NovelToon NovelToon
[DISCONTINUE]If You Hate Me So

[DISCONTINUE]If You Hate Me So

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Fanfic / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pena Putri

Hubungan pernikahan mereka penuh kepalsuan. Tak ada yang tau kebenaran dibalik senyum bahagia yang palsu itu. Grisha selalu menjadi budak yang dipaksa menurut seperti hewan peliharaan. Sedangkan Xeno adalah pemegang kendali yang menjalankan semua sandiwara ini. Meskipun disakiti berkali-kali, Grisha tetap mencintai suaminya sedangkan lelaki itu tampak begitu membencinya. Mampukah Grisha bertahan dengan cinta yang tak pernah terbalas? Atau melarikan diri untuk mencari kebebesan?

"Kenapa kau begitu membenciku, Xeno?"

"Ingat ya. Aku menikahimu hanya karena orang tuaku menyukai anak panti kampungan sepertimu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter - 25

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku Jean?"Xeno bertanya dengan nada bersahabat. Namun dibalik hatinya, ia merasa was-was saat tatapan tajam itu menusuk tepat kedalam matanya.

Ia belum pernah melihat Jean yang seperti itu.

Jean berjalan mendekat, masih dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya. Membuat sang atasan sekaligus sahabat karibnya itu meneguk ludah was-was.

"Kau pergi kemana kemarin?"

Pertanyaan itu begitu sederhana namun mampu membuat Xeno gelisah. Ia ingat betul Jean lah yang mengantarkannya kemarin setelah bertengkar dengan Jessie.

Jean mengantarkannya sampai pertigaan di dekat rumahnya. Lelaki itu diam saja tanpa bertanya apapun saat itu. Mungkin kini saatnya sang sahabat menanti jawaban.

"Kau bicara apa? Tentu saja aku langsung pulang. Pertanyaanmu konyol sekali. Haha." Xeno tertawa hambar, namun ekspresi Jean tidak berubah sama sekali.

"Sampai kapan kau akan terus berbohong padaku?"

Xeno tertegun saat mendengar nada tegas dalam kalimat itu. Kaget sekali melihat Jean yang humoris menjadi serius seperti ini.

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak menyembunyikan apapun--"

"Kau masih berhubungan dengan Jessie, bukan?"

Wajah Xeno berubah datar. Jean bersikukuh ingin tau kebenarannya. Sahabatnya itu pasti akan bersikeras membuatnya buka mulut.

"Sampai kemarin, kalian masih pacaran, kan?"

Xeno pikir, ia tak perlu berpura-pura lagi dihadapan sang sahabat. "Kau ingin tau kan? Baiklah akan kuberitau semuanya agar mulutmu berhenti mengoceh." Batinnya.

Xeno menyeringai, "Kalau iya kenapa? Ada masalah?" Ujarnya santai.

Jean membulatkan mata tak percaya. "Lalu...bagaimana dengan Grisha? Bukankah dia istrimu sekarang? Kenapa kau tega selingkuh seperti itu?"

Jean tak habis pikir. Apa otak Xeno sudah gila??

"Aku tidak berselingkuh asal kau tau. Jangan tuduh Jessie sebagai pelakor. Justru wanita itulah yang merusak hubunganku dengan Jessie. Kau lihat sendiri kemarin kan? Jessie meninggalkanku karena gadis itu!"

Jean masih menatap sang sahabat dengan tatapan tak mengerti. Ia masih berusaha sabar saat mendengar ucapan frontal itu.

"Lalu jika kau masih mencintai Jessie, kenapa kau menikahi Grisha?"

"Oh? Asal kau tau, aku tidak bisa menolak untuk yang satu itu. Grisha itu anak panti asuhan, dan orangtuaku menyukainya dan ingin menjodohkannya denganku. Kau pikir aku tidak berusaha menolak? Sudah kulakukan berulang kali! Orang tuaku mengancam akan mencabut segala fasilitas dan mengambil perusahaan. Tentu saja aku tidak mau itu terjadi, jadi aku terpaksa menikahinya." Jelas Xeno panjang lebar.

Sungguh, Jean ingin sekali menghajar wajah Xeno saat ini. Wajah lelaki itu seolah merasa tak bersalah sama sekali. Sangat busuk!

"Jadi selama ini kau hanya memanfaatkannya? Dimana hati nurani mu Xeno?!" Jean berseru nyaring dengan urat-urat yang mulai nampak di lehernya.

"Ya, bisa dibilang begitu. Jika aku tidak menikahinya, aku takkan ada di hadapan kau saat ini." Sahutnya enteng.

Jean mengepalkan tangannya. "Lalu apa yang kau lakukan padanya? Semalam kau tidak langsung pulang kan? Kenapa banyak tanda merah pada lehernya? Dan jalannya tampak sedang menahan sakit. Apa yang sudah kau lakukan?" Jean tetap berusaha menahan amarahnya.

"Ya, kemarin aku mampir dulu ke bar. Jika kau melihat keanehan padanya lebih baik kau tutup mulutmu. Kau terlalu ikut campur!"

"Kau memperkosanya dalam keadaan mabuk, benarkan?" Jean tersenyum miring dengan tatapan nanar menatap sang sahabat yang merasa tak berdosa sama sekali.

"Jangan menyebut kalau aku memperkosanya. Lagipula itu salahnya sendiri. Dia menghampiriku dengan tangan yang terbuka lebar selagi aku dalam keadaan mabuk berat. Lalu siapa yang salah disini?"

Jean semakin mengepalkan tangannya, bahkan hinggs buku-buku tangannya memutih. Tanda bahwa ia benar-benar sedang menahan diri untuk tidak menghajar sang teman.

"Lagipula kenapa kau ribut sekali, Jean? Dia istriku, tak ada yang salah melakukan itu padanya. Dia juga harus melayaniku bukan?"

"Kurang ajar!!"

Bugh!!

Xeno jatuh tersungkur dengan pipi yang terasa panas. Jean baru saja mendaratkan sebuah pukulan keras yang telak. Bahkan Xeno dapat merasakan rasa amis darah dari dalam mulutnya.

Pukulan Jean tidak main-main!!

Jean segera menindih tubuh Xeno lalu mencengkram kerahnya hingga membuat tubuhnya yang ambruk sedikit terangkat.

"Setelah semua yang telah kau lakukan, kau tetap tidak merasa bersalah sama sekali?"

Xeno meludah untuk membuang darah yang keluar dari mulutnya lalu menyeringai tanpa dosa.

"Untuk apa aku merasa bersalah? Dia bahkan tak masalah dengan itu. Setelah apa yang kulakukan dia tetap tersenyum. Gadis itu bodoh, bukan?"

Tatapan Jean berubah menggelap, "Aku tau sejak dulu kau itu bengal, tapi aku tidak menyangka akan separah ini."

"Apa kau tau kenapa Grisha tetap tersenyum disaat kau menyakitinya?"

Xeno hanya diam, menatap sang sahabat yang tampak kecewa saat ini.

"Itu karena dia sedang menutupi kesedihannya! Grisha yang kukenal selalu tersenyum dengan lepas. Berani-beraninya kau membuat senyum itu jadi penuh kepalsuan? Sialan!!"

Bugh!!!

Wajahnya terhempas kesamping saat Jean kembali mendaratkan pukulan.

"Itu pukulan sebagai lelaki yang menghargai wanita."

Buaaaghhh!!

Wajahnya kembali terhempas kesamping saat pukulan itu kembali datang. Lebih keras dari pukulan-pukulan yang sebelumnya. Darah dan bercak ungu mulai terlihat diwajah tampannya.

"Dan itu pukulan sebagai sahabat yang kecewa pada sahabatnya sendiri."

Setelah puas memukuli Xeno, Jean segera pergi meninggalkannya seorang diri. Tanpa memalingkan wajah sedikitpun. Meninggalkan Xeno yang babak belur terbaring pasrah dilantai kantornya yang dingin.

Xeno menatap langit-langit ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Lalu sedetik kemudian bibirnya yang terluka tiba-tiba menyunggingkan senyuman.

"Aku memang pantas mendapatkannya..."

Ia sengaja mengucapkan semua itu dengan jujur hanya untuk meyakinkan hatinya yang selalu bimbang.

Namun nyatanya, pukulan tidak cukup membuatnya lega.

Xeno bangkit dan berusaha berdiri. Wajahnya terasa sangat perih dan ngilu. Jean memukulnya dengan tenaga dalam.

Tapi meskipun begitu, Xeno merasa iri.

Jean begitu menghargai wanita. Mungkin itu sebabnya sahabatnya itu sangat langgeng dengan kekasihnya.

Sedangkan dia sendiri, bahkan tidak tau tindakan yang pantas untuk seorang wanita. Entah sudah berapa banyak wanita yang ia sakiti, bahkan ia tak peduli.

Ia merasa malu...

Tapi untuk apa kau malu Xeno? Kau bahkan tak berhak merasa malu setelah apa yang kau lakukan selama ini.

.....

Grisha berusaha untuk menghentikan air matanya di toilet. Ia belum pulang dari kantor Xeno. Karena bagaimana mungkin ia pulang dengan keadaan kacau seperti ini?

"Berhentilah kumohon...jangan menangis lagi. Kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk tetap tegar apapun yang terjadi. Jangan menangis!"

Grisha terus menghapus air matanya namun air mata itu tak kunjung berhenti. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tampak menyedihkan.

Wajahnya sembab dengan kedua mata yang bengkak. Ia lelah menangis, tapi kenapa air matanya tak bisa berhenti mengalir?

Ucapan Xeno begitu menusuk hatinya. Ia sudah menduga bahwa lelaki itu pasti akan mengatakannya juga. Tapi ia tak menyangka jika mendengarnya sendiri dari mulut Xeno nyatany lebih menyakitkan dari yang ia duga.

Grisha menghela nafas perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Ia tak boleh berlama-lama disana, takut-takut jika ada orang yang masuk dan melihatnya menangis. Itu akan membuat Xeno tambah repot!

"Jangan merepotkannya lagi. Jangan berurusan dengannya lagi. Mulai sekarang perhatikan saja dirimu sendiri, Grisha." Ucapnya pada diri sendiri.

Ia menepuk kedua pipinya sendiri dengan keras, lalu tersenyum. Air matanya sudah berhenti mengalir. Ia harus segera pergi sekarang.

Grisha bergegas keluar toilet namun dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang hampir menabraknya.

Tiba-tiba ada tangan yang menjulurkan sebuah sapi tangan berwarna merah maroon padanya.

"Maaf Nona, sejak tadi aku mendengar isakan dan--lho Grisha?! Apa yang kau lakukan disini?" Orang itu terkejut, begitupula dengan Grisha.

Grisha segera tersenyum lebar sampai matanya menyipit, "Ah Rayhan! Lama tak berjumpa." Sapa Grisha.

Rayhan mengerutkan kening saat melihat ada yang aneh pada gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu. Wajahnya tampak sembab dan ia dapat melihat sudut bibir wanita itu terluka.

"Hei, apa yang terjadi?"

Rayhan menarik tangan Grisha namun terdengar ringisan saat ia menarik pergelangan tangan itu.

Grisha merutuki dirinya yang tak bisa mengontrol diri. Tapi ia tak bohong, luka bekas semalam memang sangat sakit!

Merasa ada yang aneh, Rayhan menyingkap kaos bagian lengan dan terkejut saat mendapati memar yang sudah membiru.

"Apa lagi ini Grisha?!" Rayhan tiba-tiba berseru yang mana membuat Grisha bingung harus berbuat apa.

"Ini...ini--"

"Kenapa tidak diobati?! Ayo ikut aku!"

Rayhan menarik lembut tangannya yang tak terluka. Lelaki itu benar-benar memperlakukannya dengan baik.

Rayhan menyeret Grisha untuk masuk ke ruang kerjanya. Lelaki itu mendorong pundak Grisha ke bawah agar duduk di sofa yang ada disana.

"Tunggu disini."

Lelaki itu lantas pergi ke meja kerjanya hanya untuk mengambil kotak P3K yang selalu ia sediakan.

Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Rayhan segera menghampiri Grisha dan berjongkok dihadapannya.

"Bagian mana saja yang sakit? Mana yang luka?" Rayhan bertanya dengan raut penuh kekhawatiran.

Rayhan begitu hangat dan baik hati. Lagi-lagi Grisha tak bisa membendung air matanya.

Ia menunjuk dada bagian kiri, yang mana membuat Rayhan kebingungan. "Hatiku. Hatiku sakit sekali. Tolong aku Ray..."

Grisha tampak rapuh, bahkan suaranya bergetar. Tanpa banyak basa-basi Rayhan segera menarik Grisha kedalam dekapannya.

Tak peduli bahwa wanita yang ia peluk itu istri orang, ia hanya ingin memberikan perlindungan padanya.

Grisha membalas pelukan itu dengan erat dan menangis sejadinya. Meluapkan segala unek-uneknya dengan tangisan yang memilukan.

Rayhan tak tau alasan Grisha terluka dan menangis meraung seperti itu. Namun sepertinya ia sudah menduga jawabannya.

Hanya satu yang menjadi sumber tangis Grisha.

Hanya Xeno. Xeno Arsene, suaminya sendiri.

"Menangislah, aku ada disini. Kau jangan khawatir." Bisik Rayhan seraya mengelus rambut dan juga punggung kecil yang bergetar itu.

Apapun itu, Rayhan hanya ingin menjadi sandaran Grisha untuk saat ini.

"Apalagi yang dibuat lelaki kejam itu?"

.....

Grisha memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Hari sudah cukup malam. Setelah menangis keras dipundak Rayhan ia sedikit lega. Setelah itu, ia menghibur diri dengan berjalan-jalan dan mencoba banyak makanan.

Ya, hanya makanan yang dapat membalikkan moodnya.

Ia membuka pintu dan sedikit terkejut saat menemukan Xeno yang tampak kesusahan dengan beberapa balok es batu ditangannya.

Jika dilihat-lihat wajah Xeno ternyata bonyok dan memar-memar. Seingatnya siang tadi wajah suaminya itu masih normal, kenapa sekarang malah bonyok seperti itu?

"Oh, kau sudah pulang?" Xeno bertanya dengan wajah polos.

Grisha tak menyahutnya. Gadis itu kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya dengan wajah datar. Bahkan setelah menaiki tangga pun gadis itu tak menoleh sama sekali.

Xeno tersenyum kecil. Sudah menduga bahwa sejak kejadian tadi siang, Grisha tak kan lagi bersikap baik padanya. Ia memaklumi itu.

Sebenarnya ada sedikit rasa iba saat melihat Xeno yang tampak kesulitan mengobati lebam diwajahnya. Tapi apa boleh buat? Ia sedang tidak ingin berurusan dengan lelaki itu untuk saat ini.

"Jangan pedulikan dia, Grisha." Ucapnya pada diri sendiri.

Ia sedang mencoba untuk bersikap acuh mulai sekarang. Meski sulit karena ia dibesarkan dengan ajaran tidak boleh bersikap acuh dan jangan pantang menyerah ia akan mencobanya.

"Maafkan Grisha Bunda Bella, sepertinya Grisha tidak bisa menjadi wanita yang baik seperti bunda..."

1
Cacha_Bee🐝
bagus
Cacha_Bee🐝
masi nunggu
ni thor,dr 2021 smpe skrg.ternyta ga update2 juga pdhl udh berharap suatu saat novel ini dilanjutkan 😭😭🙏🙏
Galuh Indra Haryanti
karakter jessie itu artis thailand min... bukan bule
kavena ayunda
jahat bgt di kasih nama kambing hitam goblok sakit bgt bacanya q
bundaoskaa
typo nama
Awan
Hay author bisa follback gue ada tawaran menarik buat lu
Su Sin
episode ini haru thor
Su Sin
jurig kebon 🤣🤣🤣
dhapz H
xeno nya aja yg berpikiran jahat
dhapz H
xeno klo tau kaki grisha patah kok tdk di bawa ke mh skt
dhapz H
pergi dan tinggalkan xeno jls dia membencimu
dhapz H
jangan senang dulu
dhapz H
kasian grisha hrs berjuang sendiri
dhapz H
siapa yg bener" mencintai
dhapz H
klo hanya cinta sebelah kenapa hrs ada pernikahan
Mitsuka_chan
hueee sedih bgt ini novel kaga di lanjut :(( xeno baik" ya jgn nakal lagi lu

love u pokoknya
en_en
aku juga berharap suatu saat nanti cerita ini akan dilanjutkan. tiwas bacut seneng critane
Abi Mancung
amit"Thor ko dibuat lelakinya GX punya otak buat berfikir,terlalu.!kaya binatang punya otak GX pnya pikiran
Novie Achadini
jurig kebon😀😀😀ada2 aja author nya humoris
Selvi Tyas
kita bisa bertahan apa bila yg kita pertahankan jg bisa untk dipertahankan🤪🤪🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!