Author update hari, SELASA dan KAMIS
Reyna Maureen Alexandria seorang gadis dingin tak tersentuh. dia juga seorang ketua Geng motor Black Rose.
Reyhan Saputra Smith adalah ketua OSIS sekaligus kapten basket disekolah TUNAS BANGSA. Reyhan adalah cowok dingin dan cuek dia terkenal di sekolah Tunas bangsa disebut Ketos kutub karena sifatnya yang dingin sama orang lain.
Reyhan juga adalah siswa paling pintar disekola Tunas bangsa. Setelah kedatangan siswi baru yang bernama Reyna, Reyhan menjadi pribadi banyak bicara.
Apakah mereka akan tumbuh benih-benih cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 005: Kebencian dan Luka Hati
Tanpa membuang waktu, Reyna mendorong tubuh anak buah Niko dengan keras hingga terlempar jatuh tepat di hadapan pemimpinnya itu. Ia tersenyum miring menatap Niko yang berusaha keras menahan amarahnya agar tidak meledak. Dengan langkah santai namun penuh tekanan, Reyna berjalan mendekat.
"Lo itu cuma berani kalau ramai-ramai, dasar pengecut," cibir Reyna sambil hendak berbalik pergi, namun pergelangan tangannya dicekal kuat oleh Niko.
Reyna menatap tajam ke arah tangan yang berani menyentuhnya itu. Tatapannya mengerikan. "Lepaskan," ucapnya datar dan dingin. Niko tak bergeming, genggamannya makin kuat. "Gue bilang, LEPAS!" tegas Reyna dengan nada rendah yang mengintimidasi.
Karena Niko masih keras kepala, Reyna memutar tubuhnya secepat kilat, menghentakkan tangannya hingga cengkeraman Niko terlepas paksa. Belum sempat Niko bereaksi, sebuah tendangan keras mendarat di dadanya hingga ia jatuh tersungkur. Reyna tak membiarkannya bangkit, ia lalu menginjak tangan Niko dengan kekuatan penuh hingga terdengar suara tulang yang retak.
Melihat pemimpinnya terluka, sekitar sepuluh orang anak buah Niko langsung menyerang bersamaan. Reyna mulai kewalahan menghadapi jumlah mereka yang banyak. Beberapa pukulan berhasil mengenai wajah dan tubuhnya.
Buk!
"Sialan..." umpat Reyna sambil menyeka darah yang menetes dari bibirnya. Matanya melotot penuh amarah. Ia memusatkan tenaganya, lalu melakukan tendangan berputar dahsyat yang membuat sebagian besar penyerangnya terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Jangan pernah lo ganggu gue lagi, kalau masih mau hidup," ancam Reyna dingin. Ia segera menaiki motornya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan sedang.
Di balik pepohonan tak jauh dari sana, seseorang diam-diam menyaksikan seluruh kejadian itu. Ia tertegun, tak percaya melihat kehebatan gadis itu. "Siapa dia sebenarnya?" gumam orang itu pelan. Setelah geng Niko bubar, sosok itu pun pergi meninggalkan tempat. Ternyata, dia adalah Reyhan.
Sesampainya di kediaman keluarga Alexandria, Reyna disambut oleh wajah marah ayahnya. Pak Ardan menatap putrinya dari ujung kepala hingga kaki, melihat memar dan luka di wajah cantik itu.
"Reyna, kamu mau jadi apa sih? Hidupmu cuma berkelahi saja! Lihat dirimu, wajahmu penuh lebam, bibirmu pun terluka," ucap Pak Ardan dengan nada frustrasi.
"Apa pedulimu? Bukankah kamu cuma peduli sama istri kesayanganmu itu?" jawab Reyna sinis dengan tatapan tajam.
"Reyna! Dia ibumu sekarang! Bersikaplah sopan!" bentak Pak Ardan.
"Dia bukan ibuku! Ibuku sudah mati, mati karena perbuatanmu dan perempuan murahan itu!" seru Reyna penuh penekanan, tak lagi peduli rasa hormat.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Reyna. Pipi itu seketika memerah, dan darah kering di bibirnya kembali mengalir. Pak Ardan terkejut dengan perbuatannya sendiri. "Reyna... Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak sengaja..." ucapnya penuh penyesalan.
Namun, Reyna justru tertawa. Tawanya terdengar lantang dan getir, lalu berubah menjadi tangisan yang begitu menyayat hati. Ia menyeka air matanya dengan kasar, menatap ayahnya dengan pandangan penuh kebencian. Tak mau berlama-lama di rumah itu, Reyna berbalik dan pergi. Ia memutuskan untuk tidak bermalam di sana.
Hatinya sedang kacau balau. Reyna memacu motornya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sepi, karena jarum jam sudah menunjuk angka tiga pagi. Ia tiba di apartemen pribadinya dalam waktu singkat. Badannya terasa lengket dan pegal luar biasa, akibat bertarung dan berdebat hebat dengan ayahnya.
Ia berendam di dalam bak mandi selama satu jam penuh, mencoba menenangkan diri. Setelah merasa cukup, ia memakai kimono santai dan langsung berbaring di atas kasur empuknya, membiarkan luka-lukanya tak terobati. Rasa lelah segera menguasai dirinya, dan ia pun terlelap.
Keesokan harinya, suara alarm berbunyi berulang kali namun tak membangunkan Reyna. Ia masih terlelap nyenyak. Sinar matahari masuk lewat celah jendela, menyinari wajahnya dan akhirnya mengganggu tidurnya. Reyna terbangun, mengerjapkan mata, dan pandangannya jatuh pada jam dinding di hadapannya. Matanya seketika terbelalak lebar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.10 sore.
"Gila! Aku terlambat!" serunya panik.
bedahxbeda
kepalahxkepala
bedah, melongoh.,
wlpun reader tau mksudny tp kurang enk aja d bacanya.