Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Curhat
Bab 13
Curhat
Usai mengantar Ibra sekolah seperti biasanya, Novia tidak mampir ke rumah orang tuanya seperti biasa. Ia memilih pulang ke rumah karena butuh waktu sendiri setelah percakapannya di telepon tadi malam bersama Dika terus terngiang di kepalanya.
"Assalamualaikum Mas?"
"Ada apa menelpon jam segini? Kan aku sudah bilang, kalau nggak ada yang penting jangan menelpon jam segini. Ganggu waktu tidur saja! Sudah lah, besok saja tunggu aku di tempat kerja, nanti aku telepon."
Tut! Tut! Tut! Tut! Tut!
Telepon di tutup sepihak oleh Dika tanpa memberikan kesempatan pada Novia untuk menjelaskan, kenapa ia menelpon saat itu. Novia tidak menyangka respon Dika akan seperti itu dan hal itu membuatnya kesal. Lalu pagi ini ia menunggu telepon Dika sesuai apa yang dijanjikan oleh suaminya itu. Tepat jam 8, handphonenya berdering, dan itu dari Dika.
"Assalamualaikum..." Jawab Novia datar.
"Wa'alaikumsalam. Sayang, ada apa menelpon Mas malam tadi. Mas sudah tidur dan terkejut kamu menelpon malam-malam."
Suara Dika berubah drastis dari cara bicaranya tadi malam. Namun tidak serta merta menghilang rasa kesal Novia yang mengkhawatirkannya tadi malam.
"Kenapa Mas? Apa sulit harus menerima telepon malam-malam?"
Suara Novia terdengar tidak seperti Novia yang lembut dan penurut seperti biasanya di telinga Dika.
"Bukan begitu sayang, kamu kan tahu Mas sudah bekerja seharian. Jadi malam lah waktu Mas beristirahat dan mencari ketenangan."
"Dulu Mas nggak pernah mempermasalahkan aku menelpon jam berapa pun. Tapi sekarang kenapa nggak boleh?"
Dika mati kutu. Benar dulu Novia bebas menelpon dirinya kapan saja. Tapi semenjak ia menjalin hubungan dengan Lyra, ia mulai membatasinya karena tidak ingin hubungan perselingkuhannya ketahuan.
"Be... beda sayang. Dulu pekerjaan Mas nggak sebanyak sekarang."
Novia mengerutkan dahinya mendengar jawaban Dika. Tidak biasanya suaminya itu terdengar gugup dalam menjawab pertanyaan. Bayangan jejak wa tengah malam yang hilang pun membuat Novia mengaitkan dengan sikap Dika sekarang. Ia yakin ada yang di sembunyikan suaminya padanya.
"Lusa Mas pulang kan? Jangan di tunda lagi, karena Ibra pasti marah."
Dika merasa lega, Novia menanyakan kepulangannya. Itu artinya, istrinya itu tidak menaruh curiga lagi dan tidak marah lagi padanya.
"Iya dong sayang. Mas pasti pulang. Sudah dulu ya, atasan Mas sudah datang. Mas mau mulai kerja dulu."
"Ya."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Padahal Novia hanya ingin cepat mengakhiri panggilan telepon itu saja. Dalam hatinya ada rasa sakit dan gelisah, merasakan kejanggalan yang baru ia sadari sekarang.
Dika yang sudah berubah tak bisa di hubungi ketika malam, Dika sempat gugup dalam menjawab pertanyaan, dan wa tengah malam yang tidak di ketahui siapa yang mengirim pesan, juga pesan apa yang di kirimkan. Belum lagi sandi pola yang selalu berganti setiap Dika pulang. Semua itu membuat Novia kepikiran dan mengaitkan semua dalam sebuah benang yang masih kusut.
Rasanya Novia butuh tempat cerita untung menenangkan kegelisahan hatinya.
"Kalau aku cerita ke Kak Desi? Apa Kak Desi akan mengejek ku?"
Novia membuang napas berat. Sungguh batinnya tersiksa sekarang.
"Assalamualaikum... Nov?! Novia... ?"
"Wa'alaikumsalam..."
Novia beranjak keluar kamarnya menuju depan pintu rumahnya untuk melihat siapa yang mengucapkan salam, dan memanggil dirinya. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Novia bisa melihat Desi berdiri di depan sana dengan helm yang masih di kenakan di kepala.
"Kak Desi? Ada apa Kak? Ayo masuk dulu."
Desi mengikuti langkah Novia masuk ke dalam rumah dan duduk bersebelahan dengan adiknya di ruang tamu.
"Temani ke plaza yuk!" ajak Desi sambil membuka helmnya.
"Mau ngapain?" Tanya Novia yang sedang tak ingin kemana-mana karena hatinya yang tidak bersahabat.
"Ya belanja lah. Aku pengen cari sandal yang lagi kekinian."
Novia terlihat tidak bersemangat. Hal itu tidak luput dari perhatian kakaknya.
"Nanti Aku traktir kamu juga." Ujar Desi lagi, yang melihat adiknya seperti akan menolak.
"Tapi Kak, aku lagi nggak mood sekarang."
"Kenapa? Iya sih, aku perhatikan dari tadi muka mu lesu amat."
Novia menatap dalam pada Kakaknya. Timbul keinginannya untuk menceritakan apa yang membuat hatinya menjadi gelisah.
"Kak..." Kalimat Novia menggantung. Wajahnya terlihat resah dan menunduk dalam.
Desi paham jika adiknya sudah begini. Pasti ada sesuatu yang membebani hatinya. Desi duduk lebih mendekat. Lalu menepuk pelan bahu adiknya dengan lembut.
"Ada apa? Kamu punya masalah ya? Coba cerita ke aku."
Novia mengangkat wajahnya kemudian menoleh kepada Desi. Ingin mencari kepercayaan di dalam mata sang Kakak.
"Tapi Kakak jangan bilang ke Ibu sama Ayah ya?"
"Kapan sih aku pernah bocorin rahasia mu ke Ayah dan Ibu? Dari dulu juga tidak pernah."
Benar, Desi tidak pernah membocorkan rahasia Novia setiap kali adiknya itu curhat padanya. Karena itu Novia memiliki keinginan untuk berbagi beban hati padanya.
"Ini soal... Mas Dika." Kata Novia pelan.
Desi langsung menegakkan duduknya yang tadi santai bersandar pada lengan kursi.
"Ada apa dengan Dika?" Tanya Desi yang sebenarnya sudah curiga, apa yang akan di ceritakan adiknya mengarah pada video yang ia lihat. Namun ia berusaha menahan, sampai Novia sendiri yang bercerita.
"Aku takut..., Mas Dika berbohong padaku selama ini," kata Novia kembali menunduk, lemah.
"Berbohong?"
"Aku menemukan kejanggalan. Dan itu baru aku sadari sekarang."
Desi diam untuk mendengarkan Novia bercerita lebih lanjut. Ia hanya menggenggam tangan Novia , agar adiknya itu merasa kuat walau hanya sekedar bercerita.
"Apa Dika...." Desi ragu untuk mengatakan arah pembicaraan mereka sesuai video yang ia lihat.
"Ku rasa Mas Dika menyimpan rahasia dari ku Kak." Mata Novia mulai berkaca-kaca melihat ke arah sang Kakak. "Aku belum tahu pasti, tapi ku rasa ia selingkuh di sana."
Deg,
Jantung Desi berdebar-debar. Video yang ia lihat jika diberitahukan kepada Novia sudah pasti akan membawa bencana kepada rumah tangga adiknya. Desi mengatur napasnya dengan tenang. Mencoba memikirkan solusi yang baik untuk adiknya. Kemudian menatap serius pada mata yang hampir luruh genangan air di pelupuknya.
"Bagaimana kalau kamu coba pastikan sendiri."
"Caranya Kak?"
"Kamu kunjungi Dika kesana, tanpa memberi kabar dulu."
"Kalau dia nggak pulang ke rumah? Aku nanti mau tidur dimana Kak?"
Desi paham, dalam kekalutan biasanya orang tidak bisa berpikir jernih.
"Disana pasti ada penginapan. Paling nggak... alih-alih hotel, biasanya ada wisma atau Red Doors."
"Benar juga." Novia menunduk sambil memikirkan kata-kata Desi. "Tapi bagaimana dengan Ibra?" kembali ia menatap pada sang Kakak.
"Ibra serahkan padaku dan Ibu. Selama kamu menyelesaikan urusan mu, kami akan mengurus Ibra dengan baik. Biar aku yang antara jemput dia ke sekolah. Dan sementara itu, biar dia menginap di rumah Ibu selama kamu pergi kesana."
Apa yang disarankan oleh Desi memang merupakan usulan yang baik untuk mengatasi kebimbangan dan kebingungan Novia. Dengan begitu, ia pun bisa mencari tahu, apa yang di lakukan suaminya disana.
"Baiklah lah Kak. Aku akan kesana setelah Mas Dika pulang dari sini nanti."
"Dika akan pulang minggu ini?"
"Iya, dia sudah berjanji."
"Lalu apa yang membuat kamu mencurigai Dika selingkuh?"
Novia menatap dalam kakaknya, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia pun mulai menceritakan satu persatu kejanggalan-kejanggalan yang membuatnya curiga kepada suaminya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra