Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan di Ambang Fajar
Keheningan malam semakin menebal seiring berjalannya waktu. Detik demi detik berlalu, menyisakan suara detak jarum jam dinding yang terdengar monoton di dalam kamar utama yang temaram.
Satu jam telah lewat semenjak ketegangan melanda, dan Alya akhirnya benar-benar tenggelam ke dalam fase tidur yang sangat nyenyak.
Kelelahan fisik yang luar biasa setelah dihantam gerakan aerobik sore hari, ditambah ketegangan mental saat menyelinap ke kelas perkuliahannya, membuat kesadaran gadis delapan belas tahun itu lumpuh total. Pertahanan dirinya merenggang, membiarkan tubuhnya rileks di atas kasur empuk.
Di sisi ranjang yang lain, Reza masih terjaga. Rasa kantuk yang mulai menyerang matanya terasa kontras dengan gejolak berahi yang membakar bagian bawah tubuhnya.
Sesi saling kirim pesan dengan Gita baru saja berakhir karena wanita itu berpamitan untuk tidur di kamar hotelnya di Singapura.
Namun, beberapa potret seksi yang sempat dikirimkan Gita sebelum pamit justru menjadi bumerang bagi Reza.
Gambar-gambar itu melekat erat di dalam benaknya, memicu hasrat purbanya hingga senjatanya berada dalam posisi siaga penuh, menegang di balik celana pendek katun tipis yang ia kenakan.
Reza mengunci layar ponselnya, meletakkannya kembali ke meja samping dengan helaan napas berat penuh frustrasi.
Ia membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk memejamkan mata dan memaksa dirinya tidur. Namun, dalam gerakan menyamping ke arah kanan—menghadap punggung Alya—jarak di antara mereka seketika terpangkas habis.
Secara tidak sengaja, bagian depan celananya yang menegang keras menyentuh bagian belakang pinggul Alya yang terbalut pakaian dalam tipis.
Sentuhan itu instan.
Napas Reza seketika memburu, memutus semua pasokan oksigen di tenggorokannya. Hawa panas dari kulit punggung Alya yang terekspos seolah merambat, menyengat setiap saraf di tubuh Reza.
Matanya yang semula sayu karena mengantuk kini terbuka lebar, menggelap oleh kabut nafsu yang tidak lagi tertahankan setelah lebih dari satu minggu mengering.
Di bawah temaram lampu tidur, punggung mulus seputih pualam itu terlihat begitu menggoda.
Perlahan, seolah digerakkan oleh kekuatan gaib yang melumpuhkan akal sehatnya, tangan kanan Reza terangkat. Jari-jarinya yang besar menyentuh kulit punggung Alya yang halus dengan sangat lembut.
Merasakan kelembutan yang nyata di bawah telapak tangannya, Reza semakin merapatkan tubuh besarnya, menempel di punggung belakang Alya hingga aroma harum sisa mandi gadis itu menyergap indra penciumannya.
Tangannya bergerak turun, melingkari pinggang ramping Alya, lalu perlahan menyelinap masuk ke balik lipatan selimut yang berantakan, meraba bagian depan tubuh istrinya.
Gerakannya kali ini tidak kasar. Tidak ada sentakan penuh amarah seperti malam kebrutalan itu.
Dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian yang tinggi agar tidak mengejutkan gadis yang sedang terlelap itu, Reza perlahan menurunkan celana pendeknya sendiri ke bawah lutut, membiarkan senjatanya yang tegak sempurna terbebas tanpa penghalang.
Jemari Reza merayap naik di bawah pakaian dalam katun putih Alya, menyentuh dan memainkan gundukan kembar di dada gadis itu dengan ritme yang halus. Kehangatan raga Alya yang tertidur terasa begitu nyata.
Sambil menahan napasnya agar tidak bergemuruh terlalu keras, Reza dengan sangat telaten menanggalkan lembar-lembar kain yang masih melekat di tubuh istrinya.
Ia melorotkan pakaian dalam bawah Alya dengan gerakan super pelan, membiarkan tubuh mungil itu sepenuhnya telanjang di bawah kuasanya dalam keheningan malam.
Reza memposisikan dirinya di atas tubuh Alya yang masih miring membelakangi dirinya. Dengan tuntunan insting laki-lakinya, ia perlahan mulai memasukkan senjatanya yang panas ke dalam goa keintiman Alya yang mulai melunak secara biologis.
Satu sentakan pelan.
Reza menahan tubuhnya, membiarkan penyatuan itu terjadi sedalam mungkin tanpa menciptakan guncangan yang berarti.
Ketika seluruh miliknya telah tertanam sempurna, ia mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan ritme yang sangat pelan, konsisten, dan penuh kelembutan.
Di dalam tidurnya yang lelap, tubuh Alya secara otomatis merespons stimulus fisik yang tidak disadarinya. Aliran darah yang meningkat dan sensasi hangat yang merayap di bagian sensitifnya menciptakan sebuah jembatan mimpi yang aneh.
Alih-alih rasa sakit, sebuah sensasi nikmat yang samar mulai meliputi alam bawah sadarnya.
Tanpa terjaga, bibir Alya yang sedikit terbuka secara otomatis mulai mengeluarkan suara lenguhan halus—sebuah desahan lirih yang terdengar begitu erotis di tengah sunyinya kamar utama.
"Mhh... ahh..."
Mendengar suara itu, jepitan hasrat di dada Reza semakin mengencang. Ritme gerakannya tetap ia jaga agar tidak berubah menjadi kebrutalan, menikmati setiap jepitan dari raga istrinya yang ranum.
Selama hampir tiga puluh menit, Reza mempertahankan tempo lambat namun dalam tersebut, membiarkan peluh halus mulai membasahi dahinya sendiri saat ia menikmati setiap detik keintiman rahasia ini.
Hingga pada satu titik, gesekan yang semakin intens dan hawa dingin kamar yang menusuk membuat kesadaran Alya perlahan tersentak bangun.
Kedua kelopak mata bulatnya terbuka lebar. Hal pertama yang ia lihat adalah pola garis dinding kamar yang gelap di hadapannya. Sedetik kemudian, rasa penuh, hangat, dan gerakan konstan di bagian bawah tubuhnya membuatnya sadar sepenuhnya akan apa yang sedang terjadi.
Alya tertegun. Untuk sekejap awal, rasa kaget dan panik luar biasa sempat menyergap dadanya. Jantungnya berdegup kencang, dan ia hampir saja berteriak atau meronta seperti malam-malam sebelumnya.
Namun, sebelum tubuhnya melakukan refleks fight or flight, otaknya menangkap sebuah perbedaan yang drastis.
Tidak ada rasa sakit yang menyayat. Tidak ada cengkeraman kasar di pergelangan tangan yang meninggalkan bekas memar ungu.
Pria di belakangnya tidak sedang membantingnya atau memaki nama Gita dengan amarah yang buta. Gerakan Reza di dalam dirinya terasa begitu lembut, begitu berhati-hati, seolah pria itu sedang memperlakukan sepotong porselen yang sangat rapuh.
Dan yang paling membuat Alya kelu... sensasi kenikmatan biologis yang terlanjur dibangun oleh alam bawah sadarnya selama tiga puluh menit tadi kini telah sepenuhnya meliputi seluruh saraf tubuhnya.
Hawa hangat yang menjalar di perut bagian bawahnya membuat seluruh ototnya melunak, menolak untuk menolak.
Alya memilih untuk diam.
Ia tidak meronta. Tidak juga membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah suaminya. Dengan gerakan cepat yang sunyi, ia mengangkat tangan kanannya, menutup mulutnya sendiri rapat-rapat dengan telapak tangan, menahan agar suara desahan nikmat yang semakin mendesak di tenggorokannya tidak lagi keluar dengan bebas.
Di balik kegelapan yang menatap dinding, air mata Alya kembali meleleh perlahan dari sudut matanya, membasahi permukaan bantal putih.
Bukan air mata ketakutan, melainkan air mata yang lahir dari sebuah konflik batin yang teramat getir di usianya yang baru delapan belas tahun.
Tubuhnya mengkhianati pikirannya; raganya menerima dan menikmati sentuhan pria yang telah menghancurkan mimpinya, pria yang berstatus suaminya namun mencintai kakak kandungnya sendiri.
Reza yang merasakan perubahan ritme napas Alya di bawahnya mendadak menghentikan gerakannya sejenak.
Ia menatap sisi wajah Alya dari belakang, melihat bahu gadis itu yang sedikit menegang dan tangan yang menutupi mulut. Ia tahu, istrinya telah terbangun.
Keheningan yang pekat kembali merayap di antara mereka selama beberapa detik yang menyakitkan. Reza menunggu sebuah jeritan, sebuah dorongan kasar, atau setidaknya makian.
Namun, Alya tetap diam membisu dalam posisinya, membiarkan penyatuan mereka tetap utuh di bawah selimut krem.
Melihat tidak ada penolakan fisik dari istrinya malam ini, sisa-sisa kendali logika Reza akhirnya runtuh sepenuhnya.
Ia mencondongkan tubuhnya, menyandarkan dadanya yang bidang pada punggung mulus Alya, lalu kembali menggerakkan pinggulnya. Kali ini dengan ritme yang sedikit lebih cepat.
jangan lupa mampir yaa🤭