Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar berdiri di kaki ku sendiri
Hari-hari Jingga kini mulai berubah.Kalau dulu pagi-paginya diisi dengan melamun di teras sambil mikirin nasib atau bergelut dengan lensa kamera memotret apapun yang ia lihat sekarang pagi Jingga selalu dimulai dengan satu hal yaitu catatan.
Buku tulis tebal itu hampir selalu ada di tangannya. Isinya penuh coretan, istilah asing, diagram sederhana, dan tanda tanya di mana-mana.
Kakek Arga sering memperhatikannya dari jauh.
“Kamu serius banget sekarang,” ujar Kakek sambil menyeruput kopi.
Jingga tersenyum kecil. “Aku cuma nggak mau bodoh di tanah sendiri, Kek.”
Kakek Arga tertawa pelan. “Itu baru cucu Alma.”
"Cucu Kake Juga " Ucap Jingga membenarkan.
Kake Arga bangga dengan Jingga karena Jingga yang dulu selalu murung kini mulai terlihat cerah.Terlihat lebih semangat.
Setiap sore, setelah selesai membantu di kebun entah mencatat hasil panen atau sekadar ikut melihat proses Jingga akan masuk ke kamar,duduk di atas kasur denga setumpuk buku-buku pemberian Om Damar.
Jam tujuh malam, ponselnya hampir selalu berbunyi.
Nama Arjuna muncul di layar.
“Udah siap, Bu Direktur Sawit?” goda Arjuna dari seberang layar.
Jingga mendengus. “Jangan lebay. Aku masih bingung bedain TBS sama CPO.”
Arjuna tertawa. “Santai. Kita pelan-pelan.”
Malam-malam mereka diisi dengan video call panjang. Arjuna tidak hanya bicara teori. Ia menggambar,menjelaskan pakai contoh sederhana, bahkan sesekali memperlihatkan slide materi yang dulu ia pakai saat ngajar.
“Oke,” kata Arjuna , “sekarang aku jelasin dari dasar ya.Perkebunan sawit itu bukan cuma soal nanam dan panen. Tapi soal manajemen.”
Jingga mengangguk sambil mencatat cepat.
“Mulai dari pembibitan, perawatan, panen, pengolahan, sampai distribusi. Salah satu aja berantakan, semuanya kena.”
Jingga menghela napas. “Pantes ribet.”
“Ribet,” Arjuna mengangguk, “tapi masuk akal. Dan kamu bisa.”
Kalimat itu selalu membuat Jingga berhenti menulis.
“Kok yakin banget sih?” tanyanya
Arjuna tersenyum. “Karena kamu mau belajar. Itu udah setengah jalan.”
"Ka..." Panggil Jingga kembali.
"Kenapa sayang?"
"Sepertinya aku mulai membutuhkan laptop dan yang lainnya.Aku ingin belajar lebih maksimal."
Arjuna tersenyum.
"Nanti kaka kirim,kamu list saja apa yang kamu butuhkan."
"Tapi ka,aku lupa belum minta uang sama Om damar.Kemarin Om Damar sudah menawarkan kartu untuk ku,tapi aku menolaknya karena merasa belum membutuhkannya."
"Sayang,gak perlu memikirkan hal itu.Kamu sudah menjadi tanggung jawabku" Ucap Arjuna dengan wajah serius.
"Kaka..."lirih Jingga dengan mata berkaca-kaca. Entah bagaimana membalas kebaikan Arjuna yang begitu melindungi dan mengayominya.
"Jangan berfikir untuk membalasnya,aku tau apa yang sedang kamu fikirkan,Jingga." Ucap Arga kembali dengan menatap Jingga tajam.
"Kaka ko tau sih,kaya cenayang aja." Jawab Jingga dengan cemberut.
Arjuna tersenyum,ia gemas jika Jingga sudah merajuk.Kalau saja waktunya santai mungkin ia aku buru-buru ke kampung untuk menemui pujaan hatinya.
Dan benar saja,keesokannya seseorang mengantarkan pesanan Jingga yang di sudah di siapkan Arjuna.
Sebuah laptop dan macbook canggih berharga puluhan Juta serta beberapa buku tentang bisnis dan perkebunan sawit.
Namun tidak semua hari Jingga merasa percaya diri.Ada hari-hari di mana ia menutup laptop dengan kepala pening.
“Kak, aku ngerasa kecil banget,” ucap Jingga lirih.
“Kecil kenapa?”
“Aku ini siapa sih? Anak yang dibuang.Terus tiba-tiba disuruh ngerti bisnis gede.”
Arjuna terdiam sejenak. “Sayang, kamu nggak tiba-tiba jadi siapa-siapa. Kamu cuma lagi balikin apa yang emang hak kamu.”
Jingga menatap layar. “Takut gagal.” dengan bibir yang hampir bergetar.
“Takut itu wajar,” jawab Arjuna. “Yang nggak wajar itu berhenti.”
Kalimat itu Jingga tulis besar-besar di halaman pertama bukunya.
°°°
Siang hari, Jingga makin sering ikut ke kebun. Pak Damar kadang ikut menemani.Namun satu hal yang tak pernah tertinggal...kamera!
Kamera pemberian Arjuna tak pernah absen menemaninya.Jingga akan memotret setia hal yang menurutnya menarik dan indah.
“Kalau kamu serius mau terjun,” kata Pak Damar, “kamu harus ngerti lapangan.”
Jingga mengangguk. “Aku mau belajar semuanya.”
Mereka berjalan menyusuri barisan pohon sawit. Pak Damar menjelaskan soal usia tanaman, siklus panen, sampai biaya operasional.
“Keuntungan sawit besar,” kata Pak Damar, “tapi tanggung jawabnya juga besar. Banyak orang tergiur angka, lupa manusianya.”
Jingga berhenti melangkah. “Manusianya?”
“Pekerja. Warga sekitar. Lingkungan.”
Jingga mengangguk pelan. “Aku nggak mau kaya tapi nyakitin orang.”
Pak Damar tersenyum. “Kalimat itu… persis seperti nenek mu,Alma.”
Jingga tersenyum kecil. Setiap kali nama ibu dan Bibi Alma disebut, dadanya terasa hangat.
Malam pun tiba, Jingga menceritakan semuanya ke Arjuna.
“Aku baru tau, Kak. Ternyata bisnis itu bukan cuma soal untung.”
“Makanya,” jawab Arjuna. “Bisnis yang sehat itu yang bikin semua pihak bisa napas.”
Jingga tersenyum. “Kamu cocok jadi dosen.”
“Aku memang dosen,” Arjuna tertawa.
“Bukan. Maksudku… kamu cocok ngajarin aku.”
Hening sejenak di layar.
“Jingga,” ucap Arjuna pelan, “kalau capek, bilang.”
“Aku nggak capek,” jawab Jingga jujur. “Aku takut aja… nanti kalau semua ini kebuka, hidup aku berubah lagi.”
Arjuna mengangguk. “Berubah itu pasti. Tapi kamu nggak sendiri.”
Jingga memejamkan mata sebentar. “Iya.” ia menatap Arjuna. "Janji jangan tinggalin aku.Temani aku sekarang dan nanti " Ucap Jingga seperti sebuah harapan.
Arjuna tersenyum,rasanya ia ingin menarik Jingga ke pelukannya.Pelukan erat seolah meyakinkan jika Jingga akan aman bersamanya.
"Kita berjuang bersama,sayang."
°°°
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.
Perubahan di Jingga makin terasa. Cara bicaranya lebih tenang. Tatapannya lebih yakin. Ia mulai berani menyampaikan pendapat saat Pak Damar bertanya.
“Menurut kamu, kalau harga turun, kita harus gimana?” tanya Pak Damar.
Jingga berpikir sejenak. “Efisiensi, tapi jangan potong hak pekerja. Mungkin bisa cari mitra baru buat distribusi.”
Pak Damar tersenyum lebar. “Bagus.”
Kakek Arga yang mendengar dari kejauhan hanya mengangguk pelan.
“Itu Jingga yang sekarang,” gumamnya bangga.
Tak lama telpon Jingga bertar,Nama sang Arjuna yang memenuhi layar hp nya.
Layar gelap kini berubah menjadi wajah Arjuna,Arjuna terlihat sangat lelah di layar.
“Kamu kenapa?” tanya Jingga.
“Rapat seharian,” jawab Arjuna sambil menggosok leher. “Tapi aku senang.”
“Kenapa?”
“Karena sedikit demi sedikit, aku dapet gambaran masa lalu ayah kamu.”
Jingga terdiam. “Berat nggak?”
“Berat,” Arjuna jujur. “Tapi penting.”
Jingga menatap layar lama. “Kalau nanti aku harus ke kota…”
Arjuna tersenyum. “Aku nunggu.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Jingga menahan napas.Keduanya hanya mengobrol sebentar karena tak enak dengan Pak Damar dan Kake.Hari juga sudah mulai sore,ia harus segera pulang bersama Kake.
Malam menjelang, Jingga duduk di teras, memandangi kebun yang sunyi. Angin malam membawa suara serangga. Ia membuka buku catatannya, membaca ulang halaman pertama.
Takut itu wajar. Berhenti itu pilihan.
Ia tersenyum.
Dulu, ia hanya gadis yang dibuang.
Sekarang, ia gadis yang sedang belajar berdiri.
Belajar memahami tanah yang ditinggalkan ibunya.
Belajar memahami dunia yang dulu menolaknya.
Dan belajar percaya… bahwa jarak tidak selalu memisahkan.
Di kota, Arjuna menatap foto Jingga di meja kerjanya. Foto Jingga yang sedang tersenyum di tengah kebun sawit, hasil jepretan Jingga sendiri lewat kamera kecil itu.
“Pelan-pelan ya,” gumam Arjuna. “Aku di sini.”
Dan tanpa mereka sadari, meski berjauhan,
mereka sedang tumbuh di arah yang sama.
Dan berjuang bersama.
...~Berjuang bersama bukan berarti tanpa luka,...
...tapi ada tangan yang saling menggenggam saat lelah datang....
...Karena kebahagiaan terasa lebih nyata ketika diperjuangkan bersama.~...
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga