Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.
Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.
Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.
Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.
(REVISI BERTAHAP)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Hamil?
Amanda hanya bisa menatap pasrah kepergian putrinya yang bersikeras membawa mobil sendiri menuju rumah sakit, meski tubuhnya sedang tidak sehat. Sejak beberapa hari terakhir kondisi Zenaya cukup memperihatinkan. Nafsu makan sang putri turun drastis dan tubuhnya kian kurus. Zenaya juga sering memuntahkan kembali makanannya.
Amanda tentu saja mencurigai sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar sakit biasa. Bayangan gelap itu menghantuinya tanpa henti.
“Ya Tuhan, bagaimana jika yang aku takutkan benar terjadi?” bisiknya lirih, penuh ketakutan.
...***...
Setibanya di rumah sakit, Zenaya dengan ramah memberikan beberapa paket makanan cepat saji yang ia beli di nurse station. Wanita itu tampak lebih bersemangat meski kondisinya sedang tidak terlalu bagus.
Melihat kedatangan Zenaya, para staf dan perawat-perawat di lantai lima sontak berbondong-bondong menghampirinya dan memeluk erat.
"Kami rindu, Bu. Kapan Ibu kembali bekerja? Hari ini 'kah?" tanya Celeste.
Liam sengaja memberikan cuti tahunan yang tak pernah Zenaya ambil, agar ketidakhadirannya selama beberapa bulan ini tidak dicurigai.
"Belum, aku hanya ingin main ke sini. Sebentar lagi cutiku habis," jawab Zenaya ramah. Mereka pun berbincang sejenak sembari menikmati kudapan yang dibeli wanita itu sampai akhirnya David muncul di sana.
Pria itu meminta izin pada mereka untuk membawa Zenaya pergi sebentar.
"Jangan lupa dibalikin ya, Mr!" teriak Jane, ketika David dan Zenaya meninggalkan kerumunan tersebut.
"Siap!" David menjawab teriakan Jane sembari memberi isyarat berupa acungan jempol.
“Kupikir gosip soal kamu datang ke sini itu bohong,” ucap David sambil berjalan di samping Zenaya.
Zenaya tersenyum samar. “Aku lagi kangen suasana rumah sakit.”
David mengangguk. “Kata Grace, kamu sedang sibuk mengurus Winston Care Hospital?” Pria itu menelisik wajah Zenaya saat mereka turun ke lobi.
Mendengar hal tersebut, Zenaya mengatupkan bibirnya sesaat, sebelum kemudian kembali tersenyum. "Ya. Kemungkinan tahun depan tempat itu sudah bisa dibuka sepenuhnya."
Raut wajahnya sekilas sendu. Meski terasa pilu, Zenaya tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada David.
David kembali menganggukkan kepalanya. "Aku tidak sabar untuk segera bergabung di sana." Pria baik hati itu memang berencana ikut andil dengan melakukan fisioterapi gratis di rumah sakit tersebut.
Walau Winston Care Hospital tidak sebesar rumah sakit utama, tetapi Zenaya dan keluarga berusaha sebaik mungkin untuk memberikan fasilitas terbaik seperti yang ada di tempat ini.
"Kamu sendiri tampaknya semakin sibuk?" tanya Zenaya. Keduanya kini tengah duduk di salah satu cafe rumah sakit yang berada di lobi.
"Sama seperti hari lainnya, sih. Hanya saja hari ini aku akan lembur karena besok ada seminar di kampus. Aku sama sekali belum menyiapkan apapun." David mengembuskan napasnya.
"Semangat Mr. David, kesayangan para perawat muda." Wanita itu menepuk ringan punggung tangan David sembari memamerkan gigi-gigi putihnya.
Mendengar hal itu, David kontan mendengkus. Pria tampan dan ramah itu memang menjadi idola para perawat muda, terlebih di bangsal VIP ke atas.
Obrolan ringan pun mengalir dari keduanya selama beberapa saat, sampai pria itu menyadari wajah Zenaya yang kini semakin pucat. Beberapa kali ia juga menangkap gelagat Zenaya yang sering mengambil napas panjang.
"Wajahmu pucat sekali, Zen. Kamu sedang sakit?" tanya David khawatir sambil menelisik wajah Zenaya dengan saksama.
Zenaya tersenyum. "Aku memang sedang tidak enak badan dan kelelahan, tapi kondisiku baik-baik saja." Zenaya buru-buru menambahkan kalimat terakhir saat melihat raut wajah David berubah khawatir.
David tidak menghiraukan perkataan Zenaya. Pria itu malah mengambil tangan kanan wanita itu untuk memeriksa denyut nadinya.
"Napasmu terasa sesak ya?" tanya David kemudian.
Kali ini Zenaya tidak berkilah. David seorang tenaga medis, jadi percuma saja berbohong. "Iya, sedikit," jawabnya lemah.
"Sebaiknya kamu berbaring di UGD untuk diperiksa, Zen. Kupikir, ada yang salah dengan tubuhmu." David kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menyuruh Zenaya untuk ikut.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir," tolak Zenaya. "lebih baik aku langsung pulang saja." Wanita utu lalu berdiri dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi.
"Pakai apa? Jangan bilang kamu bawa mobil sendiri saat kemari?" David memicingkan matanya.
Zenaya lalu tertawa kecil. "Aku bisa sampai sini, itu artinya aku baik-baik saja."
"Zen, untuk saat ini singkirkan sifat keras kepalamu itu!" David memandang Zenaya serius. Wanita itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Pasti butuh kekuatan besar untuk sampai ke tempat ini.
"Aku tidak apa-apa, Dav. Sebaiknya kamu kembali ke ruangan, jam makan siang sudah selesai." Zenaya mengusir halus David. Ia sedang tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan pria itu.
"Tidak bisa begitu!" seru David. Pria itu terus memaksa Zenaya untuk pulang bersamanya.
Tak ingin menghabiskan waktu dengan perdebatan tak penting ini, Zenaya pun menyetujuinya. "Baik, aku akan pulang denganmu!" Ia terpaksa menerima tawaran David yang ingin mengantarnya pulang.
David tersenyum lega. "Ok, tunggu sebentar, biar kuambil kunci mobil dulu!" Tanpa menunggu tanggapan dari Zenaya, David segera pergi meninggalkannya.
Zenaya kali ini menurut. Ia memang menyadari kondisi tubuhnya yang kurang sehat selama beberapa hari terakhir ini. Maka dari itu, Zenaya memilih untuk keluar rumah sejenak agar bisa memulihkan diri.
Namun, bukannya membaik, dadanya malah semakin terasa sesak dan perutnya mual bukan main.
Perasaan itu terus dirasakan Zenaya hingga akhirnya, tubuh lemah tersebut tumbang di lantai cafe yang dingin.
Melihat Zenaya pingsan, kegaduhan pecah seketika. Beberapa orang pengunjung dan juga tenaga medis yang berada di dekat sana segera memberikan pertolongan.
...***...
Reagen dengan wajah panik mengemudikan mobilnya secepat mungkin setelah sang ayah yang tidak pernah sudi menemuinya, tiba-tiba memberitahukan kondisi Zenaya di rumah sakit.
Meski harus menerima satu lagi hantaman keras di pipinya, Reagen sama sekali tidak peduli. Satu-satunya yang ada di pikiran pria itu hanya Zenaya seorang.
Setibanya di rumah sakit, ia berlari ke lantai lima, bangsal VVIP. Nafasnya tampak memburu dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Di sana, ia menemukan keluarga Zenaya telah berkumpul. Ibunya, Jennia, juga berdiri tak jauh dari Zenaya. Smeentara wanita yang sejak tadi ia khawatirkan itu tengah duduk lemah di atas ranjang sembari memalingkan wajah ke arah lain, seakan enggan memperlihatkan kepedihan yang nyata.
Di sudut lain, Adryan tampak menatap Reagen dingin. Pria itu tengah berusaha menahan diri untuk tidak menghajar Reagen, ketika melihatnya berjalan perlahan mendekati sang adik.
Suasana tampak sunyi dan tegang, sebelum kemudian seorang perawat datang memasuki ruangan Zenaya.
"Maaf mengganggu waktunya sebentar," kata si perawat yang ternyata bermaksud meminta tanda tangan Adryan atau Liam selaku wali dari Zenaya. Akan tetapi, saat Adryan hendak mengambil dokumen, Reagen tiba-tiba menginterupsi.
"Biar saya yang tanda tangan," ucap Reagen.
Sang perawat mengalihkan pandangannya pada Reagen. "Maaf, Anda siapanya Ibu Zenaya?" tanya perawat tersebut.
"Saya suaminya," jawab Reagen tanpa pikir panjang. Matanya menyiratkan kesungguhan saat mengatakan hal tersebut.