Cerita ini adalah lanjutan dari novel ~MIRA~
_____
Enam tahun telah berlalu di mana kejadian aksi bunuh diri Mira belum bisa dilupakan oleh Raka Alendra. Pria muda tampan yang memiliki kelebihan dapat mendengar isi pikiran orang lain.
Dengan kemampuannya itu ia dapat membangun perusahaan terbesar serta perusahaan lainnya. Seorang Presdir termuda di Perusahaan Welfin di kota Byusan. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Sovia indriani, wanita yang baru tiba dari luar negri sekaligus seorang single mom yang memiliki rupa yang sama dengan Mira dan memiliki seoarang Putra yang bernama Deva. Sovia bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Welfin.
Tiba-tiba saja seorang wanita lain hadir dan memiliki wajah yang juga mirip dengan Mira. Wanita itu mencoba untuk mengambil perhatiaan Raka. Namun karena gadis kecil yang bernama Dean, Putri kecil dari Raka mencoba untuk menyingkirkan wanita tersebut, karena tak ingin Ayahnya terjebak akan rencana jahatnya.
Begitupun dengan bocah yang bernama Deva, ia mencoba membantu Dean untuk mempersatukan Ibunya dengan Ayah Dean. Dan ternyata kedua bocah itu adalah saudara kembar yang artinya Sovia dan Raka adalah orangtua kandung mereka.
Lalu bagaimana semua itu terungkap?
Yuk kita baca sampai selesai:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pulang Ke Rumah
Terlihat mobil melaju menuju ke arah rumah Sovia, mereka berdua terdiam membisu tak ada satu kata pun terucap di dalam mobil. Sovia yang masih sibuk dengan pikirannya, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Willy.
"Willy, kenapa Presdir begitu perhatian padaku sampai harus menyuruhmu mengantarku segala?" tanya Sovia mulai berbicara duluan karena masih penasaran apa yang menjadikan Presdirnya terlibat dengannya.
Willy yang mendengarnya tersenyum kecil, ternyata wanita di belakang-nya akhirnya penasaran dengan tingkah Presdirnya.
"Maaf jika saya lancang, tetapi benarkah anda ingin tau hal ini?" tanya Willy ingin memastikan agar Sovia tak akan salah paham.
Dilihat dari wajah Sovia memang ia sudah ingin tau dari kemarin mengapa ia bisa terjebak dengan Raka.
"Katakanlah, aku akan mendengarnya dengan senang hati." ucap Sovia.
"Nona Sovia, aku ingin bertanya terlebih dahulu bisakah anda menjawabnya?"
Sovia mengangkat satu alisnya, penasaran apa yang ingin Willy tanyakan.
"Tentu jika itu mudah bagiku maka aku akan menjawabnya." jawab Sovia dengan tenang.
"Jika seseorang yang sudah lama menghilang enam tahun yang lalu dan sekarang bertemu seseorang yang mirip dengannya, bisakah anda mengenalinya?" tanya Willy membuat Sovia berpikir lama untuk menjawabnya.
"Tergantung dengan penampilannya, jika ia memiliki kesamaan rupa maupun watak mungkin bisa mengenalinya dengan jelas." jawab Sovia sedikit ragu.
"Mengapa anda tanyakan hal seperti ini, menurutku ini tak ada kaitannya denganku." lanjut Sovia bertanya merasa heran.
"Tentu saja berkaitan Nona." jawab Willy membuat Sovia sontak terkejut.
"Ha? Kok bisa begitu?" tanya Sovia lagi.
"Yaitu karena Nona memiliki wajah yang mirip dengan kekasih Presdir yang sudah hilang selama enam tahun lebih yang lalu." jawab Willy menjelaskan dan itu membuat Sovia semakin terkejut.
"Mirip? Maksud anda saya bisa saja gadis enam tahun yang lalu?" Sovia bertanya keheranan.
"Tapi aku belum pernah bertemu dengan Presdir sebelumnya, dan aku pertama kali bertemu dengannya di hari pertamaku bekerja. Aku rasa kekasihnya cuma kebetulan saja mirip denganku." lanjut Sovia pasti. Willy cuma mangut-mangut, ia beranggapan jika perkataan Sovia ada benarnya juga.
"Kami memang belum memastikannya dengan benar, tapi bisakah Nona memberitahuku bagaimana pendapat Nona tentang Potret ini." ucap Willy lalu menyerahkan berkas berisi gambar yang sama yang ia berikan pada Raka.
Tatapan Sovia seketika langsung tertuju pada beberapa gambar di mana seorang wanita yang mirip dengannya sedang berdiri sendirian serta terlihat lebih cantik darinya. Rasa kaget serta bingung bercampur di benak Sovia.
"Apakah itu anda, Nona Sovia?" tanya Willy.
"Ini bukan diriku aku tak pernah sama sekali datang ke tempat ini bahkan tak tau tempat ini sama sekali,"
"Aku rasa wanita ini memang bukanlah aku, aku sama sekali belum pernah datang kemari." Sovia memberikan berkas itu kembali ke Willy.
"Anda yakin?"
"Tentu saja, lagian siapa nama gadis yang anda maksud tadi?" Sovia semakin penasaran. Ingatannya memang tak seutuhnya ia ingat karena ia mengalami amnesia, tetapi ia yakin tak pernah bertemu dengan Raka.
"Ia Mira Arelia, gadis enam tahun yang lalu terjatuh ke sungai, entah kenapa Presdir Raka masih memikirkan kejadian itu, ia bersikeras jika Nona Mira masih hidup dan hingga sekarang masih mencari keberadaannya." jelas Willy.
"Terjatuh? Mengapa bisa begitu, apa mungkin ia melakukan ...."
"Benar yang anda pikirkan, Mira menjatuhkan dirinya di jembatan gantung besar di kota ini." Sovia langsung menutup mulutnya terkejut mendengar dari ucapan Asisten Willy.
"Nona, apa anda memiliki ingatan itu?" Willy bertanya sekali lagi.
"Tidak sama sekali, dan tampaknya kita sudah sampai di rumahku, mohon asisten Willy menghentikan mobil."
"Baiklah, mohon maafkan saya yang telah membuat anda tak nyaman dalam perjalanan ini." Willy menghentikan mobil tepat di depan rumah Sovia, ia segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu untu Sovia.
"Silahkan Nona."
Sovia merasa malu dan segera tersenyum pada Willy.
"Terima kasih anda sudah mengantarkan saya, saya permisi dulu." ucap Sovia membuat Willy terdiam melihat Sovia tersenyum padanya lalu ia segera mengalihkan pandangannya.
"Ini telah menjadi kewajiban saya untuk mematuhi setiap perintah Tuan Muda." ucap Willy lalu kembali memasuki mobil. Sovia kemudian berbalik berjalan menuju pintu rumahnya.
"Masih diragukan jika Nona Sovia adalah Mira, namun jika benar Sovia bukanlah Mira, terus siapa wanita di gambar ini? Hm, lebih baik aku memberitahu Tuan Raka terlebih dahulu." gumam Willy menatap gambar di tangannya.
"Lalu siapa wanita ini, mungkinkah Mira?" lanjut Willy beranggapan jika Mira adalah Wanita yang ada di dalam potret itu.
Willy pun menancakan gas menuju ke kediaman keluarga Welfin.
____
...Krek!...
Suara pintu terdengar dibuka, Vani bersama Deva yang lagi asik menonton TV di sore ini, malah dikejutkan dengan kepulangan Sovia yang lebih cepat dari sebelumnya.
"Tumben kamu cepat pulang, udah selesai?" tanya Vani sambil memakan kripik di tangannya.
"Hari ini disuruh pulang jadi aku nurut saja."
"Wow ... baik sekali bos mu itu."
"Entahlah Van, aku ke kamar dulu mau ganti pakaian, sekalian juga mau menemani Putraku ini bermain, sudah lama aku tak menemaninya."
Sovia tersenyum sambil membelai kepala Deva lalu ia kemudian berjalan menuju ke kamarnya, Vani hanya mengangguk mengerti. Di dalam kepala Sovia, ia masih saja memikirkan tentang gadis yang bernama Mira. Deva yang melihatnya langsung menghalangi Ibunya yang mau masuk ke dalam kamar.
"Mamiii! Malam ini Deva mau makan masakan Mami, buatkan Deva Sup Ayam ya. Pleasss ...." Mohon Deva merayu Ibunya dengan wajah imutnya membuat Sovia merasa geli.
"Haha, baiklah sayang. Mami ke kamar dulu ya." Sovia tersenyum sambil mengacak-acak pelan rambut putranya itu.
"Mami sudah pulang lalu dimana si hantu idiot ini berada, mungkinkah ia sudah minggat dari rumah ini. Aaaa! kenapa aku malah memikirkannya."
Deva berjalan kembali ke sofa duduk menonton kembali kartun kesukaannya.
Sovia di kamar masih saja memikirkan tentang Mira. Ia memijit kepalanya terasa pusing juga memikirkan terus menerus gadis ini.
"Siapa sebenarnya wanita di gambar tadi, sungguh memiliki wajah yang sama denganku, tapi aku tak pernah bertemu Presdir sebelumnya, apa mungkin di dunia ini kita memiliki kembar yang tak sedarah."
"Tunggu dulu, jadi ... dari hari pertama bekerja, Tuan Raka sudah mengawasi ku?" pikir Sovia.
"Aaaa ... kepalaku sakit sekali, lebih baik keluar membuatkan Sup untuk Putraku saja."
Sovia segera mengganti pakaiannya lalu keluar menyiapkan masakan nanti malam.
Deva yang dari tadi tak konsen menonton dikarenakan di dalam otaknya masih saja memikirkan Dean yang memiliki kesamaan terhadap dirinya. Ia ingin menanyakannya langsung pada Ibunya, namun harus mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya.
"Apa mungkin aku punya saudara kembar?" itulah yang selalu terlintas di benaknya. Ia memikirkan Dean yang juga mirip dengannya.
...____...
...Wah, siapa wanita yang ada dipotret?...
...Halo Readers...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
...Dan...
...Vote...
...Terima kasih...
Maaf aku blm bca season 1 soalnya . Mau bca tp males ah..kpngen lgsug bca yg ini aja🤭