Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Entah dengan cara bagaimana Langit meyakinkan Mentari. Namun hari ini, akhirnya wanita itu dengan keyakinan penuh menandatangani surat nikah yang langsung disahkan dan disegel oleh pihak catatan sipil.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia menatap Langit yang melakukan hal yang sama. Dadanya berdebar kencang, begitu kencang hingga membuat napasnya terasa pendek. Ia tak pernah segugup ini sebelumnya.
Dulu, saat segalanya belum terasa rumit, pernikahan adalah impian terbesarnya bersama Abi. Ia pernah membayangkan hidup sederhana, penuh cinta, tanpa luka dan rahasia. Namun takdir rupanya memilih jalan lain. Jalan yang tidak pernah ia minta.
Justru pria yang kini ia nikahi adalah seseorang yang pernah nyaris membunuhnya karena dendam.
Mentari menelan ludah.
Apakah ini hanya permainan manusia?
Ataukah benar-benar takdir dari Tuhan?
Ia tak tahu jawabannya.
Yang pasti, Mentari memilih pasrah dan berdoa. Apa pun yang akan terjadi setelah ini, satu hal yang ia yakini sepenuh hati
ia hanya ingin hidup bersama anaknya,
menjaganya,
dan mencintainya…
seumur hidup.
Kini keduanya telah keluar dari gedung pemerintahan itu dengan status baru,sepasang suami dan istri.
“Aku akan menggelar pesta pernikahan untukmu,” ucap Langit lembut. “Tapi tunggu sampai Mina keluar dari rumah sakit, agar dia juga bisa ikut merayakan saat ayah dan ibunya akhirnya bersatu.”
Mentari menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis.
“Tidak perlu. Begini saja sudah cukup. Kamu terlalu baik, Lang. Aku takut tak akan pernah bisa membalas semua ini.”
Langit mengembuskan napas panjang. Wanita di hadapannya itu selalu saja merasa berutang atas setiap hal yang ia lakukan.
“Dengar, Nyonya Langit,” katanya tegas namun hangat. “Tutup mulutmu itu. Kau hanya perlu memikirkan kebahagiaanmu. Tidak ada balas budi apa pun. Semua yang terjadi hari ini adalah cara Tuhan menyatukan kita. Kau mengerti?”
Dengan mata berkaca-kaca, Mentari mengangguk. Dadanya terasa sesak oleh rasa haru. Ia benar-benar kagum pada kebesaran hati Langit—menerima dirinya dan Mina, lalu menjadikan mereka bagian dari hidupnya.
“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Mentari saat mobil yang dikemudikan sopir berhenti tepat di depan lobi.
Langit tersenyum, sudut bibirnya terangkat penuh makna.
“Kita akan menjenguk Mina. Tapi sebelum itu…”
“Sebelum itu apa?” Mentari menatapnya penasaran.
“Ada sesuatu yang harus kita lakukan dulu. Ayo.”
Tanpa memberi kesempatan bertanya lebih jauh, Langit meraih lengan Mentari dan membawanya masuk ke dalam mobil, lalu menyusul duduk di sampingnya. Mobil pun melaju, membawa mereka menuju langkah baru dalam hidup yang telah resmi mereka jalani bersama.
*
Di sebuah vila yang tak jauh dari hiruk-pikuk kota, sepasang suami istri itu akhirnya berada dalam ruang yang hanya milik mereka berdua. Malam itu menjadi bagian dari ritual penyempurnaan pernikahan,malam pertama yang sarat makna dan perasaan.
Napas keduanya saling berkejaran, jantung berdetak tak beraturan. Tatapan Langit mengunci Mentari dengan penuh hasrat sekaligus kelembutan. Perlahan, ia melepaskan pakaian yang membelenggu tubuhnya, satu per satu, seolah tak ingin terburu-buru merusak momen sakral itu.
Mentari tak menghindar. Ia hanya terdiam, tenggelam dalam pusaran emosi yang campur aduk,gugup, takut, namun juga pasrah dan percaya.
Langit mendekat, suaranya rendah namun meyakinkan.
“Tatap aku,sayang..."
Langit mulai menjelajah permukaan kulit Mentari dengan sentuhan perlahan. Dari wajah, turun ke leher, lalu berakhir di perutnya. Tatapannya terpaku pada satu bagian sebuah tanda mulia yang terpatri jelas di sana.
Tanda di mana, melalui rasa sakit dan perjuangan, Mina akhirnya bisa menghirup kehidupan dunia dan kini menjadi putri mereka.
Langit menunduk, lalu mengecup bekas luka panjang itu dengan penuh kelembutan, seolah memberi penghormatan. Namun Mentari refleks menutupinya, jari-jarinya gemetar.
“Kenapa ditutup?” tanya Langit lirih, suaranya hangat.
Mentari menunduk, suaranya nyaris berbisik.
“Aku malu… fisikku tidak sempurna. Ada bekas luka yang mungkin tidak kau sukai.”
Jangan malu, sayang. Karena dari sinilah Mina hadir untukku,” balas Langit dengan suara penuh keyakinan.
Mentari menatapnya ragu.
“Kamu… nggak jijik?” tanyanya pelan.
Langit menggeleng, tatapannya teduh.
“Hanya pria bodoh yang bisa mengatakan jijik. Ini adalah bukti perjuanganmu sebagai seorang ibu. Dan aku,aku menjunjung tinggi itu.” Ia mendekat, suaranya merendah “Izinkan aku memberi penghormatan pada ibu dari anak-anakku.”
Mentari memejamkan mata. Air mata haru lolos begitu saja, mengalir tanpa mampu ia tahan.Seiring dengan penyatuan keduanya yang begitu lembut,candu dan memabukkkan.
Tuhan… aku tidak tahu apakah ini kutukan atau anugerah-Mu, ucapnya dalam hati. Yang jelas, saat ini aku hanya ingin bersama laki-laki ini. Hanya ingin bersamanya.
Beberapa jam kemudian…
“Sakit?” tanya Langit begitu melihat Mentari turun dari ranjang dengan langkah tertatih.
Wanita itu mendongak. Pandangannya bertemu dengan Langit yang hanya mengenakan handuk. Wajahnya langsung memerah, membuat Langit tersenyum jahil.
“Atau… mau lagi?” godanya.
“Enggak!” sahut Mentari cepat, sedikit kesal. “Kamu bikin aku lembur semalaman.”
Langit terkekeh pelan.
“Ini baru hari pertama, loh, sayang. Dan ini berlaku seumur hidup.”
Mentari membulatkan mata, lalu menghela napas pasrah. Dalam hati, ia kembali merutuk lirih.
Ya Tuhan… nggak bisa aku bayangkan kalau tiap hari dia akan mengerjaiku dan menghabiskan tenagaku seperti ini.
Namun di balik keluhannya, ada rasa hangat yang diam-diam tumbuh,rasa aman karena akhirnya ia tak lagi sendiri.
Eh, turunkan aku!” protes Mentari tiba-tiba.
Tanpa ia sadari, Langit sudah menggendongnya dan melangkah menuju kamar mandi. Jantung Mentari berdegup kencang saat menyadari ke mana pria itu membawanya. Di sana, sebuah bak mandi telah terisi air hangat, lengkap dengan aroma terapi yang menenangkan.
“Mau mandi sendiri atau dimandikan?” tanya Langit dengan senyum jahil.
“Mandi sendiri saja. Aku bukan anak kecil,” sahut Mentari cepat, pipinya merona.
Langit terkekeh pelan, menikmati reaksi istrinya yang kembali salah tingkah.
“Baiklah, sayang. Aku nggak akan mengganggumu lagi. Aku tunggu di luar, ya?”
Mentari mengangguk kecil.
Tak lama kemudian, ia sudah duduk di dalam bak mandi. Air hangat memeluk tubuhnya, perlahan meluruhkan sisa lelah. Pandangannya tertuju pada pintu yang kini tertutup rapat.
Mudah sekali Engkau membolak-balikkan perasaan manusia, Tuhan, batinnya lirih.
Dulu aku memberikan segalanya pada Abi, tapi yang kuterima hanya luka dan kekecewaan.
Air mata tipis menggenang di pelupuk matanya, bercampur dengan uap hangat yang menenangkan. Untuk pertama kalinya ia merasakan bahagia di banding saat bersama Abi.
Sementara itu…
Bu Desi yang tengah berjalan di lobi rumah sakit tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya terpaku ke arah televisi yang tergantung di dinding. Seketika tubuhnya gemetar hebat, napasnya tercekat saat menyadari apa yang tengah ditayangkan.
Di layar itu, terpampang jelas sebuah berita singkat dimana kasus tabrak lari yang merenggut nyawa Sila di selidik ulang.
Bersambung
menteri cerdas
lantas,,
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk