Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empatbelas
“Setelah ini kamu bisa langsung ke lantai tiga.” ucap lelaki di depanku.
Aku yang tengah tertawa tanpa suara pun seketika berhenti, “Mau ngapain ke sana?”
“Periksa.”
“Maksudnya?”
“Di sana ruangan dokter spesialis kejiwaan.”
Apa katanya?
Aku mendelik ke arahnya meski dia tidak menatapku. Meski sedang kesal, Aku tetap membereskan bekas makanku dan makanannya sebelum kembali ke ruanganku.
*V! Nuga narul magado*—suara dering dari ponselku menggema nyaring di ruangan. Aku langsung melihat reaksi lelaki itu—dia tengah menyentuh dada kirinya, Aku yakin dia terkejut.
Telepon dari ibu.
“Ya, kanjeng ratu?”
“*Assalamu'alaikum*.” ucap ibu menyindir.
Aku terkekeh, “Wa'alaikumussalam.”
“*Sudah makan*?”
“Sudah.”
“*Gimana kerjanya*?”
“Cepek.” Aku merengek.
“*Enak nyari nafkah*?”
Aku menggeleng, “Nggak enak, enaknya dinafkahi.”
Ibu tertawa mengejek, “*Kamu sih, mimpi apa tiba-tiba mau kerja*.”
Aku hanya mengerucutkan bibirku.
“*Din, tadi ibu ketemu sama mamanya Bagas di jalan, katanya nanti malam mereka mau ke rumah*!” beritahu ibu.
Alisku kontan menaik, “Ngapain?”
“*Katanya mau melamar kamu*!”
“Apa? Melamar Dinda?” suaraku sedikit meninggi.
Spontan Aku dan mas dokter saling melirik. Mungkin dia terganggu dengan suaraku, jadi Aku langsung sadar diri dengan keluar dari ruangannya. Tapi saat Aku sudah keluar, telepon ibu malah terputus.
‘Wah Bagaskara nyari gara-gara nih!’ Aku menggigit ujung kuku, bingung.
Baru satu hari Aku bekerja, secepat itukah mamanya Bagas berubah pikiran?
Bertepatan jam istirahat sudah habis, Aku harus kembali fokus dengan pekerjaanku. Aku bisa dipecat kalau lalai—tapi kalau Aku jadi pengangguran lagi, mamanya Bagas pasti tidak mau lagi menjadikan Aku menantunya ‘kan?
Jadi Kim Dinda harus tetap kerja atau jadi pengangguran?
Akh... Pusing!
\*
Jam lima sore kurang dua menit, Aku mulai mengemasi barang-barangku karena waktu kerjaku sudah usai. Hari pertama cukup menyenangkan sekaligus melelahkan. Aku bersyukur hampir semua orang baik dan ramah kepadaku. Yang tidak, terserah! Aku sudah terlalu banyak pikiran kalau mau mikirin yang tidak menyukaiku. Itu urusan dia.
Ting!
Alisku nyaris tertaut saat melihat ada pesan masuk dari nomor yang kusimpan bernama Icha. Itu nomor ponsel Aisyah. Anak bungsunya Ummi Lailatul.
Bukankah dia sedang di pondok Pesantren?
Aku langsung membuka pesannya, “Tunggu Aku sepuluh menit lagi. Jangan pulang duluan?” Aku tersentak setelah membacanya, ini pasti bukan Aisyah.
Aku menekan tombol panggil, namun baru satu kali *tut*, langsung ditolak.
Eh?
“Ternyata nomornya manusia kulkas?” Aku tertegun.
Pasalnya nomor itu sering membuka story-ku. Apalagi story-ku beberapa hari terakhir kebersamaan kami! Walaupun foto dia hanya foto tampak belakang, tapi dia pasti tau kalau itu dirinya.
Duh!
Aku menggeleng cepat, pasti dia hanya membuka sekilas dan tidak terlalu berniat memperhatikan semuanya kan? Aku yakin dia tidak segabut itu untuk mengepoi semua story-ku.
Aku harus pulang sekarang, Aku tidak mau pulang bersamanya.
“Mbak, Dinda sudah boleh pulang ‘kan?” tanyaku kepada kepala administrasi.
“Iya.” jawabnya singkat.
Aku berjalan cepat menuju pintu utama sembari tanganku lincah memesan ojek melalui aplikasi.
Ting! Pesan dari ibu.
“Dinda pulang sama mas Aydan aja, nanti hujan tengah jalan kalau naik ojek. Sama jangan lupa bawa wadah katering, takutnya mas Aydan lupa.”
Ah ibu, kenapa tahu sekali apa yang direncanakan anaknya? Ibu... Kenapa kita akhir-akhir ini tidak sehati?
Aku mematung, sedang berpikir keras harus mengikuti kata hati atau kata ibu?
Udah ah, nanti Aku tinggal bilang aja kalau Aku nggak baca pesan ibu. Untuk wadah katering, nanti Aku ganti. Toh Aku sudah kerja.
“Dindaaa?”
Di arah kanan jarak tiga meter Bagas berlari kecil menghampiriku.
“Ngapain lo di sini?” tanyaku saat dia sudah mendekat.
“Jemput Dinda.”
Ha?
“Ntar mama lo nyariin lo lagi?”
Dia menggeleng, “Malah mama yang nyuruh Bagas jemput Dinda.”
What?
“Emangnya Dinda pulang jam berapa kerjanya? Tadi Bagas lupa nanya sama ibu El, jadi Bagas datang ke sini dari jam empat.” ungkap Bagas membuatku melotot.
“Mbak pulang jam lima, Ya udah ayo.” kataku.
Untuk sekarang lebih baik Aku pulang ikut bersama Bagas dari pada manusia masker.
“Di mana lo parkir motor?”
“Itu sebentar lagi sampai.” jawabnya.
Pasalnya, rumah sakit tempatku bekerja adalah rumah sakit terbesar. Otomatis parkirannya pun sangat luas, butuh effort untuk menuju kendaraan.
Saat mendekati motornya, Bagas berjalan lebih cepat lalu berjongkok di depan motor besarnya.
“Kenapa, Gas?” Aku bertanya.
Dengan ekspresi seperti mau menangis, Bagas menjawab, “Ban motor Bagas tiba-tiba bocor, Dinda. Padahal tadi baik-baik aja.”
Aku melihat ban motornya, “Terus gimana?”
“Dinda mau tunggu di sini, apa ikut Bagas ke bengkel?” ucapnya takut-takut.
Aku pun jadi tidak tega melihatnya, apalagi jika teringat dia menungguku sampai satu jam lebih.
“Uhm—”
“Tidak bisa, Dinda tidak akan menunggumu atau ikut kamu ke bengkel,” jawab seseorang di belakangku. “Ini sudah terlalu sore, dan sebentar lagi mungkin akan turun hujan.” katanya lagi.
Kemudian dia menarik tali tasku, “Ayo pulang.”
Aku tidak bisa lagi mengelak dan menurutinya, karena dia menarik tali tasku dengan sedikit memaksa, sesekali Aku masih menoleh ke belakang untuk melihat Bagas yang sedikit lagi akan menangis.
“Masuk!” katanya saat sudah di depan pintu penumpang.
Ya, Aku memang selalu duduk di belakang saat naik mobilnya meski tidak ada orang lain selain kami berdua.
“Tapi Bagas—”
“Dia sudah besar, dia punya ponsel, dia punya akal.” jawab manusia masker kejam tapi benar.
Dia membukakan pintu untukku. “Masuk!”
Aku berdecak samar, dan tetap menuruti perintahnya.
Bruk! Dia menutup pintu dan mulai menjalankan mobilnya.
“Kenapa nggak menungguku?” tanyanya. “Tadi Aku sudah kirim pesan, bukan?”
“Aku nggak kenal nomornya.” jawabku asal.
“Kamu sering mengirimkan pesan aneh ke nomor itu.”
Aku menggigit bibir bawahku, “Y-ya maksudku, Aku kira itu nomor Aisyah, dan Aisyah salah kirim.”
Aku memang sering mengirimkan pesan lucu atau video random ke nomor tiga orang; Aira, Aaliyah dan Aisyah. Pantas saja hanya Aisyah yang tidak pernah me-*react* pesan-pesanku.
“Aisyah belum punya ponsel.” katanya lagi.
Aku tidak menjawab lagi, Aku sungguh malu.
Setelah itu manusia masker pun tidak bicara lagi. Aku juga memilih melihat jalan dari jendela di sampingku, rintik hujan mulai membasahi kaca mobil. Benar kata ibu dan manusia masker, kemungkinan akan turun hujan. Dan ternyata memang hujan mulai deras. Tapi Bagaimana keadaan Bagas sekarang?
“Jangan turun dulu.” katanya saat mobil sudah sampai depan pagar rumahku. Dia membuka payung sebelum turun dari mobil. Lalu memutari mobil untuk membukakan pintu dan memayungiku?
Kami berjalan bersama dibawah hujan deras dengan payung yang sama seperti di kantor lurah tempo hari, ditangannya yang lain membawa tas berisi wadah katering. Pantas saja Aku tidak melihat, ternyata dia meletakkannya di kursi samping kursi kemudi.
“Alhamdulillah sudah sampai.” sambut ibuku yang sepertinya memang menungguku di teras rumah.
“Ibu, ini wadah bekalnya. Terima kasih. Masakan ibu selalu enak.” ucapnya dengan senyuman manis.
“Sama-sama, Mas Aydan. Tapi nggak perlu terima kasih, kayak sama siapa aja.” jawab ibu.
Aku mencibir, kayak sama siapa aja? Sok kenal sok dekat banget ibu Elyana.
“Harusnya ibu yang berterima kasih sama mas Aydan karena sudah nganterin Dinda sampai depan rumah.”
Dia hanya tersenyum tipis, “Kalau begitu Aydan langsung pulang ya, Bu.”
“Nggak mampir dulu?” tanya ibu.
Aku tertegun dengan tawaran ibu, mampir? Buat apa? Orang rumahnya tepat di sebelah.
“Lain kali aja, Bu. Sudah sore. Aydan pulang sekarang ya, Assalamu'alaikum?” jawabnya ramah dan sopan.
Aku menatap punggung lelaki itu yang basah karena air hujan, Aku lagi-lagi teringat saat dia memayungiku ketika di kantor lurah. Pasti saat itu seperti sekarang keadaannya.
Ah, Aku kan jadi enak.
Ibu memukul pundakku, “Kalau ada yang salam itu, dijawab istrinya Kim Taehyung! Malah bengong.”
Wanita yang katanya waktu muda mirip denganku itu langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkanku begitu saja setelah menyindirku, wajah ibu tampak begitu berseri setelah bertemu manusia kulkas, membuatku curiga.
Jadi ibu berada di teras tadi menungguku pulang atau menunggu putranya Ummi Lailatul sebenarnya?
“Ibu!” panggilku dan ibu langsung menoleh, “Dinda nggak mau punya Ayah lagi.”
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍