farhank. Jika gagal… Farhank bukan tipe bos yang memaafkan. Pengkhianatan dibayar dengan satu mata uang: darah.
Dari jendela sampingnya, dengan bantuan teropong night-vision canggih yang disediakan Kelinci Perak, Shadiq mengamati area target. Di antara kanvas raksasa besi berkarat, empat sosok bergerak lincah seperti siluman. Mereka mengenakan seragam buruh pelabuhan biru lusuh, wajah tersembunyi di balik topi dan masker. Mereka bukan orang sembarangan; gerakan mereka efisien, terkoordinasi, tanpa suara.
Seorang dari mereka mengendalikan forklift kecil bertenaga listrik, hampir tak bersuara. Dengan presisi ahli bedah, garpu besinya menyelip di bawah kontainer hijau yang menindih kontainer kuning target. Mesin berdengung pelan, dan kontainer hijau itu terangkat beberapa sentimeter. Cukup untuk memberi akses. Dua anggota tim lain segera mendekat ke kontainer kuning bertuliskan ‘BBC PHANTOM’ dengan huruf hitam besar. Mereka bekerja cepat. Kunci segel yang sudah dipalsu dibuka, pintu kontainer yang berat dibuka dengan perlahan, menghindari bunyi berderit.
Jantung Shadiq berdebar kencang di telinganya. Dari dalam kontainer yang gelap, terlihat peti-peti kayu panjang, sederhana namun kokoh. Tim bekerja dengan ritme yang memikat. Dua orang masuk, sementara dua lainnya berjaga di luar. Peti demi peti diangkat—Shadiq bisa membayangkan beratnya—dan dengan susah payah dibawa keluar, lalu dimasukkan ke dalam sebuah truk boks hitam tanpa marka yang telah diparkir dengan strategis di sisi gelap tumpukan kontainer lain. Di tempat lain, forklift lain yang sudah menunggu mengangkut kardus-kardus besar berisi barang elektronik rusak dan potongan besi tua. Bahan ‘pengganti’ ini dimasukkan ke dalam kontainer kuning, menjaga bobot agar tetap sesuai dengan manifes kapal. Ini adalah ilusi sempurna. Kontainer akan tiba di tujuan akhir, Farhank akan membukanya, dan yang ia temui hanyalah tumpukan sampah besi.
Kelinci Perak mengangkat walkie-talkie kecil ke mulutnya. Suaranya seperti gesekan batu. “Status?”
Suara yang keluar dari speaker sama datar dan efisiennya. “Senjata sudah keluar. Semua sepuluh peti aman di dalam truk. Isi palsu sudah terisi 80%. Segel baru sedang dipasang. ETA penyelesaian: lima menit.”
“Konfirmasi,” balas Kelinci Perak, lalu menutup komunikasi.
Lima menit. Hanya tiga ratus detik antara Shadiq dan kebebasan. Atau antara Shadiq dan kuburannya. Ia menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, matanya tak lepas dari teropong. Angin laut menderu lebih kencang, menggoyangkan bodi mobil SUV mereka dengan halus. Di suatu tempat di pelabuhan raksasa ini, di bawah lampu sorot yang sama, di tengah tumpukan kontainer yang tak terhitung jumlahnya, sebuah truk hitam mulai bergerak pelan, membawa barang bukti pengkhianatannya, melesap masuk ke dalam labirin besi, menuju gerbang keluar, dan menghilang dalam gelapnya malam Busan.
Operasi telah usai. Kontainer BBC Phantom kini hanya berisi rahasia kosong. Dan Shadiq tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Perang telah dimulai, dan detik-detik pertama itu baru saja berlalu, dalam keheningan yang mencekam di pelabuhan yang penuh dengan bayangan.