NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Emas

Pintu gerbang besi hitam setinggi empat meter itu terbuka lambat dengan derit yang berat, menyambut iring-iringan tiga mobil SUV Cadillac Escalade yang meluncur tanpa suara membelah keheningan pagi.

Kompleks tempat tinggal ini tidak seperti kawasan perumahan elit biasa di Jakarta.

Terletak jauh di area terisolasi di perbukitan Jakarta Selatan yang hijau, tempat ini dipagari benteng beton tinggi berselimut kawat berduri terselubung dan dijaga oleh barisan pria berseragam lengkap.

Ini bukan sekadar kediaman, ini adalah markas besar, benteng pertahanan milik klan Salvatore.

Di dalam kabin mobil barisan tengah, suasana terasa begitu dingin, dan mencekam hingga seolah-olah sebutir debu pun tidak berani bergerak di udara.

Alice duduk merapat ke sudut pintu mobil sebelah kiri, memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang terus gemetar.

Tas kain usangnya didekap erat di dada, menjadi satu-satunya barang yang tersisa dari kehidupan normal yang baru saja hancur berantakan beberapa jam lalu.

Air mata mengalir deras tanpa suara melewati pipi putih mulusnya, menetes membasahi celana jin usangnya.

Dadanya terasa sesak luar biasa, dipukul oleh kenyataan bahwa dirinya telah dijual, ditumbalkan oleh keluarga sendiri bagai seonggok daging tak berharga.

Di sudut kanan kursi penumpang yang luas, Elvano duduk dengan pesona seorang pemimpin yang kejam.

Ia menyandarkan punggung tegapnya, membiarkan satu lengannya terentang di sepanjang sandaran kursi, tepat di belakang kepala Alice namun tanpa menyentuhnya.

Sepasang mata cokelat gelap milik Elvano sama sekali tidak beralih dari sosok Alice sejak mobil bergerak meninggalkan rumah usang paman Albert.

Pandangannya begitu intens, dan penuh akan kilatan posesif di matanya.

Ada kepuasan aneh yang membakar dadanya saat melihat tetesan air mata gadis itu.

Isak tangis dan kerapuhan Alice tidak membuat Elvano merasa iba namun sebaliknya, hal itu justru semakin memicu rasa ingin untuk mengurung, dan memastikan bahwa kelinci kecil bermata hazel ini tidak akan pernah bisa melarikan diri dari cengkeramannya seumur hidup.

"Hapus air matamu," ucap Elvano tiba-tiba.

Suaranya baritonnya yang rendah bergetar dingin, memutus keheningan kabin mobil.

Alice tersentak kecil, semakin merapatkan tubuhnya ke pintu mobil, enggan menatap pria di sampingnya.

Ia memejamkan mata hazelnya rapat-rapat, mengabaikan perintah itu sembari terus menahan isak tangis yang menyesakkan tenggorokannya.

Elvano menyipitkan matanya.

Rahang tegasnya mengeras melihat penolakan Alice, namun ia memilih diam, membiarkan gairah yang tertanan bergejolak di dalam dada demi menikmati detik-detik sebelum ia benar-benar mengklaim barang jaminannya.

Di kursi kemudi depan, Kaiven melirik kaca spion tengah dengan senyum miring yang usil.

Pria blasteran itu dengan santai mengemudikan mobil raksasa tersebut sembari mengetuk-ngetukkan jari panjangnya di atas setir mengikuti irama lagu jazz klasik yang diputar pelan.

Kaiven menyeletuk dengan nada konyolnya yang khas untuk memecah ketegangan, "El, suasana di belakang dingin sekali. Lebih dingin daripada ruang pendingin daging di pelabuhan. Mau aku nyalakan penghangat mobil? Kasihan kelinci kecilmu, dia bisa mati membeku sebelum kita sampai di kandang."

"Diam, Kaiven. Atau aku pindahkan kau ke distrik Papua malam ini juga," desis Elvano tanpa mengalihkan pandangan dari Alice.

"Oke, oke, diam adalah emas," sahut Kaiven santai sembari mengangkat bahu, kembali fokus pada jalanan aspal pribadi yang dikelilingi pohon-pohon pinus tinggi menuju puncak bukit.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah bergaya arsitektur Eropa yang berdiri kokoh dan angkuh di atas bukit.

Mansion itu didominasi warna putih gading dan batu alam hitam, tampak begitu megah namun sekaligus menyeramkan.

Puluhan pengawal berjas hitam berdiri siaga di setiap sudut halaman yang luas.

Pintu mobil dibukakan dari luar. Elvano melangkah turun terlebih dahulu, diikuti oleh Alice yang ditarik perlahan namun tegas oleh salah satu pelayan wanita paruh baya bertubuh tegap atas perintah Elvano.

Alice mendongak, menatap bangunan raksasa di depannya dengan perasaan ngeri yang kian membubung tinggi.

Rumah ini begitu indah, namun di mata Alice, tempat ini tidak lebih dari sebuah penjara bawah tanah yang disamarkan dengan kemewahan.

"Bawa dia ke kamar utama di lantai dua," perintah Elvano dingin kepada kepala pelayan wanita bernama Mbok Nem, sebelum ia melangkah pergi bersama Kaiven menuju ruang kerja bawah tanah untuk mengurus dokumen penyitaan tanah Albert.

Alice diseret dengan sopan melewati koridor-koridor luas bertembok marmer yang dipenuhi lukisan-lukisan klasik abad pertengahan dan lampu-lampu dinding kristal yang mewah.

Tangga melingkar yang megah membawanya ke lantai dua, hingga akhirnya Mbok Nem membuka sebuah pintu kayu ganda yang besar.

"Silakan masuk, Nona Alice. Ini adalah kamar Anda," ucap Mbok Nem dengan nada suara formal namun kaku, khas pekerja yang dilatih di lingkungan disiplin.

Alice melangkah masuk dan seketika merasa tercekik oleh kemegahan yang ada di depannya.

Kamar utama itu luasnya hampir setara dengan seluruh luas rumah pamannya.

Di tengah ruangan, berdiri sebuah ranjang ukuran King Size dengan tiang-tiang kayu jati berukir dan kelambu sutra putih yang menjuntai anggun.

Lantainya dilapisi karpet bulu domba impor yang terlampau empuk, sementara di sudut lain terdapat set sofa beludru sewarna merah darah dan sebuah pintu kaca besar yang terhubung langsung dengan balkon pribadi yang menghadap ke arah tebing.

Sebuah walk-in closet yang dipenuhi barisan gaun malam mahal, pakaian kasual sutra, dan perhiasan bermerek yang tampaknya sudah disiapkan dalam waktu singkat berjejer rapi di balik pintu kaca.

Kamar mandi dalamnya dilengkapi dengan bathtub marmer raksasa dan pancuran air berlapis emas.

Ini adalah perwujudan dari sebuah sangkar emas yang sempurna.

Segala kemewahan duniawi ada di sini, siap memanjakan tubuhnya, namun hal itu justru membuat Alice merasa bagai seekor burung yang sayapnya baru saja dipatahkan dengan kejam.

Semua keindahan ini disiapkan bukan untuk menghormatinya sebagai seorang tamu, melainkan untuk menghiasinya sebagai barang pajangan yang siap dinikmati kapan saja oleh sang pemilik mansion.

Alice berjalan perlahan menuju balkon kaca, menyentuh pagar pembatas besi dingin, memandangi pemandangan kota Jakarta dari kejauhan yang tampak kabur tertutup kabut subuh.

Rasa takut yang amat sangat merayapi seluruh dinding hatinya.

Apa yang akan dilakukan oleh pria arogan, dingin, dan kejam itu kepadanya malam nanti?

Pria itu adalah bos mafia, seorang pembunuh yang menguasai dunia bawah.

Alice merasa begitu kecil dan tak berdaya menghadapi takdir yang menantinya di kamar mewah ini.

KLIK.

Suara pintu ganda di belakangnya mengunci otomatis memutus lamunan Alice.

Ia berbalik cepat dan melangkah mendekati pintu, mencoba memutar gagang pintunya.

Terkunci dari luar.

Alice mengintip lewat celah kecil di bawah pintu.

Di luar sana, sepasang sepatu boots berdiri tegak di sisi kiri dan kanan pintu.

Dua orang pengawal ditugaskan khusus untuk menjaga kamarnya, memastikan tidak ada satu pun celah bagi Alice untuk melarikan diri.

Alice mundur beberapa langkah, lalu menjatuhkan tubuh lelahnya di atas karpet bulu domba yang empuk.

Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut, kembali menangis dalam keheningan.

Rasa perih di kakinya akibat lecet semalam tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa perih di jiwanya yang telah dikhianati dan kini terperangkap di dalam cengkeraman mafia yang buas.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!