Erina, gadis pekerja keras yang selalu mengedepankan gaya. Dia dijodohkan dengan seorang pengusaha sukses. Namun, apa jadinya jika sang pengusaha mempunyai pujaan hati lainnya?
Mampu kah, Erina menjalin rumah tangga dengan tantangan meluluhkan hati suaminya, agar hanya melihat dirinya seorang?
Yuk ikuti kisahnya!
Terimakasih ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Aneh
Hari yang dinantikan Suci akhirnya tiba. Mereka bertiga berangkat ke majelis yang biasa di selenggarakan oleh Uzair dan timnya.
Saat pertama kali memasuki ballroom yang biasa digunakan sebagai, tempat pengajian, Suci seperti merasakan sesuatu yang hangat di hatinya. Bahkan, desiran dan kekaguman nampak jelas di matanya.
Apalagi, saat melihat beberapa orang yang mulai berdatangan yang menyambut hangat Belinda juga Erina.
Tak lupa, Belinda juga memperkenalkan Suci sebagai salah satu koleganya.
Di tempat lain, saat dalam perjalanan menuju ke tempat pengajian. Mobil yang dinaiki oleh Uzair dan Ima tidak sengaja menabrak pejalan kaki. Dan kebetulan sekali, pejalan kaki tersebut adalah Ibunya dari Clara.
Melihat, penampilan Uzair dan Ima yang seperti orang kaya, Nova tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Aduh, maafkan saya ... Maafkan saya karena tidak melihat mobil anda. Itu semua akibat dari mata rabun ku." rintih Nova sedikit berteriak.
Dia berharap mendapatkan simpati dari pasangan yang baru turun dari mobil itu.
"Ibu mau kemana atau dari mana?" tanya Ima dengan nada khawatir.
"S-saya, mencari anak yang beberapa hari ini gak pulang-pulang. Jadi, saya tersesat." sahut Nova berbohong.
"Bang, bagaimana ini?" tanya Ima menatap Uzair, yang menyimak percakapannya dan Nova.
"Begini saja, abang ke tempat majlis menggunakan grab, kamu bawakan ibu ini ke klinik terdekat." ujar Uzair memberikan solusi.
"Tapi, bo-boleh gak ibu istirahat barang sebentar di rumah kalian? Ibu capek, dan gak tahu tidur dimana." isak Nova.
Uzair hanya mengangguk memberikan izin pada Ima, tapi sebelumnya, Uzair tetap menyuruh Ima untuk membawa Nova ke klinik.
Saat dalam perjalanan menuju klinik terdekat, Ima mendapatkan pesan dari Uzair, untuk menjaga Nova. Karena bagaimana pun, mereka lah, penyebab kecelakaan yang menimpa Nova. Namun, Uzair juga meminta Ima untuk berhati-hati.
Sampai ke klinik, para petugas jaga langsung mengobati luka lecet yang berada di telapak tangan Nova. Tak lupa, mereka mengobati luka-luka kecil dibagian tubuh lainnya.
Setelah membayar semua biaya, Ima langsung mengajak Nova untuk mampir ke warung nasi padang, yang berada di samping klinik tersebut.
Nova yng ingin menarik simpati Ima memutuskan untuk memesan menu sederhana.
"Kenapa tidak pesan dendang, dan gulai bu? Rendang disini terkenal enak poll loh bu." ungkap Ima.
"I-ibu malu, tadi aja nak Ima sudah membayar uang di klinik." seru Nova seraya menundukkan kepalanya.
"Ya ampun bu, bentar aku pesankan." seru Ima.
Kemudian memanggil pelayan, dan menambahkan beberapa menu untuk Nova.
"Jadi, anak ibu kemana? Dan ibu asalnya dari mana?" tanya Ima menemani Nova makan.
"Saya dari sebuah desa yang jauh, anak ibu kesini gara-gara ngambek. Jadi, istilahnya, dia kabur." sahut Nova, kemudian menyesap minuman teh yang berada di depannya.
"Ibu tahu dia disini, kebetulan, saat itu ada orang kampung yang melihatnya. Makanya, ibu rela kesini, kadang-kadang ibu tidur di depan toko-toko. Bahkan sesekali ibu menadah tangan pada orang-orang untuk melanjutkan hidup." isak Nova.
Ima merasa iba mendengar penuturan dari wanita paruh baya di depannya. Memang benar, sesekali Nova minta sedekah, bahkan tak jarang dia juga mengambil dompet-dompet orang yang lengah.
Namun, semua cerita tersebut adalah karangannya. Dia bahkan tidak berniat mencari keberadaan Clara. Dan rumahnya sendiri, hanya di pinggiran kota. Bukan desan yang dikatakannya.
Kembali ke pengajian. Uzair datang sedikit lebih lambat dari biasanya. Dia langsung minta maaf pada panitia dan menjelaskan jika ia mengalami sedikit musibah.
Saat pengajian dimulai, Suci terpana mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Uzair. Dia merasa tenang, apalagi hari ini tentang kemuliaan seorang wanita.
Senyum dibibir Suci tidak pernah pudar, dia baru tahu jika di agamanya wanita merupakan makhluk yang mulia.
Dia sangat bersyukur, selain mengenali Erina. Dia juga bisa mendapatkan ilmu yang sangat-sangat bermanfaat.
Setelah pengajian, Suci juga meminta agar Belinda mau memperkenalkan dirinya dengan Uzair, dia bermaksud ingin memberikan dana seperti yang Belinda lakukan. Dan berharap, jika hal itu bisa meringan sedikit hisabnya dikemudian hari.
Uzair dan panitia berterimakasih pada Suci, khususnya Belinda. Karena melalui Belinda lah, dia mendapatkan dana lagi, yang bisa dikatakan dengan jumlah besar.
Sepanjang obrolan, Suci terus saja melirik ke arah Uzair, dia sedikit penasaran pada lelaki yang ada di hadapannya, pasalnya tak sekali pun, Uzair menatap, atau bahkan melirik kepadanya.
"Ah, andai aku belum bertemu Jonathan." batin Suci.
"Ustad, maaf sebelumnya. Bagaimana pandangan anda, dengan menikah beda agama?" tanya Suci hati-hati.
Jonathan dan Suci memang berbeda keyakinan, akan tetapi baik Akri dan istrinya tidak mempermasalahkan hal itu. Apalagi, Jonathan selama ini, dikenal dengan sosok yang baik dan juga bijaksana.
Tentu saja, kerjaannya yang menjanjikan. Itu merupakan salah satu hal yang terpenting bagi keluarga Akri. Apalagi, Suci dan Jonathan saling mencintai.
"Menurut ku, haram. Karena apa? Bukan kah, pernikahan itu adalah ibadah terpanjang? Dan apa itu ibadah, jika salah satu dari pasangan kita saja berbeda keyakinan. Lagipula, menurut kepercayaan kita, pernikahan beda agama merupakan suatu perbuatan yang tidak dianjurkan, bahkan bisa dikatakan diharamkan." sahut Uzair.
"Namun, terdapat pengecualian untuk laki-laki Muslim yang menikahi wanita ahlul kitab (Yahudi atau Nasrani), asalkan wanita tersebut tidak melakukan perbuatan maksiat. Hal ini didasarkan pada surat Al-Maidah ayat 5 ¹."
"Sementara itu, wanita Muslim tidak diperbolehkan menikahi laki-laki non-Muslim. Hal ini karena posisi wanita dalam keluarga adalah sebagai makmum, dan belum tentu bisa membimbing suaminya. Jika suaminya non-Muslim, maka bisa berisiko merusak pondasi keimanan rumah tangga ²."
"Dalam membuat keputusan tentang pernikahan, penting untuk mempertimbangkan kaidah dan syariat agama, serta memilih pasangan yang saleh dan salehah." terang Uzair, (sumber google)
Suci, langsung manggut-manggut mendengar penjelasan dari bibir Uzair.
"Jujur, ini lah, yang terjadi di hidup saya ustad. Saya dan calon tunangan saya, sama-sama tidak mau meninggalkan agama masing-masing." adu Suci dengan lirih.
"Jika memang itu tidak di bolehkan, tolong berikan saya jalan agar bisa putus dengannya secara baik-baik." pinta Suci lagi.
"Atau, bolehkah, saya minta pak ustad untuk memberinya pengertian? Aku tidak mau menyakitinya, lagi pula dia pasti tidak mau putus dengan ku." sambung Suci.
Uzair tercekat, dia tidak menyangka wanita di hadapannya sungguh blak-blakan.
"Itulah, salah satu alasan kenapa agama kita melarang yang namanya pacaran, selain berkhalawat, tentu menimbulkan masalah di depannya. Dan bukankah, memutuskan hubungan pacaran tidak memerlukan surat dari pengadilan? Lantas, kenapa harus di pikirkan tentang salah satu kalian setuju atau tidak. Berikan pengertian padanya. Katakan, jika agama kita melarang untuk kalian bersama, karena semakin cepat semakin baik. Sebelum kalian bertunangan."
"Perempuan Aneh ..." batin Uzair.
bae2 bang ustadz, ntar kamu jodoh lho sama perempuan yg kamu blg aneh itu🤭