Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Nyonya Hantu
"Eughh..." Alissa melenguh samar. Mata lentiknya perlahan terbuka. Menyesuaikan dengan pencahayaan sekitar.
"Aku...aku di mana?" lirihnya lemah. Tubuhnya yang terasa lemas membuat perempuan itu kesusahan untuk bangun dari pembaringannya.
Alissa mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya terakhir kali. Matanya yang masih redup menyipit bingung ketika menemukan jarum infus yang terpasang di punggung tangannya. Pun dengan perban yang melingkar di pergelangan tangan.
"Apa yang terjadi--
Selamat datang di dunia barumu Alissa. Sekarang kau adalah istri dari Sean Balrick. Tokoh yang akan mati di tangan suaminya sendiri.
Deg. Alissa ingat sekarang. Menatap sekitar panik, jantung perempuan itu seakan berhenti berdetak ketika menemukan bahwa ruangan yang ia huni sekarang ini, sama peris seperti ruangan terakhir sebelum dia kehilangan kesadarannya. Hanya saja kondisinya sudah kembali seperti semula sebelum dia kehilangan kendali dan mengamuk.
"Jadi, aku tidak bisa kembali ke duniaku, begitu?" Alissa terkekeh miris. Matanya memanas menahan tangis.
"Aku...aku benar-benar mengalami trasmigrasi jiwa?" Alissa ingin menyangkal. Dia ingin mengatakan bahwa ini hanyalah mimpi. Tapi---
Di sinilah dia sekarang. Bahkan setelah dirinya melakukan percobaan bunuh diripun dia tetap di sini. Di dunia Novel. Berperan sebagai istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri.
Menyugar rambutnya dengan tangan yang tak terpasang infus, Alissa berdecak tak percaya. Untuk apa dirinya dikirim ke sini. Untuk mati, seperti itu?
Bagaimana caranya ia bisa terjebak di sini. Siapa yang telah malakukannya. Takdir, seperti itu?
"Semakin dipikirkan, semakin membuatku gila." gerutu perempuan itu kesal.
Baiklah, sekarang bukan waktunya untuk denial lagi. Dia harus segera menyusun rencana agar tidak mati.
Oh--tidak. Alissa tahu, semua orang akan mati. Maksudnya adalah, dia harus memikirkan rencana agar tidak mati di tangan sang antagonis novel yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Sean, dia membunuh istrinya sendiri karena menganggap istrinya adalah penghalang antara cintanya dan Stella." gumam Alissa mengingat-ingat alur novel.
Dia kembali teringat dengan mimpi adegan penyiksaan yang dilakukan Sean terhadap Alissa asli. Itu sangat kejam dan menyeramkan. Sean itu psikopat. Hah--wajar saja dia dijadikan sebagai antagonis cerita. Bahkan Alissa masih mengingat dengan jelas bagaimana Sean menginjak perut Alissa asli sehingga mulut perempuan itu mengeluarkan darah. Dan---
"Kau puas Sean? Bukan hanya satu. Kau bahkan menghilangkan dua nyawa."
Deg.
"Bukan hanya satu. Kau bahkan menghilangkan dua nyawa."
"Kau menghilangkan dua nyawa."
"Dua nyawa."
Alissa menelan salivanya susah payah. Menghilang dua nyawa? Salah satunya...berada di perutnya? Sontak tangannya bergerak menyetuh perutnya skeptis. Ini...tidak mungkin seperti yang dia pikirkan bukan.
"Tapi mungkin saja. Mengingat, Sean dan Alissa asli pernah berhubungan badan beberapa kali." hati Alissa mengungkapkan argumennya.
"Tapi bisa saja Sean menggunakan pengaman. Atau jika tidak, Alissa asli meminum pil kontrasepsi." kini giliran pikiran Alissa yang menyuarakan pendapatnya.
"Alissa asli tidak mungkin meminum pil kontrasepsi. Dia gila dalam mecintai Sean. Alissa asli akan senang jika dirinya hamil. Dengan begitu, dia punya alat untuk tetap bertahan di sisi Sean." lagi-lagi hati Alissa menolak logika yang otaknya ungkapkan. Benarkan, seseorang kehilangan logikanya ketika jatuh cinta.
"Tapi coba pikirkan. Sean tidak mungkin ceroboh dengan tidak memakai pengaman---
"Diam!" teriak Alissa menutup kedua telinganya.
Hati dan pikirannya sangat berisik. Membuatnya ketakutan setengah mati. Bagaimana jika memang di dalam perutnya terdapat...mahkluk hidup. Jika dia benar-benar hamil.
"Maka kau harus melindunginya Alissa. Lindungi dari Sean yang kejam itu. Apa kau ingin anak itu mati bahkan sebelum melihat dunia?" kini pikiran Alissa yang menyerukan nasihatnya.
"Tapi apa kau bisa pergi dari laki-laki yang sangat kau gilai itu huh?" tukas hatinya yang seakan mengejek.
"Bisa. Aku bisa." ucap Alissa yakin.
"Aku bukanlah Alissa yang dulu. Aku bukan Alissa yang tergila-gila pada laki-laki kejam itu."
"Kita lihat saja nanti."
Ceklek.
Pintu kamarnya terbuka. Seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan. Langkah pelayan itu terlihat ragu. Tidak--pelayan itu seperti tengah ketakutan.
"Nyonya, saya membawa makan malam untuk anda." ucapnya lirih dengan pandangan ke bawah. Tidak berani bersitatap dengan Alissa.
"Malam? Ini sudah malam?" tanya Alissa tak percaya. Bukankah pada saat dirinya mengamuk itu masih pagi. Kenapa tiba-tiba sudah malam saja.
"Benar Nyonya. Ini sudah malam." jawab pelayan itu masih dengan kepala yang tertunduk.
"Hei, kenapa kau selalu menunduk?" heran Alissa. Apakah kepala pelayan itu tidak pegal.
"Ti--Tidak apa-apa Nyonya. Saya letakkan makan malam anda di atas nakas."
"Ah...baiklah." Alissa tidak ingin memperpanjangnya. Lagipula, pikirannya sudah terlalu lemah.
"Aku harus memastikannya, apakah dia benar-benar ada atau tidak." gumam Alissa pada dirinya sendiri.
Pelayan yang mendengar gumaman itu mendadak mati kutu. Tanpa bisa dicegah, tangannya bergemetar takut.
"Apa maksudnya? Apakah Nyonya ingin memastikan apakah hantu itu masih bersemayam di tubuhnya?" pikirnya yang mulai melantur
"Hei, kau. Menurutmu jika sesuatu tinggal di dalam perut kita, apa saja ciri-cirinya?" tanya Alissa pada pelayan itu.
"Apakah dia ingin memakanku?!" jerit pelayan itu di dalam hati.
"Eh, tanganmu kenapa?" bingung Alissa melihat tangan pelayan itu yang bergemetar. Saat dia baru saja ingin menyentuh lengan sang pelayan untuk memastikan, Alissa di buat terkejut dengan gerakan reflek yang perempuan berseragam itu tunjukkan.
"Haa...ampun! Jangan makan saya Nyonya! Ampuni saya...!"
Pelayan itu berlutut. Lalu melakukan gerakan menghibah dengan celotehannya yang tidak jelas.
"Daging saya alot, jangan makan saya..."
"Ampuni saya Nyonya hantu..."
"Hah?! Hantu?!" mata Alissa membola.
Ia beringsut mendekati sang pelayan itu meminta perlindungan. Sayangnya pelayan itu malah menjauhinya dengan jerit ketakutan. Bersembunyi di sudut ruangan dengan seluruh tubuh yang bergemetar takut.
"Ampun...huhu. jangan makan saya Nyonya hantu.."
"Di--di mana hantu?! Alissa terus mendekati pelayan itu sampai infus di punggung tangannya terlepas. Melihat Nyonyanya yang berjalan mendekat, pelayan itu semakin histeris.
"Di mana hantunya?! Selamatkan aku dari hantu!" ucap Alissa yang ikut merasa ketakutan.
Sayangnya, kata-kata terakhirnya disalah pahami oleh perempuan yang berprofesi sebagai pelayan itu. Dia mengira bahwa Alissa ingin diselamatkan dari hantu yang menyemayami tubuhnya.
"Oh...Tuhan! Kenapa nasibku begitu buruk. Setelah Berakhir menjadi pelayan, aku juga harus menjadi pawang hantu?!" ujarnya menangisi takdirnya.
Pelayan itu bangkit, ia ingin segera pergi dari kamar istri tuannya itu secepat mungkin.
"Hei, jangan tinggalkan aku! Kau mau kemana?!" Alissa berujar panik. Dia ingin ikut keluar.
Sialan, walaupun sering tidak terlihat, tapi Alissa juga takut pada mahkluk halus.
"Jangan tinggalkan aku. Aku--
Tiba-tiba perut Alissa berbunyi. Mungkin karena sejak pagi tidak terisi membuat cacing-cacing di perutnya demo meminta hak mereka.
"Aku lapar." ucap Alissa melanjutkan.
Dan membuat pelayan itu semakin menjerit ketakutan. Lari tunggang langgang setelah membuka pintu kamar Alissa.