"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam semakin larut, saat Ryan hendak memejamkan mata, ponselnya berdering, dengan enggan ia menjawabnya.
"Iya," suaranya mulai terdengar lemah.
"Gue baru bangun, ada apa kamu telepon malam-malam?" Tanya Dani namun yang di tanya sudah mulai kehilangan kesadarannya.
"Yan? Hello??"
"Besok saja, gue ngantuk banget."
"Ya, sudahlah."
Sambungan pun terputus, Ryan tertidur dengan pikirannya yang kalut. Meski ia dapat tertidur karena pengaruh alkohol, tapi hati dan pikirannya terus berisik. Menyuarakan pendapat yang berbeda.
Pikirannya sangat logis, ia harus pergi dari sini dan cari kebahagiaan bersama Naina. Wanita yang jelas-jelas menghargai dirinya dan mengabdikan hidupnya hanya pada Ryan. Namun hati kecilnya berkata, bahwa Ryan lakukan hal itu, maka cinta yang ia nantikan selama 10 tahun akan sia-sia sebelum sempat berbunga dan berbuah.
Dalam tidurnya Ryan menangis, menyebutkan satu nama, yaitu Nayla. Hati dan jiwanya sudah terpatri nama putrinya. Satu hal yang pasti, Ryan begitu sangat mencintai Nayla. Bagaimana pun seorang bajingan tak ingin kehilangan darah dagingnya sendiri.
Maeta menghampiri Ryan, ia menyeka air mata yang menetes di pipi Ryan. Siapa sangka, wanita dingin dan arogan itu mulai luluh hatinya oleh sikap Ryan. Ia menyadari tak ada lelaki manapun sebaik dan setia Ryan.
"Sayang sekali jika kamu, aku lepaskan." Gumam Maeta.
Pagi pun mulai meninggi di atas cakrawala. Waktu menunjukkan pukul 10 waktu setempat. Ryan meraba tempat tidurnya. Kosong. Maeta tak tidur bersamanya malam tadi. Ryan bangun dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
Ryan mengotak atik ponselnya dan menghubungi Dani. Setelah beberapa detik berdering akhirnya sambungan pun terhubung.
"Lu dimana?" Tanya Ryan langsung tanpa basa-basi.
"Masih di kantor, kenapa?"
"Coba lu ke apartemen gue, terus tanya kenapa Naina tak mau jawab panggilan gue."
"Ngambek mungkin." Jawab Dani asal.
"Gak mungkin. Dia bukan tipe orang yang tiba-tiba marah tanpa sebab. Dia kalau marah, dia akan terus mengomel dan meluapkan semua emosinya." Cerca Ryan seolah tahu sikap Naina.
"Iya, ya. Gue nanti mampir ke sana."
"Thanks, ya."
Sambungan pun terputus. Namun hati Ryan masih saja tak tenang. Ia memikirkan hal buruk yang menimpa pada anaknya. Jika hal itu terjadi, Ryan tak akan pernah memaafkan Naina.
Ryan menunggu dengan cemas. Setiap pertanyaan Maeta selalu ia abaikan. Fokusnya hanya satu, ia rindu akan suara manja anaknya. Ryan rindu celotehan aneh dari anaknya. Rindu itu semakin menyiksa dirinya.
"Ryan!!!" Bentak Maeta kesal karena Ryan mengabaikan ucapannya.
"Ah,, iya kenapa?" Jawab Ryan bingung.
"Apa yang kamu pikirkan sih? Atau kamu masih memikirkan simpanan mu itu?" Tebak Maeta asal namun sukses membuat Ryan kalang kabut.
"Eeng... Enggak kok. Aku hanya memikirkan kerjaan saja."
"Bohong!"
Ryan mencoba membujuk Maeta, ia tak ingin kekasihnya itu marah dan membenci dirinya. Sejenak Ryan melupakan rindu tersebut. Ryan lupa akan hadirnya Nayla dalam hatinya. Fokus Ryan saat ini hanya satu, yaitu mengembalikan kepercayaan Maeta padanya.
...****************...
"Naina, Bapak dengar kamu pandai memasak. Bagaimana jika kamu buka usaha warung makan saja. Kebetulan pabrik tekstil di sebrang sana belum memiliki kantin. Itu bisa jadi peluang buat kamu." Ucap Pak Aziz, ayah dari Maya.
"Aku inginnya seperti itu, Pak. Tapi aku kehabisan uang, jadi aku tak punya modal untuk memulai usaha."
"Begini saja, Bapak beri kamu pinjaman uang,"
"Tapi aku takut tidak bisa mengembalikannya dalam waktu dekat." Naina memotong ucapan Pak Aziz.
Pak Aziz hanya tersenyum dan menepuk tangan Naina.
"Makanya, kalau orang tua bicara dengarkan dulu."
"Maaf Pak. Saya hanya takut tidak bisa mengembalikan uang sesuai perjanjian." Jawab Naina malu dan merasa bersalah.
"Nak, Bapak tahu kamu seperti apa dulu. Kamu anak baik, kamu jujur. Bapak menolong kamu juga ikhlas. Bapak akan memberikan kamu pinjaman uang, tidak meminta kamu mengembalikannya dalam waktu dekat. Kembalikanlah uang itu saat kamu memiliki uang banyak. Kamu angsur pun tak masalah."
Pak Aziz sangat tahu sifat Naina yang tak ingin memiliki hutang budi pada siapapun. Naina akan selalu berusaha membayar hutang budi itu dengan maksimal meski badannya sakit sekali pun.
Kegigihan Naina itu membuat Pak Aziz merasa iba. Terlebih dulu, saat Naina di usir dari rumahnya, Pak Aziz tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menyaksikan kesedihan Naina, dan memilih berpindah tugas.
Padahal Pak Aziz tahu, Naina selalu membantu anaknya dulu. Tapi sifat Naina tak pernah menuntut balik kebaikan yang ia lakukan pada orang lain. Ia hanya akan terbebani oleh hutang budi.
Naina menangis bahagia, ternyata masih ada orang yang peduli padanya. Naina pun menyetujui saran Pak Aziz dan mencoba memulai usahanya.
Naina mulai mengalokasikan dana tersebut dan memerincinya dengan teliti. Pinjaman yang pas-pasan itu cukup untuknya bertahan hidup. Karena memang Naina bukan tipe orang yang mudah menghabiskan uang untuk sesuatu hal yang tidak berguna.
"Bu, Ayah kemana?" Pertanyaan sepele itu membuat Naina kaku tak berkutik.
Naina terdiam, hatinya kembali sakit. Mengingat masa, dimana ia merasakan jatuh ke dasar jurang. Menerima kenyataan bahwa suaminya akan menikah kembali. Menerima takdir bahwa dirinya adalah pihak ketiga dalam hubungan lama suaminya.
Pemeran pengganti harus mundur saat perannya sudah tak di butuhkan lagi. Sakit. Sungguh, rasanya Naina tak ingin mengingatkan masa-masa itu. Naina bahkan ingin mengubur kenangan bersama Ryan. Karenanya Naina menjadi bodoh dan di butakan oleh cinta.
"Bu, Nay ingin ketemu Ayah. Nay ingin bersama Ayah." Rengekan Nayla membuat Naina semakin sakit.
Naina mencoba menahan emosinya agar tak meluap pada putrinya. Namun rengekan itu semakin menjadi, membuat Naina berteriak dan membuat Nayla menangis.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu bersalah, maafkan Ibu." Naina memeluk putrinya dengan tangis di keduanya.
"Nay benci Ibu. Nay ingin sama Ayah." Teriak bocah berumur 3 tahun 5 bulan itu.
"Gak sayang, jangan bersama Ayah. Nay tetap bersama Ibu. Maafkan Ibu. Ibu khilaf." Pelukan itu semakin erat.
"Ibu tidak bisa hidup bila tak ada Nay. Jika Nay bersama Ayah, dunia Ibu hancur."
Meski Nayla tak mengerti ucapan Ibunya, lambat laun hatinya melemah dan tantrumnya perlahan melunak.
Nayla menatap Ibunya, ada pertanyaan yang tak bisa ia ungkapkan. Yang jelas Nayla tak ingin Ibunya menangis. Nayla mengusap air mata Ibunya dan mencium kening Ibunya.
"Janji jangan tinggalkan Ibu, ya?" Lirih Naina dan Nayla hanya mengangguk meski tak paham.
Naina memeluk putrinya kembali. Hari itu berlalu begitu saja. Malam pun datang dan dinginnya menusuk tulang.
Naina memberikan selimut untuk putrinya. Menatap Nayla yang tertidur dengan mengigau memanggil Ayahnya. Naina merasa bersalah memisahkan anak dan Ayahnya. Tapi jika ia bertahan, batinnya akan tersiksa. Naina tak bisa menjamin dirinya akan tetap waras.
Naina juga ingin bahagia, ia hanya ingin di cintai tanpa ada halangan apapun. Naina lelah jika hidupnya terus menderita. Ia tak ingin anaknya juga merasakan hal yang sama, yang pernah ia alami.
Hidup tanpa Ayah memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi bila mengetahui Ayahnya tak pernah mencintai Ibunya. Sesuatu hal yang akan mematahkan hati seorang anak perempuan bila tahu Ayahnya mendua. Biarlah Naina yang di salahkan nantinya karena egois, dari pada mengetahui cinta pertama anaknya adalah seorang bajingan yang tak bisa menghargai Ibunya.