Kisah ini berawal mula dulu sekali saat dimana semua dimensi di dunia ini masih menjadi satu, saat itu dunia ini mengenal 5 ras besar makhluk hidup yaitu, Elf, Witch, Demon ,Demi-Human, dan tentu saja Manusia. Etsss tapi tunggu sebentar, prolog diatas itu hanya sebuah pengantar cerita biasa saja. Kisah sebenarnya dari cerita ini dimulai dari SEKARANG!!!
Apa kalian pernah mendengar tentang para Elementalist? Es & Api? Petir & Alam? Besi & Tanah? Pasir & Air? Cahaya & Kegelapan? Menurut kalian apa yang akan terjadi ketika sepuluh pengendali setiap Elemen ini dipertemukan? Dengan latar belakang yang berbeda-beda serta ego mereka masing-masing. Apakah mereka akan bisa bekerja sama? Atau.....akan saling menjatuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Frost, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Sang Penjaga Pohon Suci
Sejak Arya meninggalkan Kastil dia selalu memperhatikan kotak kaca kecil pemberian Diana dengan seksama, dia ingin tahu bagaimana cara kerja benda tersebut. Karena sebelumnya ia berhasil mengartikan pesan tersembunyi dari kata-kata Diana, jika pesan yang ia dapat benar dan sesuai dengan apa yang ia pikirkan maka berarti kotak kecil yang dia genggam ini adalah kunci untuk menemukan Pohon Hellig di pedalaman hutan penuh misteri ini.
Arya sangat senang dengan hal ini karena dengan memberikan kotak ini bukankah berarti Diana telah memberinya izin untuk mengambil dahan pohon tersebut, walaupun kepalanya penuh dengan pertanyaan tentang kisah masa lalu kakek dan neneknya dia tetap tidak bisa menahan senyuman yang merekah diwajahnya. Pada akhirnya itu semua adalah masa lalu, tapi yang jelas. Jika dia punya kesempatan untuk sekali saja bisa bertemu dengan kakeknya dia tahu apa yang harus ia lakukan saat itu juga.
"Kakek tua sialan itu kalau aku bisa bertemu dengannya aku pasti akan........" gerutunya pelan sepanjang perjalanan kembali ke rumah Eridan.
Setelah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya Arya baru bisa mengerti maksud dari perkataan Diana tentang hutang yang harus dibayar, jika saja kakeknya yang bodoh itu tidak melakukan hal-hal aneh mungkin Arya tidak akan terjebak pada situasi yang rumit seperti ini. Lalu ia sempat berpikiran untuk memberitahu Rena dan Eridan tentang apa yang terjadi namun pada akhirnya dia tidak jadi memberitahukan hal tersebut karena dia pikir ini bukan waktu tepat.
Arya juga ingin memastikan sendiri apakah kotak kaca ini benar-benar akan membawa mereka menuju Pohon Hellig. Bukannya dia meragukan Diana atau apa, ini hanya sebuah tindakan antisipasi. Dia tidak mungkin menyeret Rena serta Eridan kedalam urusan tidak yang pasti seperti ini, bisa saja malah akan berakhir lebih buruk dari pada yang ia bayangkan. Jadi dia memutuskan untuk pergi sendiri memeriksa benda tersebut esok pagi.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Sesuai rencana keesokan paginya ia bangun pagi-pagi buta, demi melakukan hal ini semalam Arya sengaja tidur lebih awal, yang membuat munculnya tatapan bertanya dari Rena maupun Eridan. Tapi pada akhirnya mereka tidak menanyakan alasan Arya melakukan hal tersebut, ia segera memasang perlengkapannya serta mengenakan mantel jubah bertudung miliknya agar dia tidak mencuri perhatian dengan rambut putihnya yang merepotkan itu. Ia pun segera menyelinap pelan keluar dari jendela kamar miliknya.
Rumah Eridan hampir sama dengan semua rumah kaum Elf lainnya ditempat itu, sebuah bangunan yang dibuat menyatu dengan pohon-pohon raksasa. Rumah Eridan memiliki dua lantai dan kebetulan kamar Arya berada di lantai dua sehingga dia dengan mudah keluar dari jendela dan melompat ke pepohonan disekitar situ. Dengan cepat Arya menjauhi rumah tanpa suara, takut dia bisa membangunkan Eridan ataupun Rena.
Diluar ternyata masih gelap, sang mentari belum menunjukan wajahnya. Arya memang pada dasarnya sengaja memutuskan pergi sebelum matahari terbit agar kesempatan dia berpapasan ataupun bertemu dengan orang lain semakin kecil, dan benar saja sesuai harapannya dia hanya menemukan beberapa Elf yang sedang sibuk mempersiapkan barang-barang yang ingin mereka jual di pasar. Dia sempat melihat sebuah buah berwarna merah muda yang ia duga sebagai Pink Peaches, buah yang diberitahukan Azalea padannya.
Karena pengalaman ini juga Arya akhirnya sadar bahwa kaum Elf menggunakan tiga jenis pencahayaan pada malam hari, pencahayaan pertama mereka berasal dari sesuatu yang terlihat seperti serangga yang mengeluarkan cahaya seperti kunang-kunang, tapi serangga ini memiliki warna cahaya yang beragam sehingga Arya yakin serangga itu bukan kunang-kunang seperti yang ia kenal.
Lalu mereka juga menggunakan api sebagai pencahayaan, para Elf menyediakan obor dan lilin untuk menjadi sumber penerangan mereka saat malam tiba. Bedanya obor dan lilin mereka mengeluarkan aroma tanaman-tanaman yang tidak pernah Arya cium sebelumnya, sepertinya mereka membuatnya dengan dahan dan getah tanaman-tanaman yang tumbuh khusus di Fairy Forest.
Dan pencahayaan terakhir yang digunakan kaum Elf adalah sihir, mereka mengeluar sebuah bola cahaya seukuran telapak tangan dan meletakannya disebuah wadah kaca tembus pandang. Bola ini akan melayang-melayang diudara dan akan mati apabila kekuatan sihir yang diberikan oleh pemilik mereka telah habis. Setelah yakin dirinya akhirnya berada cukup jauh dari pemukiman warga Arya akhirnya mengeluarkan kotak kaca dari saku mantel jubahnya.
Dia melirik sekitarnya sekali lagi untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya kemudian dengan lirih berbisik "Monstranto Viamo".
Seketika kotak kaca kecil tersebut mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, cahaya itu terus bertambah terang sampai-sampai pandangan Arya menjadi sedikit terganggu. Lalu akhirnya kotak kaca itu bergetar dengan hebat dan memuntahkan cahaya keemasan tersebut, cahaya itu melayang-layang mengelilingi Arya beberapa kali dan akhirnya berhenti dihadapan Arya. Arya menypitkan matanya untuk memandang cahaya tersebut dengan seksama.
Setelah cahaya terang itu mulai berkurang Arya bisa melihat seorang gadis kecil berambut pirang dengan telinga lancip serta sayap transparan yang memancarkan cahaya warna warni dipunggungnya, gadis kecil yang Arya maksud disini bukan seorang anak-anak. Kecil disini bermakna benar-benar kecil, ukuran tubuh gadis itu hanya seukuran biji gandum.
Dia melayang naik turun diudara dengan mata terpejam, lalu meregangkan tubuhnya sambil terus mengusap matanya yang mengantuk. Setelah puas akhirnya ia membungkuk memberi hormat sambil berkata "Senang bisa melayani anda Yang Mulia".
Kemudian gadis itu segera mengangkat wajahnya dan melihat orang yang telah memanggilnya, segera saja ekspresinya berubah setelah menyadari ternyata orang yang memanggilnya bukanlah sang Ratu. Ia melihat Arya dengan ekspresi bingung lalu terbang mengelilingi kepala Arya sekali lagi.
"Kau bukan Yang Mulia Ratu Diana?" tanyanya sambil memiringkan kepala.
"Hai, seperti yang kau lihat aku bukanlah Ratu. Perkenalkan namaku Arya"
Aryapun mulai menjelaskan apa yang terjadi pada gadis kecil tersebut tentang bagaimana dia bisa memanggilnya dan bagaimana dia bisa mendapatkan kotak kaca yang digunakan untuk memanggilnya tersebut, lalu dari percakapan ini akhirnya Arya mengetahui nama benda itu adalah Summoner Cube.
"Yang Mulia Ratu Diana memberikan Summoner Cube padamu? Kau pasti orang yang sangat beruntung" katanya sambil mengangguk-angguk pelan.
"Begitukah menurutmu?" tanya Arya.
"Huum, aku juga bisa mencium aroma dari Nyonya Azalea dari tubuhmu jadi aku pikir hal ini pasti baik-baik saja, tapi sejujurnya aroma milikmu aneh. Baumu seperti seorang Elf pada umumnya tapi......sedikit berbeda"
"Hahaha mungkin itu karena aku belum mandi" balas Arya dengan cepat dan asal.
Kemudian gadis kecil itu mengangkat bahunya kemudian tersenyum dan bertanya dengan tenang "Sudahlah sebaiknya kita lupakan saja, jadi. Apa yang bisa aku bantu Tuan Arya?"
"Oh iya aku hampir lupa, bisakah kau menunjukanku jalan ke Pohon Hellig?"
"Tentu saja, dengan senang hati" jawabnya sambil membungkuk memberi hormat.
"Dan juga kau tidak perlu sungkan padaku, kau tidak perlu memanggilku Tuan. Panggil saja aku Arya" kata Arya sambil tersenyum.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Arya" tanggapnya dengan mata berbinar-binar, sepertinya dia memang lebih suka memanggil Arya tanpa panggilan formal.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Gadis itupun menjadi pemandu jalan untuk Arya, ia terbang dengan riang sambil melihat sekelilingnya dengan antusias. Jarak mereka berdua hanya beberapa meter, Arya berjalan dibelakangnya dengan hati-hati takut tersandung sesuatu karena suasana masih cukup gelap. Penerangan yang Arya bisa harapkan hanya cahaya dari sayap sang gadis, mereka pun mulai masuk kedalam hutan secara perlahan-lahan. Pada awalnya mereka masih mengikuti jalan setapak, tapi pada akhirnya gadis itu membawa Arya masuk ke selah-selah pepohonan yang rimbun.
"Mmm bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Arya akhirnya setelah diam untuk waktu yang cukup lama.
Gadis itu segera menoleh sambil terus terbang didepan Arya lalu berkata santai "Tentu, akan aku jawab semampuku"
"Bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Gadis itupun tersentak dan tiba-tiba menabrak ranting pohon dihadapannya dengan keras, hal ini membuatnya meringis kesakitan dan menyebabkan ia hanya melayang-layang ditempat sambil menggosok-gosok dahinya.
"Aww.....hahaha maafkan ketidaksopananku ini. Perkenalkan namaku Iskrivý, kau bisa memanggilku Ivý"
"Salam kenal Ivý, Ivý kau ini............Pixie bukan?" tanya Arya lagi sambil menyibak ranting-ranting pohon didepannya.
"Wah......aku tidak menyangka Elf muda sepertimu mengetahuinya, benar aku adalah Peri Pixie" jawab Ivý sambil melanjutkan membimbing jalan untuk Arya lagi.
"Sebenarnya aku berasal dari luar hutan" celetuk Arya pelan.
"Ahh itu menjelaskan kenapa aromamu berbeda"
Arya sejujurnya pernah membaca tentang Peri Pixie disebuah buku yang ada di Perpustakaan Pusat Penelitian, tapi ia tidak menyangka ternyata para Pixie benar-benar ada bahkan ia bertemu salah satunya disini. Ia sempat berpikir kalau Peri Pixie adalah panggilan lain untuk ras Elf, tentu saja pada dasarnya ukuran tubuh dari Elf dan Pixie sangat berbanding terbalik. Hal ini juga dicantumkan pada buku yang dia baca.
"Apa semua orang mengetahui keberadaan kalian?"
"Tentu saja tidak, bahkan hanya segelintir orang yang mengetahui keberadaan kami. Kebanyakan Elf menganggap hanya merekalah penghuni Fairy Forest, padahal dari namanya saja seharusnya mereka sudah tahu, bukan hanya mereka yang tinggal disini" ujar Ivý sambil cekikikan.
"Berapa jumlah kalian?"
"Mmm......cukup banyak, tapi seperti yang kau lihat. Kami tidak terlalu membutuhkan banyak tempat" sahut Ivý sambil tersenyum jahil.
Setelah mendengar hal ini Arya baru menyadari bahwa sebenarnya dia tidak tahu pasti seberapa luas Fairy Forest, melihat kemungkinan bahkan para penghuninya sendiri tidak tahu kalau mereka tinggal berdampingan dengan makhluk lain seperti Pixie.
Setelah berjalan cukup lama Arya menduga matahari sepertinya sudah terbit tapi karena rimbunnya pepohonan tidak ada cahaya yang berhasil menembus permukaan tanah hutan, ia juga dapat merasakan jalan yang mereka lalui semakin menanjak.
"Tapi aku heran kau tidak terkejut saat melihatku, ini pertama kalinya kau melihat Pixie bukan Arya?" tanya Ivý akhirnya setelah beberapa lama terbang dalam diam.
"Itu karena aku pernah membaca sedikit tentang kalian, jadi setelah aku melihat kalian secara langsung sepertinya aku bisa memastikan bahwa apa yang aku baca benar adanya"
"Oh....begitu, tapi sepertinya kau akan lebih terkejut lagi nanti. Karena pada dasarnya bukan hanya Pixie yang tinggal disektiar Pohon Hellig, ada juga para Druid dan mereka semua ini" jelasnya dengan antusias sambil merentangkan kedua tangannya.
Mendengar hal itu mata Arya melebar, ia juga pernah membaca tentang peri hutan Druid pada buku yang sama tempat dia membaca tentang Pixie. Jika mereka benar-benar ada di tempat ini. Maka ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan, kemudian diapun mulai bertanya dengan antusias "Druid? Mereka juga ada disini? Kalian semua tinggal disekitar Pohon Hellig? Dan apa maksudmu dengan mereka semua ini?"
Mendengar ketertarikan yang mendalam dalam suara Arya membuat Ivý tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, kemudian ia menjawab dengan tenang "Yang kumaksudkan dengan mereka adalah mereka yang ada disekitarmu ini".
"Pepohonan?" tanya Arya bingung sambil memperhatikan sekitarnya.
"Benar sekali, pohon-pohon di Fairy Forest bukanlah pohon biasa Arya. Mereka semua terhubung dengan Pohon Hellig, karena Pohon Suci inilah yang membuat para Elf, Pixie, Druid, dan Pohon kehidupan ini tinggal disekitarnya"
"Lalu kenapa kalian tidak pernah menunjukan diri kalian?" tanya Arya bingung.
Kemudian Ivý berbalik sambil terus terbang, ia memegang dagunya sambil terlihat berpikir keras. Arya sedikit khawatir melihat caranya terbang karena ia bisa saja menabrak pohon yang ada didepannya.
"Sebenarnya kami para Pixie, beserta para Druid dan Pohon kehidupan tidak terlau menyukai peperangan dan kekerasan Arya. Itulah mengapa kami selalu membuat penjanjian dengan Raja dan Ratu Elf terdahulu, mereka akan berperan sebagai pelindung kami. Dan kami akan berperan sebagai pelindung kelestarian hutan ini" jawabnya serius.
"Jadi itu mengapa Ratu Diana memiliki Summoner Cube?"
"Benar, Summoner Cube adalah bukti perjanjian kami para Pixie dengan Ratu. Dengan adanya benda ini Ratu bisa memanggil salah satu dari kami untuk menolongnya disaat ia membutuhkan bantuan, ahh sepertinya kita sudah sampai. Ayo cepat" kata Ivý dengan antusias lalu mulai terbang dengan lebih cepat.
Arya segera ikut berlari agar tidak tertinggal, ia bisa melihat diujung jalan yang sedang mereka lalui ada cahaya yang berhasil menerobos masuk kedalam hutan. Yang berarti disanalah pintu keluar mereka, saat ia pada akhirnya sampai di pintu keluar tesebut Arya tidak bisa menyembunyikan kekagumanya.
Di hadapannya terbentang luas sebuah lembah yang sangat indah, lembah ini dikelilingi oleh perbukitan seperti yang baru saja dilewati oleh Arya dan Ivý untuk sampai kesana. Ditengah-tengah lembah terdapat sebuah pohon yang sangat besar, dari yang Arya lihat sekilas sepertinya pohon itu memiliki diameter sekitar 10 meter dan tinggi sekitar 20 meter. Dahan pohon itu sangat rimbun dengan daun berwarna hijau yang dapat menyegarkan mata orang-orang yang melihatnya.
Akar-akar besar pohon besar tersebut terlihat menonjol pada permukaan tanah, dan disekeliling pohon itu terdapat danau yang terlihat seperti airnya mengalir dari dalam akar-akar pohon tersebut. Kemudian banyak terdapat anak-anak sungai yang mengalir ke segala arah, yang dimana sumber airnya berasal dari danau itu sendiri, sungai-sungai inilah yang menyebarkan air ke seluruh Fairy Forest.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ivý akhirnya setelah membiarkan Arya melihat pemandangan itu sampai puas.
"Wow........" hanya itu kata yang bisa Arya ucapkan.
"Aku mengerti maksudmu" balas Ivý sambil tertawa geli.
Saat Arya masih asyik memandang sekitarnya tiba-tiba ia merasakan sebuah tatapan tajam kearahnya, ia segera menggapai pedangnya dan menoleh ke arah tatapan itu berasal. Disebuah dahan pohon didekat Arya dan Ivý berada terdapat seekor burung hantu berwarna coklat dengan mata berwarna biru menatap mereka dengan tajam dan tertarik. Burung itu segera terbang mendekati mereka, ia berhenti tepat dihadapan Arya.
"Ah halo Tuan Eudard" sapa Ivý segera setelah menyadari kedatangan burung tersebut.
Burung itu melihat Ivý dengan tatapan tajam yang membuat Ivý sedikit salah tingkah, Arya segera berdiri di depan Ivý. Burung itu kembali menatapnya, tatapannya sangat tajam. Seakan-akan seperti bisa menembus apapun yang ada dihadapannya.
Kemudian tanpa peringatan burung hantu itu memekik dan terbang menuju Pohon Raksasa yang berada ditengah lembah. Setelah Arya perhatikan ternyata burung itu memiliki tiga bulu ekor yang sangat panjang.
"Makhluk macam apa itu?" kata Arya pada akhirnya.
"Itu adalah Three-Tailed Owl, salah satu fauna magis Fairy Forest" jawab Ivý.
"Lalu siapa itu Tuan Eudart?" tanya Arya lagi.
"Sang Penjaga Pohon" sahut Ivý lalu mulai terbang ke arah pohon tersebut.
"Hah? Penjaga pohon? Burung itu?" ujar Arya bingung sambil segera menyusul Ivý.
-----------------------------<<>>-----------------------------
Mereka berduapun akhirnya tiba dibawah pohon raksasa tersebut, Arya terus mendongak untuk melihat pohon itu sehingga lama kelamaan lehernya terasa pegal. Dia bisa merasakan aura kehidupan yang sangat besar dari pohon tersebut.
"Kita sudah sampai" Ivý mengumumkan dengan senang.
"Terimaka---------"
Arya segera terdiam, ia merasakan tekanan yang sangat kuat terhadap dirinya. Tekanan ini berasal dari seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya, padahal sebelumnya dia sangat yakin bahwa ia sudah memastikan tidak ada orang lain disekitar tempat itu beberapa waktu yang lalu. Tanpa menunggu waktu lama Arya segera melayangkan sebuah tendangan atas ke arah kepala orang itu dengan kaki kanannya.
Orang itu menahan tendangan keras Arya hanya dengan satu tangan seakan-akan itu hanya nyamuk yang lewat dihadapannya, belum berhenti disitu Arya segera menjadikan kaki kanannya yang ditahan itu sebagai tumpuan dan menarik badannya ke udara kemudian menggunakan kaki kirinya yang bebas untuk melayangkan tendangan kedua ke arah orang tersebut.
Tendangan itu membuat keduannya terpental, Arya dengan segera menjaga jarak dari orang tersebut dan dengan sigap mencabut pedangnya. Ia melihat orang yang ada dihadapannya untuk pertama kali, dia adalah seorang Elf Pria dengan rambut pirang sepanjang pinggang.
Warna rambut pria itu sudah mulai memudar memberitahukan bahwa dia sudah tidak muda lagi, ia mengenakan jubah untuk menutupi perlengkapan tempur miliknya. Arya juga bisa melihat pedang yang tergantung di pinggangnya, pria itu memiliki ekspresi wajah yang tenang tapi penuh dengan kekuatan. Dan dengan hanya melihat ini Arya tahu, bahwa dirinya bukan tandingannya.
Arya yakin bahwa pria dihadapannya ini bisa membunuhnya kapan saja yang dia mau, pria itu masih menutup matanya. Walaupun dengan mata tertutup kesiagaanya tidak menurun, kemudian dia berdeham panjang sambil berkata.
"Ivý!? Apa maksudnya ini?"
Ivý yang sedari tadi terdiam karena terkejut dengan apa yang dilakukan kedua orang dihadapannya telat merespon dan hanya dengan linglung berkata
"Ak-Aku tidak mengerti masalahnya? Ada apa sebenarnya?"
"Hah......aku sudah bilang untuk berhati-hati, aku sangat mengenal suara langkah kaki ini karena aku mengenal satu orang lagi yang memiliki suara langkah yang sama. Kenapa seorang Elementalist berada ditempat ini?" bisiknya pelan tetapi sangat tegas sampai membuat udara disekitarnya bergetar.
"Elementalist?! Ta-tapi Tuan Eudart, jelas-jelas Arya ini adalah seorang Elf" ujar Ivý dengan nada tidak percaya.
"Tuan Eudart?" ulang Arya.
Tepat setelah Arya mengatakan itu Three-Tailed Owl bermata biru yang Arya dan Ivý temui sebelumnya terbang mendekati pria itu dan dengan lembut hinggap dan bertengger pada pundaknya. Kemudian burung itu memekik keras sambil menatap Arya dengan tajam.
"Kau........The Guardian of Holy Tree?!"
meski aku tau cerita ini sudah tidak up disini
Dragon sins
Goath sins
Lion sins
Boar sins
Fox sins
Serpent sins
Grizzly sins
udah 2025 nihhh, ada info update lagii kahh? akuu nungguinn dari 2022/Frown//Sob/udah 5 kali selesai bacaa jugaa:)