Ini kisah nyata tapi kutambahin dikit ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Dengan keadaan yang sudah cukup baikan, Sendi menggeleng dan sesekali tersenyum melihat kelucuan kedua cewek yang ada di satu ruangan dengannya, tepatnya di sofa yang ada di sudut ruangan sini. Kedua cewek itu tidak lain adalah Ella dan Dita.
"Udah-udah, jangan becanda terus, berisik banget kita,"
Dita menyudahi bercandanya bersama Ella. Niatnya ke sini karena ingin menjenguk Sendi dan melihat keadaannya. Eh yang ada Dita malah menganggu Sendi karena suara tawanya yang cukup keras. Dita merasa tidak enak hati.
"Maaf ya Sen, lo jadi nggak nyaman karena suara cempreng gue ini. Sorry banget ya," Dita menangkup kedua tangan di dada.
Sendi menggeleng. "Nggak papa. Justru kalian berdua ini cukup menghibur dan membuat gue nggak jenuh. Kalian sama sekali nggak ganggu atau apapun itu. Gue suka sama keberadaan kalian di sini. Jadi nggak usah minta maaf,"
Dita tersenyum. "Makasih ya Sen,"
Sendi mengangguk.
Namun Dita baru saja teringat akan sesuatu. Dita berjalan mendekati brankarrr Sendi. "Btw, Sen. Lo nggak ngasih kabar orang tua lo atau siapa, gitu? Kan lo sakit dan masuk ke rumah sakit,"
Mendengar tanya dari Dita itu membuat wajah Sendi menjadi datar tanpa ekspresi. Mau mengatakan yang sejujurnya tapi Sendi malu.
"Nggak usah di kasih tahu siapa-siapa. Gue nggak mau bikin Ayah gue khawatir. Lagi pula nanti malam gue udah boleh pulang kok. Iya kan El?"
Sendi menatap Ella yang ada di sofa sana karena Ella juga ada di sini ketika dokter mengatakan tentang keadaannya dan juga kapan di perbolehkannya pulang.
Ella mengangguk. "Iya. Nanti malam udah boleh pulang."
Ella beranjak dari sofa menghampiri Dita dan berdiri di samping Dita. Ella menatap Sendi yang wajahnya sudah tidak sepucat tadi pagi.
"Tapi ya Sen. Kata Dita emang bener sih. Ini udah jam lima sore lho, dan lo belum pulang, emang orang tua lo nggak nyariin apa? Kata gue sih mending lo ngabarin beliau aja,"
Sendi termenung. Bukan Sendi tidak mau mengabari Ayahnya tapi kan Sendi baru saja di usir dari rumah oleh Ayah tadi pagi. Jadi Sendi rasa Sendi tidak perlu mengabari apapun pada Ayah. Sendi sangat yakin ayahnya pasti tidak peduli lagi. Dari tadi pun sebenarnya Sendi ingin memberitahu Ayah tapi sebisanya Sendi menahannya.
"Nggak us---"
Drrtttt.... Drtttt...
Ucapan Sendi terpotong ketika mendengar ada getaran dari ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas samping brankarrr. Getarnya cukup lama dan Sendi yakin jika itu adalah sebuah panggilan bukannya pesan.
Sendi meraih ponselnya dan terkejut melihat nama Mbak Kiki terpampang di layar. Sendi sempat ragu untuk menjawabnya tapi Sendi tetap menerimanya siapa tahu ada hal penting yang mbaknya itu akan katakan.
"Hallo mbak,"
"Sendi kamu di mana? Bisa antar mbak ke rumah mertua mbak nggak? Soalnya mbak nggak ada yang anter, anak-anak sama suami mbak lagi pada sibuk kerja semua."
Sendi terdiam. Sendi bingung akan menjawab apa. Kedua matanya menatap Ella dan Dita yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Namun Sendi secepatnya menunduk, menghindari tatapan mereka itu. Takut saja kalau mereka berdua ini bisa membaca ekspresi wajahnya kini.
"Nggak bisa mbak aku masih ada urusan ini." Sendi berbohong. Pertama kalinya Sendi membohongi saudaranya sendiri. Tapi tidak apa ini yang pertama dan terakhir, semoga saja.
"Urusan apa sih orang udah sore begini kok."
"Ya ada lah mbak, udah dulu ya nanti aku di marahi. Mending mbak minta anter tetangga aja."
"Huh, ya sudah deh nggak papa. Eh Sen, uangnya udah di kasih ke kamu belum?"
Sendi mengernyit. "Uang apa?" bingungnya.
"Tadi mbak nitip uang lima puluh ribu buat kamu ke bapak. Sama bapak udah di kasih ke kamu belum?"
Sendi meneguk ludah. Boro-boro di kasih padanya. Orang Sendi dari tadi juga tidak di rumah kok. Ayah tadi pagi juga malah sudah mengusirnya.
"Belum tuh. Emang duit apa itu, mbak?"
"Hah? Masa belum sih. Itu tadi mas Edi baru gajian makanya aku kasih ke kamu sama bapak. Ya cuma dikit sih, tapi masa belum di kasih?"
"Belum mbak. Ya udah sih nggak papa. Lagi pula aku juga nggak di rumah dari pagi."
"Oh begituuu. Ya udah deh. Mbak matiin ya telponnya,"
"Iya."
...----------------...
Kiki memasukan ponsel di tas kecilnya. Kiki yang sejak tadi masih ada di depan pintu rumahnya beranjak menuju rumah bapak. Tanpa memanggil bapak seperti biasanya Kiki masuk ke dalam rumah itu, dan betapa terkejutnya saat Kiki melihat bapak tengah makan beberapa makanan di atas meja.
Mie ayam, lele goreng, seblak, ada gorengan, dan beberapa camilan seperti kue bolu, roti kacang, dan masih beberapa camilan lainnya.
Kiki berjalan mendekat. Kiki ingin menghampiri bapak dan bertanya apakah Sendi sejak tadi memang belum pulang, tapi langkah Kiki terhenti ketika bapak bersuara yang membuatnya tercengang.
"Semenjak kematian Teta aku bisa makan makanan enak seperti ini. Dan aku juga tidak peduli uang yang untuk Sendi itu. Semoga anak itu tidak pulang ke sini lagi. Sendi cuma bikin beban."
APA?!
Kiki tidak salah dengan kan tadi?
Cuma bikin beban? Tidak pulang ke sini lagi?
Apa maksudnya itu?
Kiki tidak bisa tahan untuk tidak bertanya pada bapak. Dan Kiki yakin bapak pasti tidak sadar kalau ada dirinya di belakang bapak. Sungguh, Kiki baru melihat sekali ini sisi kelakuan bapak yang seperti ini.
"Maksud Bapak apa ya? Aku tidak salah dengar kan Pak?"
Roni terkejut. Dengan cepat Roni membalik badan, dan lebih terkejut lagi Roni mendapati Kiki yang sudah ada di belakangnya dengan tatapan nyalang.
"Kiki..?! S-sejak kapan kamu di sini Ki?" Roni tiba-tiba merasa gugup dan takut. Tapi Roni berusaha menutupinya. Semoga saja Kiki tidak mendengar ucapannya tadi.
"Aku dengar ucapan Bapak barusan. Maksud Bapak apa?! Bapak bilang kalau Sendi itu cuma beban?" Kiki menggeleng tak percaya. Benar-benar tak percaya.
"Tidak pulang ke sini? Apa maksudnya itu Pak?!"
Kiki pertama kalinya meneriaki bapaknya itu, membuat Roni juga terasa nyeri di ulu hatinya, anak perempuan pertamanya berani meneriakinya saat ini.
"Nggak Ki. Kamu salah paham. Kamu salah dengar. Bapak nggak bicara begitu." ngelesnya, berusaha membuat Kiki yakin dan tidak marah lagi padanya.
"Nggak Pak. Aku sangat jelas mendengarnya. Nggak nyangka aku kalo bapak ternyata kelakuannya begini."
Kiki mengusap air mata yang tak bisa dia tahan. Kiki merasa benar-benar merasa kasihan pada Sendi. Tenyata Bapak tidak menyayangi adiknya itu.
Setelah mengatakan itu Kiki pergi dari sana. Kiki menuju rumahnya sendiri dan menangis tergugu meratapi nasib adiknya itu, Sendi.
"Huhuhuuu... Bu, Bapak jahat Bu. Bapak memperlakukan Sendi dengan tidak baik. Bapak mengusir Sendi, Bu. Huhuhuuu...."
Kiki memukul bantal, memukul dadanya yang terasa sesak karena menangisi kisah hidup adiknya.
Aku harus cari Sendi