NovelToon NovelToon
Bima & Bopo Muda

Bima & Bopo Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:361.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.

Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.

Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.

Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Proyek Rumah Pohon

Pagi itu, Aka, Bima beserta para sepupunya sedang asyik bermain di rumah pohon yang di buatkan oleh Arjuna satu minggu lalu. Rumah pohon yang berada di belakang rumah Arjuna itu menjadi salah satu tempat favorit mereka untuk bermain.

Untuk sampai di rumah pohon, mereka harus memanjat tangga yang terbuat dari jalinan tali dan kayu. Sedangkan saat turun, mereka bisa merosot dari tiang besi yang memang sengaja di buat untuk menjadi salah satu alternatif untuk turun dari rumah kayu. Di bawah rumah kayu itu juga terdapat dua buah ayunan dan jungkat-jungkit.

"Rumah kayunya kurang bagus , ya." Ujar Aka sambil memandangi rumah kayu yang nampak masih polos.

"Bagus kok." Sahut Satrio.

"Kayaknya kalau di cat, lebih bagus." Ujar Aka.

"Emang Romo punya cat, Mas?" Tanya Bima.

"Kayaknya ada di gudang yang deket garasi." Jawab Aka yang teringat jika pernah melihat beberapa kaleng cat yang masih baru di dalam gudang itu.

"Ayo kita ambil. Kita cat rumah pohonnya bareng-bareng." Ajak Bagas yang di jawab anggukan setuju oleh Satrio, Aka dan Bima.

"Memang boleh sama Pak Ade? Nanti di marahin loh." Kata Sena.

"Romo biasanya gak marah kalo kita kerja bareng-bareng."Jawab Bima.

"Yaudah kalo gitu, kalian ambil aja catnya. Nanti kita bantuin ngecat Rumah Pohonnya." Kata Ara.

"Kalian yang perempuan, ngecat ayunan sama jungkat-jungkit aja. Kita yang laki-laki, ngecat Rumah Pohon." Ujar Satrio yang membagi tugas.

Setelah sepakat, para laki-laki segera menuju ke gudang untuk mengambil cat. Setelah menemukan cat dan kuas yang di maksud, mereka segera kembali ke Rumah Pohon untuk menjalankan rencana mereka.

"Yah, tapi kuasnya cuma ada tiga." Kata Bima.

"Oh iya! Di gudang belakang kan ada alat yang bulat untuk ngecat itu. Sebentar aku ambil dulu." Ujar Aka yang langsung berlari menuju ke gudang belakang yang terletak di dekat dapur.

Sementara itu, Bima mengambil beberapa baskom untuk membagi cat mereka. Setelah semua peralatan terkumpul, mereka mulai membuka tiga buah kaleng cat berukuran sedang yang masih baru itu.

Satrio dan aka kemudian membagi cat ke beberapa baskom yang di siapkan oleh Bima. Karena tak kebagian kuas besar dan juga roll busa untuk mengecat, anak-anak perempuan akhirnya menggunakan kuas lukis milik Aka untuk menghias ayunan dan jungkat-jungkit yang ada di bawah.

Ketujuh anak itu tampak asyik dengan kegiatan mereka. Sesekali memeraka bercanda dengan menyipratkan cat ke tubuh saudaranya yang lain hingga membuat tubuh mereka belepotan dengan cat.

Namun, hal itulah yang justru membuat kegiatan mengecat mereka terasa mengasyikkan. Mereka dengan kompak menyulap Rumah Pohon itu menjadi lebih berwarna.

...****************...

"Lho, Romo gak ke Balai Desa?" Tanya Meshwa yang baru pulang berbelanja di Pasar yang ada di Kecamatan bersama Kamelia dan juga Nala.

"Enggak, Mbun. Ini ada meeting sama mereka." Jawab Arjuna yang memang sedang bersama Dipta dan Mifta. Ketiganya tampak sibuk dengan MacBook mereka masing-masing.

"Nala sama Lia, mana, Mbak?" Tanya Dipta.

"Langsung ke Rumah Ibu. Mau bikin soto untuk makan siang. Sama rencananya mau bikin es dawet juga." Jawab Meshwa.

"Waah! Enak nih, makan siang pake soto, minumnya es dawet." Kata Dipta yang sudah membayangkan nikmatnya menu makan siang mereka.

"Anak-anak kemana, Mo?" Tanya Meshwa.

"Pada di belakang itu, main di rumah pohon." Jawab Arjuna.

"Oh iya, itu ada suaranya." Ujar Meshwa yang menangkap suara anak-anak yang sedang berada di belakang.

"Yaudah, aku mau ke rumah Ibu dulu." Pamit Meshwa.

"Mau di anterin gak, Mbun?" Tanya Arjuna yang menggoda istrinya.

"Halah! Ada-ada aja. wong kepleset aja juga sampe." Jawab Meshwa yang membuat Arjuna, Dipta dan Mita tertawa.

Setelah Meshwa keluar dari rumah, Arjuna, Mifta dan Dipta pun kembali sibuk dengan pekerjaan Perusahaan mereka.

"Kok tumben anak-anak dari tadi anteng di belakang, ya?" Celetuk Mifta.

"Biasanya bentar aja udah lari sana-sini." Imbuhnya kemudian.

"Tapi suaranya masih pada di belakang, tuh." Sahut Dipta.

"Tapi agak aneh aja gitu, Dip." Ujar Mifta.

"Iya, mencurigakan mereka ini." Timpal Arjuna yang pada akhirnya beranjak untuk melihat aktifitas anak-anak di belakang.

Sekilas, tak ada yang aneh. Arjuna hanya melihat anak-anak yang kebetulan sedang berada di bawah. Mereka berkumpul di dekat ayunan dengan posisi membelakangi Arjuna yang sedang mengintip melalui jendela dapur.

Setelah itu, Arjuna pun kembali menuju ruang tamu untuk mengerjakan pekerjaannya. Namun, entah mengapa, ada yang terasa sedikit janggal dari pandangan sekilas yang Arjuna lihat tadi.

"Ngapa, Mas? Anak-anak masih pada di belakang, to?" Tanya Dipta.

"Ya masih, tapi kok kayaknya ada yan aneh, ya." Kata Arjuna.

"Lah, kamu lihatnya gimana, tadi?" Tanya Mifta.

"Cuma tak intip ada dari jendela dapur, sekilas. Ngelihat mereka semua ada di bawah, yaudah aku balik kesini lagi." jawab Arjuna.

"Pada di bawah gitu, memang apa yang aneh?" Tanya Dipta.

"Coba tak lihat lagi, lah." kata Arjuna. Kali ini ak sendiri, Mifta dan Dipta pun turut mengekor pada Arjuna yang berpikir jika ada sesuatu yang aneh.

Kali ini, para Bapak itu tak hanya sekedar mengintip dari jendela. Mereka langsung menghampiri anak-anak yang masih berada di bawah Rumah Pohon.

"Kalian ngapain?" Tanya Mifta.

"Gusti Allah nyuwun ngapuro! (Ya Allah mohon ampun!)" Seru Arjuna saat melihat bentuk ketujuh bocah yang membelakangi mereka.

"Kalian ngapain sih, kok sampe pada kayak badut gitu? Mau main pantomim?" Cicit Dipta yang tak kalah shock saat melihat anak-anak yang belepotan cat.

"Kita abis ngecat Rumah Pohon, Mo." Ujar Bima sambil menunjuk ke arah rumah pohon yang sudah selesai di cat, meskipun sama sekali tak rapi.

"Kalian dapat cat dari mana, to? Ya Allah..." Kata Mifta yang sampai mengelus dadanya.

"Tadi io, Aka, Bima sama Bagas yang ngambil cat di gudang, Paklik." Jawab Ara.

"Kok gak bilang dulu kalau mau ngecat?" Tanya Arjuna.

"Kan tadi Romo, Om Mifta sama Om Dipta lagi sibuk kerja." Jawab Aka.

"Enggak lho, Nak. Kalian itu gimana cara ngecatnya? Lha kok se orang-orangnya ikut ke cat juga?" Ujar Mifta yang tak habis pikir dengan proyek yang dilakukan oleh bocah-bocah itu.

"Apa kalian punya proyek mau mutihin badan secara instan?" Timpal Arjuna yang justru di sambut tawa oleh Anak dan Keponakannya.

"Pak Ade ini aneh, masak mutihin badan pake cat. Ya harusnya pake skincare dong." Kata Sena di sela-sela tawanya.

"Ya coba lihat badan kalian. Penuh cat kayak abis luluran cat." Ujar Arjuna.

"Apa mau pada karnaval?" Tanya Dipta yang kembali membuat bocah-bocah itu tertawa.

"Kalian tau gak, itu gak bisa hilang catnya yang kena baju." Imbuh Arjuna kemudian.

"Biarin kena amuk Mama, Mbun sama Bubu, padaan." Kata Dipta.

"Iya. Kalian ini kok malah pada bangunin macan betina tidur." Timpal Mifta.

"Terus, ini kayak mana, Mo? Nanti kalo Mbun marah, gimana?" Tanya Aka yang terlihat khawatir. Tak hanya Aka, tapi juga Adik dan para Sepupunya pun sama-sama terlihat khawatir.

"Ya resiko kalian, lah. Salah siapa mainan aneh-aneh." jawab Arjuna.

"Udah sana buruan mandi! Di bersihin yang bener itu badannya." Titah Arjuna kemudian yang langsung di turuti oleh ketujuh anak itu.

1
Gita Mitha Pertiwi
wah oleh2 merah delima ini
Lhia Alimin
lanjut la ceritanya
Santi
makasi kak oleh2 ya, double up, 🙏🙏pasti tahu lah mamas, bopomu kan bopo istimewa,
Munas Tuti
ayoo oleh2 apa yg yg dibawa Aka..
Santi
syukurlah ratunya baik, jadi ga terjadi masalah besar
Munas Tuti
belum tau ajaa walu kelas Aka klo anak remaja itu seorg bopo.. .alhamdulillah temens Aka kembali
Mulyani Asti
Alhamdulillah gak sampe kejadian kaya Arjuna dulu waktu acara kampus,untung nya nyai nya baik sama aka aku udah deg2 an padahal
Nur Wakidah
oleh2 dari Nyi Ratuuuuuu , , ,
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
Murti Puji Lestari
ya Allah.. irisan bawangnya sampai sini😭😭😭
amilia amel
kamu salah Ka kalo nanya sama romo-mu
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
Munas Tuti
sopo yoo sing nyeloi Aska mau bengii..
Rahmawati
oleh oleh nya apaan tuh
Rahmawati
pak wali kelas gk tau ya kalo aka itu calon bopo😂
Munas Tuti
Yaa Allah melas banget Arjuna...ikutan mrebes mili ikiii
Kristiana Subekti
up lagi thor 😁🤭
Atik Kiswati
sesuatu yg berbau mistis tu bagiku mengerikan.....gk bisa di nalar ama otak kt,hrs pake hati....kalau hatinya baik / bersih sih gpp tapi kalau hatinya jahat / kotor mlh tambah berabe.....
syora
kira kira oleh" apa ya
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh
ryriz: semuanya kan titisan... tp yg mewarisi batu panca warna milik bopo cokro manggala kan mamas aka...
total 1 replies
Cica Aretha
allhamduliah di kasih doble up..makasih thor ..semangattttt💪😍
TS
mas Aka dapet apa ya,,,,.semangat Thour Up yang banyak
Nuri 73749473729
alhamdulillah.... bs double2 up Thor semangat thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!