Dikhianati tunangan dan kakak kandung, bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AgviRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Dina saat ini berada di dalam sebuah taxi. Menggerutu tidak jelas. Sampai supir taxi bertanya saja dia tak menyadarinya.
"Non, Nona." Teriak sopir itu, karena sedari tadi memanggil-manggil Dina tak ada jawaban darinya.
"Apa sih?" Jawab Dina.
"Nona ini mau kemana? Sedari tadi saya memanggil Nona tapi, Nona tak merespon apalagi menjawab." Jelas sopir taxi.
"Kamu itu berisik sekali sih, aku ini lagi pusing, ngertiin dikit napa?" Jawab Dina sewot.
Tak banyak babibu sopir langsung meminggirkan dan menghentikan mobilnya.
"Loh, kok malah berhenti disini, kamu itu gimana sih?" Ucap Dina heran.
"Sebaiknya nona keluar dari mobil saya. Saya lebih memilih tak mendapat penumpang daripada dapat penumpang seperti Anda. Cepat turun." Ucap sopir yang mengusir Dina dari mobilnya.
"Belagu amat sih, sopir aja songong." Ucap Dinaa memaki supir taxi.
Alhasil Dina keluar dari mobil.
Setelah Dina turun, taxi tersebut langsung meninggalkan Dina sendirian dipinggir jalan.
"Sial, dasar supir belagu. Aku sumpahin gak dapet penumpang sampai besok." Ucap Dina kesal.
Dina melihat ke kanan dan kiri. Dina mencari tempat teduh karena cuaca yang panas. Akhirnya Dina menemukan pohon rindang dan terlihat teduh.
"Sebaiknya aku disini, kalau di sana terus bisa gosong kulitku ini." Ucapnya.
Dina menunggu taxi yang lewat tapi lama sudah dia menunggu tak ada taxi yang lewat. Akhirnya dia mencoba membuka aplikasi online. Dina memesan taxi online. Tak lama ada sebuah mobil berhenti di depan Dina berdiri.
"Dengan mbak Dina?"
"Iya bener."
"Silahkan masuk." Sopir menyuruh Dina masuk.
Dina memasukkan kopernya ke dalam mobil dan dirinya juga masuk.
"Mau kemana mbak?" Tanya sopir.
"Mas, punya info kontrakan gak?" Jawab Dina menanyakan info kontrakan.
"Mbaknya mau nyari kontrakan? Aku ada kenalan kalau mbaknya mau."
"Antar aja dulu kesana. Asal jangan yang jauh-jauh dari jalanan ya."
"Siap"
Mobil melaju dengan santai.
Setelah 15 menit. Mobil berhenti di sebuah rumah.
"Mbak, disebelah sana kontrakannya, mbaknya saya anter buat menemui teman saya kalau nanti cocok bisa mbak ambil."
Lalu sopir dan Dina menemui si pemilik kontrakan. Dina diajak survei kontrakannya. Sebulannya Dina perlu mengeluarkan uang 2 JT. Dina setuju dan mengambil kontrakan itu.
Setelah deal, si pemilik memberikan kunci kontrakan tersebut. Lalu pemilik dan sopir pergi meninggalkan Dina.
Dina yang sudah mendapat kontrakan langsung masuk ke dalam.
"Hah, lumayan deh, daripada gak dapat sama sekali. Aku perlu mencari kerja, terus nanti kalau udah kerja aku pindah dari sini. Kalau aku pulang malas dapat ceramah dari bapak." Ucap Dina.
Lalu Dina merebahkan tubuhnya di kasur. Kontrakan itu terbilang murah. Hanya saja tak ada dapur. Buat Dina itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, karena Dina sendiri tak pernah menyentuh barang dapur. Dia kalau makan selalu jajan di luar.
*****
Di dalam kamar hotel, di saat Ayu sedang mandi. David menuju balkon kamar hotel lalu dengan cekatan menata sebuah meja dan kursi lengkap dengan hiasan yang sudah dia persiapkan sebelumnya. David juga sudah memesan makanan untuk acara dinner nanti. David akan membuat kejutan untuk istrinya. Setelah selesai menata semuanya dan makanan datang tepat pada waktunya. David langsung menutup balkon dengan gorden agar Ayu tak menyadarinya.
Benar saja, tak lama Ayu selesai dengan acara mandinya. Ayu juga sudah menggunakan sebuah dress. Ayu pikir dirinya akan diajak keluar oleh David, jadi dia tak merasa curiga kenapa dia perlu berdandan.
"Sayang, aku ada kejutan untukmu."
"Kejutan apa, Mas?"
David lalu mengajak Ayu menuju balkon.
Ayu melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tak percaya suaminya bisa membuat tempat itu menjadi begitu indah. Begitu romantis.
"Sayang, duduklah." Ucap David yang menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Terima kasih, Mas." Ucap Ayu dan Ia menundukkan dirinya.
Lalu David juga ikut duduk. Lalu David mengambil sesuatu dari balik jasnya.
Sebuah kotak berwarna merah David berikan kepada Ayu.
"Apa ini, Mas?" Tanya Ayu penasaran.
"Bukalah."
Ayu pun membuka kotak tersebut. Betapa terkejutnya Ayu saat ini.
"Mas, i-ini." Ucap Ayu tak percaya.
"Ya, kalung ini untukmu sayang. Mas pakaikan ya?" Ucap David menawarkan diri.
Ayy mengangguk, lalu David mengambil kalung berlian itu dan memakaikannya ke leher Ayu. Setelah selesai, David kembali duduk. Ayu menyentuh kalung tersebut.
"Indah sekali, Mas. Pasti mahal."
"Buat wanita yang kucintai, tak penting itu barang mahal atau tidak."
"Terima kasih ya, Mas."
"Sama-sama sayang, kalau begitu ayo kita makan malam dulu, aku tahu pasti istri mungilku ini sudah lapar sedari tadi, iya kan?" Ucap David mengajak makan malam, David sudah mulai hafal dengan kebiasaan Ayu.
"Ah, Mas tau aja sih. Ya udah yuk."
Mereka berdua menikmati makan malam romantis.
Singkat waktu mereka sudah selesai makan malam. David mengajak Ayu masuk ke dalam. Tapi, tak sengaja Ayu tersandung kakinya sendiri. Dengan sigap David menolong istrinya menopang tubuhnya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya David memastikan.
"Tidak apa-apa, Mas. Terima kasih. Aku ceroboh." Jawab Ayu.
"Lain kali hati-hati sayang, disini hanya ada aku, tak perlu salting begitu." Ledek David.
Lalu dengan cepat Ayu mencubit perut David.
"Aduh, ini udah liburan jauh kenapa kepiting ikuta terus sih?" David mengaduh kesakitan.
Lalu Ayy tertawa. David yang menjadi gemas dengan istrinya langsung meraup bibir mungil milik istrinya. Ayu yang sudah mulai terbiasa membalas cium*n David. Mereka saling mem*gut.
Dan yah mereka berakhir melakukan olah raga malam pastinya.
*****
Hani sedang menikmati makan malamnya. Hani merasa senang juga merasa sedih. Senang karena Dina sudah tak tinggal lagi di rumahnya, sedih karena hanya sendiri saja menikmati makan malam. Tapi, Hani berdo'a agar nanti setelah David dan Ayukembali, akan ada kabar yang membuatnya bahagia.
Selama David berada di luar negeri, Jonathan lah yang menangani perusahaan. Jadi, David maupun Hani tak perlu pusing memikirkan perusahaan yang akan lama David tinggal. Lagian sebelum David kembali yang mengurus juga Jonathan sendirian bukan?
Hani menyudahi makan malamnya, lalu dia menuju ke kamar. Hani ingin menonton acara televisi kesayangannya.
"Hhahh,, untung tadi aku udah berhasil mengusir Dina. Wanita bebal seperti dia mana ada yang mau lama-lama menampungnya. Apalagi dia aneh begitu. Amit-amit deh. Apa kedua orang tuanya tahu ya soal kelakuannya yang suka menyenangkan hasratnya sendiri begitu? Tapi, pantas sih kalau pernikahannya juga tak lama. Suaminya pasti juga gak tahan dengan kelakuan Dina. Serem banget. Udah ah, lebih baik aku nonton aja." Gumam Hani.
Hani lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya lalu mengambil remote yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.