Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
makan malam
Malam itu, ruang makan kapal phinisi dipenuhi cahaya lampu temaram yang hangat. Meja panjang telah tertata rapi, sementara beberapa waitress berseragam rapi mondar-mandir menghidangkan makanan satu per satu. Aroma hidangan laut dan masakan khas terasa menggugah selera, berpadu dengan semilir angin malam yang masuk dari sisi kapal.
Tommy dengan susah payah membantu Rayya menuju kursinya. Tangannya menopang tubuh Rayya dengan hati-hati, memastikan kaki Rayya tidak terbentur. Wajahnya tampak penuh perhatian meski jelas ia masih menyimpan sisa kelelahan.
“Pelan-pelan saja,” ucap Tommy lembut.
“Nanti kalau sudah duduk, biar aku yang urus semuanya.”
Rayya mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Iya, makasih.”
Setelah Rayya duduk dengan nyaman, Tommy mengambil kursi di sampingnya. Di sisi lain Rayya, Pak Surya duduk lebih dulu, disusul Bu Mariana yang tampak lega melihat putrinya tetap bisa mengikuti acara makan malam.
Sementara itu, Devan yang masuk belakangan memilih duduk di kursi kosong tanpa banyak memperhatikan sekeliling. Baru ketika ia mengangkat kepala, ia tersadar, posisinya tepat berhadapan dengan Rayya.
Keduanya sama-sama terdiam.
Tatapan mereka bertemu di atas meja makan yang panjang. Sejenak, Rayya merasa dadanya menghangat tanpa alasan yang jelas. Devan pun terpaku, sebelum akhirnya menarik napas pelan dan berusaha bersikap biasa.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan canggung.
Hingga salah satu waitress datang membawa piring dan mulai menyajikan makanan di meja mereka.
Tommy langsung berdiri sedikit dari kursinya.
“Mbak, untuk yang ini tolong jangan terlalu pedas ya. pacar saya tidak terlalu suka pedas” katanya sambil menunjuk piring Rayya.
Rayya tersentak mendengar kata pacar, lalu menunduk sambil tersenyum malu.
“Tom…”
Tommy hanya tersenyum kecil, lalu kembali duduk.
Rayya pun tersadar dari lamunannya. Ia mengalihkan pandangan dari Devan dan memusatkan perhatian pada piring yang baru saja diletakkan di hadapannya.
“Kalau nggak kuat, bilang,” kata Tommy pelan.
“Nanti aku bantu.”
Di seberang meja, Devan menatap pemandangan itu tanpa ekspresi. Ia meraih sendok dan garpu, lalu mulai makan dengan tenang, meski sesekali pikirannya melayang. Ia sadar betul, kini perannya hanyalah bagian dari rombongan, tidak lebih.
Bu Mariana memperhatikan Tommy dengan sorot mata penuh penilaian, lalu tersenyum tipis. Pak Surya sendiri sibuk berbincang ringan dengan tamu di sebelahnya.
Ketika semua orang mulai bersiap menyantap hidangan, Wilona tiba-tiba menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Devan. Gerakannya terlihat wajar, namun caranya tersenyum dan mencondongkan tubuh sedikit ke arah Devan jelas menunjukkan niat lain.
“Kamu mau apa, Van?” tanya Wilona ramah, suaranya dibuat lembut.
“Aku bisa ambilkan. Ikan, ayam, atau seafood?”
Devan menoleh sekilas. Ia sebenarnya ingin menolak dengan halus, namun melihat Wilona sudah berdiri setengah badan dan beberapa pasang mata mulai memperhatikan, ia merasa sungkan.
“Udang sambal asam manis saja,” jawabnya singkat.
“Siap,” sahut Wilona cepat, nyaris terlalu bersemangat.
Ia pun sigap mengambil piring, lalu menyendokkan udang, nasi, dan beberapa lauk lain, menatanya rapi di hadapan Devan seolah melayani tamu istimewa. Bahkan ia sempat memastikan sendok dan garpu Devan bersih sebelum disodorkan.
Adegan itu tak luput dari perhatian Rayya.
Rayya sempat menghentikan gerakan makannya. Alisnya mengernyit tipis, bibirnya mengeras sesaat. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul melihat Wilona begitu terang-terangan mencari perhatian Devan. Ia menatap Wilona sekilas, ekspresinya jelas menunjukkan ketidaksukaan, meski hanya sepersekian detik.
Namun Rayya segera tersadar.
Kenapa aku harus terganggu? batinnya. Itu urusan mereka. Aku tidak peduli.
Ia menarik napas pelan, lalu kembali fokus pada piringnya. Sendoknya bergerak perlahan, seolah ia sengaja mengatur ritme agar pikirannya ikut tenang.
Sementara itu, waitress kembali melintas menawarkan tambahan lauk. Rayya mengangkat pandangan dan melihat mangkuk cumi crispy, tersisa satu porsi terakhir. Hampir bersamaan, Devan pun mengulurkan tangannya ke arah mangkuk yang sama.
Tanpa disadari, jari mereka menyentuh bibir mangkuk bersamaan.
Keduanya langsung terdiam.
Ada jeda singkat yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Rayya refleks menarik tangannya, wajahnya sedikit memanas. Devan pun membeku sepersekian detik, sebelum akhirnya tersenyum tipis, senyum yang tenang, tanpa maksud berlebihan.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Devan menggeser mangkuk itu ke arah Rayya dan menyendokkan cumi tersebut ke piring Rayya.
“Ambil saja,” ucapnya singkat.
Rayya terkejut. “Eh—nggak, nggak apa-apa, kamu aja—”
Namun sendok Devan sudah lebih dulu berhenti di piringnya. Rayya jadi kikuk sendiri. Ia menunduk, lalu mengangguk kecil.
“Makasih,” ucapnya pelan.
“Sama-sama,” jawab Devan ringan, lalu kembali pada makanannya seolah tak terjadi apa-apa.
Rayya perlahan menyuapkan cumi crispy itu ke mulutnya. Rasanya gurih, renyah, seharusnya menyenangkan. Namun entah mengapa, ia justru merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa reaksinya barusan hanyalah kikuk karena situasi, tidak lebih.
Tommy yang duduk di sampingnya memperhatikan wajah Rayya sekilas.
“Enak?” tanyanya sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
“Iya,” jawab Rayya singkat, lalu tersenyum balik. Senyum yang ia paksakan agar terlihat wajar.
Di seberang meja, Devan makan dengan tenang. Sikapnya tetap sama, dingin, sopan, seolah kejadian barusan hanyalah hal kecil yang tak perlu diingat. Namun sesekali, tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan Rayya. Setiap kali itu terjadi, keduanya hampir selalu cepat-cepat mengalihkan mata, seakan ada kesepakatan tak terucap untuk tidak berlama-lama dalam tatapan itu.
Wilona, yang duduk menempel di sisi Devan, jelas tidak melewatkan momen tersebut. Ia menyandarkan siku di meja, lalu sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Devan.
“Kamu kelihatan capek,” katanya lembut.
“Mau aku ambilkan minum lagi?”
“Masih ada,” jawab Devan singkat sambil mengangkat gelasnya sedikit.
Wilona tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia lalu mengaduk-aduk makanannya tanpa benar-benar berniat makan. Fokusnya jelas bukan pada hidangan di depannya.
Sementara itu, Pak Surya dan Bu Mariana tampak menikmati makan malam dengan santai. Mereka berbincang ringan tentang pemandangan senja yang barusan mereka lihat, tentang angin laut yang terasa lebih sejuk malam ini. Tawa kecil mereka sesekali terdengar, memberi kontras dengan ketegangan halus yang dirasakan Rayya.
Rayya mencoba mengalihkan pikirannya. Ia menunduk, memperhatikan pergelangan kakinya yang masih dibalut perban tipis. Rasa nyeri memang sudah berkurang, tapi setiap kali ia menggerakkan kaki sedikit saja, sensasi ngilu itu mengingatkannya pada kejadian sore tadi, pada tangan Devan yang dengan telaten memijat, pada punggungnya yang hangat saat ia tertidur tanpa sadar.
Ia menggigit bibirnya pelan.
"Sudah cukup," batinnya menegur diri sendiri.
"Aku sudah memilih. Aku sudah menerima Tommy. aku nggak boleh memikirkan pria lain."
Tommy, seolah merasakan kegelisahan Rayya, meraih tangan Rayya di atas meja. Genggamannya hangat, penuh kepastian. Rayya menoleh, dan Tommy tersenyum padanya, senyum yang tulus, yang sejak awal membuatnya merasa aman.
“Kalau capek, nanti setelah makan kita bisa langsung istirahat,” ujar Tommy pelan.
Rayya mengangguk. “Makasih, Tom.”
Di seberang, Devan tak sengaja melihat tangan mereka yang saling menggenggam. Sesuatu berdesir di dadanya, perasaan yang ia sendiri sulit definisikan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali fokus pada piringnya. Ia tidak punya alasan untuk merasa apa pun. Ia juga tidak punya hak.
Wilona mengikuti arah pandang Devan, lalu melihat Rayya dan Tommy. Sudut bibirnya terangkat miring.
“Kelihatan romantis, ya,” katanya, sengaja cukup keras agar Rayya bisa mendengarnya.
“Semoga langgeng. Soalnya… hubungan di liburan biasanya penuh emosi sesaat.”
Rayya berhenti mengunyah. Ia mengangkat kepala dan menatap Wilona dengan tenang, kali ini tanpa ragu.
“Terima kasih doanya,” jawab Rayya sopan, namun nadanya tegas.
“Kami menikmati liburan ini tanpa perlu mencampuri urusan pribadi orang lain.”
Wilona terdiam sejenak. Ia jelas tidak menyangka Rayya akan membalas dengan setenang itu. Devan melirik Rayya singkat, lalu kembali menatap meja, seolah tak ingin ikut terseret.
Waitress datang kembali, membersihkan piring-piring kosong dan menawarkan dessert. Suasana perlahan mencair. Beberapa anggota rombongan mulai bercanda, membicarakan agenda besok pagi. Gelombang laut yang memukul lambung kapal terdengar ritmis, menenangkan.
Rayya menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap ke arah laut yang gelap, dihiasi pantulan cahaya bulan. Di dalam dadanya, perasaan itu masih ada, samar, mengganggu, tapi ia berusaha menutupinya rapat-rapat.
Di sisi lain meja, Devan melakukan hal yang sama: menatap ke arah laut, mencoba mengurai perasaan asing yang muncul tanpa izin.