Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 002 : Lukisan itu, nyata! Itu Adalah Desa yang Dikutuk
Di sebuah aula musik. Terlihat Rifki sangat berbakat di bidang seni musik. Entah sudah berapa lama dia berada di sana saat ini?
Di sini hanya ada dirinya seorang. Rifki memainkan sebuah piano di sana. Rangkaian melodi mulai dirangkainya sendiri. Senandungnya selalu membuatnya terbuai.
Ini adalah jam istirahat. Dia memang anak yang senang menarik diri dari keramaian. Rifki bilang, keramaian selalu membuatnya pusing.
Tapi jangan salah. Walaupun dia memiliki pribadi introvert dan terkesan cuek. Tapi Rifki memiliki segudang prestasi.
Hingga ketika suara bel berbunyi. Rifki pun menghentikan permainannya. Dia kemudian tersenyum ketika melihat tiga anak kecil yang berdiri di depannya.
"Kenapa kalian senang sekali mendengar aku bermain?" tanya Rifki pada mereka.
Ketiga anak itu kembar. Mereka semua laki-laki kira-kira usianya sekitar lima tahun. Ketiga anak kecil itu lantas bertepuk tangan. Dan tentu saja hanya Rifki yang mampu mendengarnya.
"Rifki, kamu hebat! Di jaman kami tidak ada alat ini! Kami tidak pernah melihat alat ini. Suaranya indah, bisakah kamu mengajari kami?" tanya salah satu di antara mereka.
Rifki tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Dia lalu melihat ke arah jam tangannya. Rifki menunjukkan jam tangan itu kepada ketiga anak kecil itu.
"Ini sudah terlambat! Aku akan kemari lagi besok! Kalian tunggu saja aku!" ucap Rifki pada mereka.
Mendengar perkataan Rifki yang menunda permintaan mereka. Mereka pun mengembungkan pipinya. Sebagai sebuah tanda bahwa mereka menyesal atas keputusan Rifki.
"Itu akan lama!" jawab mereka pada Rifki.
"Sabar!" jawab Rifki pada mereka.
Brukkkk
Suara benda jatuh di balik tubuh Rifki membuat Rifki tersentak. Lantas Rifki yang sejak tadi mengobrol bersama ketiga anak itu pun menoleh ke belakang.
Sorot mata Rifki tertuju pada pemukul drum yang jatuh. Rifki memandangi pemukul drum itu cukup lama.
Setahu Rifki pemukul drum ini tadi letaknya cukup bagus. Tidak mungkin bisa jatuh begitu saja.
Rifki mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ke area drum di sana. Lalu dia melihat lagi ke arah beberapa gitar yang ditata. Tidak Rifki temukan apapun di sana.
Ketika Rifki sibuk memperhatikan area itu. Dia tidak menyadari bahwa ketiga anak kecil tak kasat mata itu telah hilang dari sana.
Mereka hilang bukan sebab keinginan mereka. Namun dari dalam cermin yang berada di sudut aula itu. Sesosok wanita keluar.
Wanita dengan rantai di kakinya. Wanita dengan rambut sebahu yang selalu basah. Wanita yang selalu menangis.
Wanita yang mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah seorang ibu. Wanita yang akan selalu terbakar ketika dia mengatakan kebenarannya.
Ketika sosok itu berdiri tepat di belakangnya Rifki. Rifki terpaku. Dia merasakan auranya. Rifki hafal sekali bagaimana aura dari sosok wanita yang selalu datang dalam mimpinya!
"Hiiiiiii..."
Degggggg
Suaranya dekat sehingga membuat jantung Rifki saat ini berdetak begitu kencang. Dia sendirian di sini. Tidak ada siapapun. Bulu kuduknya meremang rasanya. Tetapi dia mencoba tetap tenang walaupun rasanya ingin lari.
"Hiiiiiiii..." tangis sosok itu lagi seraya menunduk.
Nafasnya Rifki mulai terengah-engah. Dia memaksakan kepalanya untuk berpaling sekalipun tubuhnya terpaku.
"Tolong aku..." lirih sosok itu.
Selalu perkataan itu yang sosok itu ucapkan. Sebuah permintaan tolong yang tidak memberikan petunjuk perihal apa yang ingin ditolong.
Bagaimana Rifki bisa menolongnya? Jika perkataannya tidak pernah selesai. Tapi Rifki sangatlah muak rasanya. Dia sejak dahulu mimpinya selalu sama.
Sretttt
Blushhh
"Ah, lagi-lagi!" ujar Rifki.
Ketika Rifki menoleh ke arah sosok itu. Dia disambut abu. Sosok itu hilang menjadi abu yang seakan terbawa oleh angin.
Ketika Rifki menoleh ke arah cermin. Lagi-lagi dia melihat sosok wanita itu. Rifki mencoba menenangkan dirinya. Kemudian dia pun pergi dari dalam aula itu.
"Sepertinya aku harus menanyakan pada mereka malam nanti! Aku yakin orang-orang yang aku temui di dalam mimpi itu nyata!" ujar Rifki seraya berjalan masuk ke dalam kelasnya.
________
Farah baru saja selesai sibuk dengan pensilnya. Tangannya yang sudah cukup terlatih itu menarik garis demi garis sejak tadi menghubungkannya hingga menciptakan satu gambaran.
Itu adalah sebuah gambar perihal satu tempat yang selalu dia mimpikan selama ini. Satu tempat yang mempertemukan dia dengan kelima orang yang sama selama bertahun-tahun ini.
"Wah," ucap salah satu teman Farah yang tiba-tiba datang mendekatinya.
Gambaran Farah di atas lembaran kertas gambar itu membuatnya takjub. Betapa mahirnya Farah melukis lukisan itu.
Emm.. tetapi itu memang sudah bakatnya dari dulu. Mengingat dia adalah seniman kebanggaan di sini.
"Farah, gambarmu luar biasa! Tempat apa itu?" tanya salah seorang teman perempuan di sana pada Farah.
Di sana Farah hanya tersenyum kecut. Dia sedikit heran pada temannya itu. Baru saja dia bilang bahwa tempat ini atau gambaran ini luar biasa.
Padahal bagi Farah gambaran ini sangat menakutkan. Gambaran yang selalu datang tiap petang menjemput dan dia terlelap.
Gambaran yang selalu datang tiap kali Farah menatap cermin. Nampak begitu lusuh tempat itu. Bahkan tak terawat rasanya. Farah bertanya-tanya sekarang.
Di mana letak menariknya gambar ini. Tapi, dia mencoba memaklumi. Sebab dia tahu, selera orang berbeda-beda.
"Hei Farah!" panggil temannya lagi ketika tak ada jawaban dari Farah untuknya.
"Huh!" pekik Farah terkejut. Akhir-akhir ini memang dia sering melamun. Fokusnya seakan hilang dari dirinya.
"Ya?" tanya Farah pada temannya itu.
Temannya lantas membuang nafasnya kasar. Dia benar-benar heran melihat sahabatnya ini. Tidak seperti Farah rasanya. Sudah hampir beberapa hari terakhir ini Farah seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Farah, kamu kenapa? Melamunkan apa?" tanya temannya lagi pada Farah. Sebut saja namanya Ayu.
"Gak papa kok, Yu! Cuma, apa yang kamu lihat ini seram sih buat aku!" ucap Farah jujur.
Ayu menaikkan salah satu alisnya. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat ini. Jika memang gambar itu seram lantas mengapa Farah menggambarnya?
"Tapi kamu yang membuatnya?" ujar Ayu padanya.
Farah tersenyum kemudian kedua tangannya mulai merapikan apa yang ada di atas mejanya. Farah memasukkan buku gambarnya ke dalam tasnya kembali.
"Iya, ini projek dari Ayahku! Dia ingin aku menggambar sesuatu yang cukup mencekam!" ujar Farah berbohong. Mencoba menutupi semua hal yang sudah terjadi pada dirinya.
Hal mistis yang mungkin tidak semua orang akan mempercayainya. Sebuah teka-teki yang harus Farah pecahkan segera demi ketentraman hidupnya.
"Ah.. memang jiwa seni itu aneh-aneh ya seleranya!" ujar Ayu padanya. Farah terkekeh mendengar itu.
"Mau gimana lagi?" jawab Farah seraya menaikkan salah satu alisnya lalu tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita ke kantin saja!" ajak Ayu pada Farah.
"Ayo!" sambut Farah.
Keduanya kemudian keluar dari dalam kelas mereka. Menyambut jam istirahat dengan sangat gembira.
________
ternyata dia lebih tua dari aku🤣