“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP4
Indonesia—Darasila
Menjelang siang, para mahasiswa KKN berkumpul di balai desa kecil dekat dermaga, wajah-wajah muda mereka masih lekat dengan rasa penasaran. Mereka tau hari ini DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) mereka seharusnya datang, namun kabar mendadak dari kampus membuat suasana jadi sedikit tegang.
Seorang pegawai kecamatan yang menemani mereka berdiri di depan, membuka map putih berisi surat resmi. “Anak-anak, perlu saya sampaikan, dosen pembimbing kalian yang semula ditugaskan ternyata tidak bisa hadir karena alasan kesehatan. Universitas sudah menunjuk pengganti. Beliau ini bukan dari kampus kalian, melainkan dosen tamu yang sudah terbiasa mendampingi kegiatan lapangan di daerah terpencil.”
Pintu balai desa terbuka. Masuklah Bella dengan penampilan rapi nan sederhana, kemeja putih lengan digulung, celana berbahan gelap. Tatapan matanya tajam, tapi bibirnya menebar senyum hangat.
“Perkenalkan, saya Niken,” ucapnya dengan nada tenang. “Mulai hari ini, saya yang akan mendampingi kalian. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik selama di sini.”
Mahasiswa saling pandang, ada yang berbisik pelan—memuji kecantikan Bella, ada juga beberapa gadis muda yang menatap tak suka.
Tiba-tiba, Dinda, yang dikenal sebagai anak paling kritis di angkatannya, mengangkat alis dan bertanya remeh. “Bu, maaf nih, tapi Bu Niken yakin udah qualified jadi dosen pembimbing KKN? Atau jangan-jangan ... Bu Niken hanya titipan rektor yang lagi nyari pengalaman?”
Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arah Dinda dengan tatapan kaget, sementara dua temannya berusaha menahan tawa. Suasana menjadi tegang, menunggu reaksi dari sang dosen pembimbing.
Bella tersenyum tipis, tidak terpengaruh sedikit pun oleh pertanyaan sinis itu.
“Bagaimana, ya? Sayangnya, saya tidak berkewajiban menjawab pertanyaan tak berkualitas seperti itu,” jawabnya tenang.
Ia lalu menatap seluruh mahasiswa.
“Tugas saya di sini mendampingi,” lanjut Bella dengan nada datar. “Saya bertanggung jawab memberi pembekalan, membantu kalian merumuskan program kerja yang realistis, serta memastikan kegiatan KKN berjalan sesuai tujuan.”
Ia melangkah satu langkah ke depan, suaranya kini terdengar lebih tegas.
“Saya juga akan memantau pelaksanaan program secara berkala. Jika ada kendala di lapangan—baik dengan warga, aparat desa, maupun internal kelompok, itu menjadi bagian dari tanggung jawab saya untuk dibahas dan diselesaikan.”
Tatapan Bella menyapu ruangan, berhenti sejenak pada wajah-wajah yang tadi tersenyum meremehkan.
“Dan tugas kalian adalah belajar sekaligus memberi kontribusi nyata untuk pulau ini. Kalau kalian merasa bimbingan saya tidak layak, silakan laporkan ke rektor. Saya akan senang hati dipanggil untuk mempertanggungjawabkan.”
Bella menjeda sejenak, senyumnya melebar elegan.
“Namun, sebelum semua itu terjadi, mari kita fokus pada tujuan utama kita di sini—memberikan kontribusi terbaik bagi pulau ini. Kurangi iri dengki, jaga lisan dan sikap karena kalian membawa nama baik universitas. Ingat, jangan bertindak sembarangan. Hindari ajakan orang tak dikenal, jaga barang pribadi masing-masing, dan selalu waspada. Kejahatan terjadi bukan hanya karena adanya niat, tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!”
Bella kembali melanjutkan. “Saya berharap, selama KKN ini, kalian dapat menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu memberikan teladan yang baik. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan dapat menjalankan KKN ini dengan lancar serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar.”
Sejenak ruangan terdiam. Beberapa mahasiswa langsung menunduk paham, ada pula yang saling berbisik dengan wajah kikuk. Di sisi lain, Dinda menggertakkan giginya pelan. Gadis yang dikenal sangat dekat dengan dosen pembimbing yang seharusnya hadir hari itu berusaha menahan diri, meski sorot matanya masih menyimpan bara perlawanan.
...***...
Udara Indonesia langsung menyambut Edwin, si kembar, serta sang asisten begitu mereka melangkah keluar dari pesawat. Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, rombongan itu akhirnya tiba di area kedatangan.
“Uyut putriiiiiiiii ...!”
Bintang dan Langit berseru kompak memanggil buyut mereka di tengah riuhnya bandara malam itu.
“Bintang ... Langit ....” Suara lembut menyahut penuh rindu.
Meski telah sepuh, pancaran kecantikan Minah—Buyut Putri mereka masih terpancar jelas. Dengan anggun, ia merentangkan tangan, menyambut kedua cicitnya dalam pelukan hangat.
“Kenapa Uyut Putri makin cantik, sih?” Bintang menyengir lebar sambil memeluk pinggang Minah erat-erat. “Bintang kangen banget. Kirain Uyut udah lupa sama Bintang.”
“Mana mungkin lupa.” Minah mencubit gemas pipi Bintang dan Langit.
Edwin yang biasanya tak mau kalah dan selalu menyodorkan pipinya juga, kali ini tak bereaksi apapun. Ekspresinya sulit dibaca. Namun, Minah jelas paham ada sesuatu yang tak beres.
“Bawa anak-anak ke mobil, Ric,” titah Edwin pada sang asisten.
Rico mengangguk paham. “Baik, Tuan.”
Setelahnya, Edwin berjalan bersisian dengan sang nenek.
“Apa ada hal buruk yang terjadi, Le?” tanya Minah lembut. “Wajahmu itu kok ya kayak nyimpan beban.”
Edwin terdiam sejenak, bibirnya mengatup rapat. Pandangan matanya lurus ke depan, seakan mencari kalimat yang tepat. Namun sebelum ia memberi jawaban, Minah kembali memberi pertanyaan yang kali ini sangat menohok—
“Apa kamu diceraikan Bella karena ketahuan berulah?” Kening Minah berkerut.
“Yo, ndak lah, Mbah. Ngawur!” sahut Edwin secepat kilat. Ia mengetuk pelan kepalanya tiga kali dan membuang ludah ke kiri. “Amit-amit.”
Minah terkekeh melihat reaksi sang cucu semata wayang.
“Jadi kenapa? Atau jangan-jangan ... kamu lagi-lagi kembali menghabisi nyawa seseorang, Tole?” Minah menelisik wajah Edwin untuk memastikan tebakannya. “Kamu tau, kan? Bella ndak akan memberimu maaf lagi kalau sampai kamu ketauan berulah.”
Edwin menarik napas dalam, lalu menghela berat. Bola matanya yang sayu menatap sang nenek lekat-lekat.
“Aku nitip anak-anak, ya, Mbah Putri,” suaranya parau. “Aku harus menyelesaikan sesuatu.”
Minah menghembuskan napas panjang, lalu mengusap pelan punggung cucunya yang membungkuk lesu. Mereka mempercepat langkah, menyusul Bintang dan Langit yang sudah tiba di area parkir.
Setibanya di mobil, Edwin berjongkok di hadapan kedua buah hatinya.
“Bintang, Langit ...,” suaranya memanggil lembut. “Papa ada urusan pekerjaan. Jadi untuk sementara ... kalian main dulu sama Uyut Putri, ya.”
Alis Langit terangkat sebelah, kening bocah yang terkenal irit bicara itu berkerut. “Lama?”
Edwin tersenyum tipis, senyuman yang menurutnya hangat — meskipun di penglihatan kedua anaknya tampak seperti seringai seram. Tangannya mengusap rambut Langit.
“Nggak lama. Papa janji ... bakalan cepet selesai. Dan nanti saat Papa kembali, Papa akan membawa ....”
Sengaja ia menggantungkan ucapannya.
“Apa?” tanya si kembar kompak dengan kedua tangan sama-sama bersedekap.
“Papa bakal bawa pulang Mama and ... Uncle Rama.” Edwin mengendik-ngendikkan alisnya.
“Serius?!” tanya Si Kembar serentak, lalu keduanya saling memandang dan berseru riang, “YEEEEIY HOREEEE!”
Nama Abirama memang masuk dalam list favorit si kembar. Jika bertatap muka, Abirama memang kerap memanjakan keduanya, dan kini mereka sudah tiga tahun tak bersua.
Minah yang berdiri di samping hanya bisa memperhatikan interaksi mereka sambil menahan sesak di dadanya. Ia yakin akan firasatnya, apa pun yang akan ditempuh Edwin kali ini, tidak akan mudah.
Sebelum Edwin benar-benar berdiri meninggalkan mereka, Langit meraih pergelangan tangan ayahnya. Bocah itu mengeluarkan sebuah jam tangan dengan layar digital.
“S-selamat ulang tahun, P-pa,” ucapnya sedikit gugup, sambil memasangkan benda itu di tangan sang ayah.
Edwin sempat tertegun, ia bahkan tak ingat sama sekali bahwa hari itu adalah hari ulang tahunnya.
“Langit ... ini?”
“Smartwatch!” jawab Langit cepat dengan raut datar. “Aku yang merakit sendiri, Pa.”
Edwin terdiam, ia menatap lekat sang putra yang kerap disebut anak genius oleh para gurunya. Pupil nya sedikit bergetar.
“Kalau Papa pakai ini,” lanjut Langit sambil menepuk jam itu pelan, “aku bisa tau Papa ada di mana. Jadi ... Papa nggak boleh macam-macam di luar sana.”
Edwin tersenyum sambil mengusap kepala Langit, lalu menarik si kembar ke dalam pelukan.
Bintang menepuk lembut punggung ayahnya, lalu menimpali dengan raut riang, “Aku juga punya kado, Pa ... tapi nggak sekarang. Aku bakal kasih kadonya kalau Papa udah pulang bawa Mama dan Om Rama. Papa perginya jangan lama-lama, ya!”
Edwin tersenyum hangat. Ia mengangguk pelan meskipun ia tau—janji itu akan jadi beban paling berat baginya untuk ditepati.
...***...
Rapat internal antara Bella dengan para mahasiswa KKN malam itu berlangsung di sebuah ruangan sederhana.
Bella duduk paling depan, menatap satu per satu mahasiswanya. “Baik, sebelum rapat ini kita tutup, saya ingin mendengar laporan singkat dari tiap kelompok. Bisa kita mulai dari bidang pendidikan, bagaimana hasil mengajar tadi?”
Seorang mahasiswa laki-laki bangkit setengah berdiri.
“Untuk bimbel sore, Bu, anak-anak cukup antusias. Fokusnya masih baca-tulis dan berhitung dasar. Kendalanya, beberapa anak sulit berkonsentrasi karena belum terbiasa belajar terjadwal.”
Bella mengangguk pelan. “Catat itu. Besok coba metode belajar sambil bermain. Buat permainan sederhana supaya mereka tetap antusias. Anak-anak di sini lebih responsif pada pendekatan praktis.”
Ia lalu menggeser pandangan.
“Selanjutnya, bidang kesehatan.”
Seorang mahasiswi mengangkat tangan.
“Posyandu berjalan lancar, Bu. Kami ikut membantu penimbangan balita dan pendataan. Dari hasil observasi, ada beberapa anak dengan berat badan di bawah standar. Penyuluhan stunting sudah kami sampaikan, tapi masih perlu pendekatan ke orang tua.”
“Baik,” sahut Bella singkat. “Pendekatannya jangan menggurui. Libatkan kader posyandu setempat agar lebih diterima.”
Baru saja Bella hendak menutup mapnya, sebuah suara terdengar dari barisan tengah.
“Bu,” sela Rani — salah satu genk Dinda, sambil menyilangkan tangan. Ia mengulas senyuman tipis, bahkan terlihat sinis.
“Kalau boleh jujur ... program kita ini cukup berat ya,” lanjutnya dengan nada remeh. “Pendidikan, kesehatan, lingkungan, semuanya jalan. Takutnya malah setengah-setengah. Apalagi, waktu KKN kita juga terbatas.”
Beberapa mahasiswa saling pandang. Dinda menahan senyum kecil, tak sabar menunggu reaksi.
Bella tidak langsung menjawab. Ia menatap Rani beberapa detik, cukup lama untuk membuat gadis itu beringsut dari duduknya dengan wajah gelisah.
“Kekhawatiranmu valid,” kata Bella akhirnya dengan suara datar. “Tapi yang keliru adalah anggapan bahwa kita harus menyelesaikan semuanya.”
Ia berdiri perlahan, menutup mapnya dengan rapi.
“KKN bukan soal hasil besar dalam waktu singkat,” lanjutnya. “Ini soal intervensi awal dan keberlanjutan. Pendidikan memberi fondasi. Kesehatan menjaga kualitas hidup. Lingkungan memastikan dampaknya tidak sia-sia.”
Tatapan Bella beralih mengedar pandang. “Kalau ada yang merasa ini terlalu berat, silakan evaluasi cara kerjanya—bukan meremehkan tujuannya.”
Rani terdiam. Wajahnya merah padam, ia merasa dipermalukan. ‘Brengsek!’
Bella kembali duduk. “Terakhir, bidang lingkungan. Silakan.”
Rapat kembali berlangsung singkat, hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Bella pun lekas beranjak dari kursinya.
“Oke, kalau begitu rapat saya tutup. Besok kita lanjut sesuai jadwal masing-masing. Pastikan semua siap jam tujuh pagi. Ingat, kalian harus segera kembali ke penginapan — jangan mengikuti orang yang tidak dikenal.”
Para mahasiswa serentak mengangguk. Setelah rapat selesai, mahasiswa pun bubar dan segera menuju kembali ke balai desa yang menjadi tempat mereka menginap.
Di barisan paling belakang, Dinda berjalan bersama dua temannya, Lala dan Rani. Ketiga gadis itu mulai bergunjing.
“Din, sumpah deh, gue nggak suka banget sama Bu Niken,” bisik Rani sambil mendengus. “Belagu nya keliatan banget gak, sih?!”
Lala cekikikan pelan. “Gue setuju sama lo, Ran. Gayanya tuh sok elegan kayak apaaa gitu, tapi aslinya belagu. Lagian, emang boleh dosen berdandan secantik itu? Gue curiga deh, jangan-jangan Bu Niken itu ani-aninya rektor kita.”
Dinda mengangkat dagu dengan sinis. “Dari awal gue udah curiga. Mukanya itu ... kagak ada dosen-dosennya. Yang bikin kesel, semua cowok auto diem kalau dia ngomong. Udah kayak fans lagi ketemu artis favoritnya, manuuuut aja. Menang cakep doang tuh Bu Niken!”
Tepat setelah berkata demikian, dua pemuda lokal berparas lumayan tampan—melintas di hadapan mereka dan menyapa ramah ketiganya.
“Malam, Mbak-mbak cantik,” sapa pria muda yang memiliki satu ukiran tatto di pergelangan tangannya. “Pada mau ke mana? Pada mau pergi ke lapangan, ya? Kalau iya, pergi bareng kita aja.”
Langkah kaki Rani langsung berhenti. “Lapangan? Emang ada apa di sana?”
“Pertunjukan budaya, Mbak. Ada musik, ada tarian, makanan gratis juga. Biasanya para pendatang pada suka, karena bisa lihat tradisi asli pulau ini. Lokasinya dekat kok, nggak sampai sepuluh menit jalan,” sahut pria muda satunya. “Banyak camilan juga lho, dan boleh dibawa pulang.”
Mendengar kata ‘camilan’, Lala dan Rani saling bertukar pandang, wajah mereka antusias.
“Serius? Wah, seru banget kedengarannya! Kita harus lihat, Ran!”
Rani mengangguk cepat, senyumnya melebar. “Kuy lah! Mumpung di sini, masa kita nggak nikmatin acara lokalnya?”
Dinda mendengus pelan, kedua lengannya terlipat. “Gue capek. Lagi pula ... nggak yakin juga itu beneran aman. Mending kita pulang.”
“Tenang aja, Mbak. Di pulau ini nggak pernah ada aksi kriminal, kok,” sahut si Pemuda.
Lala yang sudah lebih dulu tergoda, meraih tangan Dinda. “Din, yaelah, parno banget sih jadi orang. Ayolah ... lumayan kan refreshing, daripada langsung tidur.”
Rani turut membujuk. “Iya, Din, enjoy dikit lah. Tadi si belagu itu udah bikin kepala kita panas, masa iya kita nggak boleh seneng-seneng?”
Dinda hanya melotot kesal, lalu mengibaskan tangan. “Terserah. Gue balik duluan.”
“Yah ... kok balik sih? Din ... Dinda ...!” Lala memanggil dengan suara setengah berteriak.
Rani menatap punggung Dinda yang semakin menjauh dengan raut kesal, lalu tangannya memeluk siku Lala. “Udah deh, La. Biarin aja si perawan kismin itu. Sebenarnya, gue juga males kalau pergi bareng dia. Kalau bukan karena dia sering dilirik cowok-cowok tajir, gue juga ogah main bareng sama cewe kolot kayak dia. Kita berdua aja deh.”
Dengan begitu, Lala dan Rani pun mengikuti kedua pria muda itu, tanpa mengetahui hal buruk telah menunggu mereka.
...***...
“Dua rekan kita belum juga kembali, sepertinya ... ada yang gak beres terjadi sama mereka ....”
*
*
*
k dehwa lekas sembuh 😩