Lima belas tahun yang lalu, Maria adalah sosok yang ceria tidak peduli bagaimana asal - usulnya. Namun semenjak dirinya menyatakan cinta pada Yudha dan ditolak, ia jadi memahami mengapa Bibit, Bebet, dan Bobot menjadi standar ditolak dan diterima, dipilih dan dipinang.
Apalagi ketika ia harus terusir dari rumah karena sertifikatnya telah digadai sang ayah. Sedangkan sang ayah sendiri tewas menjadi bulan - bulanan massa setelah tertangkap basah tengah mencopet.
Yudha seorang pria tamvan, mavan, dan rupawan. Karirnya begitu cemerlang. Namun takdir seolah menjungkir balikkan hidupnya ketika sang istri meninggal saat melahirkan buah hati kedua mereka.
Karena harus menitipkan sang bayi di rumah sang ibu, ia kembali bertemu Maria dalam kondisi saling membutuhkan.
"jadilah baby sitter untuk anakku, aku akan menanggung semua kebutuhanmu."
"Hey, kamu nggak takut mempercayakan anakmu padaku. Nanti kalau anak mu rewel kemudian aku bunuh, gimana."
Yudha tersadar, kesalahannya di masa lalu telah membuat Maria tidak lagi sama seperti yang dulu.
Namun Ketika Cinta Telah Bicara, akankah menyatukan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Maria menemani Safira berbelanja. Tidak lupa sahabatnya itu membeli beberapa bungkus rokok kesukaan mbah D sebagai uba rampe. Itu berarti, dalam waktu dekat ini Safira akan kembali mengunjungi Simbah kepercayaannya.
"Kalau kamu masih ragu dengan abangku, kan ada aku yang bisa kamu jadikan jaminannya!" tegur Maria dengan sedih. Kenapa juga sahabatnya masih bergantung pada mbah D, sedangkan beliaunya sendiri selalu mengingatkan Safira untuk selalu percaya hanya kepada Allah.
"Biar lebih mantap aja, Mar," jawab Safira sambil menyimpan nota pembelian rokok dari pramuniaga. Trauma disakiti dan diguna - guna laki - laki telah membuat Safira kini menjadi lebih mawas diri.
"Kalau begitu aku sekalian mau curhat mbah D, ah!" ucap Maria sambil mengambil sebotol kemasan air mineral berukuran 1600ml, saat keduanya melewati rak minuman kemasan.
"Lah, tumben?" Safira menatap calon adik iparnya penuh keheranan.
"Ini untuk antisipasi saja. Aku mau minta dibantu supaya Yudha tidak menggangguku."
Ucapan Maria membuat kening Safira bertaut. "Yudha? Dia mengganggu kamu?"
"Hu' um," jawab Maria sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menceritakan kejadian tidak terduga antara dirinya dengan Yudha minus adegan kissingnya. Untuk yang satu itu, Maria belum siap membuka aib.
"Lha, bukannya kamu mau ikut sama mas Rio?" selidik Safira yang terkejut mendapati kabar jika Maria telah lebih dulu di keep oleh keluarganya Yudha.
"Ya itu makanya... Sebagai makhluk sosial, aku tidak tega melihat bu Asri yang sedang sakit itu kerepotan mengurus kedua cucunya. Tapi aku juga memerlukan benteng pertahanan yang kuat supaya tidak mudah baper menghadapi pasukan khususnya Yudha."
Safira tertawa geli saat mendengar curhatan Maria. Begitulah penderitaan yang dialami oleh para wanita single di usia menjelang expired.
"Lagian kamu tahu tidak sih, si Yudha cilik itu gemesin banget...!" Maria mengakui apa yang ia rasakan pada duplikatnya Yudha yang tak kalah mempesona dari bapaknya. Sial, syndrom wanita kebelet nikah sudah mulai menyerang jiwa dan raganya.
Safira menatap Maria. "Ternyata kamu juga sama - sama dibutakan oleh cinta ya, Mar! Sebelas duabelas deh kita."
********
Jadilah malam itu selepas Maghrib. Maria dan Safira segera meluncur ke rumah kediaman mbah D, setelah sebelumnya Safira mengirim pesan jika dirinya hendak berkonsultasi.
Rumah mbah D terlihat sepi. Sepertinya mbah D sedang tidak ada pasien. Mungkin nanti malam kliennya baru berdatangan. Safira segera mengemukakan uneg - unegnya.
Maria dengan tekun ikut menyimak hasil penerawangan mbah D mengenai abangnya. Maklum, ia juga baru saja mengenal pria itu. Maria sampai menahan nafasnya karena khawatir saat mengetahui jati diri sang kakak yang sebenarnya. Ia juga ingin mengetahui apa ada yang disembunyikan dibalik sikapnya yang penuh perhatian.
Setelah membaca doa, mbah D mengusap wajahnya lalu menatap Safira. "*Alhamdulillah, Nduk. Mase iki wong apik. Tanggung jawab lan gemati. InsyaAllah mase iso melindungi lan mbimbing awakmu dadi luwih apik*." (Alhamdulillah, Nak. Masnya ini orang baik. Bertanggung jawab dan penyayang. InsyaAllah dia bisa melindungi dan membimbingmu menjadi lebih baik)
Maria menghembuskan nafasnya lega sambil mengamini. Ah iya. Tanpa harus melalui terawanganpun, seharusnya Maria bisa meyakinkan Safira jika abangnya itu memang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Buktinya Mario benar - benar menjalankan amanah sang ibu untuk menemukan keberadaannya. Tapi semenjak rajin mengawal Safira ke rumah mbah D, ia jadi tergelitik merasa penasaran juga.
Setelah Safira mengucapkan terima kasih kepada mbah D, Maria menyodorkan botol air mineralnya dengan wajah malu - malu. Selama ini Maria berusaha untuk meresapi nasihat mbah D, jika Tuhan akan memberi cobaan sesuai kemampuan umatnya, dan Tuhan akan memberikan ganjaran atas kesabaran manusia. Nyatanya memang benar begitu bukan? Buktinya setelah hampir tiga puluh tahun ia hidup sengsara, Tuhan mempertemukannya dengan sang kakak. Tapi untuk kali ini keadaannya memang gawat darurat.
Mbah D nampak menautkan alisnya. "Kowe arep njaluk tulung opo, Nduk?" (Kamu mau minta tolong apa, Nak)
Maria semakin menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Bagaimana ya mengatakan maksudnya? Safira yang menyaksikan kebimbangan Calon adiknya pun mencoba membantunya menjadi juru bicara. "Ini loh, Mbah. Maria mau minta tolong dijauhkan dari mantan cinta pertamanya."
Mbah D menatap Maria dengan wajah terheran - heran. Selama ini klien yang datang berkunjung selalu meminta tolong untuk didekatkan dengan pujaan hati mereka, namun klien yang satu ini justru kebalikannya.
Maria mencubit Safira yang sudah membuka aibnya. Malu lah, Sista...
"Iya, Mbah," jujur Maria akhirnya. Kenapa juga harus berbohong. Dengan kemampuan mbah D, beliau pasti mampu nenembus isi hati Maria yang paling dalam.
Mbah D meraih botol air mineral dan mulai memejamkan mata sambil berdoa. Maria jadi berharap - harap cemas.
Selesai membaca doa, mbah D menatap Maria tajam. "Kowe yakin ora gelem karo mase iki? Ganteng, dudo anak loro, penggaweanne yo mapan?" (kamu yakin tidak mau dengan mas yang ini? Ganteng, duda anak dua, pekerjaannya juga mapan)
Maria hanya menggeleng - gelengkan kepala sambil kembali menunduk. Jangan sampai mbah D menyelami hatinya lebih dalam lagi. Pokoknya ia hanya ingin dirinya tidak mudah baper selama menjalankan perannya sebagai baby sitter nanti.
"Tenan iki? Mengko ora getun?" (Benar ini? Nanti tidak menyesal)
"Saya yakin sekali, Mbah."
Mbah D tampak tersenyum sebelum akhirnya menyerahkan botol tersebut beserta doa apa saja yang harus Maria baca sebelum meminum airnya nanti.
*********
Mario tiba di rumah kontrakan dan melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah. Siapakah gerangan tamu yang datang?
"Bagaimana, Ria? Kamu mau kan menjadi baby sitter nya anak - anak?" tanya seorang lelaki yang sempat ditangkap oleh indra pendengarannya.
Mario bergegas masuk ke dalam rumah dan mendapati pria yang sudah dua kali merecoki adiknya kembali datang. Ingin sekali Mario melayangkan bogemannya kepada pria itu. Tidak peduli apakah Maria masih cinta atau tidak. Naluri melindungi sang adik bergejolak di hatinya.
"Abang sudah datang. Kok cepat sekali?" sapaan itu membuat Yudha menoleh dan melihat Mario berdiri dengan wajah marah.
Mario melirik Maria, kemudian pandangannya tertuju pada seorang gadis kecil yang sedang menggelendot manja pada sang adik.
Maria mendesah lega. Untung abangnya segera muncul. Tahu saja adiknya sedang bingung menolak duet maut rayuan bapak dan anak untuk tinggal di rumah mereka.
"Kamu mau apa lagi datang ke sini?" tanya Mario tegas.
"Aku ingin membawa Maria dari tempat ini!" jawab Yudha dengan nada menantang. Mario tersenyum miring. Percaya diri sekali lelaki itu. Seandainya tidak ada anak kecil, pasti Mario sudah mengajaknya bergulat.
"Aku yang lebih berhak membawa Maria ketimbang kamu!" Mario meremehkan Yudha.
"Setidaknya Maria lebih memiliki martabat jika tinggal bersamaku daripada tinggal bersamamu!" gantian Yudha menantang Mario.
"Pede sekali kau. Memangnya kamu melihatku dan Maria sebagai apa?" tanya Mario sambil tersenyum sinis.
"Setidaknya semua akan lebih menghargai Maria sebagai baby sitter puteraku daripada Maria tinggal bersama lelaki tak dikenal sepertimu!" Yudha merasa seperti berada di atas angin ketika menunjukkan status mereka berdua di masyarakat.
Mario tersenyum meremehkan. Kemudian tatapannya tertuju pada Maria. "Memangnya kamu lebih memilih menjadi baby sitter atau tinggal bersama abangmu ini, Dek?"
Pertanyaan Mario membuat Yudha terperangah. Abang? Sejak kapan Maria punya kakak laki - laki? Pria itu pasti hanya mengaku - ngaku. Setahu Yudha, Maria itu hanyalah anak tunggal.
"Kamu pasti bercanda kan? karena mengaku - ngaku sebagai kakaknya Maria," tanya Yudha meremehkan.
Mario tersenyum miring lalu tangannya mengambil sebuah amplop dari dalam tas. Kemudian ia mengulurkan amplop tersebut pada Yudha sambil mengkode pria itu dengan menaikkan kedua alisnya.
Yudha menatap Mario, tangannya ikut terulur untuk menerima amplop tersebut. Dengan malas ia membuka dan membaca kertas dalam amplop. Beberapa saat kemudian matatanya terbelalak dengan lebar.
Mario adalah sebuah ancaman.
Tbc