"Jika kamu tidak mau menikah dengan Louis secara suka rela, anggap saja ini sebagai tanda balas budimu karena aku telah membiayai seluruh pengobatan ibumu."
Perkataan Fradella membuat dunia Irene runtuh. Baru saja dia bahagia melihat ibunya bisa berjalan kembali, tapi kini Irene harus ditimpa cobaan lagi.
Menikah bukanlah sesuatu yang mudah. Menyatukan dua insan yang berbeda, dua kepribadian menjadi satu dan saling melengkapi kekurangan masing-masing itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Bagaimana dengan nasib Irene setelah pernikahannya dengan Louis. Pernikahan antara pelayan dan sang presdir, akankah berjalan layaknya pernikahan pada umumnya?
Lalu akankah Louis membukakan hatinya untuk Irene setelah mereka menikah? Ikuti kisah Irene dan Louis disini ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Itu
Satu minggu setelah Louis mengetahui tentang pesan ancaman itu, kini dia memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Irene.
“Sweetheart.” Louis membelai punggung Irene dengan lembut.
“Hemm.” Hanya suara itu yang keluar dari mulut Irene karena dia sedang sibuk dengan gambar pakaian bayi yang sedang di lihatnya.
“Kamu tidak lupakan, kalau kita harus membicarakan apapun masalah kita. Tidak boleh ada yang disembunyikan meskipun itu hal yang sangat kecil.” Louis mencoba memancing Irene, baginya jika Irene yanga bercerita lebih dulu itu akan lebih baik dan tidak akan membebaninya. Irene menutup katalog yang ada di tangannya, dia membalik tubuhnya menghadap ke arah Louis.
“Sebenarnya memang ada yang belum aku ceritakan, aku takut itu akan menjadi bebanmu,” ucap Irene lirih dengan wajahnya yang kini berubah sendu.
“Sayang, dengarkan aku. Justru jika kamu tidak bercerita itu tidak baik untuk kesehatanmu dan bayi kita, apa kamu tidak memikirkan mereka.” Sejenak Irene hanya terdiam, pelupuk matanya menjadi panas saat mendengar ucapan Louis.
“Sweetheart, jika kamu mau bercerita itu tidak akan menjadi beban untukku sama sekali. Namun jika kamu tidak bercerita itu justru akan membebani dirimu sendiri, karena tidak mempu menyelesaikannya sendiri.” Irene berhamburan ke dalam pelukan Louis setelah mendengar kata – kata panjang itu. Irene juga tidak lagi bisa menahan air matanya, dia menumpahkan air matanya di dalam pelukan sang suami.
Louis mendekap istrinya dengan erat, dia menghujani puncak kepala Irene dengan ciuman yang bertubi – tubi. Louis bisa merasakan penderitaan yang tengah dirasakan oleh Irene, dadanya ikut sesak jika mengingak kenyataan yang di derita oleh istrinya.
“Aku tahu, kamu pasti tengah membicarakan pesan yang ada di ponselku,” ucap Irene dalam pelukan Louis.
“Sayang, bicaralah aku tidak akan marah.” Louis mencoba menenangkan Irene.
“Aku tidak tahu siapa yang mengirimkan pesan itu, tapi setiap aku ingin membelasnya pasti nomor – nomor itu sudah tidak dapat dihubungi lagi, Sayang.” Irene menjelaskan setelah dia melepaskan pelukan Louis.
“Aku sudah menyelidikinya, dan kita tinggal menunggu hasilnya dari Hari nanti.”
Louis memang menugaskan Hari untuk menyelidiki semua nomor yang telah meneror Irene tersebut. Namun Hari juga tidak bertindak sendiri, dia meminta bantuan temannya yang juga menjadi detektif di dunia kepolisian. Tidak berhenti sampai disana, kekuasaan Louis juga menjadinya dengan leluasa mengakses seluruh cctv seantero kota. Namun kali ini Louis tidak menggunakan kekuasaan itu, dia tidak mau berita ini sampai bocor ke media.
“Maafkan aku selama ini tidak bercerita,” ucap Irene.
“Tidak apa – apa Sayang, aku tidak marah padamu. Hanya saja aku menkhawatirkan keadaanmu dan calon bayi kita.” Louis kembali mencium puncak kepala Irene berkali – kali.
“Aku ingin ke rumah momy.” Sikap manja Irene kembali lagi, dia kini tengah merengek ingin mengunjungi Fradella.
“Kita sarapan dulu, nanti aku ajak kamu ke rumah momy.” Louis mengajak Irene untuk bangun dari tempat tidur.
Di meja makan makanan telah siap memenuhi meja. Karena setelah mempunyai rumah sendiri, Louis mempekerjakan dua orang pelayan dan satu tukang kebun dan dua orang petugas keamanan. Louis meningkatkan keamanan rumah dengan memasang cctv di segala sudut halaman sampai ke dalam rumah.
Louis juga memerintahkan untuk menyaring tamu yang masuk, mereka harus menanyakan siapa dan apa keperluanya terlebih dahulu. Tindakan ini Louis lakukan setelah melihat pesan ancaman yang diterima oleh Irene. Louis juga memasang pengendali jaark jauh untuk gerbang utama, hal ini ia lakukan untuk menjaga Irene saat dirinya ada di kantor.
“Bi, buatkan aku jus lobak ya. Dikasih strawberi juga jangan pakai gula Bi, pake madu saja.” Permintaan Irene di iyakan oleh pelayan yang terlihat heran mendengar permintaan dari Nyonya mereka.
“Sayang, kamu harus meminum susu hamil ini.” Louis menunjuk ke sebuah gelas yang berisi susu hamil rasa vanila.
“Ayolah Sayang, aku bisa meminum keduanya. Tenang saja.” Irene hanya menyunggingkan senyum melihat ekspresi heran dari suaminya.
“Baiklah.” Louis hanya pasrah dengan keputusan Irene yang memang tidak bisa ia bantah.
Irene mengedarkan pandangannya ke seluruh makanan yang ada di atas meja. Dia terlihat tengah mencari sesuatu namun tidak ia temukan.
“Bi, saladnya ngak ada?” tanya Irene.
“Tidak ada Nyonya,” jawab pelayan itu dengan ragu.
“Oh yaudah ngak apa – apa nanti aku saja yang beli sayur.” Irene mengambil satu buah lobster besar dan satu kepiting ke atas piringnya. Louis yang sudah mengetahui sikap sang istri hanya melihatnya dengan senyumnya yang menawan.
Louis tidak melarang Irene makan dengan lahap, dia hanya melarang Irene untuk tidak amakn secara berlebihan dan sampai kekenyaan. Itu semua Louis lakukan semata – mata demi kebaikan Irene dan juga calon bayi mereka.
Sekarang Louis juga tidak pernah membantah permintaaan seaneh apapun dari Irene. Dia akan selalu menuruti keingnan sang istri meskipun itu hal yang tidak masuk akal bagi Louis.
“Ini Nyonya jusnya.” Pelayan memberikan satu gelas jus itu kepada Irene.
“Oh terima kasih.” Irene menyunggingkan senyumnya yang sangat manis.
Dalam sekejab Irene menghabiskan susu hamilnya, kemudian ia beralih ke jusnya yang ia habiskan juga dalam beberap tegukan.
“Sayang, pelan – pelan minumnya,” ucap Louis yang keheranan.
“Hahhh.. Aku kenyang sekarang.” Irene meletakkan gelas jusnya yang sudah kosong itu ke atas meja.
“Ya ampun Sayang, kamu itu minumnya pelanaan dikit busa ngak.” Louis mulai menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Aku pelan ko Sayang minumnya, kamu aja yang berlebihan.” Irene mencebikkan bibirnya ke arah Louis.
Louis memang merasa jika akhir – akhir ini sikap Irene terkadang menyebalkan. Namun Louis memakluminya karena dia menyadari jika memang seperti itu sikap kebanyakan dari ibu hamil.
“Aku mau mandi.” Irene bangkit dan meninggalkan Louis yang tengah menghabiskan lattenya.
Irene masuk ke dalam kamar mandi, melucuti pakaian yang dia pakai dan merendamkan dirinya di dalam bath up. Irene kini lebih suka memakai sabun beraroma vanila setelah kehamilannya. Louis yang telah menghabiskan lattenya hendak menyusul Irene ke dalam kamar mandi
Namun saat dia masuk ke dalam kamar, ponselnya berdering dan itu adalah pesan dari Hari sang asisten. Dengan sanagt penasaran Louis segera membuka pesan itu, dan ternyata benar Hari sudah mengirimkan data penyelidikannya melalui email.
“Cek email Bos, aku sudah mengirimkan datanya kesana. Dan satu lagi, jangan kaget.” Pesan singkat yang dikirmkan Hari kepada Louis. Meskipun sangat singkat namun pesan itu berhasil membuat Louis sangat penasaran.
Louis meraih laptopnya yang ada di atas meja. Dia membuka laptopnya yang memang belum ia matikan sebelumnya, hanya Louis hibernate saja. Louis langsung membuka kotak masuk email dengan tergesa – gesa karena sangatlah penasaran.
“Nah ini dia.” Guman Louis saat dia menemukan pesan masuk yang dikirimkan oleh Hari.
Louis membacanya dengan seksama, melihat dari atas sampai bawa. Dari identifikasi identitas penggunakan nomor ia baca satu persatu, mata Louis terbelalak saat melihat sebuah nama yang ia kenal ada di sana. Nama itulah yang telah meneror Irene selama ini, dan kenyataan itu membuat Louis tidak bisa menahan amarahnya.
“Wanita tidak tahu malu.” Guman Louis saat menutup laptopnya dengan kasar.
suka dg kisahnya yg tdk memperdulikan kasta