Shenina Jean atau yang akrab disapa Nina adalah seorang wanita karir sekaligus istri dari lelaki bernama Argan Dio. mereka merupakan sepasang kekasih yang menikah atas dasar saling mencintai.
karena tak kunjung mendapatkan keturunan, Shenina memutuskan untuk meninggalkan dunia kerja dan melepaskan jabatan bersama mimpi-mimpinya. Agar bisa lebih fokus pada program kehamilan yang tengah ia jalani.
Namun setelah semua usaha yang ia lakukan, ternyata Shenina mendapati suami yang sangat dicintainya justru menjalin hubungan gelap dengan wanita lain merupakan orang terdekatnya.
Kenyataan pahit atas pengkhianatan tersebut membuatnya hancur berkeping-keping. hingga ia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin. menghilang tanpa jejak, merombak dirinya secara keseluruhan lalu kembali dengan kehidupan dan identitas yang benar-benar baru.
Bagaimana kisah kelanjutannya....? apakah Shenina akan balas dendam ? Atau justru memulai cinta yang baru ? Nantikan kisahnya ya……..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berobat
Hari itu Jenifer mengajukan pengunduran jadwal untuk sesi pemotretan pada pagi hari dan akan dilakukan di siang harinya.
Beruntung pengajuannya langsung disetujui oleh pihak Luxe’me.
Dia sangat mengkhawatirkan kondisi mental Shira yang sangat tidak stabil. Apalagi setelah kedatangannya kembali ke negaranya sendiri.
Beberapa hari ini Shira selalu kesulitan tidur karena mimpi buruk yang selalu di alaminya.
Meski Shira mengatakan bahwa dia baik-baik saja, namun Jenifer tetap membawanya ke psikiater.
Dan kebetulan dokter yang Shira temui adalah sahabatnya sendiri yaitu dokter Viola. Hal itulah yang membuatnya sempat menolak untuk pergi.
Shira tahu banyak dokter lain yang bisa dia datangi, namun sepengetahuannya Viola merupakan salah satu psikiater terbaik di bidangnya.
Bukannya ia tidak mau bertemu dengan sahabatnya, melainkan dia takut kalau Viola mengenalinya.
Jadi sebisa mungkin Shira berlatih mengubah sikap dan gaya bicaranya sebelum mereka bertemu.
Sesampainya didepan ruangan praktik dokter Viola, wanita itu sudah sempat berbalik ingin kembali dan membatalkan pertemuannya.
Namun Jenifer yang sudah bisa menebak jalan pikiran Shira, dengan segera menangkapnya dan mendorongnya masuk agar urusan mereka di rumah sakit cepat selesai.
“Selamat pagi Nona Shira..??” Sapa Viola dengan suara yang sangat ramah.
“I..iya selamat pagi dokter” sahut Shira sambil sibuk mengurai rambutnya ke depan, agar wajahnya tidak terlalu nampak oleh Viola.
Melihat tingkah aneh pasien di hadapannya Viola sama sekali tidak kaget, karena hal seperti itu bukan yang pertama kalinya terjadi.
Sebab banyak sekali orang-orang yang datang dengan sikap yang tidak biasa, bahkan lebih aneh karena mengalami gangguan kesehatan mental akut atau depresi.
Sementara Shira yang sudah lama sekali tidak bertemu sahabatnya itu, kini jadi sangat merindukannya.
Hanya mendengar suara Viola saja dia merasa begitu sedih.
Seharusnya pertemuan kedua sahabat itu di awali dengan pelukan dan canda tawa, tapi kali ini justru sebaliknya. Dia harus berpura-pura tidak mengenalnya dan seolah-oalah itu adalah pertemuan pertama mereka.
“Nona Shira, bisa anda ceritakan tentang masalah anda ??”
“Sa…saya sering……”
Belum selesai menjawab pertanyaannya, Shira sudah mulai menangis. Samar-samar terdengar suara isak tangis dari balik wajah yang tertutup dengan rambut.
Entah kenapa rasanya sulit sekali bagi Shira untuk berpura-pura menjadi orang asing.
Karena berbohong seperti itu bukanlah keahliannya. Apalagi ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang dia sayangi.
Namun keputusannya yang sekarang mengharuskan dirinya untuk tetap teguh pada pendiriannya. Shira harus bisa beradaptasi dengan identitas baru yang ia jalani saat ini.
Dia harus berbohong demi menjaga rahasianya di depan semua orang. Walaupun terkadang sebagian dari mereka menyadari kalau sorot matanya berkata lain.
Viola yang melihatnya segera mendekat dan menepuk pundak Shira. Dokter itu berusaha menenangkan pasiennya yang tiba-tiba menangis bahkan sebelum bicara.
Viola bisa merasakan, nampaknya apa yang dialami wanita itu tidaklah mudah.
“Dokter….”
“Iya Nona Shira ??”
“Boleh aku memelukmu sebentar saja ???”
“Ohh tentu saja” ucap Viola sambil memeluk wanita cantik yang masih terisak itu dengan hangat.
Tangisan Shira semakin menjadi-jadi saat dia memeluk sahabatnya. Ia merasakan rindu yang begitu besar selama berada jauh di negeri orang.
Menetap disana hanya bermodalkan uang dan segelintir teman baru tidaklah gampang.
Saat itu ingin sekali rasanya Shira mengungkapkan rahasianya pada sang sahabat, tapi ia merasa sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Terkadang ia merasa menyembunyikan rahasia jauh lebih berat daripada memaafkan kesalahan seseorang. Entah sampai kapan Shira akan terus bertahan menutupi identitas dari orang-orang terdekatnya, terutama dari Shendra.
Setelah dirasa tenang barulah Shira mulai menceritakan permasalahannya pada dokter Vio.
Shira mengaku kalau selama ini dia sering kesulitan tidur, karena terus mengalami mimpi buruk yang berulang. Dan kejadiannya semakin parah dialami semenjak dirinya datang kembali.
Ketika Viola menanyakan tentang mimpinya, wanita itu nampak terdiam sejenak. Shira nampak berat mengatakan mimpi itu, namun sekali lagi dokter Viola meyakinkannya.
Sembari menggenggam tangan Shira, dokter itu mengatakan agar Shira tidak perlu takut. Semua akan baik-baik saja, Viola harus tahu titik permasalahannya, agar dia bisa membatu meresepkan obat yang tepat.
“Pada suatu malam aku menyaksikan sendiri suami yang kucintai berhubungan badan dengan temanku sendiri” ucapnya lirih.
“Lalu aku mendengar suamiku mengatakan bahwa dia mengharapkan kematianku, agar ia bebas memulai kehidupan yang baru dengan wanita itu” kini Shira kembali menitikkan airmata, sambil berusaha menahan kedua tangannya yang gemetar sejak tadi.
Dengan bantuan Viola, akhirnya wanita itu mampu mengungkapkannya meski harus terbata-bata.
Sejujurnya Shira merasa lebih tenang saat bicara dengan Viola. Mungkin karena dokter itu memang sahabatnya, jadi tidak ada perasaan sungkan atau semacamnya.
Lagipula Viola sama sekali tidak mengenali siapa dirinya. Sehingga Shira tidak perlu khawatir akan ketahuan dan bersembunyi dibalik rambutnya yang menjuntai kedepan seperti hantu.
Tak hanya itu, Shira pun sempat menceritakan tentang dirinya yang pernah keguguran, karena mengalami depresi berat akibat perselingkuhan suaminya.
Mendengar cerita tersebut, entah kenapa Viola tiba-tiba teringat dengan seseorang.
Seorang wanita berhati malaikat yang nasibnya begitu malang. Tapi sayangnya dia lebih memilih pergi tanpa menjelaskan apapun, dari pada harus bertahan.
Dalam hatinya juga bertanya-tanya, bagaimana mungkin wanita secantik Shira bisa mengalami kejadian buruk seperti itu.
Lelaki mana yang sudah tega mengkhianati pasangannya sendiri demi wanita lain.
Menurutnya sorot mata Shira juga terasa tidak asing. Dia seperti pernah melihat sebelumnya tapi entah dimana.
Sejak pertama masuk wanita itu selalu menghindari kontak mata dengannya, seolah ada yang sedang dia sembunyikan.
Meskipun memang banyak pasien yang berperilaku seperti itu karena beberapa alasan.
Namun sebagai dokter yang berpengalaman, Viola bisa membedakan mana sikap yang ditimbulkan oleh trauma dan mana yang bukan.
Shira juga mengatakan kalau akhir-akhir ini dia sangat sering menangis. Selain itu emosinya seringkali menjadi tidak stabil ketika berhadapan dengan orang-orang tertentu.
Jantungnya berdebar kencang saat membayangkan orang tersebut, atau saat mereka berada dalam jarak yang cukup dekat.
Setelah mengetahui secara detail kini Viola sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada pasiennya. Sambil meresepkan obat, dia juga mengatakan semua akan berlalu seiring berjalannya waktu.
Meski trauma itu tidak mungkin bisa hilang sepenuhnya, tetapi dia akan berusaha membantu Shira dalam mengurangi tingkat kesulitan yang dihadapi pasiennya.
Dokter Viola juga menyarankan agar Shira bisa rutin melakukan konsultasi dengannya.
“Apa masih ada yang mau ditanyakan ???” Ucap Viola bertanya karena dia bisa membaca ada yang ingin disampaikan oleh Shira, namun wanita itu nampak ragu-ragu.
“Dokter…???”
“Iya Nona Shira ??”
“Aku tidak gila kan..???”
Mendengar pertanyaan itu sontak saja Viola tersenyum lebar.
“Tentu saja tidak, anda tidak perlu khawatir” ucapnya kembali meyakinkan Shira.
Setelah keluar dari ruangan tersebut, tanpa sengaja Shira bertemu dengan Dio yang hendak masuk menemui Viola.
Lelaki itu menyapa Shira dengan senyuman super ramah yang menjadi ciri khasnya.
“Kalian saling kenal…??” Tanya Viola yang tiba-tiba muncul karena mendengar suara Dio dari balik pintunya.
“Ya, Dia adalah Nona Shira model baru di perusahaan kami” ucap Dio menjelaskan.
“Aaahhh pantas saja wajahnya sangat tidak asing” sahut Viola yang akhirnya ingat dengan sosok wanita cantik itu.
Ya, Shira memang sering menjadi bintang iklan untuk beberapa produk di televisi. Wajar saja jika banyak orang yang merasa tidak asing ketika melihatnya.
Kedatangan Dio ke rumah sakit itu karena ingin mengambil obat yang sebelumnya diresepkan oleh Viola untuknya.
Kebetulan jadwal pemotretan sedang ditunda, jadi dia punya sedikit waktu untuk pergi sebentar.
Siapa sangka Dio justru bertemu dengan Shira disana.
“Apa anda kesini karena kesulitan tidur ??” Tanya Dio pada Shira.
“Yaa begitulah” (Dan ini semua terjadi karena kebodohanku mencintai orang sepertimu Dio)
“Kalau begitu kita sama” sahutnya seolah senang dia dan Shira punya kesamaan.
“Aneh sekali, baru kali ini aku mendengar ada orang yang bangga dengan gangguan tidurnya” ucap dokter Vio sambil menggelengkan kepala.
Ditengah obrolan mereka bertiga, muncul lagi seseorang yang aura dinginnya sudah sangat terasa dari kejauhan.
“Ehemmm, sedang apa kalian semua disini..??” Tanya Shendra yang mendekat ke arah mereka.
“Sedang apa lagi ?? Ini memang tempat kerjaku” sahut Viola singkat.
“Maksudku kalian..!!” Ucap Shendra mengarahkan pandangannya ke arah Dio dan juga Shira.
“Saya hanya ijin sebentar mengambil obat pak, kalau begitu saya permisi dulu” ucap Dio yang bergegas pergi lebih dulu.
“Kalau kau, sedang apa disini ???” Tanya Shendra pada sang model yang nampak malas berhadapan dengannya.
“Menurut pak Shen ?? sedang apa aku disini kalau bukan untuk berobat, anda juga pasti sudah tahu dari manajerku kan”
“Santai saja Shira, aku kan hanya bertanya”
“Aku kan hanya menjawab…!!!”
Kemudian dua orang itu kembali adu tatap dengan raut wajah yang sama-sama sinis.
Sementara dokter Vio sedikit terkejut melihat interaksi di antara mereka.
Baru kali ini Viola melihat Shendra bicara begitu gamblang kepada seorang wanita selain Nina. Padahal sebelumnya dia sangat dingin dan tidak mudah di ajak bicara, apalagi dengan jarak sedekat itu.
Viola juga heran dengan sikap Shira yang tiba-tiba berubah menjadi emosional saat bicara dengan Shendra. Bukankah sikap serta cara bicara Shira sebelumnya begitu sopan.
“Dokter Vio, terimakasih atas semuanya. Kalau begitu saya permisi dulu” Shira kemudian berpamitan dengan ramah pada Viola.
“Minggir aku mau pulang…!!” Ucap Shira sambil menyenggol bahu Shendra dan melewatinya secepat kilat.
“Ciihh, jalan keluarnya lewat kanan hey..!!!” Teriak Shendra yang melihat Shira salah jalur.
Kemudian dengan cepat Shira putar haluan, saking malunya wanita itu pergi tanpa melirik ke arah Shendra.
“Sial…!! Memalukan sekali sih” pekiknya tanpa menoleh ke belakang.
Sedangkan Shendra kini sudah berada di ruangan bersama dokter Viola.
“Ehemm, tolong resepkan obat tidur yang baru untukku” ucapnya sambil mengetuk-ngetukan ujung jemarinya di meja Viola.
“Kali ini perempuan mana lagi yang jadi penyebabnya ?? Yang dulu atau yang barusan ??” Tanya Viola sambil tersenyum penuh makna.
Sementara Shendra hanya memutar matanya ke arah lain seolah enggan membenarkan tebakan Viola.
Ya, seingatnya beberapa tahun lalu Shendra pernah minta diresepkan obat untuk mengatasi masalah tidurnya. Namun kejadian itu sudah lama sekali.
Viola juga tidak tahu wanita mana yang membuatnya kesulitan tidur, karena Shendra tidak mau mengatakan namanya.
Bahkan Vio sempat iseng bertanya pada Nina, tapi adiknya itu juga tidak tahu menahu tentang apa yang di alami kakaknya.
Dan hari ini setelah sekian lama, lelaki itu datang kembali dengan permintaan yang sama.
Namun apakah orangnya juga masih sama ?? Entahlah, biar waktu yang menjawabnya.
………………………………………………………………………………….
mendingan gk punya pacar ,dri pd bodoh
penyesalan mu bagai angin yg
gk pernah berhenti mampir..
knp sih lelaki bnyak yg bodoh. wanita baik mesti di tinggal tp wanita murahan kayak yuri gmpang bnget dpt laki.
blm dpt karma ya pelakor ini.