NovelToon NovelToon
Hantu Magang

Hantu Magang

Status: tamat
Genre:Hantu / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".

Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?

Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadapian Raksasa

Suara gemuruh semakin menggelegar, mengguncang setiap sudut hutan hingga daun-daun pepohonan tinggi pun jatuh seperti hujan musim gugur. Bentuk besar yang datang dari arah pegunungan kini sudah lebih jelas terlihat – sebuah raksasa gabungan antara logam dan struktur yang menyerupai tumbuhan raksasa, dengan tubuh yang ditutupi oleh bahan menyerupai kulit kayu namun mengkilap seperti logam. Mata besarnya yang menyala merah terus-menerus bergerak, memindai setiap sudut hutan seolah sedang mencari target utama.

“Berhati-hatian!” teriak Bara dengan cepat, menarik salah satu warga desa yang hampir terpeleset karena guncangan tanah yang semakin kuat. “Energi yang dikeluarkan oleh makhluk ini jauh lebih besar dari yang kita bayangkan – ia tidak hanya menyerap energi alamiah, tapi juga menggunakannya untuk memperkuat dirinya sendiri!”

Aldi merasakan getaran energi yang luar biasa dari arah raksasa tersebut. Berbeda dengan mesin sebelumnya yang hanya menyerap dan mengubah energi, makhluk ini seolah hidup – mampu merespons setiap gerakan dan bahkan menyerang secara aktif. Dia melihat beberapa cabang kayu yang tumbuh dari tubuh raksasa itu mulai menjulur ke arah pepohonan di sekitarnya, menyedot energi dari dalam batang pohon hingga mereka layu dan mengering dalam hitungan detik.

“Kita tidak bisa biarkan dia sampai ke desa!” seru Rian dengan wajah penuh keprihatinan. “Jika dia sampai di sana, dia akan menyedot semua energi dari hutan dan desa dalam sekejap!”

Sebelum mereka bisa merencanakan langkah selanjutnya, raksasa itu secara tiba-tiba berhenti dan menghadapkan wajahnya ke arah kelompok Aldi. Mata merahnya menyala lebih terang, dan dari mulutnya yang lebar keluar suara seperti guntur yang menggema: “Kamu yang menghalangi rencana kita. Sekarang kamu akan membayar mahal!”

Tanpa waktu untuk bereaksi, satu cabang kayu raksasa yang berduri tajam melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Aldi segera mengumpulkan energi alamiah di kedua tangannya, membentuk perisai cahaya hijau yang kuat untuk menghalangi serangan itu. Suara benturan yang menggelegar menyebar ke sekeliling, membuat tanah bergoyang dan beberapa batu kecil melayang di udara.

“Kita harus bekerja sama!” teriak Aldi kepada semua orang di sekelilingnya. “Saya akan menarik perhatiannya sementara kalian mencari cara untuk melemahkan dia!”

Tanpa menunggu tanggapan, Aldi melompat ke depan dan mulai mengeluarkan serangkaian serangan energi berwarna hijau dan keemasan ke arah raksasa itu. Setiap serangan mengenai tubuh raksasa membuatnya bergetar dan mengeluarkan suara mendesis, namun tidak memberikan kerusakan yang signifikan. Raksasa itu mulai fokus pada Aldi, mengeluarkan serangan berantai dari cabang-cabangnya yang bisa berubah bentuk dengan cepat.

Sementara itu, Dinda, Bara, dan Rian bersama warga desa mulai mencari kelemahan dari makhluk raksasa tersebut. Mereka melihat bahwa di bagian punggung raksasa ada sebuah struktur berbentuk kristal berwarna merah pekat – sumber energi yang jelas karena terus memancarkan cahaya dan getaran yang kuat. Namun untuk mencapai bagian itu, mereka harus melewati lapisan pertahanan yang sangat ketat dari cabang-cabang kayu dan energi listrik yang mengelilingi tubuhnya.

“Kita membutuhkan cara untuk mengalihkan perhatiannya!” kata Dinda dengan cepat, melihat bahwa Aldi sudah mulai terlihat kelelahan menghadapi serangan terus-menerus. “Semua hewan di sekitar kita – mari kita memanggil mereka untuk membantu!”

Rian segera mengangkat tangannya ke udara, memancarkan gelombang energi lembut yang membawa pesan ke seluruh hutan. Dalam waktu singkat, suara-suara dari berbagai hewan mulai terdengar dari segala arah – suara mengaum harimau, merintih rusa, berkicau burung dalam jumlah besar, bahkan suara gemuruh dari buaya yang datang dari arah sungai. Secara perlahan tapi pasti, hewan-hewan dari seluruh hutan mulai berkumpul di sekitar raksasa itu, membentuk lingkaran yang semakin menyempit.

Seekor gajah raksasa yang jarang muncul dari dalam hutan terdalam bahkan datang dengan lambat, mengeluarkan suara gumaman yang membuat tanah bergetar. Ia berdiri di sisi lain raksasa buatan tersebut, menarik perhatiannya dengan mengangkat badannya dan mengeluarkan suara yang menggema. Raksasa itu terpaksa membelokkan perhatiannya dari Aldi ke arah gajah, memberikan kesempatan bagi kelompok Dinda untuk bergerak lebih dekat.

“Sekarang!” teriak Bara, yang dengan kecepatan hantu bisa bergerak lebih cepat dari yang lain. Dia melesat melewati cabang-cabang yang menyerang, sementara beberapa warga desa menggunakan energi mereka untuk membentuk penghalang sementara. Dinda mengikuti di belakangnya, membawa ramuan pemurni yang sudah mereka siapkan – ramuan yang dibuat dari ekstrak bunga langka yang hanya mekar sekali dalam setahun dan dipercaya bisa menetralkan energi negatif.

Aldi melihat kesempatan itu dan segera meningkatkan kekuatan serangannya, mengarahkan semua energi yang dia miliki ke arah dada raksasa itu. Cahaya keemasan yang luar biasa menyambar dari tangannya, mengenai raksasa dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya mundur beberapa langkah. Saat itu juga, Bara berhasil mencapai bagian punggung raksasa dan mulai mencoba membuka lapisan pertahanan di sekitar kristal merah.

Namun pekerjaan itu tidak mudah – setiap kali Bara menyentuh lapisan pertahanan, dia terkena sengatan energi yang membuatnya terpental ke belakang. Rian segera datang membantunya, bersama beberapa warga desa yang memiliki kemampuan khusus dalam mengendalikan energi tanah. Mereka bekerja sama untuk membentuk perisai energi yang bisa menahan sengatan dari kristal tersebut.

“Sekarang, Dinda!” teriak Rian saat perisai mereka mulai stabil.

Dinda melompat dengan cepat ke atas punggung raksasa, membawa ramuan pemurni yang sudah dia siapkan dalam sebuah cangkir dari kulit kelapa. Dia menyiram ramuan tersebut ke atas kristal merah dengan cepat. Saat ramuan menyentuh kristal, terjadi ledakan cahaya putih yang sangat terang, membuat semua orang harus menutup mata. Suara seperti kilat yang menggema menyebar ke seluruh hutan, dan raksasa itu mulai bergetar dengan sangat kuat.

Ketika cahaya mulai memudar, mereka melihat bahwa kristal merah sudah mulai berubah warna menjadi kuning muda, dan energi yang dikeluarkan oleh raksasa itu semakin lemah. Cabang-cabangnya yang tadinya ganas kini mulai melambat gerakannya, dan tubuhnya yang besar mulai bergoyang seperti akan roboh.

Tetapi pemimpin kelompok jas hitam tidak mau menyerah begitu saja. Dia muncul dari balik semak belukar dengan wajah yang penuh kemarahan, mengangkat kedua tangannya dan mengumpulkan semua energi yang dia miliki untuk menyerang kristal merah. “Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan karya kita!” jeritnya dengan suara yang pecah.

Energi hitam pekat yang dikeluarkannya menyambar ke arah kristal, membuatnya kembali menyala dengan warna merah yang lebih terang dari sebelumnya. Raksasa itu segera bangkit kembali dengan kekuatan yang lebih besar, dan kali ini matanya menyala dengan niat membunuh yang jelas.

“Dia akan menyerang desa sekarang!” teriak salah satu warga desa yang melihat arah gerakan raksasa yang sudah berubah menuju desa.

Aldi merasa tubuhnya lelah dan energi mulai menipis, tapi dia tahu dia tidak bisa menyerah. Dia melihat semua teman dan warga desa yang sudah bersedia berkorban untuk melindungi hutan dan rumah mereka. Dia melihat hewan-hewan yang telah hidup berdampingan dengan mereka selama ini, siap membantu sampai akhir. Dan dia merasakan kehadiran leluhur desa yang seolah sedang memberikan dukungan dari balik bayang-bayang.

Tanpa berpikir dua kali, Aldi berjalan maju ke tengah lapangan terbuka yang berada di antara raksasa dan desa. Dia merentangkan kedua tangannya ke udara, memanggil semua sumber energi alamiah yang ada di sekitarnya – dari hutan, sungai, tanah, langit, dan semua makhluk hidup yang ada di sana. Kali ini, dia tidak hanya menarik energi untuk dirinya sendiri, tapi juga menyatukannya dengan energi dari semua orang yang ada di sana – manusia dan hewan – menjadi satu kekuatan yang luar biasa.

“Kita adalah satu!” teriak Aldi dengan suara yang penuh kekuatan, membuat seluruh alam seolah bergetar meresponnya.

Cahaya keemasan yang sangat terang menyembur dari tubuh Aldi dan menyebar ke seluruh area, menyatu dengan cahaya dari semua orang yang berdiri di belakangnya. Raksasa itu mulai bergerak maju dengan cepat, tapi saat dia memasuki area cahaya keemasan tersebut, tubuhnya mulai bergetar dan cabang-cabangnya mulai layu. Pemimpin kelompok jas hitam mencoba menghentikannya, tapi energi positif yang luar biasa membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.

Di tengah cahaya yang menyilaukan itu, semua orang melihat sosok-sosok besar yang muncul – sosok leluhur desa yang dulu menjadi penjaga hutan. Mereka berdiri di belakang Aldi, memberikan dukungan kekuatan yang membuat energi yang terkumpul semakin besar. Raksasa buatan itu akhirnya berhenti total, tubuhnya mulai pecah menjadi bagian-bagian kecil yang perlahan-lahan menyatu kembali dengan tanah, dan kristal merah di bagian punggungnya menjadi batu biasa yang tidak memiliki energi lagi.

Pemimpin kelompok jas hitam melihat kekalahan yang tak terhindarkan, dan dengan cepat melarikan diri ke arah pegunungan bersama dengan anggota kelompoknya yang masih tersisa. Mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk melanjutkan perang yang sudah jelas mereka kalahkan.

Ketika semua tenang kembali, matahari sudah berada di tengah langit, menyinari hutan dengan cahaya yang hangat dan penuh harapan. Aldi merasa tubuhnya lemah dan hampir jatuh, tapi segera ditangkap oleh Dinda dan teman-temannya. Hewan-hewan yang ada di sekitar mulai mendekat dengan tenang, menyentuh mereka dengan lembut seolah memberikan penghargaan atas kemenangan yang telah diraih bersama.

“Sekarang kita benar-benar aman?” tanya salah satu anak desa dengan suara kecil.

Kakek Jaya mendekat dengan langkah yang pelan, menyentuh kepala anak itu dengan lembut. “Kita akan selalu memiliki tantangan baru di depan kita,” katanya dengan suara yang penuh hikmat. “Tetapi kita sudah belajar bahwa perlindungan yang paling kuat datang dari kesatuan kita dengan alam dan satu sama lain. Itu adalah pelajaran terbesar yang bisa kita dapatkan.”

Semua orang mulai bergerak kembali ke desa, membawa bagian-bagian mesin yang sudah hancur untuk dimanfaatkan menjadi bahan bangunan yang berguna. Di jalan pulang, mereka melihat bahwa pepohonan yang tadinya layu mulai kembali hijau dan segar, dan sumber mata air yang hampir mengering mulai mengalir lagi dengan jernih. Alam sedang memulihkan diri dengan kecepatan yang luar biasa, menunjukkan betapa kuatnya kekuatan penyembuhan yang ada di dalamnya.

Di kejauhan, di balik bukit yang tinggi, pemimpin kelompok jas hitam berdiri dengan wajah yang penuh dendam. Dia melihat desa yang kembali damai dan mengeluarkan suara bisik yang hanya bisa dia dengar sendiri: “Ini bukan akhir dari semuanya. Kita akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar, dan kali ini kita tidak akan gagal lagi.”

Namun di desa, tidak ada yang peduli dengan ancaman yang akan datang. Mereka sedang merayakan kemenangan mereka dengan makan malam bersama di lapangan tengah desa, dengan makanan yang berasal dari hasil alam yang sudah kembali subur. Semua orang bercerita tentang pengalaman mereka selama pertempuran, tertawa dan menangis bersama karena rasa syukur yang luar biasa bisa selamat dan berhasil melindungi apa yang mereka cintai.

Aldi duduk di antara teman-temannya, melihat wajah-wajah yang bahagia dan penuh harapan. Dia tahu bahwa perjuangan untuk melindungi alam akan terus berlanjut, tapi dia juga tahu bahwa dia tidak akan pernah sendirian lagi. Dia memiliki komunitas yang kuat, teman-teman yang setia, dan alam yang selalu siap memberikan kekuatan dan perlindungan kepada mereka yang menghargainya.

Malam itu, ketika semua orang sudah pulang dan desa kembali tenang, Aldi pergi ke tepi sungai tempat dia pertama kali belajar merasakan energi alamiah. Dia duduk di atas batu besar yang sama, menutup mata dan membiarkan dirinya terhubung dengan alam sekitar. Kali ini, dia merasakan kedamaian yang luar biasa dan tahu bahwa hutan dan desa akan selalu aman selama mereka tetap bersatu dan menjaga hubungan yang erat dengan alam yang telah memberi mereka segalanya.

1
Ita Xiaomi
Selamat ya Bara lulus dgn Cum Laude
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Mbak Yuli bakalan viral🤣
Ita Xiaomi
Benar-benar memanfaatkan 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Berbenah demi ndak dengar Pak Broto ngereog🤣
Ita Xiaomi
Dunia gaib seheboh dunia nyata😁
Ita Xiaomi
Salut ama Bara👍👍👍
Ita Xiaomi
Bara, aku tinggal di Kalimantan loh😁
Ita Xiaomi
Sama-sama ngejar Deadline. Dinda yg lebih mendesak Deadlinenya😁
Ita Xiaomi
Ekspresi Dinda lebih menyeramkan🤣
Putri Ayu/PqxxyZ
mari mampir dicerita ku juga ya kak 😊..
Denns: terimakasih support nya Kaka ;)
Baik Kaka Cantik ssiap.
total 2 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
wah keren nih ceritanya kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!