Menikah mungkin di inginkan bagi semua orang.
Tapi tidak dengan gadis ini, yang tiba-tiba di seret oleh seorang laki-laki tampan. di paksa menikah dengannya. karena perjanjian dari ibunya secara diam-diam menginginkan jika anaknya segera menikah, untuk menyambung hidup lebih baik.
di statusnya yang masih sekolah. dengan terpaksa ia menikah dengan tuan muda tampan dari pemilik perusahaan terkenal Morgan Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imas Gustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nginggau
Devid beranjak berdiri dengan tangan masih memegang pantatnya yang terasa masih sakit. "Eh. Bukannya kamu yang menarik tanganku tadi, dan memeluk tubuhku"ucap Devid.
"Gak mungkin lah!!" Ucap Salsa kesal. "Mana mungkin aku berani menyentuhmu. Apalagi aku menyentuhmu aja merasa jijik"lanjutnya.
"Gak mungkin gimana??. Kenyataannya begitu. Atau kamu hanya pura-pura tidur tadi ya, biar aku menggodamu"gumam Devid mendekatkan wajahnya ke arah Salsa. "Pura-pura bilang jijik padahal aslinya mau saja kan denganku.
Salsa menggertakkan giginya. Melebarkan ke dua matanya, melotot menatap Devid.
"Emang kamu pikir aku tadi tidur tu pura-pura gitu. Kamu saja tadi yang mau menggodaku kan ngaku aja deh?. Lagian kenapa tadi gak bangunin aku, kalau emang aku menarikmu"ucap Salsa mengelak dengan nada menantang.
Devid semakin kesal dengan Salsa.
"Kamu di bangunin gak bisa, ya udah aku cium saja bereskan. Lagian kamu juga menikmatinya sesaat. Namun pura-pura saja marah padaku. Iya kan??" Ucap Devid menggoda. "Apa kamu mau aku cium lagi"Tanya Devid memegang bibir Salsa.
Plakkk....
Tangan Salsa menepis tangan Devid keras dari bibirnya.
"Jauhkan tanganmu dari bibiku"bentak Salsa dengan mata melotot tajam. " lagian Ih.. ogah deh aku di cium kamu."lanjutnya mengelak.
"bilangnya Ogah tapi bekas ciuamanku masih ada di bibir kamu"lanjut Devid semakin menggoda. Sala
sa segera mungkin menyeka bekas ciuman Devid di bibirnya.
Devid tertawa kecil melihat wajah Salsa yang begitu panik.
"Percuma di hilangin, di usap pakai apapun tapi bukannya rasanya sudah kamu nikmati"ucap Devid semakin menggoda.
"Ih... jijik.."ucap salsa mengepalkan tangannya ke atas seakan mau menonjok ke arah Devid. Dengan gigi menggertak.
Lelaki itu hanya tersenyum dengan tatapan menggoda ke arah Salsa. "Kenapa?. Kamu mau mukul aku?" Tanya Devid melebarkan matanya dengan senyum semringai.
Salsa mengerutkan keningnya, "Emang siapa yang mau memukulmu. Dari pada ngotori tanganku lebih baik buwat hal yang lebih berguna"ucap Salsa tersenyum sinis ke arah Devid.
"Bukannya tangan kamu gak pernah berguna?" Ucap Devid.
"Arggg... kamu ya. Percuma debat dengan kamu bikin tambah emosi jiwa."gumam Salsa. Ia beranjak duduk di kursi belakang melipat kedua tangannya di dadanya, tanpa perdulikan Devid yang masih berdiri di luar.
Sabar..sabar. semoga cepat di jauhkan dari makhluk aneh ini, lagian tu laki benar-benar ya, udah nyebelin lama-lama bikin sakit jantung kalau terus bersama dia, gumam Salsa dalam hatinya.
Ia terus memgusap dadanya mencoba sabar menghadapi lelaki bermulut harimau itu. Bahkan kakau berdebat dengan dia lebih dari pada emak-emak.
"Kamu mau sampai kapan di situ?" Tanya Salsa menatap aneh pada Devid.
"Kamu pindah depan"ucap Devid cuek.
"Kenapa?. Aku di sini saja cukup. Kenapa harus pindah di depan. Gak bisa tidur entar"ucap Salsa mengelak.
"Baiklah, tapi kalau aku ngebut nanti jangan protes."ucap Devid, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya. Ia bersiap tancap gas mengemudi dengan kecepatan tinggi. Karena perjalanan mereka masih jauh ia tak ingin berlama-lama berdua dengan Salsa di dalam mobil.
Salsa yang duduk di belakang memegang pegangan yang menggantung di mobil sangat erat. Bahkan dia tak berhenti terus memukul kepala Devid saat sempat. "Jangan ngebut-ngebut"teriak Salsa.
"Apa aku gak dengar"Teriak Devid mencari alasan.
"Apa katamu gak dengar, baiklah"ucap Salsa dengan tatapan jahilnya. Ia menjambak rambut pendek Devid. Di buatnya pegangan tangannya.
"Lepaskan gadis kecil bodoh, sakit tahu"ucap Devid, sembari meringis kesakitan dengan tangan kiri memegang kepalanya.
"Kamu semakin ngebut maka semakin keras aku memegang rambut kamu"ucap Salsa mengancam.
"Lepasin rambutku, kalau aku gak konsen nabrak gimana?" Tanya Devid menakut-nakuti Salsa.
"Aku mau kamu pelan, kalau gak mau pelan ya sudah aku akan terus jambak rambut kamu bahkan sampai rontok sekalipun ia lakukan" ucap Devid.
"Sakit...gadis sialan awas entar aku balas kamu"teriak Devid.
"Makanya pelan-pelan dong"bentak Salsa. Jika tidak di ladenin nih anak lama-lama rambutku benar-benar botak karena ulahnya, batin Devid.
"Baiklah aku pelan, tapi lepaskan dulu"ucap Devid.
Salsa segera melepaskan tangannya dari rambut Devid. Ia segera membaringkan tubuhnya di kursi belakang. Melanjutkan tidurnya yang begitu nyenyak tadi. Kalau buka gara-gara ciuaman tadi gak mungkin sudah bangun.
Devid tersenyum, melihat Salsa mrmbaringkan tubuhnya. "Awas saja kamu, aku gak akan tinggal diam"gumam Devid. Melirik dari spion atas mobil.
"Awas jangan ngebut-ngebut lagi"gumam Salsa sebelum memejamkan matanya.
"Siap" ucap Devid tegas.
Kriiingg......
Ponsel Devid berbunyi di balik saku jasnya. Ia segera meraih ponselnya dan segera mengangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang telfon duluan.
"DEVID KAMU DI MANA??" teriak Dea membuat telinga Devid benar-benar tengiang. Ia segera menjauhkan ponselnya dari telingannya. "Kamu tahu gak manajer kamu tu nyeselin banget. Masa aku mau keluar sebentar saja gak boleh sih"ucap Dea.
"Aku ada urusan sekarang"ucap Devid mencari alasan.
"Emmmm..." dahem Salsa sangat keras.
"Itu suara perempuan, kamu tidur dengan perempuan."teriak Dea di balik telfon itu.
"Siapa yang tidur dengan perempuan lain"ucap Devid menegaskan.
"Itu siapa??" Tanya Dea.
"Kenapa lama sekali sih sayang, kita lanjutin gak?" Saut Salsa yang masih memejamkan matanya. Ia mencoba menggoda Devid.
"Shit.. nginggau lagi nih anak"umpat Devid.
"Jadi kamu benar tidur dengan perempuan lain. Kamu sekarang dengan siapa? Dan di mana? Aku akan menjemputmu"ucap Dea sangat marah.
"Gak usah, gak usah. Aku tu lagi di jalan syang"ucap Devid.
"Benar di jalan"tanya Dea menyakinkan.
"Kamu lama amat sih syang kita lanjutin berapa ronde"saut Salsa tak hentinya membuat pacar Devid geram dan marah-marah dengannya nantinya.
Akan terjadi perang dunia ke tiga akan tambah seru antara Devid dan Dea, gumam Salsa dalam hati. Namun ia masih memejamkan matanya agar Devid mengira ia nginggau.
"Ini anak awas saja nanti sampai rumah ya"ancam Devid dalam hatinya melirik ke arah Salsa.
"Tu kan berapa ronde?. Emangnya kamu baru saja main berapa ronde"bentak Dea. Kini ia semakin geram dengan Devid yang di anggap berbohong padanya.
"Tadi tu Salsa syang...."
"Apa salsa? Jadi kamu tidur dengan dia dan bermain juga dengannya" Belum sempat Devid melanjutkan ucapannya Dea memotong pembicaraannya.
"Dengarkan aku dulu" Bentak Devid.
"Apa??. Udah aku benci sama kamu" ucap Dea tegas dengan nada penuh perasaan kesal dan emosi, ia segera mematikan telponnya.
Salsa yang terbaring kendengar perseteruan mereka, ia memiringkan badannya ke kanan dan tertawa kecil.
"Ini semua gara-gara kamu tahu gak, kenapa kamu tidur aja banyak omong sih"ucap Devid menatap ke belakang.
Devid tersenyum tipis, seolah ada banyak ide yang terlintas di otaknya untuk membalas Salsa kali ini. "Tunggu tanggal mainnya Salsa. Aku akan balas kamu nanti"gumam Devid dalam hatinya.