Rahasia kelam membayangi hidup Kamala dan Reyna. Tanpa mereka sadari, masa lalu yang penuh konspirasi telah menuntun mereka pada kehidupan yang tak seharusnya mereka jalanin.
Saat kepingan kebenaran mulai terungkap, Kamala dan Reyna harus menghadapi kenyataan pahit yang melibatkan keluarga, kebencian, dan dendam masa lalu. Akankah mereka menemukan kembali tempat yang seharusnya? Atau justru terseret lebih dalam dalam pusaran takdir yang mengikat mereka?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, dendam, dan pencarian jati diri yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WikiPix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NARASI Episode 26
Kamala duduk di bangku taman dengan wajah penuh pertimbangan. Memikirkan perkataan Reyna yang meminta Affan untuk menjadi ayahnya.
"Om Affan… mau jadi ayahnya Reyna kan?"
Suara polos itu terus terngiang di telinganya, membuat dadanya terasa sesak. Kamala tahu betapa Reyna merindukan sosok seorang ayah, sesuatu yang tak pernah bisa ia berikan.
Affan memang selalu baik pada Reyna, memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, seolah anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Tapi Kamala tahu kenyataan tidak sesederhana itu.
Kamala menarik napas panjang. "Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pelan.
Di satu sisi, ia tidak ingin memberikan harapan palsu pada Reyna. Tapi di sisi lain, melihat anaknya begitu bahagia saat bersama Affan membuatnya mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah mungkin… Affan benar-benar bisa menjadi sosok ayah bagi Reyna? Dan apakah ia sanggup untuk menerimanya menjadi pendamping hidup?
Kamala tersentak ketika tangan mungil Reyna menarik lengan bajunya.
"Ibu, kenapa diam saja sih? Dari tadi aku panggil nggak jawab!" protes Reyna dengan wajah cemberut.
Kamala menoleh, menatap putrinya dengan ekspresi yang masih dipenuhi pertimbangan. Namun, saat ia mengingat apa yang baru saja dilakukan Reyna, rasa kesal kembali muncul di hatinya.
"Reyna, kamu tahu kan Ibu sudah melarangmu melakukan itu?" Nada suara Kamala sedikit meninggi, membuat Reyna terkejut.
"Tapi, Bu… Reyna cuma...."
"Kamu nggak boleh membantah! Ibu sudah bilang itu berbahaya!" potong Kamala, suaranya lebih tegas dari sebelumnya.
Mata Reyna mulai berkaca-kaca. "Ibu marah sama aku?" suaranya melemah, penuh rasa bersalah.
Kamala menghela napas panjang, menatap putrinya yang kini menunduk. Hatinya mencelos melihat air mata Reyna yang hampir jatuh.
Ia berlutut, menyamakan tinggi dengan putrinya, lalu meraih kedua bahunya dengan lembut. "Ibu nggak mau marah, sayang. Tapi kamu harus mengerti, Ibu melakukan ini karena Ibu sayang sama kamu."
Reyna menahan tangis, bibirnya bergetar. "Ibu jahat… Ibu marahi Reyna…" suaranya terdengar lirih, penuh kekecewaan.
Kamala merasakan dadanya mencengkeram perih. Ia tahu Reyna masih terlalu kecil untuk memahami maksud tegurannya, tapi bukan berarti ia bisa membiarkan putrinya terus bertindak tanpa berpikir.
"Ibu nggak jahat, sayang," ujar Kamala, suaranya lebih lembut kali ini. Ia mengusap pipi Reyna yang mulai basah oleh air mata. "Ibu marah karena Ibu takut terjadi sesuatu sama kamu. Ibu cuma ingin kamu aman."
Reyna mengangkat wajahnya, menatap Kamala dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Reyna nggak suka kalau Ibu marah…"
Kamala tersenyum kecil, lalu menarik putrinya ke dalam pelukannya. "Ibu juga nggak suka harus marah sama kamu. Tapi kalau itu bisa bikin kamu belajar mana yang benar dan salah, Ibu akan tetap melakukannya."
Reyna terdiam, lalu perlahan-lahan melingkarkan tangannya di pinggang Kamala. "Maaf, Bu…" bisiknya pelan.
Kamala mengecup puncak kepala putrinya. "Ibu juga minta maaf kalau sudah membentak kamu. Tapi lain kali, dengarkan Ibu, ya?"
Reyna mengangguk kecil dalam pelukan Kamala. Hati Kamala sedikit lega, tapi pikirannya masih berkecamuk.
Kamala mengusap air mata di pipi Reyna sebelum akhirnya berdiri. Ia meraih tangan kecil putrinya, menggenggamnya erat.
"Ayo kita pulang," ucapnya lembut.
Reyna mengangguk pelan. Meski matanya masih sedikit merah, ia tampak lebih tenang. Mereka berjalan meninggalkan taman, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang.
Namun, tiba-tiba...
Bruk!
Reyna menabrak seseorang. Tubuh mungilnya terdorong sedikit ke belakang, membuat Kamala refleks menahan bahunya.
"Reyna, kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Reyna menggeleng, lalu mengangkat wajahnya untuk melihat pria yang ia tabrak. Begitu juga Kamala.
Dan saat matanya bertemu dengan sosok pria itu, napasnya tercekat.
Lelaki itu tinggi, dengan rahang tegas dan mata tajam yang entah kenapa terasa familiar. Tapi yang paling membuat Kamala terpaku adalah bagaimana wajah pria itu… mirip dengan Reyna.
Jantungnya berdegup lebih cepat. itu langsung menatap Reyna dengan emosi, tanpa mengetahui kebenarannya bahwa dirinya mirip dengan Reyna.
"Punya mata nggak sih!"
Suara pria itu terdengar tajam, membuat Kamala spontan menarik Reyna ke belakang tubuhnya.
"Maaf, Reyna nggak sengaja," jawab Kamala cepat, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
Pria itu tidak langsung merespons. Matanya masih tertuju pada Reyna, seolah sedang mencerna sesuatu. Namun, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia akhirnya mengalihkan pandangan dan melangkah pergi.
Kamala hanya bisa terpaku di tempat, matanya masih mengikuti sosok pria itu yang semakin menjauh. Jantungnya berdebar kencang, perasaan aneh menggelayuti hatinya.
“Bu, Omnya pergi…” suara kecil Reyna menyadarkannya.
Kamala menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi pria itu sudah pergi begitu saja.
Siapa dia? Kenapa wajahnya begitu mirip dengan Reyna?
Dan yang lebih membuatnya gelisah… kenapa perasaannya begitu kacau setelah melihat pria itu?
"Sudahlah, malah mikirin kaya gini?" gumamnya sambil memperhatikan wajah Reyna.
Reyna menarik tangan Kamala, mengajaknya untuk kembali berjalan. Wajahnya tiba berubah dengan begitu cemberut, bibirnya sedikit mengerucut tanda kesal.
"Om itu galak ya, Bu? Marahin Reyna padahal Reyna nggak salah. Kan tadi Reyna sama Ibu udah jalan di pinggir, bukan di tengah," gerutunya dengan nada protes.
Kamala tersenyum tipis, menatap putrinya yang masih kesal.
"Iya, sayang. Mungkin Om itu lagi buru-buru atau ada masalah, makanya dia marah," ucap Kamala, mencoba menenangkan.
Tapi Reyna masih belum puas. Ia mengayun-ayunkan tangan Kamala dengan gemas, lalu berkata dengan tegas, "Om jahat! Reyna nggak suka!"
Kamala hanya tersenyum kecil, mengusap kepala putrinya. "Ya udah, jangan dipikirin, ya? Yang penting kamu nggak apa-apa."
Reyna mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih sedikit kesal. Mereka pun melanjutkan langkah menuju rumah.
Saat mereka hampir sampai di rumah, Reyna tiba-tiba menarik tangan Kamala, menghentikan langkahnya, saat melihat toko mainan yang hampir tutup.
"Ibu, Reyna mau boneka!" ujarnya dengan nada manja.
Kamala mengernyit, menatap putrinya dengan heran. "Tapi kemarin kan Om Affan sudah kasih kamu boneka baru?"
Reyna mengangguk cepat. "Iya, tapi Reyna mau yang lain. Yang kemarin itu kelinci, sekarang mau yang teddy bear!"
Kamala menghela napas, mencoba menahan senyum melihat tingkah putrinya. "Reyna, bonekamu kan sudah banyak. Kenapa harus beli lagi?"
Reyna merengut, lalu memeluk lengan Kamala. "Tapi, Bu… kemarin Reyna lihat di toko itu, bonekanya lucu banget! Pleaseee?"
Kamala mengusap kepala Reyna dengan lembut. "Sayang, besok aja ya. Tokonya mau tutup,"
Namun, mata Reyna tetap terpaku pada boneka yang dipajang di etalase toko. Tanpa berpikir panjang, ia tiba-tiba melepas genggaman tangan Kamala dan berlari menuju toko di seberang jalan.
"Reyna!" Kamala tersentak, matanya membelalak saat melihat putrinya berlari tanpa memperhatikan jalan.
Dari kejauhan, sebuah mobil melaju pelan, namun cukup dekat untuk membuat jantung Kamala mencelos.
"Reyna, berhenti!" teriaknya panik.
Reyna yang sudah hampir sampai di depan toko menoleh ke belakang, tetapi terlambat.
Klakson mobil berbunyi nyaring. Ban berdecit saat sopir mobil itu menginjak rem mendadak.
Reyna menutup mata, tubuhnya menegang ketakutan.
Brak!
Tidak ada suara benturan keras, tapi mobil itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari tubuh kecilnya.
Seorang wanita berlari cepat dari trotoar dan menarik tubuh Reyna ke dalam pelukannya, menjauhkannya dari bahaya.
Kamala hampir pingsan melihat kejadian itu. Dengan langkah gemetar, ia berlari menghampiri Reyna yang kini berada dalam dekapan wanita asing itu.
"Reyna!" Kamala menarik putrinya dengan cemas, memeriksa apakah ada luka di tubuhnya.
Reyna masih terkejut, matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. "Bu… Reyna takut…" bisiknya pelan.
Kamala mengelus kepala putrinya, masih merasa syok. "Ibu sudah bilang, jangan lari begitu!" suaranya sedikit bergetar, menahan campuran amarah dan ketakutan.
Baru setelah memastikan Reyna baik-baik saja, Kamala mengangkat wajahnya dan melihat wanita yang telah menolong putrinya.
Kamala menatap wanita itu dengan perasaan campur aduk. Wanita itu tampak anggun dan berwibawa, dengan mata tajam yang kini menatap Reyna penuh perhatian. Sejenak, Kamala merasa ada sesuatu yang familiar dari wanita itu, tetapi pikirannya masih terlalu kacau untuk memikirkannya lebih jauh.
"Anak ini milikmu?" tanya wanita itu dengan suara tegas, namun tetap mengandung kelembutan.
Kamala mengangguk cepat. "Iya. Terima kasih… sudah menyelamatkannya."
Wanita itu menghela napas, lalu berjongkok, menyamakan tinggi dengan Reyna. "Kamu harus lebih hati-hati, ya? Jangan sembarangan menyeberang jalan. Kamu tahu, tadi hampir celaka?"
Reyna masih terdiam, mungkin masih syok, tapi akhirnya ia mengangguk kecil. "Maaf, Tante…" suaranya lirih.
Wanita itu tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Reyna. "Lain kali, dengarkan ibumu, ya?"
Kamala merasa lega melihat Reyna masih dalam keadaan baik-baik saja. Namun, saat wanita itu berdiri kembali dan hendak melangkah pergi, Kamala tanpa sadar menghentikannya.
"Tunggu..."
Wanita itu menoleh, alisnya sedikit terangkat, menatap Kamala dengan sorot mata tajam yang sulit diartikan. "Ada apa?"
Namun, sebelum Kamala bisa menjawab, wanita itu justru mendahuluinya.
"Aku tahu kau itu Kamala, dan anakmu itu Reyna. Kebetulan sekali kita bisa bertemu kembali... di tempat seperti ini."
Suara wanita itu terdengar tenang, tetapi mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti perpaduan antara keterkejutan, keraguan, dan emosi lain yang terselubung.
Kamala membeku di tempat. Napasnya tercekat, sementara dadanya mulai berdebar tak karuan.
"A-apa maksud Anda?" tanyanya dengan suara nyaris bergetar.
Indira menatap Kamala lebih dalam, seakan mencari sesuatu di dalam matanya. "Aku tidak pernah melupakanmu, Kamala."
Kamala semakin bingung. Ada sesuatu dalam cara Indira menatapnya yang membuat perasaannya semakin tidak menentu. Sementara itu, Reyna memandang mereka bergantian, belum sepenuhnya mengerti situasi yang terjadi.
Indira menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kamala. Tatapannya melembut, tapi juga tampak sedikit bimbang. Ada sesuatu tentang anak itu yang membuat hatinya bergetar, sebuah perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
"Kenapa saat aku dekat dengan anak ini, perasaan aneh selalu muncul? Seperti ada suatu hubungan yang mengikatku dengannya…" gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Jantung Kamala semakin berdebar. Dadanya terasa sesak, seolah udara di sekitarnya menipis. Ia ingin segera pergi dari tempat ini, tetapi tubuhnya seakan terpaku di tanah.
Reyna, yang sejak tadi diam, tiba-tiba menarik tangan Kamala dengan gemas. "Ayo, Ibu! Kita pulang…"
Suara polos itu menyadarkan Kamala dari lamunannya. Ia menatap Indira sekilas, melihat sorot mata wanita itu yang penuh dengan pertanyaan—pertanyaan yang Kamala tidak yakin bisa atau mau ia jawab.
Dengan cepat, Kamala menggenggam tangan Reyna lebih erat. "Maaf, kami harus pergi."
Ia membalikkan badan, mencoba melangkah pergi secepat mungkin. Tanpa menunggu jawaban dari Indira.
Indira hanya menatap kosong kepergian Kamala dan Reyna, perasaan gelisah menyelimutinya. Ada sesuatu tentang anak itu yang terasa begitu familiar, sesuatu yang membuat pikirannya terus bekerja.
"Tidak mungkin kalau dia ada hubungannya dengan diriku…" batinnya mencoba mencari jawaban yang masuk akal. Namun, sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara getaran ponselnya mengalihkan perhatiannya.
Dengan cepat, Indira mengeluarkan ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. Suara di seberang terdengar tegas, memberikan kabar yang sudah lama ia tunggu.
"Nyonya, kami telah menemukan Faris, tapi Amanda tidak ada bersamanya."
Mata Indira menyipit. "Tahan dia, jangan sampai kabur. Aku akan segera datang ke lokasi."
"Baik, Nyonya."
Indira menutup panggilan dan segera bergegas menuju mobilnya. Sementara itu, di lokasi lain, dua orang anak buahnya sedang menjaga Faris, yang kini terikat di sebuah tiang lampu jalan.
Faris meronta, berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku! Apa yang kalian inginkan?" bentaknya, matanya menyala penuh kemarahan.
Salah satu pria itu melipat tangannya, menatap Faris dengan sinis. "Kita tidak akan melepaskanmu sebelum Nyonya Indira memerintahkan. Dia menyuruh kami mencari keberadaanmu dan Amanda, kalian telah mencuri dokumen penting perusahaan Tuan Seno."
Faris mendengus marah, otot rahangnya menegang. "Jaga mulutmu! Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jangan mengarang cerita!" Ia meronta lebih keras, tapi tali yang mengikatnya terlalu kuat.
"Lepaskan aku sekarang, atau kalian akan menyesal!"
Pria yang satu lagi terkekeh dingin. "Kau yang seharusnya takut, Faris. Nyonya Indira pasti akan datang dengan lebih banyak pertanyaan untukmu."
Faris mengertakkan giginya. Pikirannya berpacu mencari cara untuk keluar dari situasi ini.